
Pria bernama Dimas itu terkejut saat melihat mata Rindu. ia seakan kenal dan ciren tapi ia lupa. Mata yang ia suka, apa lagi dengan panggilan gadis didepannya ini. suara itu? “Loe siapa?” Tanyanya, sebab memang wajah Rindu sudah ditutup rapat, hanya matanya saja yang nampak.
Rindu tersenyum tipis dibalik niqobnya. “ Gue Rindu kak. Kakak enggak inget?” Tanyanya pelan.
Satu detik...
dua detik..
tiga detik...
Dimas menatap Rindu dengan tatapan tak percaya. Ia tertwa sinis, tagannya belum ia lepaskan dari pergelangan tangannya. “Jangan mengada... Apa buktinya?” Ia menatap mata Rindu yang coklat itu, ia ingat jika mata ini memang mata seseorang yang sangat special. Ia ingat akan hal itu.
Rindu terkekeh. “ Kakak enggak inget tu? Yakin nggak inget? Mau kasih bukti yang mana?” Tanya Rindu terekeh. Lenyap sudah rasa sedih dan rasa marahnya tadi. Ia sangat ingat pedmuda didepanya ini, sangat kenal bahkan.
Semua orang terperangan melihat Rindu yang menal dengan Dimas. Siapa Rindu sampai bisa bicara dengan sii presiden mahasiswa? Pria dingin yang menakutkan? Ada yang berbisik-bisik yang mengatakan Rindu sok kenal. Buktinya saja sekarang mata Dimas nampak dingin, padahal siapa tau jika hatinya sedang bergemuruh?
“Hm?” Dimas mengangkat satu alisnya sebagai tanda tanya, dan dengan mudah bagi Rindu memahaminya.
Rindu terkekeh, ia bahkan tak sadar tangannya masih dicengkran, cengkraman yang awalnya keras sekarang melembut tak terasa. Rindu menjitak kepala Dimas membuat semua orang terperanga. Bagaimana bisa ia seberami itu? “Masih kaku aja sii?” Ujarnya terkekeh.
On Flashback.
Mata Rindu menatap dua orang yang sedang duduk sangat dekat dikelasnya, mereka canda dan tawa disana. Ada rasa tak senang dihatinya saat ini, tapi ia masih bersikap tenang dan santay. Sampai pada salah satu dari mereka menatap Rindu didepan pintu.” Eh Rindu...” Ia terkekeh pelan. Lelaki disebelahnya menoleh menatap sang empu membuat ia menyungingkan senyuman. Katanya Mereka adalah sahabat sejak lahir. Freandzone? Or Friedsipt? Or? Friendtheshitt? Entah Rindu tak tau.
“Kamu engga cembrukan Dimas main sama aku? Katanya kamu enggak cemburuan?” Tanyanya. Namanya Tamara, gadis cantik, bahkan kecantikannya jauh diatas Rindu, apa lagi tubuhnya yang sangat tinggi dan bagus. Ia mengaitkan tanganya pada Dimas menatap Rindu yang masih disana. Pasti barang pusakanya terhimpit dengan lengan Dimas.
Rindu tersenyum tipis, hatinya terasa sedikit disentil. “Sans, gue enggak masalah.” Itulah yang Rindu katakan, ia mencoba menutupi rasa sakit didadanya, tak mau memberikan hati untuk siapapun termasuk ‘pacarnya sendiri, dan Dimas sekarang menjabat sebagai Pacarnya’
Dimas dikenal dingin dan tak tersentu, wajah tampan dan kaya raya membuat ia dikagumi banyak orang, tapi ia hanya kagum dengan satu orang yaitu Rindu’ Lucu memang jika mengingat bagaimana ia mendapatkan Rindu, ia mengungkapkannya didalam kelas Rindu. kalian tau? Dia s
kakak kelas Rindu dan itu membuat Rindu.Tapi ia sering duduk didepnankels Rindu. Kata orang sii disana adem...
Banyak yang bilang jika Rindu sama sekali tak pantas untuknya. Mulai dari khasta yang berbeda apa lagi wajah yang jauh dari kata sempurna membuat semua orang mengatakan Rindu menggunakan pelet. Bagaimana mungkin? sebab Tamara sebagai teman sedari kecil saja masih diberi batasan dan masih dingin?
“Loe beneran nggak cembur?” Tanya Tamara pada Rindu sinis.
