
Hari demi hari berlalu. Setelah kepergian Stefanie, semua berjalan kembali normal meski masih memiliki perasaan yang hampa termasuk Surya. Setiap Ia masuk didalam ruangannya, Ia membayangkan sosok Stefanie yang selalu tidur disofanya. Membayangkan pertama Kali Stefanie mencium pipinya. Membayangkan keisengannya.
"Huft, bisa gila lama-lama Aku membayangkannya terus". Ujar Surya mengacak-ngacak rambutnya. Menyandarkan kepalanya dikursi. "Nona, Aku sangat merindukanmu". Surya tersenyum melihat foto Stefanie di meja nya.
Tak lama Stefanie menelepon by video call.
"Stone Man Aku kangen sama Kamu". Stefanie merengek dibalik layar ponsel.
"Oh ya? Tapi Aku tidak". Ledek Surya.
"Jahat. Surya jahat tidak merindukanku". Gerutu Stefanie. "Katakan Kamu merindukanku".
"Tidak Nona, Aku tidak merindukanmu". Ujar Surya.
"Surya jahat. Kamu pasti punya pasangan baru ya?? Baru satu minggu kita berpisah Kamu sudah berani ya dekat dengan wanita lain?". Stefanie marah tidak jelas.
Surya hanya menahan tertawa melihat tingkah Stefanie dibalik telepon.
"Surya, katakan kamu kangen Aku". Stefanie terus memaksa Surya.
"Tidak Nona, Aku tidak kangen". Jawab Surya yang sok terlihat cool.
Tuutttttt!!! Panggilan terputus.
"Yah ngambek deh". Ujar Surya tersenyum.
Surya mencoba menghubungi Stefanie namun terus ditolak. Tak lama telepon kantor Surya berbunyi.
"Halo, Surya. Keruangan Saya sekarang". Ujar Eriska diujung telepon.
"Baik Nyonya". Jawab Surya.
Setelah mematikan panggilan, Surya mengambil ponselnya. Mengirim chat pada Stefanie lalu pergi menemui Eriska.
Tring! Ponsel Stefanie berbunyi.
Nona Stefanieku sayang, tentu Aku merindukanmu. Sebelum Kamu telepon Aku melihat sekeliling ruanganku. Aku mengingat kembali saat Kamu tidur disana, saat Kamu pertama Kali mencium pipi ku, saat Kamu mengganguku ketika bekerja. Aku rindu dengan semua yang Kamu lakukan padaku. I love you Nona Stefanie. Dengan emoticon kiss.
Stefanie tersenyum malu melihat chat dari Surya. Stefanie membalas chat Surya juga.
Stone man bisa gombal juga ya. Balas Stefanie.
Surya yang membaca hanye tersenyum. Surya sampai diruangan Eriska. Ia mengetuk pintu lalu Eriska mengizinkan masuk.
"Duduk". Ujar Eriska.
__ADS_1
Surya pun duduk.
"Ada apa Nyonya mencari Saya?". Tanya Surya.
"Saya mau tanya. Apa Kamu sudah bersiap untuk pergi ke Inggris?". Tanya Eriska.
"Belum Nona, Saya baru ingin membuat Visa". Ujar Surya.
"Visa apa yang akan Kamu gunakan untuk kesana?". Tanya Eriska.
"Spouse Nyonya". Jawab Surya.
"Spouse? Tidak mungkin Surya". Jawab Eriska.
"Kenapa Nyonya?". Tanya Surya bingung.
"Surya, Stefanie ini bukan wanita sembarang di Inggris. Kamu mau buat spouse visa atas nama Stefanie? Impossible Surya. Orang Kedutaan tidak akan percaya. Meski Mereka melihat foto kalian, Mereka akan mengecek. Mereka akan menelepon keluarga Stefanie Kamu fikir Mereka akan percaya?". Ujar Eriska
"Lalu bagaimana Nyonya?". Tanya Surya yang bingung.
"Tenang saja, Aku akan memberikanmu perjalanan bisnis akan menggunakan salah satu perusahaan milik Dito di Inggris. Kamu hanya perlu siapkan dokumen ini semua. Setelah semua lengkap kamu berikan pada Anita biar Dia yang mengurus". Ujar Eriska memberikan slip syarat untuk mendapatkan visa bisnis.
