Hijrah Sang Gadis Pemberontak

Hijrah Sang Gadis Pemberontak
Penyesalan Hendrawan


__ADS_3

**Hay kakak. Alurnya lebay ya? Hehe maaf ya...


Ada yang bilang alurnya bertele tele hmmm


Gini loo kak. aku tu cuma nggk mau kasih kalian novel Marathon yang isinya khayalan semata. Mana ada manusia langsung taubat saat orang lain cerama. Kalo gitu pasti lautan manusia dibumi ini pasti udah taubat semua. apa lagi tentang sholat dan mengaji. Semua umat muslim tau kalo itu kewajiban, tapi apakah mereka sholat dan mengaji?


Tentu saja kalian bisa menjawab.


Na maka dari itu saya selaku author memberi jalan cerita kenapa keluarga Hollmast ini bisa taubat dan hijrah dengan alur dan alasan masuk akal. soanya hijrah bukan cinta yang muncul dengan tiba tiba eahhh. pasti ada prantaranya ya...


Tapi bagi yang nggk suka saya nggak maksa, soalnya saya cuma berniat nulis novel yang sekaligus sama sama belajar. bukankah kita sesama umat harus mengingatkan? saya juga nggak mau apa yang saya tulis bakal diminta pertanggung jawaban diakhir zaman. sungguh. jika saya hanya menulis tanpa ada ilmu itu adalah suatu hal yang sia sia bukan? jadi marii saling berbagi ilmu dan melaksanakan apa yang sudah kita ketahui dan pelajarai.


Dalam sayang dari saya Novi Vuspita Sari..


Silahkan membaca**


Kadang kita memang butuh jatuh sejatuh jatuhnya supaya kita tak selalu menatap keatas dan supaya kita ingat terakhir kali kita bersujud itu kapan...? --NVS--


Kalimat Ify mampu membuat Hendrawan mengernyit. Taubat? Kenapa? Apakah karena pengaruh oleh gadis pemberontak itu? “Toubat?” Tanya Hendrawan menyakinkan. Apakah ia salah dengar saat ini?


Ify menganguk.” Ify sadar Dad, andai aja Ify enggak dikasih kesempatan buat hidup lagi, gimana hidup Ify dan--?” Ia kembali terisak.” Ify baru sadar, bener kata Rindu, enggak ada yang bisa jamin hidup ini Dad, engak ada yang bisa lihat masa depan kita. kayak kita tadi, siapa yang bisa jamin kita masih hidup dikemudian hati. .. Dan sekarang kita dikasih teguran sama Tuhan Dad. Kita dikasih kesempatan.” Lanjunya sedikit terseta.


“Shut... "Hemdrawan menaruh telunjuknya dibibir yang bergetar itu. Bibr Ifyan.” Kamu masih muda, masih panjang waktu kamu buat ngelakuin banyak hal. Jangan ngomong umur ya... ” Ujarnya lembut.


“No Dad... No. Tadi aja kita engga taukan kita kecelakaan? Dad ingatkan kak Aurell unduh meningal. Dia bahkan meningal diusia 17tahun Dad. Dan itu bahkan usianya masih sangat muda dad. “Ia berteriak.” Disaat seperti ini kita diberi kesempatan buat taubat kenapa kita harus diam bukankah apa yang kita dapet itu teguran dari Tuhan. Andai aja kita saat itu sholat, kita pasti engak bakal ketemu sama mobil itu, kita pasti engak bakal tertabrak dad, dan meskipun kita tertabrak dan mati, seenggaknya kita mati dalam keadaan yang sudah sholat.”Ujat Ify. "Ify bahkan nggak pernah sholah sedari kecil..." Isaknya tertahan saat gumaman terakhir


Ia sedari kecil memang tak pernah diajarkan agama, yang ia tahu ia beragama islam. Ia tahu sholat itu wajib tapi orang tuanya tak sholat. karenanya ia tak juga melakukan kewajiban itu. Ia biasanya hanya sholat IDul Fitri dan itupun kadang kadang, ditambah ia sudah lama tinggal diAmerika dan membut ia lupa jika ia orang islam. Sungguh, Ia sudah melupakan agama dan kewaibannya sendiri. Ralat bukan sendiri, tapi seluruh keluarganya...


Sholat? Bahkan ia lupa bacaannya.


