
"Liam, ada apa?". Tanya Eriska yang melihat Liam duduk sendiri dihalaman belakang.
"Ah Eriska, tidak apa-apa. Hanya ingin melihat pemandangan". Ujar Liam yang terlihat murung.
"Maaf jika Aku lancang, kenapa saat Audrey mengatakan padamu soal Papanya Kamu tampak murung?". Tanya Eriska.
Liam hanya tersenyum kecut. "Sebenarnya Aku sangat tidak percaya diri bertemu orangtua Audrey. Mereka dari keluarga terhormat. Sedangkan Aku? Hanya orang biasa. Bahkan tanpa bantuan Dito Aku hanya imigran gelap di Paris". Ujar Liam.
"Liam, apa orangtua Audrey tahu tentang hubungan kalian?". Tanya Eriska.
"Iya mereka tahu". Jawab Liam.
"Setauku Kalian sudah pacaran begitu lama bahkan selalu tinggal bersama. Jika Kamu fikir orangtua Audrey tidak suka padamu apa mereka akan setuju Audrey tinggal bersamamu? Ini hanyalah pemikiranmu yang salah". Ujar Eriska.
Liam hanya terdiam.
"Kamu tahu apa yang diinginkan para wanita?". Tanya Eriska
Liam hanya menggelengkan kepalanya
"Kepastian". Jawab Eriska
"Beranikan dirimu untuk melangkah lebih jauh dalam hubungan kalian jika benar Audrey adalah orang yang Kamu pilih. Apa Kamu tidak merasa kasihan pada Audrey terus menunggumu seperti ini? Audrey adalah wanita yang baik. Kamu akan sulit menemukan wanita seperti dia". Ujar Eriska menepuk bahu Liam lalu pergi.
"Benar apa yang dikatakan Istriku, Liam. Pernikahan adalah hal terpenting untuk seorang wanita. Status paling tinggi. Itu alasan kenapa Aku hanya bisa mengagumi Eriska sejak lama. Aku tidak berani memberi status kepadanya selain status Istri. Karena menurutku tidak ada status yang lebih tinggi selain Istri untuk memiliki seorang wanita. Beranikan dirimu Bro. Kamu ini sekarang orang hebat. Jangan minder seperti ini OK". Dito memeluk pundak Liam.
"Kamu benar, Aku berjanji akan menikahinya segera. Aku juga sangat iri padamu dan Eriska. Terimakasih karena kalian berdua sudah membuatku sadar untuk semua ini". Ujar Liam tersenyum.
Diruangan lain, terlihat Audrey nampak murung. Eriska menghampiri Audrey.
"Hey, kenapa diam saja disini?". Tanya Eriska.
"Aku sangat muak dengan Liam. Sudah berapa kali Aku katakan Daddy dan Mommy menyukainya tapi Dia masih tidak berani menikahiku". Ujar Audrey kesal.
"Tenanglah, mungkin Dia mencari waktu yang tepat". Ujar Eriska menenangkan.
" 7 tahun kita berpacaran tapi Dia belum berani melangkah lebih jauh". Ujar Audrey semakin kesal.
"Hey Kamu tahu tidak berapa lama waktu yang tepat Dito untuk menikah denganku? 15 tahun". Jawab Eriska.
"Ya memang sih Aku tidak ada berfikir untk menikah dengannya bahkan 15 tahun lalu, karena Aku sibuk dengan semua mimpiku. Dito menungguku dengan sabar untuk meraih mimpiku bahkan saat kita sudah dijodohkan Dia masih menunggu sampai Aku siap". Ujar Eriska tersenyu. "Mungkin Liam sama seperti Dito, bukankah Kamu memiliki mimpi juga? Mungkin Ia ingin Kamu fokus pada mimpimu. Audrey, bicarakan baik-baik dengannya apa yang Dia mau apa yang Kamu mau, setelah kalian tahu apa yang kalian mau, lalu kalian bisa membuat perencanaan". Ujar Eriska pada Audrey.
Audrey tampak diam dan berfikir.
__ADS_1
"Yasudah ini sudah malam, Aku masuk dalam kamar dulu ya. Kamu juga istirahat. Good night". Eriska meninggalkan Audrey sendiri.
Didalam kamar, Eriska tengah bersiap untuk mandi. Ia melepas pakaiannya lalu berendam di bathtub dengan air hangat ditambah aromatherapy yang membuat tenang.
Tak lama Dito masuk kedalam kamar, Ia tak menemukan Eriska. Ia memanggilnya namun tidak ada jawaban. Dito mencari ke kamar mandi. Ia masuk lalu melihat lagi dan lagi Eriska tertidur di bathtub.
"Astaga, lagi lagi Dia tertidur saat berendam". Ujar Dito menepuk kepalanya.
Dito mengangkat tubuh Eriska secara perlahan. Meski kaki dan bahu nya masih terasa nyeri, tapi Ia merasa kasihan pada Istrinya. Sejak di Zürich, Eriska memiliki pekerjaan yang lebih banyak untuk mengurus semua yang ada dirumah. Wajah Eriska terlihat sangat lelah. Memang kebiasaan tertidur saat berendam selalu terjadi jika Dia sangat lelah.
