
Mereka telah sampai di hotel. Wajah Stefanie sudah mulai sedih dan tak bersemangat lagi.
"Surya, antar Stefanie untuk bersiap". Ujar Eriska yang tahu hanya Surya yang bisa menenangkannya.
"Stefanie, kami tunggu di café". Ujar Eriska.
Stefanie dan Surya pun berjalan menuju kamar. Surya mencoba terus menenangkan Stefanie. Sampai dikamar, Mereka duduk diatas tempat tidur. Stefanie menangis memeluk erat tubuh Surya.
"Aku tidak mau pulang Surya". Stefanie menangis sesegukkan.
Surya tidak bisa menjawab apa-apa Ia hanya mengusap kepala Stefanie.
"Aku akan sangat merindukanmu Surya". Stefanie mencium Surya. Begitupun Surya membalas ciuman Stefanie. Mereka larut dalam ciumannya. Ciuman yang lama. Ciuman tanda perpisahan untuk sementara.
"Aku akan merindukan wajah cool mu itu. Aku akan merindukan tidur diruanganmu. Aku akan merindukan candaan bersamamu". Stefanie masih terus menangis.
Surya yang mendengar itu, merasakan sakit yang sama. Ia akan kehilangan sosok ceria yang mewarnai hari-harinya. Tak ada lagi yang menerobos masuk kedalam ruangannya saat ingin meeting. Tak ada wanita yang selalu jahil padanya.
"Aku juga akan merindukanmu Nona Stefanie". Surya memeluk erat tubuh Stefanie.
Mereka melepaskan semua rasa sedih mereka dimana harus berpisah. Rasa yang sakit Stefanie rasakan. Surya membantu Stefanie untuk bersiap. Stefanie pun bersiap membersihkan diri lalu bersiap.
Stefanie keluar dengan menggunakan gaun casual. Karena Ia akan pulang, Ia harus kembali menjadi Stefanie dari keluarga Saydox yang anggun. Tidak ada lagi celana jeans, kaos, kemeja dan sepatu sneakers lagi. Semua baju Stefanie yang lama dibawa oleh Surya sebagai kenangan manis nya.
"Kamu sangat cantik Nona". Ujar Surya tersenyum pada Stefanie.
Stefanie membalas senyuman nya.
"Hmmmmmm jadi ini Stefanie Edward Saydox. Anak Tuan Hanry Edward Saydox. Sangat anggun dan cantik". Ujar Surya. "Aku tak sabar menikahi gadis cantik ini".
"Janji padaku stone man, Kamu harus datang segera atau Papa akan menganggap Aku kalah dan akan menjodohkanku". Ujar Stefanie.
"Aku janji minggu depan akan Aku persiapan segalanya. Semogo bulan depan Aku bisa pergi kesana". Surya memeluk dan mencium ujung kepala Stefanie.
"Promise?". Tanya Stefanie.
"Promise little Angel". Surya mengecup kening Stefanie. "Sudah jangan sedih lagi. Aku mohon, saat Aku melihatmu sedih, Aku merasa tidak tega melepasmu pergi". Ujar Surya menatap mata Stefanie.
"Aku tidak salah memilihmu Surya". Stefanie memeluk erat tubuh Surya.
Surya melepaskan pelukannya. "Ayo kita keluar, semua sudah menunggu". Surya menggandeng tangan Stefanie.
Stefanie tidak membawa banyak barang. Hanya koper kecil yang Ia bawa. Semua adalah kenang-kenangan dari Surya. Karena saat Dia keluar dari rumahnya, Dia tidak membawa apapun jadi saat masuk rumah pun tidak membawa apapun. Masa kebebasannya sudah berakhir. 10 tahun berakhir begitu cepat. Itu yang dirasakan Stefanie.
Stefanie dan Surya menghampiri yang lain.
__ADS_1
"Sudah siap?". Tanya Eriska.
Stefanie hanya mengangguk. Eriska berdiri menghampiri Stefanie. "Nona Saydox, terlihat sangat cantik. Melihatmu seperti ini mengingatkanku saat kita kuliah dulu. Nona Saydox sangat elegant dan kuat". Eriska tersenyum mengelus tangan Stefanie.
Stefanie memeluk erat Eriska dan menangis.
"Kamu kuat Stefanie. Akan ada Surya yang menemanimu. Aku akan kirim Dia segera pergi ke Inggris". Ujar Eriska menenangkan Stefanie. "Aku janji setelah hotel tidak terlalu sibuk, Aku akan mengunjungimu disana bersama Dito dan Queena". Ujar Eriska.
