Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
kerabatkah?


__ADS_3

Pada dasarnya sikap seseorang tak dapat dinilai dari covernya... Namun orang baik akan selalu memperbaiki covernya sebaik mungkin... NVS31...


Sudah seharian ini Rindu dan ibunya dipasarkan membeli beberapa bahan makanan. Oh iya.. apakah Rindu sudah menjelaskan dia orang mana? Sebenarnya Rindu itu orang melayu, suku melayu.. jadi dia jika bicara dengan ibunya mengenakan bahasa melayu… tapi tidak Rindu gunakan dalam bahasanya Indonesia, karena memang supaya semua orang mengerti.


Bahasa melayu tidak jauh beda ko dari bahasa Indonesia.. hanya saya akan membuat orang lain bingung jika mendengarkannya.. Rindu juga bukan orang Kaya ya.. dia hanya anak petani yang sederhana, yang bisa membeli sebagaimana yang bisa orang lain beli, ia juga bukan orang yang kurang mampu, karena pada dasarnya mereka alhamdulilllah tak pernah kelaparan..


Bagi umi Rindu hari ini sudah cukup berbelanbjanya, sudah setengah hari menjelajahi pasar ini membuat ia lelah dan haus.. ia mengajak Rindu pulang membuat Rindu mengangguk dan menuruti saja. Lagipulakan hari memang sudah siang….


Sesampainya diirumah Rindu dan Uminya bingung, karena rumahnya dikunci dan kuncinya tak ada ditempat biasa, Rumah Rindu tidak ada pembantu atau scurity ya.. disini hanya mereka saja”Ini dimana si Abi kamu naro kunci SI Rin…”Ujarnya Umi Rindu disana mengerutu dikalah tak juga menemukan kunci, padahal sudah hampir dua puluh menit lebih disana.


Rindu mengangkat bahu disana pertanda ia tak tau… ia ikut mencari dibagian etalase rumah yang biasnaya diletakkan disana.”Enggak tau mi.. Coba Umi telepon abbi deh.. tanyain dimana abbi naro kunci rumah…soalnya Rindu enggak bawa hape tadi.”Jawab Rindu dengan sendunya..


Umi Rindu menepuk keningnya.”Yaampun Rindu kenapa baru ngomong sekarang aduh.. umi dari yadi nyarinya ini capek tauk ih.”Ujarnya Umi Rindu mengomel. Wajarkan saja ya, Umi Rindu memang suka mendumel membuat Rindu yang suka ketenangan sakit kepala.. ya.. Rindu suka sakit kepala jika rebut rebut begini.


Rindu hanya memijat pelipisnya karena lelah.. tanpa ia sadari hidungnya mulai berdarah lagi membuat ia merasakan ada cairan yang melewati bagian hidung bawahnya itu membuat tangannya mengusap hidungnya.. dan ia menatap tangan yang ia gunakan tadi..


Hmm.. darah segar membuat ia menghela nafas lelah,, lalu ia terduduk dikursi depan rumahnya itu menatap Uminya yang disana sibuk menelpon ayahnya nampaknya ayahnya belum menjawab membuat uminya mengomel. Rindu kelelahan sedangkan ia sudah sakit distadium akhir.. seharusnya ia istirahat sekarang tapi seharian ini ia keliling dipasar, kalian taulah kan ibu ibu? Jika dipasar pasti mutar mutar mencari harga yang paling murah dan sayur yang paling bagus.. begitulah yang Rindu lakukan, belum lagi ia terpapar matahari dan berdesak desakan dengan orang lain.


Rindu mengeluarkan tysu didalam tasnya lalu mengambil obatnya. Obat supaya sakitnya tidak kambuh, tanganya mendadak gemetar dan kepalanya terasa sangat pusing.. ia meminum emat biji obat yang berbeda disana secara sekaligus..


“Rindu kamu minum obat apa?” Itu membuat Rindu terkejut.. sangat terkejut membuat ia menatap kearah sampingnya dan menatap siapa yang menegurnya itu..


hus,,, ia mengeluarkan nafas legah dikalah tau itu bukan uminmya, ia takut sekali uminya tau membuat ia memngusap dadanya itu,”Ini tu vitamin mbak.. hehe.. soalnya Rindu capek dari pasar.” Ujar Rindu tenang.