Sarah yang mendengar itu mengangguk.” Bener Dad... “Gumamnya.


Hendrawan mendadak menjadi pantung. Sepertinya dua sisi sama-sama benar, benar karena ucapan Rindu dan benar tindakan mereka berdua. Tapi yang salah saat ini adalah Hendrawan masih sangat marah pada Rindu. jadi ia memilih diam saja dan menatap mereka ibah. Mereka yang masih terdiam diatas ranjang.


“Kalian istirahat aja ya. Dad keluar, nanti Dilan pasti mau liat kalian.” Ujar Hendrawan pada kedua nyawanya itu.


Nyawanya? tentu saja ia menganggap dua insan itu adalah nyawanya, setiap ayah pasti menganggap kelurganya adalah nyawakan? Itu sebabnya tak hanya sedikit seorang ayah banting tulang dan berkerja dengan resikonya adalah nyawanya sendiri. Ia sama sekali tak peduli, yang ia pedulikan adalah keluarganya. Yang ia pedulikan, apakah istri dan anak anaknya makan dengan baik? apakah mereka tercukpi baik primer maupun skunder?


Jadi yang masih punya hargailah dan cintailah sebagaimana ia mencintai dan berkorban demi kita... sungguh, cukup Ayah kita lelah dalam bekerja, jangan sampai ia lelah bagian hatinya.. karena kita, alasan ia berkerja dan mempertaruhkan nyawanya.


Dengan lemah Ify mengangguk dan Sarah mengikuti, tapi tak berselang lama Ify tertidur pulas, mungin akibat Bius membuat kantuknya tak tertorer lagi, apa lagi ia habis menangis.


Sedangkan Sarah juga memilih tidur, padaal Dilan belum memasuki ruangan itu. Ahhh, mereka melupakan jika Dilan mau masuk.

__ADS_1


Hendrawan melihat itupun diam lalu mencium kening anak dan istrinya secara bergantian. Ia melangkah untuk menutupi hordeng pembatas mereka lalu pergi keluar.


“Gimana Mom and Ify Dad?” Tanya Dilan yang melihat Dadynya keluar ruangan dengan raut wajah masam.


“Mereka mau istirahat dulu. Kamu masuk aja, tapi jangan ganggu mereka kalo mau liat, Dad mau bayar administrasinya dulu ya..” Ujarnya pada anak laki-lakinya itu. Mau melarang? Namanya juga orang khawatir, tak ada yang bisa dilarang. Ia tau karena ia ada diposisi itu.


“Oke Dad..” Ujar Dilan lalu dengan hati-hati memasuki ruangan itu.


Pandangan Hedrawan menatap keluarganya.” Saya titip anak dan istri saya ya..” Ujarnya pada semua lalu pergi. Padahal keluarganya mau mendengarkan bagaimana keadaan Sarah, dan dia malah pergi tanpa mau menjawab. “ Dasar Hendrana bedebah...” Gumam Yohan melihat melakuan anaknya itu,tetap otoriter dan juga dan apatis.


Saat dijalan menuju tempat administrasi ia melihat ada sosok yang sangat ia kenali, sosok itu duduk dikursi pengunjung, dengan kepala yang tertinduk dan Hp ditangan, jangan salah, ditanganya memang Hanphone, tapi aplikasinya adalah aplikasi Al-Qur’an. Air matanya selalu mengalr disetiap butiran hurup ia bacakan.


Hendrawan yang mau mendekati perempuan itu untuk mengusirnya kembali, tapi ia diam ketika mendengar isakan kecil keluar sembari gumaman yang tak jelas didengar, sebab gadis itu berucap sangat pelan, jadinya ia hanya medengar dengungan dan juga isakan.


Mulitnya kembali mau berucap kasar untuk mengusir gadis yang tak lain adalah Rindu. gadis pemberontak yang membuat keluarganya seperti ini, karena doa-doanya yang jelek dan juga keberniannya datang keisni. Tapi saat ia mau bicara ada seseorang disebelah Rindu angkat bicara pada Rindu.


“Kamu enggak apa-apa?” Tanyanya. Wanita berkerudung coklat itu menatap Rindu ibah, sedari tadi ia disana Rindu tak beranjak. Ia melihat Rindu dimusholah tadi menangis saat sesudah sholat. Saat disini ia masih menangis sembari membaca Al-Qur’an di Aplikasi itu. Ia bingung, kenapa ia tak keruangan seseorang?