"Nyonya Saya sangat berterimakasih pada Nyonya. Nyonya selalu membantu Saya". Ujar Surya.
"Ahhhh Surya, Kamu sudah bekerja dengan baik selama lebih dari 10 tahun ini. Kamu sudah menjaga Saya selama 6 tahun. Kamu sudah membantu mengembangkan hotel Saya. Menggantikan Saya saat Saya tidak hadir. Ini waktu nya Saya membalas semua itu". Ujar Eriska.
"Hus majikan, Kamu kira Kamu piaraan Saya? Sudahlah tidak perlu drama cepat Kamu urus itu semua. Tenang saja selama di London, Kamu bisa tinggal dirumah Dito". Ujar Eriska.
"Baiklah Nyonya. Terimakasih karena sudah membantu Saya untuk ini semua". Ujar Surya.
"Santailah Surya, Kamu seperti kesiapa saja. Saya percaya padamu Surya, buatlah Stefanie bahagia". Ujar Eriska.
"Saya akan berusaha Nyonya. Kalau begitu, Saya permisi kembali keruangan Saya". Ujar Surya berdiri. "Permisi Nyonya". Surya pamit keluar.
Dari lobby terlihat ada Rara, James dan Queena. Niall pun berjalan menuju Restaurant karena jadwal nya sudah hampir mulai.
"Rara??". Ujar Niall tersenyum lebar melihat Rara. Tanpa basa basi Niall menghampiri Rara.
"Hi Queena". Sapa Niall.
"Hi Uncle Niall". Balas Queena. "Uncle ingin pergi ke kitchen ya?". Tanya Queena.
"Iya Sayang, tadi Uncle lihat Kamu sedang berjalan jadi Uncle kemari. Nona Queena ingin bertemu Mama?". Tanya Niall.
"Iya Uncle. Queena ingin bertemu Mama dan main disini". Ujar Queena senang.
__ADS_1
"Oh ya? Pasti seru". Ujar Niall.
Queena hanya tersenyum bahagia.
"Yasudah sana keruangan Mama. Oh ya, mau Uncle buatkan kue tidak? Cupcake red velvet kan?". Tanya Niall.
"Mau". Jawab Queena excited.
"Nanti Uncle bawakan keruangan Mama ya saat sudah jadi". Ujar Niall.
"Ye ye ye terimakasih Uncle". Ujar Queena senang.
"My pleasure Queen". Ujar Niall mengelus pipi Queena.
"Yasudah Queena masuk keruangan Mama ya. Bye Uncle". Queena melambaikan tangan lalu pergi diikuti James.
Saat Rara ingin berjalan, Niall menarik tangan Rara.
"Ra... Tunggu". Niall menarik tangan Rara.
"Ada apa Kang?". Tanya Rara.
"Chat ku kenapa tidak dibalas semalam? Teleponku juga tidak Kamu angkat". Ujar Niall.
"Ahhhh itu, maaf Kang semalam Saya ketiduran. Hehehehehe".
"Aku fikir Kamu marah padaku". Ujar Niall.
"Marah kenapa atuh? Memang Akang Niall ada salah gitu?". Tanya Rara.
"Mungkin Kamu merasa terganggu Aku chat terus". Ujar Niall.
"Tidaklah, biasa saja". Jawab Rara.
"Ra, Kamu ada waktu kosong kapan?". Tanya Niall.
"Kenapa gitu?". Tanya Rara.
"Kita jalan-jalan berdua". Ujar Niall.
"Saya teh kurang tahu kapan ada waktu kang, baru kemarin Saya pulang kampung". Ujar Rara. "Yasudah atuh Saya keruangan Nyonya dulu Saya tidak enak". Ujar Rara.
"Oh baiklah". Niall melepaskan genggaman tangannya.
"Mari Kang". Rar berpamitan lalu berjalan meninggalkan Niall.
__ADS_1
Niall masih memandang Rara yang sedang berjalan. "Sungguh wanita tangguh". Ujar Niall tersenyum.
Niall pun pergi ke Kitchen saat Rara sudah tak terlihat.