Intan adalah istri sepupu Rindu, yahh.. dia juga sudah punya anak umurnya 3tahun dan kenapa Rindu panggul mbak? Karena mereka seumuran, hanya beda satu tahun saja.. mereka menikah muda karena taulah ya anak muda..


Rindu menghela nafas menatap Mbak Intan yang bertanya. Dan mbak Intan menatap Rindu curiga, namun ia mengeleng disana dan menghela nafas.”Ini tadi abbimnu nitip kunci pintu, katanya dia ada urusan sebentar.. maaf ya baru bisa ngasih, soalnya tadi Dafi nangis terus.. enggak tau, kayaknya dia lagi kangen neneknya tuh.”Ujarnya kepada Rindu membnerikan kunci rumah Rindu.

__ADS_1


Rindu menerimanya dengan senang.” Kamu sekarang udah beda banget ya.. hehe.. gimana ya mukanya beda juga enggak ya.. “Ujar mbak Intan menepuk tangan Rindu yang menerima kunci itu.” Gimana kota? Enak enggak kulianya disana? Enggak mau pulang lagi ya, kasihan bapakmu sampek sakit wkatu pas dia terakhir jenguk kamu..”Ujarnya disana lagi. Ya.. mereka cukup dekat, karena mereka yang semumuran dan anak Intan ini suka sekali main dengan Abbi dan Ummi Rindu. Bahkan anaknya lebih dekat dengan abbi Rindu., memang benar kata orang, jika anak kecil lebih tau yang mana yang tulus dan baik.


Rindu tertegun disana mendengarnya, apa? Terakhir kali abbinya ngejuk dia? Berarti itu disaat ia dikeluarkan dari kampus bukan? Rindu merasa hatinya teriris mendengarnya.. lalu apa tadi? Kota? Kulia? Berarti abbi dan umminya tak mengatakan jika ia sudah dikeluarkan dari kampus dan diusir? Itu membuat ia terharu, ummi dan abbinya masih bisa menutupi semua kesalahan dan juga kejahatan yang ia buat..


“Eh diomongin malah bengong..”Tegus Intan dengan Rindu..”Dan kemarin itu juga ada dua mobil mewah loh kerumah kamu..”Ceritanya mengamit Rindu lagi dengan gaya emak emak gitu loh membuat Rindu mengerjab menatapnya.” Kalian punya saudara atau kerabat orang kaya yah ternyata, pantes aja anak umi dan abbi kamu bisa kulia dan sekolah semua padahal anak petani hehe. Ternyata kalian ini dari orang berada ternyata..”Ujarnya lagi.


Rindu mengerutkan keningnya. Kerabat orang kaya? Perasaan Rindu tidak, ayahnya dari keluarga yang sederhana, ada si beberapa yang kaya tapi jauh.. disini kerabat ibunya semua, iya.. ini kampung halaman ibunya asli, jadi sekitaran rumahnya Rindu ini adalah keluarga semua.. jadi kerabat yang mana? “:Mobilnya apa mbak? Alva? Avanza atau gimana?” tanya Rindu, ya mobil mewa didesa begini ya itu….


Intan mendengus melihat Rindu.” Kamu ini gimana si, katanya tinggal dikota, tapi kok malah bahas mobil gituan.. ini tu mobil mewa itu, yang kepalanya bisa ditutup dan dibuka, terus pintunya bisa dibuka sendiri itu loh ih Rindu.”Jawabnya serius.” Dan lagi tau nggak.. mobilnya kinclong.. semut aja keknya kepeleset tau nggak... ” Lanjutnya.


Rindu tambah merengut dibuatnya. BMW? Sport? Atau apa? Ia rasa tidak mungkin, karena saudaranya tak ada yang sekaya itu.. “Apa sii mbak Rindu engak ngerti sii..”Ujar Rindu menggeleng.”Rindu enggak punya kerabat yang kaya gitu.. kerabat Rindu itu biasa aja kok…”Jawabnya dengan serius,.