Rindu yang mendapatkan pertanyaa itu mengusap matanya yang masih memerah.” Engak apa-apa.” Ujarnya singkat.


“Siapa yang sakit?” Tanyanya pada Rindu pelan.


“Keluarga saya mbak. Tadi mereka kecelakaan dijalan..” Ujar Rindu pelan. Ia menutup Handphonenya karena takut diangap tak sopan. Masa orang mengajak bicara ia malah memainkan Hp. Ia bukan anak Milenial yang tak tau sopan santun. Ia tau sopan santun, jika orang tua mengajak bicara harus mendengar dan juga menatapnya jika orang tua mengajaknya mengobrol itu harus menyimak dan juga mengangguk. Bukan malah asyik dihp dan asyik dengan pekerjaan.


Yaa.. meksipun etitut ini sudah sangat jarang ditemuan dikalangan milenial.


Rindu enggak doyan om-om dan Hendrawan sosok yang setia, ia hanya terkesima karena Rindu masih mengakuhi mereka keluarga padahal Hendrawan tadi menamparnya keras, bahkan tanganya sangat panas tadi. Dan sekarang Rindu masih mau mengatakan jika ia keluarga? Tak marahkah?


“Wahh... Dimana mbak? Gimana keadaannya? Kecelakaan dimana?” Namanya juga jiwa jiwa perempuan, yaa keluar deh jujur kepo dan ghibahnya.


Rindu menatap ibu itu tak suka tapi masih tetap senyum.” Dijalan tadi mbak. Jika keadaan isnyaallah mereka baik-baik saja..” Ujarnya.


“Berarti karena itu kamu nangis tadi disholat. Saya dengar kamu doa kalo mau sakitin-sakitin diri kamu aja, jangan orang disekitar kamu. Bahkan saya negiri denger kamu bilang, kamu saja yang mati, sebab kamu lebih siap untuk mati..” Ujar ibu-ibu itu antusias sesudah menguping doa Rindu.


Hendrawan melotot mendengarkan hal itu. Apa katanya? Rindu mau mati asal jangan keluarganya? Apa ini drama Ind*siar? Atau drama yang hanya mau membuat Hendrawan lulu?


Sebenarnya Rindu berdoa itu karena ia memang sudah pantas mati, sebab ia sakit, tak dimaafkan oleh orang tuanya. Lantas apa lagi yang ia tunggu? Sedangkan keluarga Hendrawan masih sangat lengkap dan bahagia. dia tidak mau keluarga ini hancur karena semua musibah ini, ia tak mau hal itu, dia lebih suka dirinya saja mati supaya orang lain masih tetap bahagia.


Dan sekarang bisa dipertanyakan. Sebatas mana Rindu sudah hijrah? Sifat Introvert dan apatisnya sudah menghilang kemana, hanya saja sifat pemberontaknya masih sangat kentara dan melekat. Lalu apakah sikap pemberontak ini akan hilang diwaktu mendatang? Semoga ya... supaya Rindu bisa menjadi akhlaknya ibunda Khadijah.


Tapi bukan itu jadi permasalahannya. Rindu itu mau jadi sosok khadija yang ikhlas menerima apapun yang ada, selalu bersyukur dan berusaha, tapi ia juga mau sifatnya Aisya. Ia mau sifat yang tegas dan berani, cerdas dan juga bijaksana meskipun ia perempuan, jika kata orang itu, andai Aisya bukan perempuan, mungkin ia bisa menjadi pemimpin bukan? Iya pemimpin, bukankah jika kedua sifat mereka jika disatukan akan menjadi akhlak yang mampu membuat semua orang kagum dan juga iri? Tapi nyatanya tidak. Mau sebaik apa kamu, mau setegas dan sesempurna apa kamu, maka masih akan tetap banyak orang yang membencimu. Sebab Rasullullah Saw saja yang sangat baik dan bijaksana banyak yang tak menyukainya. Lantas apa kabar dengan kita yang hanya manusia yang berlumburan dosa ini?


Karenanya. Jangan pernah berusaha membuat semua orang menyukai kita, tapi berlakulah sesuai kadarnya. Sebab orang yang membenci tak butuh alasan.

