
Ditempat lain Eriska merasa kesakitan karena tangannya terluka terkena jalan aspal. Tangannya lecet Dan merasa sakit kepala karena rambutnya ditarik kencang oleh Nita.
"Perempuan sialan. Siapa Dia sampai berani menyerang saya". Gerutu Eriska kesal.
"Tenanglah". Ujar Dito
"Tenang bagaimana? Kamu lihat tubuh saya lecet seperti ini". Ujar Eriska.
"Siapa dia? Apa Kamu kenal? Tadi Yarka menyebut namanya Nita. Saya merasa tidak Asing dengan nama itu". Eriska bertanya-tanya.
"Dia karyawanku". Ujar Dito yang mengobati luka Eriska
"Awww pelan-pelan itu perih". Eriska meringis kesakitan.
"Karyawan mu? Tapi kenapa Dia menyerang saya? Apa salah saya coba?". Eriska kesal.
"Kamu kan pernah punya masalah dengan Dia". Ujar Dito
"Masalah apa? Saya tidak kenal Dia". Ujar Eriska.
"Kamu membuat Dia kehilangan pekerjaan nya". Ujar Dito
"Oh Dia salah satu karyawan saya? Tapi saya tidak ingat". Ujar Eriska.
"Bukan. Apa Kamu ingat sekitar bulan lalu. Kamu pergi ke toko brand Xxxxx lalu ada seorang karyawan tidak sengaja menyenggol Kamu lalu Kamu marah meminta managernya memecat dia". Ujar Dito menjelaskan
Eriska sedikit berfikir.
"Oh pelayan itu. Kok dia bisa kerja disini?". Tanya Eriska.
"Saat itu Aku melihat Kamu masuk kedalam toko itu. Hehehe maafkan aku yang mengikutimu. Aku lihat kejadian itu. Aku merasa kasihan lalu aku tawarkan dia kerja disini". Ujar Dito.
"Pecat Dia". Ujar Eriska.
__ADS_1
"Pecat ??? Gak bisa". Ujar Dito
"Kenapa? Dia sudah berbuat seperti ini kepada Istrimu. Kamu masih mau membela Dia?". Ujar Eriska marah.
"Bukan begitu, Aku akan menghukum dia Tapi tidak memecatnya". Ujar Dito.
"Saya bilang, pecat dia". Eriska membentak pada Dito
" Eriska!!". Dito membentak balik lalu berdiri. "Aku bukan pelayanmu. Aku adalah suamimu. Turunkan Nada bicaramu!!". Dito pergi meninggalkan Eriska.
Eriska terkejut. Pertama Kali Ia dibentak oleh seseorang selain Papanya.
"Ahhhhh kenapa Aku jadi kasar begini". Dito kembali kedalam menghampiri Eriska.
"Eriska maafkan Aku. Bukan maksudku membentakmu". Dito menggenggam tangan Eriska.
Eriska melepaskan genggaman Dito.
"Saya mau mandi Dan saya akan pulang setelah mandi". Ujar Eriska pergi meninggalkan Dito.
Satu jam berlalu, Eriska telah bersiap untuk pergi dari rumah Dito.
"Eriska tolong jangan pergi sekarang. Kamu sedang terluka". Dito menghalangi Eriska untuk pergi.
Eriska menghiraukan Dito pergi keluar.
"Papa, Eriska pamit pulang dulu. Ada urusan mendadak". Eriska mencium tangan Papa mertuanya.
"Loh Dito kemana?". Tanya di Aditya.
"Aku pulang sendiri Pah. Biarkan Dito menyelesaikan pekerjaannya disini". Ujar Eriska."kalau begitu Eriska pamit. Assalamualaikum". Eriska berlalu.
"Waalaikumsalam Kamu hati-hati". Ujar Aditya.
__ADS_1
Eriska berjalan menuju mobilnya lalu masuk kedalam mobil.
Dari luar terlihat Yarka Dan Nita berjalan melihat wajah Eriska yang kesal.
Eriska menancapkan gas mobilnya meninggalkan rumah Dito.
"Cowok sialan, memang Dia siapa berani membentakku". gerutu Eriska.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi". ujar Eriska kesal.
Ditempat lainnya, Dito sedang duduk. Ia merasa bingung dengan kemarahan Eriska.
"Ada apa Dito?". Aditya bertanya. "kenapa Eriska pergi terburu-buru? bahkan Dia tidak sarapan dulu". Aditya duduk disamping Dito.
Dito menjelaskan saat Nita menyerang Eriska Dan Dia meminta Eriska memecat Nita.
"kenapa Kamu tidak memecat dia? Dia sudah berani menyerang Istrimu. bagaimana Kamu menjaganya?". Aditya sedikit marah.
"Pah masalahnya Ibu Nita sedang sakit parah. Dia adalah tulang punggung keluarga nya. kalau Dito memecatnya, bagaimana Dia mengurus Ibu nya?". ujar Dito.
Aditya mengusap dahinya. "apa Kamu memberitahu Eriska soal Nita?". Tanya Aditya.
Dito hanya menggelengkan kepalanya.
"Kamu susul Eriska Dan katakan padanya". ujar Aditya.
"Tapi pabrik bagaimana Pah?". Tanya Dito
"Papa Dan Yarka bisa mengatasi. lebih baik Kamu selesaikan masalah ini. Papa tidak ingin Birowo salah faham". ujar Aditya.
"Yasudah Dito bersiap dulu". Dito pergi meninggalkan Papanya.
tak lama Dito sudah siap. Ia pergi dengan mobil miliknya.
__ADS_1
"Kak mau kemana?". Tanya Yarka.
"Yarka, Kakak percayakan pabrik padamu. Kakak harus menyelesaikan masalah Kakak dengan kakak iparmu". Ujar Dito lalu pergi.