
Hay hay Sapa salam dari saya...
.
.
.
.
Setiap insan harus memiliki prinsip, yaa... prinsip itru diibaratkan pegangan kita saat hidup, dimisalkan untuk selalu teguu dalam janji dan juga perkataan. Mungkin kita akan diangap keras kepala ataupun pemberontak. Dan pada intinya, setiap prinsip mu pasti akan berdampak baik untuk dirimu dan juga berdampah banyak uuntuk orang sekitarmu. Jadi, mulailah memiliki prinsip. Meskipun sakit tapi pronsip mu lah yang menentukan tingkat kekhalifaan dirimu. iya kekhalifahan.... Bukanlah setiap manudia itu adalah pemimpin,
Iya pemimpin....
Pemimpin disini artinya bukan hanya sebagai kepala negara atau apapun itu, tapi pemimoin akan diri kita sendiri, mengontrol kita. Membatasi diri kita. jika kita tak mampu memimpin diri sendiri, bagaimana bisa memimpin banyak insan? Mari bangun diri sendiri sebelum membangun orang lain...
Seperti seseorang didalam mobil satu ini, ia diam sedari tadi karena Habib memaksanya pulang, sedangkan ia belum mau pulang, ia mau tau bagaimana kondisi keluarga Hendrawan. Ia pulang harus diseret terlebih dahulu tadi membuat Habib gemes akan pemberontakan yang sangat besar didiri Rindu.
“Kamu marah sama saya?” Tanya Habib memecahkan keheningan, ia sedari tadi melirik Rindu yang hanya diam sembari menatap diluar jendelah.
Rindu yang diajar biacar itupun menoleh., ia duduk disamping Habib, sebenarnya tadi ia tak mau tapi Habib memaksanya. “Hm..” Gumamnya kecil lalu kembali keaktivitasnya untuk menatap diluar saja. Fikirannya melayang layang menujuh awan. Entah kemana tapi yang pasti saat ini hanya raganya saja disamping Habib, tapi pikirannya tidak.
“Kamu sudah makan?” Tanya Habib lagi, tapi Rindu hanya menjawab lewat gelengan.
“Mari kita cari restoran yang masih buka jam segini..” Ia menatap jam ditanganya yang sudah menunjukan angka 12 malam, dan pastinya susah mencari restoran yang masih buka.
“Tidak usah tuan, saya tidak punya uang.” Jawab Rindu pelan. Ia jujur buan untuk cari muka, tapi ia tak mau malu nantinya, ketika Habib mengajaknya akan dan ia tak punya uang. Lebih baik jujurkan.
Lebih baik malu diawal dari pada malu diakhir bukan?
“Kan saya yang mengajak kamu. Jadi tenang saja...” Ujar Habib lagi. Matanya fokus melihat jalan yang cukup sepih. Maklum sudah tengah malam.
“Tidak usah tuan, saya bisa makan dirumah saja. Saya tidak punya uang untuk membayar makanannya nanti..” Jawab Rindu lagi.
“Uang itu engga ada artinya buat saya..” Habib berdecap sebal.” Kamu lebih berharga dari uang itu, jika kamu sait nanti bagaimana?” Ia merespon secara spontan dan baru bungkam ketika sadar.
Rindu menoleh menatap Habib yang bungkam.” Saya bukan siapa-siapa tuan, saya hanya pembantu...” Ujar Rindu lagi.
“Kamu enggak sadar apa.. Kalo saya itu su—“ Ucapannya terpotong saat mobil depan yang berhenti mendadak lalu bergerak mundur.
Brak...
Argghh.
Kepala Rindu terbentur membuat ia memegang kepalanya sakit. Sebab mobil yang Habib kendarai itu ditabrak oleh pengemudi depan. sedangkan Habib cukup terkejut “Kamu tidak apa-apa Rindu?” Tanyanya khawatir saat mendengar ringisan Rindu.
Matanya nyalang menatap mobil merah didepanya ini. ia keluar dan.” Woy jangan kabur Bastart... Sialan, sini loe gua bunuh juga loo....!” Ia teriak dengan urat dilehernya menonjol, sungguhlah amarahnya memuncak saat ini. mobil itu kabur dan Habib menghafal Plat mobilnya, tak akan ia biarkan hidup tenang diluar sana.
“Rindu kamu tidak apa-apa?” Habib memilih berputar lalu membuka pintu dibagian Rindu. ia melihat mata Rindu memerah karena menahan sakit.
Rindu diam.” Kamu bisa lihatkan kepala saya terbentur? Jika kepala kamu terbentur bagaimana rasanya?” Tanyanya pelan.