__ADS_1


Rindu menatap ibu itu sendu.” Doa in aja ya bu semoga mereka baik-baik saja..” Ujar Rindu. mau sekali ia marah karena ibu ibu ini menguping doanya. Tak sopan.


“Kenapa enggak masuk keruangan merak saja mbak?” Tanyanya pada Rindu heran.


Rindu menggeleng.” Saya disini saja sudah cukup. “Ujarnya lagi. Ibu itu masih saja berceloteh ria pada Rindu, menanyakan dimana ia tinggal, umur dan juga pekerjaan dan sebagainya.


Sedangkan Hendtawan diam disana, Rindu juga tak melihatnya. Ia mau sekali marah tadinya, tapi sekarang menjadi kaku. Ternyata Rindu tak mendoakan yang buruk-buruk untuk keluarganya. Ternyata ia belum pulang untuk menungu keluarganya.


“Gadis bodoh,.” Gumamnya lalu menghela nafas. Ia berbalik lalu menghadap ruang administrasi saja. Ia tak mau mendengar Rindu, tak mau minta maaf, rasa egois dan harga dirinya terlalu tinggi untuk ia tumpahkan pada Rindu. Bisa-bisa Rindu besar kepala jika ia meminta maaf.


...


Sudah jam 11 malam tapi Rindu tak unjung branjak dari kursinya. Ia mau pulang juga sudah tak punya uang, mau ketempat Sarah dan keluarga takut diuasir kembali. Ia memilih diam disana saja, padahal ia belum makan sedari siang tadi. Ahhh, perut Rindu berdemo riya.. untunglah Rindu bukan tyfekal yang punya perut tak tau tiri yang suka bernunyi saat lapar.


Jika Rindu lapar biasanya hanya berbunyi sedikit-sedikit dan itupun hanya bisa didengar olehnya. Dan juga ia bisa merasakan lemas dan tak bertenaga. Ia buan tergolong mahg akut ataupun lainnya. Ia hanya pengidap kangker hati yang hidupnya bergantung dengan obat. Tapi satu minggu ia tak bergantung dengan obat. Lalu bagaimana kondisinya setelah ini?


“kamu belum pulang juga ternyata..” Ujar seseorang dari belakang membuat Rindu yang awalnya sudah mau masuk alam mimpi sekarang mendongak.


Wajah Hendrawan memenuhi penglihanatannya. Dengan segera ia menunduk karena masih rasa bersalah. “Maaf..” Cicitnya pelan.


Hendrawan sedari tadi mengintai Rindu, dan ternyata Rindu masih berada disana.” Dasar gadis pemberontak..” Gumamnya pada Rindu. ia merasa bersalah sekaligus kesal.


Sepertinya ucapaan Ify memenuhi fikirannya.


Ia mengambil Handphonenya lalu menghubungi Habib.” Hallo.. Habib anterin gadis pemberontak ini pulang sekarang juga..” Ujarnya tegas lalu melirik Rindu yang diam saja.


Habib yang mengangkat telepon dari sana pun mengernyir.” Siapa om?”


“Ya siapa lagi kalo bukan calon istri boongan kamu ini? emang masih ada gadis pemberontak kecuali dia dinovel ini?” Tanyanya pada Habib.


Habib terkejut.” Rindu belum pulang?” Tanyanya kepo. Bagaimana bisa? Sekarang sudah jam 11 lewat dan Rindu belum pulang.


“Belum. makanya kesini dan anterin dia, nanti kalo dia diculi kita juga yang kena... Rindu berada didepan rumah sakit... Tut...tut..” Ia mengakhiri panggilan pada Habib. Masalah menjawab semua pertanyaan Habib yang menurutnya berputar-putar, kenapa tidak kesini saja langsung.


Rindu masih menunduk karena merasa bersalah. “Maafkan saya pak jika saya salah.” Ujarnya pelan.


“Hmm..” Ujar Hendrawan pelan. Ia juga merasa bersalah ketika melihat mata Rindu membengak. Andai saja Hendrawan tau jika dipipi Rindu sudah memar dan juga dipinggir bibirnya sobek akibat tampatan itu, ditambah punggungnya sekarang sangat sakit. sakit akibat didorong oleh Hendrawan saat mengusirnya tadi...


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa Like, komen and vote yay


__ADS_2