Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
DGR 20


__ADS_3

Rindu sama sekali tak merasakan lelah ditubuhnya. Dari dulu ayah dan ibunya selalu berlaku kasar untuk mendapatkan kehendak mereka. Diwaktu kecil Rindu pernah dipukul habis-habis supaya Rindu bisa mengaji, Rindu selalu disuruh hal yang sama sekali tak ia sukai, seperti mengikuti pengajian ibuk-ibuk, memasuki pesantren dan lainnya. Tapi Rindu selalu menolak. Karena itu saat kuliah Rindu memilik untuk menyewa Rumah saja.


Saat SMA Rindu pernah diusir dari rumah karena berbuat ulah. Jika bukan kakaknya yang membujuk supaya ia pulang, mungkin sampai detik ini ia tak akan memijakkan kakinya dirumah. Hidup Rindu keras, ia suka kebebasan tak menyukai kekangan.


Air mata Rindu banjir. Ia menyusuri jalan perkotaan dengan tatapan kosong, sesekali ia menabrak orang yang berlalu lalang. Iacapek, ia merasa hidupnya berantakan. Sakit didadanya menjadi jadi, ia memegang dadanya. Ia bersandar disebuah pohon besar.


Rindu memegang dadanya, ia menghentakkan punggungnya dipohon tersebut untuk mengurangi rasa sakit. Sakit ini sebelum ia memasuki rektor tadi, tapi ia hanya menahannya saja. Sudah tiga bulan ini ia mengalami sakit didadanya menjadi-jadi. Sering lemas dan pusing. Ia juga sering mimisan. “Sakit.” Gumamnya. Matanya terpejam, ia memukul dadanya.


“Mbak. Mbak nggak apa-apa?” Suara pria itu terdengar ditelinga Rindu, tapi sakit didadanya tak memberi kesempatan untuk Rindu membuka matanya. Penglihatan Rindu memburam, ia sama sekali tak bisa Bernapas saat ini. Ia bahkan tak mengetahui jika hidungnya sudah mengeluarkan darah segar..


Blabb..


Kegelapan merebut paksa penglihatan Rindu.


Pria itu panik menatap Rindu. Ia memaggil temannya untuk membantunya membawa Rindu. Ia membawa Rindu kerumah sakit terdekat.


....


“Bagaimana keadaannya sus?.” Tanya seorang dokter.


Suster yang awalya mengecek nadi Rindu menatap dokter tersebut. “Sudah baikan dok. Mungkin sebentar lagi dia akan sadar.” Jawabnya.” Dan ini hasil cek up nya dok.” Ia menyerahkan kertas yang dilapisi mab hijau.


Dokter itu menerima mab itu. “Terima kasih sus, kamu bisa kembali...” Ucapnya tegas. Suster itu hanya menganggukan kepalanya dan pergi.


Dokter itu menatap mab hasil cek up Rindu. Ia mendaratkan pantatnya dikursi samping Rindu dirawat. Matanya meneliti setiap kalimat, ia mengerutkan dahinya. Ia menatap Rindu sendu.


Rindu merasakan silau dimatanya, ia membuka matanya secara berlahan, matanya terasa berat. Diseluruh bagian tubuhnya terasa sakit, matanya menatap langit-langit rumah sakit tersebut.


Ia mengernyitkan keningnya,'Putih....' Hanya warnah itu. Matanya teralih kepada dinding-dinding sekitar. Semuanya berwarnah putih bersi. Ia mengangkatkan tangannya untuk memijit pelipisnya, ia merasakan kepalanya sangat sakit. Tapi tangannya dihentikan oleh seseorang.


“Jangan bergerak, nanti infus kamu rusak.” Suara bariton itu masuk kedalam gendang telinga Rindu.

__ADS_1


Rindu menatap tangannya. Mamang benar disana ada selang infus. Matanya beralih menatap asal suara. “Dimana saya?” Gumamnya. Ia mulai mengangkat tubuhnya untuk bersandar dikepala ranjang.


Dokter itu reflek berdiri dan membantu Rindu duduk. “ Kamu berada dirumah sakit” Ucapnya.


“Rumah sakit?” Beo Rindu. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


“Tadi saat saya dari restoran saya melihat kamu bersandar dipodon pinggir jalan dengan raut kesakitan. Saya bertanya kepada kamu tapi kamu malah pingsan, jadi saya bawah kamu kerumah sakit.” Ucapnya lembut.


“Kamu siapa?” Tanya Rindu. Pria yang ia lihat menggunakan jas putih. Ia berfikir jika didepannya dokter.


“Saya dokter disini. Kamu lupa dengan saya?” Tanyanya.


“Memang kita pernah bertemu?” Tanya Rindu kepo.


“Ya. Kamu pernah membantu saya waktu itu. Waktu tengah malam saya dikepung pembunuh.” Jawabnya.


Rindu mengernyit, ia mencoba mengingat kejadian yang diceritakan pria idepannya. “Hm Ya, ya saya ingat...” Ucapnya cepat.


“Rindu.” Rindu menerima uluran tangan pria itu.


“Kamu tidak mau memberi tahu orang tua kamu?. Tadi saat saya mau memberi kabar keluarga kamu, tapi saya tidak menemukan apapun...” Ucap Natan bingung. Ia menatap Rindu serius.


Rindu tersenyum tipis. “ Nggak usah.” Ucapnya singkat. Mata Rindu kosong, ia meneranwang apa yang terjadi sebelumnya.


“ Tapi saya harus bicara kepada mereka. Ini menyangkut kesehatan kamu.” Sahut Key.