Intan mendengus dibuatnya.” Ya Tanya aja sama Ummimu atau abbimu.. mereka pasti tau, sioalnya mereka suka kesini dulu pas kamu kulia, bahkan dulu permah bilang sama mbak kalo kamu pulang harus kasih tau dia, karena dia kangen sama kamu.” Ujarnya lagi kepada Rindu membuat Rindu tambah bingung,


“Yasudah ih kalo gitu, takutnya Dafi nangis lagi mbak terlalu lama disini.. kamu nanti jangan lupa main kerumah mbak ya.. nanti kita masak tekwan atau pekmpek gitu… mbak juga kangen sama kamu, tadi aja mbak kaget dengernya dari abbi kamu kamu kamu udah pulang.” Ceritanya lagi.


“Yaudah mbak.. titip salam ya untuk suami mbak dan anak mbak. Rindu juga kangen, nanti insyallah Rindu main kerumah mbak ya.”Ujarnya membuat Intan mengagguk. Dia masih sangat cantik, tubuhnya masih langsung, ia tak Nampak jika bagaikan ibu muda biasanya. Ia tak mengenakan hijab membuat rambutnya sebatas bahu.. sebenarnya memang keluarga Rindu ini hanya keluarga Rindu yang memang taat dalam agama, yang lain tidak..


“Ih Rindu abbi kamu enggak angkat telepon, dia malah chat ummi katanya dia lagi rapat dikemenag sekarang..Ummi capek gimana ini kita masuk nya Rindu.. abang kamu kemana lagi ih..”Ujarnya mengerutu kepada Rindu.


Rindu menatap Uminya itu lalu menjulurkan kunci dari Intan tadi.” Ini ummi tadi mbak Intan nitip, katanya abbi nitip sama dia tadi… barusan dia pergi, tadi umi kemana si?” Tanyanya dengan santay.. kepalanya tak terlalu sakit lagi sii. Memang benar Rey ya,. Ngasih obat pasti yang mahal.. jadi efeknya lumayan bagus..


Ummi Rindu menatap Rindu datar.”Rindu ih nyebelin banget sii. Ummi udah capek capek ke bik Mus nanya kalo abbimu nitip kunci atau enggak, telponin orang sana sini.. enggak taunya sama kamu ih..”Rutuknya sembari mengambil kunci ditangan Rindu dengan kesal.” Eh enggak taunya sama kamu yang duduk anteng sdisini, kenapa enggak bilang aduhh jika sama kamu disini.” Katanya sembari membuka pintu dnegan kuncinya.


Rindu menghela nafas, ia tak suka begini..”Tadi Uminya enggak tau kemana mi.. tadi mbak Intan ngasihnya aja barusan mi, bukanya enggak mau ngasih tau, tapi memang baru tau Rindunya mi..” Jawab Rindu dengan helaan nafas.


“Ngeles aja terus kayak bemo…” Ujar uminya Rindu sembari membawa barang dari pasarnya tadi kedalam rumah..” Enggak pernah berubah, kalo Umi ngomong satu kamu jawabnya sepuluh… umi aja tu capek kalo ngajak kamu debat, “ Omelnya.

__ADS_1


Rindu menghela nafas kasar dibuatnya.”Ya udah mi maaf ya Rindu enggak tau tadi..” Mengalah adalah jalan yang terbaik,” Rindu masuk kamar dulu ya mi, soalnya rindu capek..”Ujar Rindu kepada umminya yang masih saja berjalan menuju dapur.


“Eh eh enak aja kamu mau kekamar mau istiirahat..” Julit uminya menatap Rindu.” Itu sayurnya taro dikulkas dulu.. jangan lupa bersihin ikan sama ayamnya biar lebih awet dan bersih.. kamu ini anak gadis enggak boleh manja dan juga lelet ya, harus sigap dan juga rajin.” Lanjutnya.


Rindu menatap Uminya dengan bingung.” Umi mau kemana memangnya? Kenapa enggak ummi aja? Rindu pusing mi, kalo enggak nanti aja ya Rindu beresinnya.” Jawab Rindu jujur disana, bisa bisa ia akan kecapean dan sakitnya ketahuan nanti.


Umi Rindu mendelik lalu mendekati Rindu. Pluk.. Rindu meringis dikalah pahanya ditepuk uminya itu.” Kan Umi udah bilang kalo anak gadis itu enggak boleh malas Rindu supaya nanti udah nikah kamu terbiasa ngurusin semuanya, biar kamu enggak kaget..”Katanya getregetan membuat Rindu menutupi telingaja “ Ini lagi pakek ditutup segala.. cepet sana… umi mau tidur, umi capek tau nggak.ummi udah tua jadi tenaga umi tu dibawah tenaga kamu.” Lanjutnya.