"Janji?". Tanya Stefanie.
"Janji Babe! Sudahlah jangan bersedih lagi. Kita masih bisa video call dan chat seperti dulu".
Stefanie tersenyum dan mengangguk.
"Ra, Kamu pulang duluan saja ya. Kamu bisa naik taksi karena supir mau dipakai. Tidak apa-apa kan?". Ujar Eriska pada Rara.
"Tidak apa-apa atuh Nyonya". Ujar Rara.
"Baiklah. Kamu hati-hati ya. Biar Queena bersama Kita". Ujar Eriska.
Merekapun berjalan menuju lobby. Semua telah pergi kecuali Rara yang masih menunggu taksi. Dari jauh, Niall melihat Rara yang sedang berdiri diluar.
"Itu kan si wanita Unik. Kenapa sendirian?". Niall bertanya-tanya. Lalu Niall berlari menghampiri Rara.
"Ra, kenapa sendiri? Nyonya dan yang lain dimana?". Tanya Niall.
"Aku antar ya". Ujar Niall
"Tidak usah Niall, tidak enak dari tadi bawa saya terus". Ujar Rara tidak enak.
"Tidak apa-apa lagipula Aku tidak melakukan apapun". Ujar Niall. "Tunggu ya Aku ambil mobil dulu". Niall bergegas pergi.
"Eh tapi Niall... Niall". Rara memanggil ingin menolak karena tidak enak namun Niall sudah berlari.
"Ih Mister teh baik banget ya sama saya". Ujar Rara tersenyum.
Tak lama Niall datang dengan mobilnya. Niall keluar lalu membukakan pintu untuk Rara. Rara merasa malu diperlakukan seperti itu. Niall melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ra, rumah kamu dimana?". Tanya Niall.
"Saya tinggal sama Nyonya". Jawab Rara polos.
"Hahahahahaha maksud Aku kampung halamanmu". Ujar Niall menggunakan bahasa Inggris.
"Di Bogor". Balas Rara dengan bahasa Inggris.
__ADS_1
"Kamu bisa English?". Tanya Niall takjub.
"Bisa Niall, Saya teh dulu les English". Ujar Rara.
"Ra, Kamu suka Teh ya?". Tanya Niall.
"Tidak juga, kenapa gitu?". Tanya Rara.
"Kamu saat bicara selalu ada kata teh teh gitu". Ujar Niall yang dari awal kenal penasaran.
"Hahahahahaha Kamu mah ada-ada saja. Teh itu mah cuma kata tambahan. Biasanya yah kalau orang Sunda seperti saya kalau bicara ada tambahan mah dan teh. Kata tambahan gitu deh". Ujar Rara menjelaskan.
"Kamu unik". Ujar Niall.
"Ah tidak juga, semua orang Sunda ya sama kaya saya cara bicara nya". Ujar Rara
"Kamu orang Sunda pertama yang Aku temui jadi Aku fikir Kamu sangat unik". Ujar Niall tersenyum.
"Ah Niall bisa wae". Ujar Rara malu
"Wae? Apa itu wae?". Tanya Niall
"Hahahahahaha maaf maaf maksud saya bisa saja". Ujar Rara yang masih lucu melihat kebingungan Niall.
"Kamu tinggal bersama siapa di kampung?". Tanya Niall.
"Sama emak, sama Abah dan Langit". Ujar Rara.
"Siapa?". Tanya Niall yang tidak mengerti.
"Emak Abah dan Langit". Ujar Rara.
"Emak Abah ?". Niall masih bingung.
Rara tertawa. "Emak Abah itu Mama Papa". Ujar Rara.
"Ohhhhh terus siapa dari lagi? Langit". Ujar Niall.
"Langit adalah orang yang Aku cintai". Ujar Rara tersenyum.
Niall yang mendengar merasa down. Dia fikir Langit adalah Suami Rara.
"Langit suamimu?". Tanya Niall.
"Hahahahahaha bukan. Dia keponakan Saya". Ujar Rara.
__ADS_1
Ahhhhhh hanya keponakan. Untung lah kalau begitu. Niall merasa lega mendengar nya.
Mereka masih berbincang kadang Niall tidak mengerti dengan perkataan Rara yang bahasanya dicampur bahasa Sunda dan Rara merasa terhibur dengan itu semua.