“Iya sakit..” Jawab Habib polos sembari mengelus jidatnya sendiri. Ia memang tak terlalu parah.
“Itu kamu tau. Jadi tolong jangan drama yang bertanya saya tidak apa-apa.. saya sudah pasti ada apa-apanya..” Ketus Rindu membuat Habib meringis.
“Sini keluar dulu. Biar saya bantu kamu obatin lukanya. atau mau kerumah sakit?” Tanya Habib mengusap tengkuknya.
“Tidak perlu..” Ujar Rindu mengeleng.
“Nanti lukamu tambah parah, jangan keras kepala Rindu..” Habib menarik lembut tangan Rindu. ia meminta Rindu keluar dari sana.
Rindu menepis tangan Habib karena bukan mahromnya. “Kepala saya hanya memar, jadi jangan seperti ini..”
__ADS_1
Habib tak mau mendengarkan Rindu. ia memilih mengambil P3K dibagian jok belakang lalu kembali membawa Rindu duduk ditrotoar jalanan. Ia juga membawah air dan kapas untuk membersihkan lukanya. “Buka kainnya.” Ujar Habib pada Rindu ringan.
Rindu terkejut.” Tidak. Apa maskdu anda Tuan? Tanya Rindu melotot.
Habib menghela nafas. “Aku mau lihat lukamu. Pasti wajahmu memar sekarangkan? Apalagi tadi om Hendrawan menamparmu. Jadi biarkan aku mengobatimu.” Saat Rindu mau menjawab Habib sudah menyela.” Bukan Mahrom? Jika begitu mari menikah suapaya kita mahrom?”
Fugh..
Semudah itu Habib mengajanya menikah?
Rindu bukannya marah, tapi ia terkekeh.” Sepertinya akibat benturan tadi otakmu sedikit bergeser tuan
” Gumamnya.
Habib mencebib melihat Rindu sama sekali tak mempercayai dirinya.” Jika begitu cepat buka kainya. Aku mau mengobatimu...” Ia mengalihkan pembicaraan saja, sudah ditolak untuk ketiga kalinya dalam melamar Rindu membuat hatinya memanas.
Hey Habib. Caramu mengajak Rindu itu yang salah....!
Rindu yang memakai sarum tangan itu menahan tangan Habib, inilah alasan kenapa ia mengunakan sarum tangan, karena ia sudah wanti-wanti, apalagi ia berkerja dengan seorang pria, jadi ia bisa menyentu meskipun tak secara langsung. Mata coklat Rindu menatap Habib sendu. “ Bagaimana peraskaanmu ketika apa yang kau jaga tapi dilihat orang lain? apa yang kau simpan rapat diketahui orang lain?”
“Pasti marahlah.” Ujar Habib cepat. Pasti marahkan? Ketika kita sudah menjaga apa yang kita sembunyikan dari orang lain, apa yang kita rahasiakan tapi orang lain mengetahuinya. Ataur maksamu untuk meberitahu mu.
Rindu melepaskan tangan Habib diniqoobnya. “ Karena itu, jangan membuka kain ini..” Habib tertegun menatap Rindu.” Karena ini hadia untuk suamiku kelak..” Lanjutnya lagi.
Kyak...
Hati Habib mau melompat mendengarnya, tanpa terasa bibirnya melengkung sempurnah. Ia mahkan mernarik tubuh Rindu untuk dipeluk. Tapi sayangnya dengan cepat Rindu dorong.
Bugh..
Habib terpenta lalu terlentang dijalanan dengan mulut mengangah.” Kenapa kau mendoronngku?” Ia mengusap pantatnya yang sudah berdenyut nyeri. Rindu sialan batinnya, baru juga baper, tapi sudah dihempaskan saja kebawah. Inilah namanya. Kau ajar aku melayang tinggih dan kau hempaskan kebummi. Cih...
Rindu dengan santaynya melompat dari trotoar itu kebawah. Bukan kebawah terjun ya. Tapi dekat dengan Habib, Ia menatap Habib dengan datar, ia tak suka dipeluk dan disentu tapi Habib melewati batas.” Kadang kita memang harus kasar untuk menjaga kehormatan tuan. Maaf, saya hanya menahan anda supaya tidak melewati batas.” Ia memilih masuk kedalam mobil dan meningalkan Habib yang masih mengerutu sakit.
“disini itu bosnya siapa yang suka dimarah siapa. Dasar pembantu laknattt kau Rindu..” Gumamnya Habib sembari berjalan.
