Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Cari kerja


__ADS_3

"Dia nggak mau sama gue. Dia maunya sama ello.” Jawab Diva.


“Assalamu’alaikum.” Suara salam dari depan Rumah membuat mereka berhenti beradu bumut.


“Siapa sii bertamu pagi-pagi gini?. Nggak ada kerjaan banget.” Gerutu Rindu.


“Coba Loe liat aja sendiri. Gue mau mandi dulu.”Jawab Diva sambil membewa handuk menuju kamar mandi.


Rindu menghela nafas dan melangkah keluar. “ Wa’alaikum Salam. Sebentar.” Sahut Rindu.


Saat pintu terbuka. Sosok yang sangat Rindu kenal, dia langsung memegang pundak Rindu. “Dek. Loe nggak apa-apakan?” Tanyanya.


Rindu terkejut hingga melangkah mundur saat itu. “ Gue baik aja kok bag. Abang dari mana?” Tanya Rindu. Ya Dia kakaknya Rindu.


“YaAllah dek, muka loe bonyok gini pasti kena tampar abi sama ummi ya?. Tangan loe kenapa dek?. Yallah dek maafin abang ya nggak bisa jagain loe.” Ucapnya beruntun sambil mengelus pipi Rindu. Suaranya serak.


“Hehe. Nggak usah lebay de bang. Gue nggak apa-apa. Memang gue yang salah” jawab Rindu memaksakan tertawa.


Kakak Rindu memeruk Rindu sayang. “Kemarin abang udah denger semuanya. Kalo loe dihajar habis-habisan sama abii. Abi tu sayang sama loe. Karena itu ia emosi dek.” Ucapnya.


Rindu menganggukan kepalanya. “Rindu tau kok bang. Heheh” jawab Rindu. Air matanya ia tahan setahan tahannya.


Kakak Rindu yang bernama Rasyid tepatnya, melepaskan pelukannya. “ Iya. Maafin abang baru liatin loe. Soalnya kemarin abang dikurung sama Abi buat nggak nemuin loe. Tadi pagi abang kabur jadinya.” Jawabnya. Ia tertawa dibalik senyumannya.


Begitu juga Rindu.”Nggak apa bang beneran. “ Jawab Rindu.


“Loe mau kemana pakek baju kek gini?” Tanya Rasyid saat melihat penampilan formal Rindu.


“Gue mau kerja bang. Lagian jugakan gue dikeluarin dari kampus. abi juga udah nggak mau kasih Rindu uang.” jawab Rindu acuh. Ia sudah memaksimalkan hatinya. “Duduk yuk. Capek tauk.” lanjutnya.


Rasyidpun mengiyakan. Mereka duduk dikursi tamu. “Abang udah denger itu. Tapi loe yakin mau kerja?” Tanya Rasyid.


“Mau gimana lagi bang?. Mau makan batu Rindu?”

__ADS_1


“Loe nggak mau minta maaf sama Abi sama Umi?”


Rindu menipiskan bibirnya. “ Mau. Tapi nanti pas mereka udah tenang. Lagian juga gue mau mandiri. ” Jawabnya.


Rasyid memegang pundak adiknya.” Maafin abang ya belum bisa bantu kamu. Abang juga masih kulia, belum kerja.”


“Santai bang. Udah ah. Udah jam berapa ni. Rindu mau cari kerja dulu. Entar kecolong orang lain lagi...” jawab Rindu tak ingin terbawa suasana sedih lagi.


“Yaudah. Abang dukung loe terus kok. Kalo loe butuh apa-apa loe tinggal bilang sama Abang oke..!”


“Siap...” jawab Rindu sambil memamerkan jempolnya. Ia berdiri dari duduknya. “ Gue otw dulu ya bang. Doain biar gue dapet kerjanya yang bagus.”Rindu menyalami tangan kakaknya.


“Ya maunya yang bagus aja, baru juga ngelamar.” Ucap kakaknya menghibur.


“Ucapan itu doa bang. Jangan lupa!” jawab Rindu.


“Serah loe dah. Loe pergi pakek apa?” Tanya Rasyid. Motor Rindukan disita oleh orang tuanya.


“Nggak mau gue anter?” Tanya Rasyid khawatir. Soalnya Rindu sama sekali tak bisa berdesak-desakan. Rindu tifekal orang yang mudah mabuk dalam perjalanan. Apa lagi naik angkot yang baunya bercampur baur.


“Nggak ah. Gue juga mau keliling ntar. Udah kan makin lama,” Gerutu Rindu. “Assalamu’alaikum bang.” Ucapnya.


Rindu berjalan meninggalkan kakaknya didalam rumah. Kakaknya memang sudah sering kerumah kosannya. Numpang mandi lah, ini lah. Rindu berjalan membawa tas jinjin sekaligus mab coklat yang berisi ijazanya. Ia melambaikan tangannya saat melihat angkot lewat.