Dito membaringkan tubuh polos Eriska diatas tempat tidur.
"Huh sudah lama tidak melihat tubuhnya ini. Kalau tidak melakukan apapun sepertinya akan rugi. Hehehehehe". Pikiran kotor Dito masuk tiba-tiba.
Keesokan harinya, dipagi hari Eriska terbangun. Jam telah menunjukkan pukul 7 pagi. Ia duduk lalu melepas selimut.
"Kenapa tubuhku dingin sekali?". Tanya Eriska
Eriska terkejut saat melihat tubuh polos nya tanpa sehelai kainpun. Ia menutup lagi dengan selimut.
Eriska membangunkan Dito.
"Hey cowok mesum. Bangun tidak". Eriska menggoyangkan badan Dito.
"Dito bangun". Eriska terus membangunkan Dito.
Dito menarik tubuh Eriska hingga terjerambah dalam pelukkan Dito.
"Aku tidak melakukan apapun. Apa Kamu lupa Kamu tertidur lagi saat berendam? Aku berbaik hati memindahkanmu ke atas tempat tidur meski kaki dan bahu ku masih sakit". Ujar Dito masih memeluk Eriska.
"Kamu juga kenapa tidak membangunkanku?". Tanya Eriska.
"Aku sudah membangunkanmu tapi Kamu tidak bangun juga. Aku fikir Kamu pingsan sampai hampir Aku bawa ke Rumah Sakit. Tapi, setelah itu kamu tiba-tiba merengek ingin Aku peluk dan cium". Ledek Dito.
"Oh ya? Dasar pembohong mana ada aku begitu". Ujar Eriska malu.
"Sayang saja tidak aku rekam saat Kamu merengek minta dipeluk dicium dan minta itu". Ujar Dito menahan tertawa. "Kamu sangat rindu ya padaku sampai bermimpi seperti itu".
Wajah Eriska sangat merona saat Dito mengatakan seperti itu. Bahkan Ia bermimpi Dito menciumi tubuhnya tadi malam.
"Lihat tuh wajahmu merona". Ledek Dito.
"Kamu apa sih. Pagi-pagi bicara ngawur gitu". Eriska masih merona. Ia terlihat malu dengan apa yang dikatakan Dito.
__ADS_1
"Sudah ah, Aku mau mandi". Eriska buru-buru pergi.
"Katakan saja kalau mau, Aku akan melakukan dengan senang hati". Ujar Dito terus menggoda Eriska.
"Dito menyebalkan". Teriak Eriska kesal.
"Hahahahahaha apa yang Aku lakukan Semalam Ia fikir adalah mimpi". Dito merasa terhibur menggoda Eriska.
Didalam kamar mandi Eriska masih bertanya-tanya dengan apa yang dikatakan Dito.
"Masa iya sih aku bisa semesum itu sampai bermimpi yang aneh-aneh? Tapi memang Aku bermimpi Dia menciumi tubuhku". Ujar Eriska masih membayangkan mimpinya. "Aaahhhh apa yang ada dalam fikiranku? Dito masih sakit juga". Ujar Eriska menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Selesai mandi, Ia keluar menuju kamar ganti. Ia memilih pakaian lalu membuka jubah handuk nya. Terlihat tubuhnya dipantulan cermin.
Eriska melihat sesuatu dalam cermin. Ia mendekat.
"Astaga ini Tanda merah kenapa banyak sekali ditubuhku? Dito sialan, ternyata Semalam bukan mimpi! Bagaimana Aku menutupi ini? Mana di Villa ini banyak orang. Aku sangat malu jika mereka melihatnya". Ujar Eriska melihat banyak Tanda merah ditubuhnya.
Ia buru-buru menggunakan pakaiannya. Lalu segera menghampiri Dito.
"Dito dasar cowok mesum nyebelin. Lihat ini apa yang Kamu lakukan?". Menunjukkan bukti tanda merah dilehernya.
"Biasa juga sering begitu, kenapa sepanik ini?". Tanya Dito.
"Di villa ini banyak orang, apa yang akan Mereka fikirkan?". Tanya Eriska.
"Memang apa yang akan Mereka fikirkan? Mereka akan berfikir Kamu sangat menikmati permainan". Ujar Dito tertawa kecil.
" Dito ". Eriska mencubit lengan Dito.
"Aww sakit sayang". Ujar Eriska.
"Lagipula kita suami istri apa yang salah?". Tanya Dito
Wajah Eriska menunjukkan rasa kesal pada Dito lalu Ia pergi keluar kamar.
"Dasar perempuan, Dia yang menikmati tapi hasil dari itu, Lelaki juga yang disalahkan". Ujar Dito masih berbaring diatas tempat tidur.
***Assalamualaikum Reader. Terimakasih karena telah setia membaca novel " Istri Cantikku Yang Angkuh ".
Support karya Author dengan Cara Vote sebanyak-banyaknya ya.
jangan lupa juga untuk Like Komen Dan Share ya.
__ADS_1
salam manis dari Mrs. A***