Mulit Habib seikit terbuka karena terkejut.” Wahh kapnya rusak lagi.. itu saya mengumpati pengendara tadi Rindu. jangan salah paham ya.. bak..” Ia memukup kab mobil depannya, alhasil tanganya sendiri yang sakit, ia mau sekali mengenjin akibat tanganya sakit tapi tak mau malu didepan Rindu. saat Rindu memutar bola malas ia meringis lalu mengebas-ngebaskan tanganya.” Silana... kayaknya tangan gue dosa karena mau nyentu yang bukan mahrim..”
Gumamnya mengernyit.” Sabar ya tangan, nanti kalo udah nikah baru boleh peyuk peyuk manjah litah hihi..” Habib terkekeh sendiri.
Rindu merinding melihat Habib, tapi marah, lalu meringis dan sekarang tertawa. Sudah enggak waras ni tuannya. Tapi ia hanya menggelengkan kepala saja karena tak mengerti jalan pikiran Habib.
.....
Rindu dan Habib melakukan sesuai kesepakatan, yaitu makan terlebih dahulu, tapi satu hal yang berbeda, yaitu Rindu harus menahan ringisan kecil akibat dua sisi sudut bibirya perih akibat tamparan dahysatnya Hendrawan tadi. Sedangkan Habib yang tak tau ia diam saja.
“Kau tak repot makan menggunakan kain itu?” Tanya Habib sembari mengunyah makanannya. Ia bisa melihat Rindu harus menyibak kain Hitam diwajahnya, jika dlihat itu pasti sangat mengganggu sekali.
Rindu awalnya memang sangat terganggu dan risih jika melakukan hal semacam ini. tapi karena ia sudah terbiasa membuat ia sudah anteng saja dengan apa yang ada didirinya. “Tidak...” Ujarnya pada Habib. “Maksudku tidak terlalu risih, biasa saja karena sudah terbiasa..” Lanjutnya untuk jujur. Rindu memang selalu jujur tentang pendapatnya, ia bahkan tak pernah berbohong suatu hal sedari ia kecil. Dan itulah kelebihan Rindu.
Habib hanya mengangguk pasrah karena tak tau harus menjawab apa. Ia diam-diam mencuri pandang pada Rindu. ‘Aku merindukan wajahmu Rindu...’ Gumamnya alam hati. ia masih ingat bagaimana lesung pipi andalan Rindu. ia masih ingat gingsul Rindu yang menambah kadar kemanisannya. Ahh, semuanya menjadi candu bagi Habib dan satu hal juga membuat ia sangat suka pada Rindu, karena Rindu sii gadis pemberontak.
.....
Seusai makan. Habib dan Rindu kembali membelah jalan, perbedaannya Rindu tertidur disamping Habib sedangkan Habib fokus mengendarai mobil. Tadinya Rindu menolak saat ia hendak tidur, tapi Habib mengatakan ia harus tidur supaya ia tak sakit dan tentunya Rindu terima dengan senang hati.
Saat diperjalanan yang sebentar lagi sampai, saat ingin memasuki perkelongan dekat taman Mobil mereka dicegat oleh seseorang, dan itu adalah mobil merah tadi. Habib mengernyit, ia masih sangat ingat dengan Plat Mobil itu. Diluar sana ada dua pria berbadan kekar dan mandau ditanganya. (Pisau besar/parang itu loo.. atau piasu besar)
Habib mau melewati saja tapi jalan sudah ditutup habis oleh mobil yang melintang dan dua orang itu membuat Habib berhenti. Mau berbelok tapi sudah sangat dekat membuat ia tak bisa berbelok.
"Dor.. dor.. dor.. “Keluar...!” Teriak diluar jendela. Ia mengedor jendela mobil Habib kencang.
Habib meringis negri-ngeri sedap. Ia tak sekuat Filoss sekretarisnya. Tapi dengan sok nya ia keluar dan menatap mereka garang.” Apaan sii? Kenapa jalanya ditutup dan kenapa kalian gedor-gedor kaca mobil saya. Emang kalian nanti bisa ganti ha?!!” Tanyanya sekaligus membentak.
__ADS_1
Merka mencondongkan madau itu keleher Habib. “Beri kami kunci mobil, atau kita bunuh lu.!!!” Ujarnya keras.
Habib yang mendapatlan serangan semacam itu langsung menedang perut pemilik pisau itu membuat ia terjungkang.
Temannya tak tinggal diam. ia melayangkan kapak tajamnya itu ketengkorak kepala Habib membuat Habib terkejut, untunglah Habib merunduk dalam dan melakukan rol sehingga kapak itu hanya mengena angin. “Kepara*.” Bentak dari salah satu yang memegang kapan itu.