Rindu memjit kepalanya dengan lelahnya lalu mengangguk. Sikap ibu kalian gimana si? Gini juga nggak? Ya gini, Rindu itu orangnya tak suka diperintah begini, jika ia tak mau tandanya ia tak mau. Tapi sekarang ia dipaksa membuat ia tak tau harus apa membuat ia menghela nafas.”Baik ummmi.”Jawabnya dnegan lelah.


Uminya tersneyum dibuatnya lalu kekamarnya.” Iya.. ummi istirahat dulu..” ujarnya membuat Rindu kembali membawa bawaan tadi dipasar kedapur untuk menaruh semua sayurnya tadi tanpa ada rutukan, ia memang harus rajin kan untuk masa depannya? Ehh ngomong ngomong Riolndu punya masa depan tidak ya?


Tapi Rindu menatap sayurnya itu lalu menyusunnya, namun otaknya bekerja keras sekarang,. Siapa saudara yang mbak Intan bilang tadi? Apakah dia saudara ayahnya yang tidak ia kenali? Atau sauadara ibunya yang tak juga ia kenali? Tapi kenapa ia bisa tak kenal? Padahal ia dulu suka melihat keluarga ayahnya yang jauh, ia juga tau seluk beluk keluarga umminya ini.. tapi mengapa bisa begini?


Rindu menghela nafas dikalah semua sayur didalam kulkas itu sudah ia masuki kekulkas.. ia mengambil satu buah Pir dan mencucinya.


Ia memakan buah itu tanpa dibuka kulitnya, namun ia mendengar teriakan uminya.”Rindu buahnya jangan dimakan, soalnya untuk buat sop buah malam nanti..”


Glegh.. Rindu menelan buahnya itu lalu menatap buahnya.


Rindu mendelik dibuatnya. Bagaimana bisa Uminya tau? Dukunkah ummminya itu? Kok bisa. Ia mengeleng dibuatnya lalu.”Iya Mii..” Ujarnya namun tetap saja ia memakan buahnya tanpa mendengar perintah umminya itu.. jangan bilang Rindu jika ia mendengarkan umminya secara patuh haha.. maaf ya guys.. Rindu memang sudah toubat tapi kebiasaan tetap sama.


“Nah kan..”Rindu tertegun menatap uminya yang didepan pintu menatap Rindu yang sekarang memegang buah Pir yang sudah tiga kali gigit itu dengan tajam membuat Rindu menelan buahnya kasar dan menyembunyikan buahnya. Padahalkan sudah dilihat oleh umminya. Umminya bersedekap dada dibuatnya menatap putrinya itu. “ Udah Umi tebak kalo iya kamu itu sama aja ‘tidak’ nya kamu.. kalo larangannya kita itu adalah ‘Izin bagi kamu’” Lanjutnya.


Rindu tercengir dibuatnya lalu melanjutkan memakan buahnya.”Lagian Umi telat si ngingetinnya. Rindu tadi udah gigit. Jadi tanggung kalo ditinggain, kata umi waktu Rindu kecil, kalo makan yang udah dimakan tapi ditinggal nanti Rindu digigit setan,.”Elak Rindu dengan polosnya disana sembari duduk dikursi makan.


“ngeles aja terus kamu Ri rin…” Ujar Uminya kepada Rindu lalu mengambil minum diatas meja disamping Rindu.”Ituvtu Cuma cara umi aja biar kamu tu makan, kalo enggak digituin kamu enggak mau makan, maunya Cuma makan bakso ih..”Ujarnya menjulak kepala Rindu dengan telunjuknya, kebiasaan uminya itu, memang umminya sedikit kasar maklumin ya.

__ADS_1


“ Pokoknya malem nanti kamu beli lagi itu buah kalo enggak cukup ya.. beli didesa samping nih., males umi marah marah.” Ujarnya.


Yang marah dari tadi siapa kalo Umminya mala marah marah? Rindu geleng geleng kepala saja dibuatnya melihat tingkah Umminya itu....


__ADS_2