__ADS_1
Rindu mengerjabkan mata pelan, ada rasa sakit tapi tak dihiraukan. Pernah kah kalian merasakan? Itulah yang Rindu lakukan. Ia tersenyum singkat. “Buat apa cemburu? Toh Dimas punya guekan? Tapi kalo dia nyaman sama loe gue ngak apa-apa.” Ujarnya singkat.
Dimas merasakan sakit saat Rindu berkata seperti itu. Ia ingin Rindu marah dan menjambak Tamara. Jahatkah? Jahat memang, tapi jika Rindu tak sakit melihatnya dengan gadis lain berarti ia tak mencintainya kan? Tak cemburu berarti ia tak diharapkan kan? Wajah Rindu yang memang selalu bisa menutupiu semua masalahnya membuat Dimas tak tau apa yang dirasakan oleh Rindu.
Tamarah menatap Rindu sinis. Dengan sengaja ia menempeli tubuhnya dengan lengan Dimas dan itu tak luput dari matanya. Ia merangkul leher Dimas lalu mencium pipinya didepan Rindu. Dimas nampak membelalakkan matanya menatap teman kecilnya itu. “Rindu enggak cemburukan?” Tanyanya lagi dengan metapa wajah Rindu. sama sekali tak berubah, yang ada hanya tersenyum samar.
Rindu merasakan jantunya tersentil. Bagaimana bisa? Tapi dengan mudah ia tersenyum tipis, senyum manis yang susah sekali ia tunjukkan pada orang lain, “lanjut aja.” Ujarnya pelan. Suaranya santai, tak ada kesakitan atau apapun itu. Ia menatap kearah lain, ada pohon pinang berjejer rapi dan ada pohon-pohon kecil. Maklum sekolahnya menerapkan pelestarian bumi, jadi wajar banyak pohon. Apa lagi didepan kelasnya ada dua pohon mangga yang suka berbuah.
Dimas yang awalnya terkejut Tamara menciumnya dan akan mengerang marah ketika itu menjadi bungkam. Ia tak mendapatkan kemarahan apapun dimata Rindu seakan-akan ia tak ada artinya, Rindu bahkan tak pindah dari tempatnya sebagaimana gadis lain memergoki pacarnya berduaan. Apakah setidak penting itu ia pada Rindu?
Sebenarnya Rindu ingin sekali pergi dari sana. Tapi ia perempuan cerdas, tak akan mau menunjukan ia lemah akan perasaan. Cemburu? Tentu saja, tapi ia malas bermain hati. Sesaat sesudah puas ia menujulkan ia tidak apa apa... “Gue duluan ya kedalem, soalnya Diva mangilin gue.” Ucapnya tersenyum sama.” Kak Dim, jangan lupa makan, loe belum makankan? Udah mau habis istirahatnya, jangan ngobrol terus. Kita FullDay hari ini.” Ujar Rindu perhatian. Ia pergi meningalkan Dimas sang pacar dengan perempuan lain. salahkah?
Dimas mendengar itu tersenyum manis pada Rindu.” Oke be..” Ujarnya. Kata ‘By; itu artinya ‘be itu Baby’ nama pangilan Dimas untuk Rindu. dadanya hangat mendengar ucapan Rindu.
“Loe kenapa mau sama Rindu?” Tamara membuat perhatiannya teralihkan pada dia.
setelah punggung Rindu tak terlihat dbalik pintu. “Loe kenapa cium gue depan Rindu?” Tanya Dimas tajam.
Tamara dapat melihat Dimas marah. Bahkan mata Dimas saat ini sangat tajam. “Gu gue Cuma mau liat dia cemburu sama loe atau enggak aja kok.” Ujarnya sedikit takut.
Tapi loe enggak tau hati guea sangat rapuh liat loe sama cewek lain...!' Batin Tamara
Tamara mengepalkan tanganya. Ia benci dengan Rindu. dan Rindu tau jika Tamara membencinya karena ia menykai Dimas. “ Loe liat Rindu bahkan nggak nanggepin gue nyium pipi loe. Apa loe masih mau bilang dia cinta loe dan suka sama loe?” Tanya Tamara marah.” Loe bilang hati cewek itu rapuh? lalu kenapa Rindu biasa aja liatin loe sama gue ha? Dia tu enggak cinta sama loe Dim, sadar..!” Ujarnya membentak.
Dimas diam tak menjawab, ia menatap Tamara dengan tatapan sadar.” Gini, gue mau nanya sama loe. Apakah Rindu pernah chat loe duluan semenjak kalian pacaran? Apakah Rindu pernah samperin loe duluan semenjak kalian pacaran? Dan apa kah Rindu pernah bilang dia cinta dan sayang sama loe duluan?”
