
Hari pernikahan Surya dan Stefanie pun datang. Mereka sudah bersiap sejak pagi karena Upacara pernikahan akan dilaksanakan siang hari.
"Aku sangat gugup". Ujar Stefanie yang tidak bisa tenang.
"Tenanglah Stevie ini hanya Upacara pernikahan. Setelah ini Kau dan Surya akan menjadi Suami Istri". Ujar Jessica menyemangati.
"Dimana Eriska? Kenapa Dia tidak kemari?". Tanya Stefanie.
"Nyonya sedang bertemu Tuan Surya". Jawab Eimear.
"Buat apa Dia menemui Surya?". Tanya Stefanie.
"Memang kenapa? Surya adalah orang kesayangan Eriska. Wajar Dia ingin bertemu Surya. Kenapa? Cemburu? Halah dulu juga saat awal-awal pernikahan Eriska dan Dito Kamu sering membuatnya cemburu". Ledek Jessica.
"Siapa yang cemburu? Aku hanya bertanya". Ujar Stefanie. "Aku sangat gugup sudahlah jangan bercanda denganku".
------
Dikamar Surya, Eriska juga Dito duduk bersama Surya.
"Bagaimana perasaanmu?". Tanya Eriska.
"Saya sangat gugup Nyonya". Ujar Surya yang tangannya gemetar.
"Tenanglah. Ini langkah awal Kamu memiliki Stefanie seutuhnya". Ujar Eriska menenangkan Surya.
"Terimakasih Nyonya dan Tuan. Karena Nyonya dan Tuan telah hadir dipesta pernikahan Saya dan Stefanie. Hanya Nyonya dan Tuan yang Saya anggap Keluarga. Terimakasih banyak Nyonya atas segala yang Nyonya berikan pada Saya. Saya sangat beruntung bisa bertemu Nyonya dikehidupan ini. Mungkin tanpa Nyonya, Saya tidak akan bisa berdiri disini sekarang". Ujar Surya kepada Eriska.
"Surya, sudahlah jangan panggil Saya Nyonya dan Dito Tuan lagi. Kamu bukan karyawan Kita lagi. Panggil saja Eriska dan Dito. Surya, semua ini adalah takdir dari Tuhan. Tuhan mempertemukan Kita tidak akan sia-sia. Sudahlah Kamu bisa berdiri disini juga atas semua perjuanganmu. Tidak seutuhnya atas diriku. Surya, Aku ingin mengatakan sesuatu. Jagalah Stefanie dengan baik. Bahagiakanlah Dia. Kamu tahu sendiri bagaimana Ia tertekan dengan keinginan orangtua nya. Jadilah penguat Dia. Jika mungkin, buatlah Ia memiliki hubungan baik dengan orangtuanya. Stefanie hanya merasa Kamu yang Ia miliki. Jadi, buatlah Ia bahagia selalu". Ujar Eriska pada Surya.
"Tentu Nyonya. Saya akan menjaga Stefanie dengan seluruh nyawa Saya. Hanya Dia yang Saya miliki didunia ini. Maka Saya akan menjaganya melebihi hidup Saya sendiri". Ujar Surya dengan penuh keyakinan.
"Aku percaya padamu. Aku berdoa, semoga kalian bisa bahagia selamanya. Tenanglah sebentar lagi Upacara pernikahan akan dimulai. Bersiaplah". Ujar Eriska berdiri dibantu Dito.
"Kami pamit dulu ya. Tenanglah semua akan berjalan dengan baik". Eriska menepuk bahu Surya.
"Surya, tenanglah ini tidak segugup saat Kamu mendapat ocehan dari Istriku". Ledek Dito mencairkan suasana.
__ADS_1
Surya hanya tersenyum mendengarnya.
"Surya, akan lebih menyeramkan amukan Tuan Saydox daripada Aku". Ledek Eriska.
"Yasudah ayo tinggalkan Surya. Ia harus menenangkan dirinya. Aku akan melihat Stefanie. Aku belum melihat nya. Surya, Kita keluar dulu ya. Tenangkan dirimu". Ujar Eriska lalu Mereka pergi.
"Sayang, Aku ke kamar Stefanie dulu ya. Kamu bisa menghampiri Om Hanry". Ujar Eriska.
"Baiklah. Aku antar Kamu dulu ya sampai kamar Stefanie".
"Baiklah". Dito menggenggam tangan Eriska. Kehamilan Eriska sudah menginjak usia enam bulan. Perutnya semakin membesar juga karena Hamil anak kembar. Ia sudah mulai merasa berat hingga Dito selalu membantu Eriska untuk berjalan.
Mereka sampai didepan kamar Stefanie.
"Aku masuk dulu ya". Ujar Eriska pada Dito.
"Baiklah pelan-pelan jalannya". Dito mencium kening Eriska. "Kamu terlihat sangat cantik hari ini". Bisik Dito.
