
Selama perjalanan Dito terus mengumpat Toni. Ia sangat emosi karena Toni berani meneror Eriska.
"Tuan, Kita sudah sampai dirumah Toni". Ujar Surya.
Dito menjelaskan rencana untuk memeri pelajaran pada Toni kepada Surya dan James.
"Baik Tuan". Surya dan James pun keluar.
Tak lama Surya dan James kembali. "Tuan, penjaganya bilang Toni belum pulang. Ia pergi ke club xxxx". Ujar Surya.
Dito tertawa kecil. "Allah memang sedang membantu Kita. Ayo kita susul dan lakukan rencana yang Aku katakan". Ujar Dito.
Surya dan James pun kembali masuk. Mereka pergi menuju Club dimana Toni berada. Satu jam berlalu, Mereka sampai di Club itu. Mereka menunggu Toni didalam mobil. Diluar Club pun sudah ada 10 pengawal Surya yang sudah dikerahkan. 30 menit Mereka menunggu, akhirnya Toni terlihat.
"James, Surya cepat". Ujar Dito.
James dan Surya pun pergegas berlari mengejar Toni. Dito hanya melihat dibalik kaca mobil.
"Pertunjukkan dimulai Toni". Ujar Dito penuh amarah.
Surya dan James menculik Toni. Kali ini Dito tidak akan melapoe Polisi tapi melakukan hukuman untuk Toni sendiri agar Dia jera.
Setelah tiga jam perjalanan, disebuh villa terpencil, Mereka membawa Toni. Toni diikat disebuah kursi. Toni dalam keadaan pingsan. Dito duduk berhadapan dengan Toni.
"Surya, siram Dia". Ujar Dito
Surya mengambil air lalu menyiramnya secara kasar. Toni sadar dengan terbatuk. Ia terkejut melihat Dito.
"Hey. Apa yang kalian lakukan terhadapku". Bentak Toni.
Bug! Dito menghajar wajah Toni.
"Brengsek! Masih berani bertanya?". Bentak Dito.
"Masih berani Kamu mengganggu keluargaku?". Dito menghajar kembali Toni.
"Dito hentikan! Sialan". Teriak Toni.
"Apa yang Kamu inginkan dari keluargaku hah ???". Dito menarik kerah baju Toni.
"Sialan! Kamu tidak lihat apa yang dilakukan Eriska? Tanganku cacat gara-gara Dia! Aku ingin Ia membayarnya". Teriak Toni.
"Sialan Kau Toni! Kamu tidak berfikir apa yang Kau lakukan pada Istriku dan Aku? Kau hampir merenggut mahkotanya dan hampir membunuhku. Membuat tanganmu cacat hanya hukuman ringan! Sekarang Kau masih berani membalas dendam? Akan Aku tunjukkan siapa Dito Aditya yang sebenarnya". Dito melepas kerah baju Toni dengan kasar.
"James, Surya buat tangan dan kaki nya cacat permanent supaya Dia tidak akan berani berbuat jahat lagi". Dito pergi dengan perasaan yang kesal.
Dito meninggalkan Villa untuk pulang kerumah. "Pasti Eriska sangat mwngkhawatirkanku". Ujar Dito.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Dito telah sampai dirumah. Eriska terus mondar mandir merasa sangat khawatir dengan keadaan Dito.
"Assalamualaikum". Dito mengucapkan salam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Dito akhirnya Kamu pulang. Aku sangat mengkhawatirkanmu". Eriska memeluk Dito dengan erat dan menangis.
"Hey jangan menangis, Aku baik-baik saja. Kamu lupa bahwa Aku adalah Suami Eriska Putri si Macan betina? Aku baik-baik saja. Jangan khawatir". Dito mengecup dahi Eriska.
Eriska melihat tangan Dito yang penuh luka. "Kamu bilang baik-baik saja, lihat tangamu". Ujar Eriska khawatir.
"Bi Inah ambilkan P3K". Teriak Eriska.
"Sayang, ini hanya luka kecil. Aku sudah lama tidak menggunakan tangan ininuntuk menghajar orang lebih sering menggunakan untuk masak maka dari itu sedikit shock". Ujar Dito tertawa kecil.
"Masih saja sempat tertawa". Eriska mencubit pinggang Dito.
Tak lama Bi Inah datang membawa kotak P3K.
"Ini Nyonya". Bi Inah memberikan kotak P3K nya.
"Bi, tolong buatkan sarapan untuk Dito". Ujar Eriska.
"Baik Nyonya". Bi Inah pun pergi.