Dimas diam. benar. Rindu tak pernah chat ataupun menanyakan kabarnya duluan semenjak mereka jadian. Rindu memang tak perna mendatanginya duluan semenjak mereka pacaran dan yang terahir Rindu tak pernah mengatakan ia mencintainya. Ia hanya dingin dan kadang-kadang tersenyum tipis sebagaimana layanya ia bersama orang lain.
Rindu bukannya tak mau chat atau meminta kabar Dimas duluan. Hanya saja Rindu tak mau menurunkan harga dirinya. Ia tak suka meminta perhatian, dan ia tak suka mencari perhatian. Apa lagi menemui Dimas duluan? Ch, Rindu benci aan hal itu. Perempuan harus dijemput dan ditemui bukan menemui..!
Harga diri Rindu terlalu tinggi untuk orang baperan.. Egois? Rindu sama sekali tak egois, tak pernah melarang pacarnya merokok, main diluar, tauran, tapi satu hal yang ia ingatkan Jika kamu sudah mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari aku dan dapat membahagiakan kamu, temui aku secara baik-baik dan katakan, kita putus. Aku tak akan marah, sebab aku tau, semua orang butuh yang terbaik, termasuk kalian’ Dan kalimat itu mampu membuat semua pacarnya lulu, yang selingkuh langsung memutuskannya, mereka tak pernah terkekangi oleh Rindu dan merasa Rindu bukanlah gadis cerewet. Bisa dikatakan mereka gagal move on.
Saat acaranya ketahuan selingkuh Rindu sama sekali tak marah ataupun mengajak selingkuhannya itu ribut. Ia bahkan dengan tenang bicara ‘Kadang kita memang harus menyaiti seseorang supaya kita sendiri bahagia, dan gue enggak masalah tersakiti supaya kalian bahagia. gue bisa apa kalo hati dia udah enggak bisa gue genggam lagi? Selamat ya..” Itulah yang ia ucakan tanpa kata putus semua orang tau artinya mereka putus.
Rindu tak pernah diputusi oleh seorang laki-laki. Ia duluan yang memutuskan laki-laki manapun, ia tak sudi diputusi, jika hubungan sudah renggang dan sang pria berselingku tanpa mau jujur ia bisa bicara. ‘Gue engak mau berhubungan sama loe. Gue bosen’ Dan itu sukses membuat pria itu terkejut dan gagal move on. Semudah itu Rindu mengucapkannya?
__ADS_1
Ada yang bertanya, berapa mantan Rindu? maka jawabannya lebih dari 10 orang, dan tak jarang dari mereka minta ;Jatah’ layaknya pasangan lain, minta cium lah, minta ketemuan lah, minta pelukanlah. Tapi sangat disayangkan Rindu selalu berucap. ‘Nanti kalo kamu cium sekarang dinikahan jadi engak gereget. Mau peluk sekarang pas udah nikah udah bosen. Apa lagi kalo minta perawanin, jadi malam pertama kita nggak bakal menarik lagi’ lantas nikahan kita bakalan hambar kan?' Haha... Itu mampu membuat mereka meradang, tapi jika masih macam-macam maka jangan salahkan jika junior mereka menjadi mati rasa.
“Enggak kan? Dia memang enggak cinta sama loe. Dan loe harus ingat itu...!” Tamara diam menatap Dimas masih dengan tatapannya, sakit sekali saat ia ingat jika Rindu tak mencintainya.
Semenjak pertikaian itu membuat Dimas berubah, ia tak lagi menghubungi Rindu, ta pernah lagi berkontak dengan Rindu. yang membuat ia uring-uringan adalah Rindu juga sama sekali tak berniat menghubunginya.
Dulu saat sedang Outboon ia ingat dimana ia bertukaran bekal pada Rindu Rindu yang masak nasi goreng dan ia bawah nasi putih dan sayur ayam. Ia makan disamping Rindu dan Rindu terkekeh sembari mengatakan enak pada masakan ibunya. Ia juga ingat bagaimana ia makan bekal Rindu dibawah kolong meja berdua dengan Rindu. dan itu membuat sekelasnya heboh.
Ada saat dimana mereka mengucapkan salam ingin pulang sekolah, ia mencuri pipi Rindu karena gemes. Rindu makan saat guru sedang menjelaskan membuat pipinya gembung, dengan cepat ia mencubit lalu pergi berlari takut Rindu marah. Rindu termanggu oleh aksi pecurian Dimas dan sedikit terkekeh. Ada guru lo...!