Rindu menatap Key serius. Sepertinya Key sangat serius saat ini. “ Katakan saja pada saya. Orang Tua saya jauh dari sini. Mereka tidak akan bisa hadir disini.”Jawab Rindu.


Key menghembus nafas napas panjang. Matanya menatap Rindu sendu. Lalu ia memegang pundak Rindu lembut. Lagi-lagi ia menghembus napas panjang lalu berucap. “ Kamu mengidap kangker hati stadium 2. Kamu yang kuat ya, saya yakin kamu akan sembuh.” Ucapnya lembut.


Rindu menggelengkan kepalanya tak percaya, matanya melirik Key dengan tanda tanya ada senyum ejek diwajahnya. Lesung pipinya terbuka lebar menambah kadar kecantikannya. “ Jangan bercanda dok. Siapa sii resek banget mau ngeprank saya. Tunjukin dong dimana kameranya.” Ucapnya. Matanya melirik semua sudut ruangan.

__ADS_1


“Saya nggak bercanda, saya serius. Saya tahu kamu tidak bisa menerima keadaan ini begitu mudah.” Kata Key serius.


Rindu tersenyum masam lalu memegang tangan Key dipundaknya. “ Dok. Saya nggak suka bercanda, lagian juga saya nggak ulang tahun.” Lagi-lagi Rindu sama sekali tak mempercayai semua itu.


“Kamu yang sabar. Saya yakin kamu kuat. Saya sama sekali tidak bercanda. Jika kamu tidak percaya , kamu lihat aja hasil cek up kamu.” Ia menyodorkan mab hijau itu kepada Rindu.


Rindu berlahan-lahan mengambil mab itu, ia membukanya secara terburu-buru. Matanya melebar tak percaya saat disana tertulis (positif kanker hati). Ia mengerjabkan mata berkali-kali. Ia menggosok matanya berkali-kali untuk memastikan jika ia tak salah baca.


Rindu mendongak menatap Key yang diam menatap Rindu. “Dok, coba dokter jelasin secara terperinci lagi. Saya belum paham...” Suara Rindu berat. Ia bahkan mengerjab mata beberapa kali.


Key mengambil nafas dalam dan menghembus kasar, ada senyum kecut diwajahnya. Ia tahu perasaan Rindu. Siapa yang tidak akan kaget saat seseorang tahu jika ia terserang penyakit serius. “ Begini. Kamu mengidap kanker hati stadium 2. Sebenarnya kanker ini diperkirakan tumbuh empat bulan lalu. Kanker yang kamu derita berjenis kanker ganas. Karena itu, ia cepat mengembang ditubuh kamu. Biasanya kanker jenis ini cepat sekali menyebar dan mematikan syaraf ditubuhkamu. Seperti yang kamu rasakan seperti biasa. Sesak didada, sakit yang tak tertahankan diulu hati, mimisan, lemas dan lainnya...” Jawabnya panjang lebar.


Semua yang diucap dokter Key memang benar adanya. Ia merasakan semua hal itu selama beberapa bulan belakangannya. Ia mencoba untuk tersenyum menutupi kesedihan dan kekagetannya. “Lalu. Apakah saya bisa sehat lagi dok?” Tanyanya.


“Itu bukan hak saya untuk menjawab. Tapi kamu bisa menjalankan kemoterapi selama 2minggu satu kali dan oprasi. Karena kanker kamu sudah membesar dihati kamu, jadi kemungkinan kita perlu donor hati untuk kamu. Sebenarnya pengangkatan kanker juga bisa dilakukan tapi, itu sangat bahaya” Jawab Key.


“Lalu, jika melakukan oprasi donor hati ini lebih efektif dok? Biasanya pasien sebelum saya melakukan oprasi ini sehat nggak dok?” Tanya Rindu semangat. Ia sangat berharap jika ia masih bisa hidup dan sehat.


Key menatap Rindu sedih. “ Begini Rindu. Karena kanker yang kamu derita ini kanker ganas, maka kemungkina oprasi donor Hati itu cukup kecil. Karena kamu sudah memasuki tahap 2 sehingga organ dalam kamu sudah rusak oleh kanker ini. jika melakukan oprasi mungkin kesembuhan total itu sebesar 5% dari 100%. Tapi jika kamu melakukan pengangkatan sel kanker, kamu harus melewati tahap beberapa kali oprasi dan itupun belum tentu bersi.” Jawab Key sedih. Ia tak sanggup mengatakan semua itu. Tapi itu semua tanggung jawabnya. Ia harus melakukan hal itu.


Dengan susahh payah Rindu menahan air matanya keluar. Ia beberapa kali mengerjab dan menenggelamkan bibir tipisnya. “ Jadi maksud dokter, saya bakal mati gitu?” Tanya Rindu polos. Suaranya berat menandakan isak tangis itu dipendam.


“Saya tidak bicara seperti itu. Semua ada pada tangan Tuhan. Jadi kamu harus berusaha semangat dan menjalankan semua prosedur kesehatan.” Semangat Key.


“Memang berap biaya oprasinya dok?” Tanya Rindu lagi.


“Mungkin 300-500juta untuk penyembuhan kamu. Karena itu harus menggunakan tenaga medis ahli.”


Rendi memejamkan matanya. Ia menarik nafas sedalam dalamnya untuk menenangkan iri. “ Kamu baik-baik saja Rindu?” Tanya Key saat menatap Rindu memejamkan matanya.


.

__ADS_1


__ADS_2