Sebenarnya ia sama Sekali tak ingin menaiki angkot. Tapi ia harus berhemat. Jika naik taxsi. Maka uangnya akan cepat habis. Sedangkan dia belum berkerja.


Saat didalam angkot mata Rindu memerah karena menahan muntah. Didalam sana bau sayur, ikan, ayam bercampur baur. Saat sudah tak tahan lagi ia memilih turun dijalanan dan melanjutkan berjalan.


Saat ia turun muntahan yang ia tahan sudah tak tahan lagi. “Uwekkkk...” ia muntah sejadi-jadinya. Bahkan disudut matanya mengeluarkan air. Berulang kali ia mengeluarkan isi perutnya. Tanpa ia sadari jika muntahan terkena sepatu orang.


Saat merasakan perutnya sudah sedikit nyaman. Ia mendongakkan kepalanya. Tepat didepannya ada air mineral yang sudah berisi setengah. Ia melihat siapa yang memberi air itu. Matanya membulat saat wajah yang ia kenal didepan matanya. “Paman.” Ucapnya kaget. Ia melihat air yang berada didepannya. Ia menatap orang yang ia sebut paman itu dengan tanda tanya. “Buat gue?. bekas loe?” Tanya Rindu berkalah.


Wajah pria itu menggelap. Wajahnya menahan emosi. “Bersihkan sepatu saya!” bentaknya.

__ADS_1


Rindu mengerutkan keningnya. Ia Menatap sepatu pria itu, matanya membulat saat melihat sepatu pria itu sudah sangat menjijikan. Ia menutup mulutnya. “ Aduh. Maaf, saya nggak sengaja.” Gumamnya.


‘Kirain minum buat gue. serek lagi” Batin Rindu.


“Bersihkan!” Perintahnya sambil meletakkan air ditangan Rindu.


Rindu memegang air mineral tersebut. Ia menatap pria itu terkejut. Ia membuka botol air mineral itu. Lalu tanpa diduga, Rindu berkumur-kumur dengan air itu lalu meminum separuhnya.


Mata pria itu membelalak menatap Rindu. Pria itu adalah Habib. Ia tak menyangkah jika Rindu meminum air bekasnya. Ia mengira Rindu akan membersikan sepatunya. Wajahnya semakin gelap. Saat Rindu berdesah legah. Bagaikan sudah meminum telaga dewa setelah beberapa lama kemarau.


Rindu menatap Habib sedikit cengengesan. “Paman Liat!. Ada banci!...” Ucap Rindu seakan-akan kaget.


Mata Habib membulat, ia sangat membenci hal yang berbau semacam itu. Ia bahkan melirik kebelakang untuk menatap kebenarannya. Tidak membuang kesampatan Rindu kabur dari Habib. Ia tak mau bersimpu membersikan sepatu Habib. Ia tak mau melihat Habib memarahinya Habis-habisan. Ia tahu harga sepatu Habib mungkin bisa membeli ladang sawah Keluarganya.


Wajah Habib menggelap saat ia tahu jika ia ditipu lagi oleh Rindu. Wajahnya bahkan memerah marah saat tau jika Rindu sudah kabur. “Sial...” umpatnya. Ia merasa sangat bodoh sudah dua kali ditipu oleh Rindu. Ia menatap jijik sepatunya.


“Awas kau.” Umpatya lagi. Ia melepaskan sepatunya dan membuangnya. Ia menggunakan kaki telanjang menuju mobilnya. Sebenarnya tadi baru keluar dari tokoh dan membeli minum, dan Melihat rindu keluar dari Angkot seperti kesakitan memegang perutnya. Ia jadi khawatir, takut terjadi apa-apa kepada Rindu. Dan Air yang ia pegang. Ia mendekat ingin membantu . Tapi tak disangka saat ia didepan Rindu. Kakinya dimuntajh oleh Rindu.


Filos menjadi saksi hidup betapa Jeniusnya Habib. Tapi dikalahkan oleh gadis kecil nan bar-bar seperti Rindu. Bahkan Dua kali!.


“Kita pergi ketoko sepatu dulu!” Perinta Habib saat memasuki mobilnya.


“Baik Tuan.” jawab Filos sambil menahan senyum akan kebodohan tuan mudanya.


“Berhenti tertawa!” Perinta Habib saat tau jika Filos menahan senyum sampai wajahnya memerah.


Filos langsung menenggelamkan bibirnya dan mengendarai mobil....


Saat disela sela kekesalan Habib tersenyum saat ingat Rindu minum dibekaa bibirnya.


...


“Pagi-pagi udah sial aja gue.” Gumam Rindu diselah-selah memegang nafas akibat kabur dari Habib.

__ADS_1


__ADS_2