Semua nya berubah dikalah tak ada kabar dan temannya mengatakan jika Rindu memang tak mencintainya membuat ia mundur alone-alone.. Hingga pada kakak kandungnya tak menyukai Rindu karena Rindu suka tawuran dan berelahi. Ia mau memutuskan Rindu namun ragu, membuat ia berinisiatip menanyakan hubunganya dengan Rindu bagaimana, dan Rindu bicara didepan matanya seperti ini.” gue belum putus, tapi kalo Dimas engak ngabarin gue hari ini itu tandanya kita putus dan nggak ada hubungan lagi’ Dan itu mampu membuat Dimas uring-uringan.
Ia menghubungi Rindu namun tak dijawab membuat ia nekat,sebelumnya ia dirumah tak hujan, namun saat dijalan terjadi hujan deras, tak peduli hujan ia menerabas dan datang kerumah Rindu, tidak semudah itu, ia harus terlewat dulu, nyasar dulu dan lebih parahnya ia hampir pulang karena frustasi. Ia memang baru satu kali keruah Rindu membuat ia lupa. Namun sekali lagi ia berusaha mencari rumah Rindu dan berhasil.
Rindu kasihan membuat ia tak jadi ptrus, namun hubungan itu renggang kembali ketika sang kakak tak setuju dan menginginkan adiknya putus. Dimas mencintai Rindu tapi Rindu selalu diam membuat ia memutuskan mengakhiri hubungan lewat Via Sms. Dan betapa terkejutnya ia saat Rindu membalas dengan mudanya ‘Oke’ semudah itu? Tak bertanya alasan mengapa ia mau putus? setidak berarti itu dihadapan Rindu? itu semua mampu membuatnya kecewa dan menjauhi Rindu.
Ia pacaran saat Rindu krlas 2SMP dan ia kelas 1 SMA. Memang sekolahnya satu saja membut SMP dan SMA sama. ia hanya pacaran selama tiga bulan dan mampu membuat ia membenci Rindu setengah mati, sampai kelas tiga ia tak bertegur sama dengan Rindu, sama seali tak ada sapa’an. Begitu juga Rindu, ia terlalu tenang dan santai seakan tak ada apa-apa terjadi padanya.
Namanya juga anak kepo. Sampai pada kelas 3SMA saja orang kelasnya masih penasaran kenapa mereka putus dan dengan mudahnya Dimas mengatakan ‘Kakak gue enggak suka Rindu. dan temen-temen gue engak setuju dengan hubungan kita, mereka benci Rindu katanya Rindu enggak pantes buat gue. lagipula gue pacaran sama dia karena terpaksa dan juga mau coba-coba. Jadi ya enggak penting’
Dan kata-kata itu sampai pada telinga Rindu. dari mana Rindu tau? Ia tau dari teman-temannya. Rindu menangis? Tentu saja, tapi ia menangis dalam toilet. Sudah cukup ia dibenci selama 3tahun lebih dan sekarang ia direndahkan.
Saat masuk kelas ia dihina dan dicap sebagai gadis tak tau diri. Dengan ringan ia menarik tangan Dimas dan berkata.” ‘Siapa yang hujan-hujan dateng kerumah dan bilang kalo nggak mau putus? “Dimas diam ta tau harus jawab apa. Ia menatap manik mata Rindu sangat dingin dan santai.
Semua orang menatap pertengkaran itu, inilah percakapan untuk pertama kalinya merea setelah pisah. Rindu menatap Dimas sedih, tak menyangkah ika orang yang ia sayang berbuat menjatuhkanya. “ Gue tau kok kalo temen loe engak suka sama gue. kenapa loe jatuhin harga diri gue seakan-akan gue rendahan dimata orang lain? apakah gue pernah rendahin loe semenjak kita putus? Gue selalu diem saat loe masih suka bilang yang jelek-jelek tentang gue disemua orang, loe bilang gue ini dan itu, gue tetep diem dan enggak mau ambil pusing urusan loe. Gue enga pernah kasih aib loe kan? Apa gue pernah cerita sama orang lain gimana loe nangis didepan gue engak mau putus? Gimana loe ujan-ujan kerumah gue sampak loe nyasar kerumah gue? atau gue pernah bilang kalo loe sampak dateng kerumah gue jam 12 malem karena gue laper. Enggak kak, enggak. “
.
.
.
.
maaf kyun dua hari nggak up. Soalnya kemarin ada hajatan sedikit penyambitan Id adha hehe....
__ADS_1
Jangan lupa beri komen. like and vote ya...