Eriska mengobati luka Dito dengan perasaan yang khawatir. Dito bersandar pada pundak Eriska. Tak ada suara sedikit pun. Eriska menoleh ternyata Dito tertidur.
"Dia pasti lelah". Ujar Eriska yang memindahkan kepala Dito bersandar dipangkuannya. Eriska mencium kepala Dito. "Terimakasih Sayang Kamu selalu menjaga Kami dengan baik". Eriska membelai lembut rambut Dito.
Tak lama Bi Inah datang. "Nyonya".
"Sssttt jangan berisik. Dito baru tertidur". Ujar Eriska.
"Nanti saja Bi, kasihan Dito baru tidur". Ujar Eriska.
"Baiklah Nyonya, Saya permisi". Bi Inah pergi
menuju dapur kembali.
Satu jam berlalu. Queena, Langit, Rara dan Niall tengah sampai dirumah. Mereka mencari sekolah untuk Langit. Awalnya Rara tidak ingin karena situasi sedang kurang baik. Tapi Eriska menyuruh Mereka untuk pergi mencari sekolah untuk Langit.
"Mama Aku pulang". Teriak Queena berlari.
Mendengar teriakan Queena, Dito pun terbangun. "Aku ketiduran ya". Ujar Dito berpindah duduk.
"Papa". Teriak Queena bahagia melihat Papanya.
"Sayang jangan dekat Papa dulu, Papa belum mandi. Papa mandi dulu ya setelah itu Papa bisa peluk Queena". Ujar Dito
"Baiklah". Jawab Queena.
"Selamat Siang Tuan dan Nyonya". Sapa Niall.
"Selamat siang Niall". Sapa Dito. "Saya naik dulu keatas ya, Saya belum membersihkan diri". Ujar Dito.
"Saya juga mau pamit Tuan dan Nyonya. Maaf telah mengganggu istirahat Tuan". Ujar Niall.
__ADS_1
"Tidak mengganggu sama sekali". Ujar Dito.
"Ra, Aku pulang dulu ya". Bisik Niall.
"Tuan dan Nyonya Saya pamit dulu ya. Permisi". Niall pun pergi diantar Rara. Langit dan Queena bermain. Mereka telah akrab saat perjalanan tadi mencari sekolah.
Setelah Rara kembali, Dito dan Eriska pergi menuju kamar.
"Kamu mandi, Aku akan siapkan bajumu". Ujar Eriska.
Ditopun pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
20 menit berlalu, Eriska sudah menunggu Dito dengan makanan dimeja. Dito menghampiri Eriska lalu duduk.
"Ayo makan dulu, Kamu pasti belum makan". Ujar Eriska
Eriska menyuapi Dito karena tangannya yang terluka.
"Kamu tidak ingin menanyakan soal Toni?". Tanya Dito.
"Makan dulu". Eriska terus menyuapi Dito.
Setelah makan, Dito mulai berbicara.
"Kita menemukan Toni di club malam. Kita culik Dia dan membawanya kepedalaman". Ujar Dito.
"Lalu?". Tanya Eriska.
"Apa lagi? Aku menghajarnya habis-habisan sampai Dia mengaku". Ujar Dito.
"Kenapa Dia melakukan itu?". Tanya Eriska.
"Apalagi? Kejadian tiga tahun lalu". Ujar Dito.
"Toni sialan. Aku masih berbaik hati hanya membuatnya cacat tidak membunuhnya". Ujar Eriska kesal.
"Tenang Sayang, Aku sudah memberinya pelajaran agar Dia tidak akan berani berbuat apa-apa lagi". Ujar Dito.
"Apa yang Kamu lakukan? Kamu membunuhnya?". Ujar Eriska terkejut.
"Lebih dari itu. Aku membuat kaki dan tangannya tidak akan bisa digunakan lagi". Ujar Dito tenang.
"Astaga seorang Dito yang calm bisa sejahat ini? Aku tidak percaya ini suamiku". Eriska menyentuh wajah Dito.
"Semut saja bisa melawan saat disakiti. Apalagi Aku. Dia berani membuatmu depresi Aku balas lebih dari itu". Ujar Dito kesal.
Eriska memeluk Dito. "Sayang terimakasih karena selalu menjaga Kami dengan baik". Ujar Eriska
"Sayang jangan bicara seperti itu. Ini sudah kewajibanku. Aku tidak akan membiarkan orang-orang menyentuh keluarga kita sedikit pun". Ujar Diro mencium pipi Eriska.
Terimakasih Ya Allah telah memberikan Pria luar biasa untukku.
__ADS_1