"Kamu juga sangat gagah". Bisik Eriska.
"Terimakasih Sayang". Eriska masuk kedalam.
"Eriska. Darimana saja kamu?". Stefanie menghampiri Eriska.
"Ya Tuhan, cantik sekali Kamu Stefanie". Ujar Eriska yang memeluk Stefanie.
"Aku sangat gugup". Stefanie menggenggam tangan Eriska.
"Tidak Kamu, tidak Jessica kenapa semua gugup? Aku saat menikah tidak gugup sama sekali". Ujar Eriska yang duduk disofa.
"Kalau Kamu sih berbeda Eriska. Kamu malah ingin kabur". Ujar Jessica membuat yang lain tertawa.
"Kalian beruntung menikah didasari cinta. Berbeda denganku yang dipaksa Papa". Ujar Eriska yang merebahkan tubuhnya disofa.
"Yasudah lah yang penting Kalian sekarang malah semakin lengket saja. Kita yang sudah menikah saja iri pada Kalian berdua". Ujar Stefanie pada Eriska.
"Maka dari itu tidak perlu gugup. Ini hari bahagiamu. Berbahagialah". Ujar Eriska menenangkan Stefanie.
__ADS_1
"Baiklah Nyonya Eriska". Ujar Stefanie yang mulai tenang.
Tak lama pintu diketuk. Jessica membukakan pintu yang ternyata Hanry Saydox Papa Stefanie.
"Om Hanry, Silahkan masuk". Ujar Jessica.
"Yasudah Kami akan keluar untuk bersiap. Ayo Kita keluar". Ujar Eriska pada semuanya.
Semua telah keluar hanya ada Anak dan Ayah itu.
Hanry menghampiri Stefanie. Ia menyentuh pundak Stefanie lalu mencium kening Stefanie.
"Princess kecil Papa tak terasa sudah dewasa dan akan menikah". Hanry memeluk Stefanie.
Pertama kali Stefanie merasakan kehangatan pelukan Papanya setelah sekian lama. Sejak mulai tumbuh dewasa, Mereka selalu bertengkar karena perbedaan pendapat yang membuat Mereka menjauh.
"Stevie, Papa tahu Kamu merasa Papa tidak menyayangimu karena Papa sangat keras padamu. Papa melakukan ini semua karena ini memang tanggung jawabmu. Kamu adalah pewaris keluarga Saydox. Papa tidak ada pilihan selain padamu. Kamu anak Kami satu-satunya. Hanya padamu Papa bergantung. Dilubuk hati Papa, Kamu tetap Putri kecil Papa yang selalu berlari menghampiri Papa saat Papa pulang dari hotel. Putri kecil yang selalu menangis ingin diajak jalan-jalan keluar hanya sekedar bermain dihalaman. Sekarang, Putri kecil Papa tumbuh dengan cantik, pintar dan mandiri". Ujar Hanry dengan nada yang lembut. "Stevie, Papa bahagia hari ini. Kamu bisa menikah dengan pria yang baik yang mencintaimu lebih dari apapun. Papa berdoa semoga pernikahan ini adalah jalan kebahagiaan untukmu kedepannya. Sayang, Papa juga mencintaimu. Jangan pernah mengatakan Papa tidak mencintaimu. Cinta Papa padamu selalu sama dari dulu. Bahagialah Putri kecil Papa". Hanry memeluk Stefanie.
Stefanie yang dari tadi mendengar hanya bisa meneteskan air mata. Ia memeluk erat Papa nya. "Maafkan Stefanie Pa".
"Tidak perlu meminta maaf. Ini adalah hari bahagiamu. Tersenyumlah". Hanry menghapus airmata nya.
"Aku sangat mencintaimu Papa". Stefanie memeluk erat Papanya.
"Sudahlah ayo Kita keluar. Upacara pernikahan akan segera dimulai. Tersenyumlah". Ujar Hanry mencium kening anaknya.
Stefanie dan Hanry pun keluar dengan perasaan bahagia. Mereka bersiap pergi menuju Gereja terbesar di London. Semua orang telah siap menunggu kedatangan Hanry juga Stefanie. Surya dan pihak Pria lainnya sudah pergi duluan. Mereka harus bersiap di Gereja.
Stefanie dan Hanry pun datang lalu Mereka bersiap pergi. Dengan pengawalan ketat, Mereka pergi menuju Gereja.
Stefanie benar-benar semakin gugup. jantungnya berdetak dengan kencang. Mama Stefanie terus menggenggam tangan Stefanie menenangkan Stefanie.
"Tenanglah Sayang". Ujar Mama Stefanie terus menenangkan Stefanie.
**Hi Reader, terimakasih karena telah setia membaca novel ICYA. Jangan lupa untuk selalu VOTE ya. Juga Like & Komen jika kalian Suka Novel ini.
Salam manis dari Mrs. A**
__ADS_1