Habib gemetar karena merasakan takut. Siapa yang tak takut melihat mereka seperti ini. ia melihat satu pria itu memegang seperti samurai bukan lagi mandau, panjang dan mengkilat tanda sangat tajam, dan satunya lagi membawa kapak sungguh. Mereka ini pembunuh atau penodong saja?
“Kalian boleh ambil mobil saya tapi lepaskan saya dan istri saya..” Ujarnya takut. Ia mengangkat tangan keudarah tanda menyerah, jangan lupakan kata istri terperuntuk Rindu yang sekarang sudah mulai terusik oleh keributan merka.
“Kamu sudah menantang saya... jadi jangan harap bisa lolos. Bunuh dia...!” Teriak sang pemegang mandau itu.
Habib gelagapan. Ia tak tau harus berbuat apa. Ia menghindar sebisa mungkin. Tapi diarah pria pemegang kapak itu menendang perut Habib hinga Habib terkapar. “Loe tadi kan yang panggil kita bangsa* dijalanan. Dasar anjing, tau rasa loe..!!” Teriaknya kesal.
Ternyata mereka adalah mobil yang memang menabrak kab depan mobil Habib. Lalu kebapa ia marah? Ia marah karena Habib mengumpatnya tadi.
Itu karena.mereka diumpat oleh Habib. Masih ingatkan Habib meneriaki merrak tadi dan iyu menkadikan mereka dendam....
Makanya ya jaga lisan..Sebab lisan itu tajam dan paling bahaya meskipun tak bertulang...
Kaena Habib sudah terkapar diaspal membuat sang pemegang kapak itu semakin gencar. Ia menatap Habib nyalang dan mulai mengangkat kapaknya tinggih. Dan..
Bugh..
Ia terjungkang dengan kapak tergeletak. Ia bahkan hampir memeluk Hbaib jika Habib tidak bergerak dan.mengihindar.
Dengan cepat pria pemegang mandau itu melihat kebelakang. Ia bisa melihat gadis bercadar dengan mata yang memerah menyalah. Gamisnya sokbek akibat ia menedenga dengan keras tadi, “Siapa loe...!” Teriaknya.
Habib tak menyia-nyiakan kesempatan, ia bangkit lalu menendang kapak itu menuju bawah mobilnya dan berdiri tegak. “Yang seharusnya nanya itu gue. kalian siaapa?” Tanya Rindu dingin.
“Bacot loe anjeng...” Ujar sang pria memegang mandai itu. Ia bergerak cepat melayangkan mandau itu kekepala Rindu. tapi sepertinya memang tubuh Rindu yang lentur membuat ia dengan mudah kayang dan menghindar serangan itu. Lalu kaki kananya terangkat dan.
Bugh..
Satu tendangan tepat mengenai dagu pria itu membuat gemertak gigi kencang. Tak sampai disiru. Rindu juga menendang pria itu tepat ditempurung kepalanya. Dan mandau itu lepas. Suara dentingan keras antara mandau dan aspal terdengar jelas.
Habib terkesimah melihat Rindu yang sangat mahir akan bertarung. Tentu saja, sebab Riblndu mantan guru Tekwondou dan juga silat. belum lagi ia belajar silat Harimau dengan ayahnya dirumah, sedangkan kakanya warga dari silat terate setia hati membuat ia sangat pandai dalam bertarung. Apalagi ia mantan murid yang suka tauran dan bertarung. Ahh, Rindu itu terlalu sering berkelahi membuat itu semua memang tak ada arti.
Jika Habib taut melihat seseorang menyerang menggunakan piasu, mandau dan kapak tapi itu tak berlaku bagi Rindu. sebab jika Rindu tawuran. Itu sudah pasti ada yang membawa kayu, rantai, piasu. Golok ataupun parang kebun. Jadi itu sudah biasa bagi Rindu. apalagi pernah ada yang membawah tanjam motor.
“Awas...” Ujar Rindu saat melihat pria dibelakang Habib itu menerjangnya.
Habib terkejut tapi sudah tak bisa mengela. Rindu dengan cepat memeluk Habib dan berbelok.
Bugh..
.
.
.
.
.
Like komen and vote yey
.
.
**Saya perhari memamg up satu bab saja. tapi satu bab itu lebih dari 2000 kata, jadi sebenarbya setara dengan 2bab. karenamya saya enggk perna crzy up hehe... Maaf ya...
__ADS_1
Salam ukhua..
Syafakillah yang suka sama novel Rindu**