
Hari sudah malam. Sebelum pulang, James mengantar Jessica kerumahnya.
"Terimakasih ya untuk hari ini". Ujar Jessica kepada James.
"Kamu ini seperti ke siapa saja mengatakan terimakasih". Ujar James tersenyum.
"Aku selalu melihat Eriska sangat bahagia dengan Dito. Sekarang Aku bisa merasakan apa yang Dia rasakan. Memang bahagia jika kita bersama dengan orang yang kita cintai dan mencintai kita". Ujar Jessica.
James hanya tersenyum pada Jessica.
Tiba-tiba ponsel Jessica berdering.
"Halo. Tes ada apa?". Tanya Jessica.
"Jess malam ini club xxxx yuk". Ajak Tessa kawan Jessica.
"Sorry Aku gak bisa". Jawab Jessica.
"Gak asyik Kamu Jess. Ayolah ada genk tampan nih". Ujar Tessa
"Gak deh. Udah dulu ya bye". Jessica mematikan teleponnya.
"Siapa yang menelepon?". Tanya James.
"Oh itu kawanku". Jawab Jessica santai.
"Ada apa? Kamu terlihat gundah?".
"Sebenarnya Dia mengajakku untuk pergi ke club Tapi Aku sudah tolak". Ujar Jessica sedikit murung.
"Terus Kamu kenapa murung?". Tanya James.
"Aku hanya belum terbiasa tanpa pergi ke night club. Biasanya Aku selalu pergi ini sudah seperti kebiasaanku". Ujar Jessica sedikit berat.
James menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
James berbalik menatap Jessica dengan tersenyum. "Aku tidak ingin memaksamu untuk melepas kebiasaanmu. Jika ini berat kamu bisa pergi. Tapi, lebih baik lagi jika Kamu tidak pergi ke tempat itu. Aku tahu tempat itu sangat menyeramkan seperti neraka. Saat kuliah Aku selalu pergi ke club. Dior juga ikut. Namun Aku dan Dior melihat seorang pria menaruh obat kedalam minuman wanita hingga akhirnya si wanita tak sadarkan diri lalu si pria membawanya. Setelah kejadian itu, Aku dan Dior tidak pergi ke club. Di club apa saja bisa terjadi. Aku tidak ingin Kamu mendapatkan hal buruk itu. Aku juga tidak bisa selalu bersamamu. Kelinci kecil, berfikirlah kembali. Aku melarang karena Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu". James menyentuh kedua pipi Jessica lalu memeluknya.
"Baiklah James, Aku akan mencoba nya". Ujar Jessica membalas pelukan James.
"Itu baru kelinci kecilku yang manis". Ujar James Tersenyum pada Jessica.
James pun melanjutkan lagi berkendara.
"James, kenapa kamu selalu memanggilku kelinci kecil ? Memang Aku seperti kelinci memiliki telinga panjang?". Tanya Jessica
"Hahahahahaha, Kamu tahu tidak ? Tingkahmu itu sangat lucu, Kamu itu imut seperti kelinci kecil. Sejak kecil aku sangat suka dengan kelinci kecil. Mereka terlihat lucu dan menggemaska. Aku selalu memelihara kelinci kecil. Saat mereka tumbuh dewasa, aku berikan pada orang lain lalu Aku membeli kelinci kecil yang baru. Saat Aku pertama Kali melihatmu tertawa bersama Nyonya Eriska, Aku melihat Kamu seperti kelinci kecil yang berlarian karena bahagia". Ujar James tersenyum pada Jessica.
__ADS_1
"Jadi jika Aku tidak seperti kelinci kecil lagi Kamu akan membuangku?". Tanya Jessica.
"Tentu". Balas James.
Jessica memukul pundak James. "Lelaki sialan!". Jessica kesal.
"Hahahahahaha bercanda Jessy, Kamu akan selalu menjadi kelinci kecil ku yang lucu dan menggemaskan". James mencubit pipi Jessica.
Jessica tersipu malu dengan apa yang dikatakan James.
Kelinci kecil. Ujar Jessica dalam hati dengan tersenyum malu.
Merekapun sampai didepan rumah Jessica.
"James, Kamu hati-hati ya. Saat sampai Rumah harus telepon Aku". Ujar Jessica sebelum turun dari mobil.
James melepaskan seatbelt nya. Menyentuh pipi Jessica lalu mencium Jessica. Ciuman yang begitu dalam. Jessica pun membalas ciuman James. Setelah melepaskan ciumannya, James keluar untuk membukakan pintu untuk Jessica.
"Ingat telepon Aku saat Kamu sampai rumah". Ujar Jessica.
"Ok kelinci kecil. Yasudah Aku pulang dulu ya. Kamu istirahat". James memeluk tubuh mungil Jessica. "Good night kelinci kecil". James melepaskan pelukannya.
"Good night James. Take care". Jessica melambaikan tangan pada James.
James pun pergi dari kediaman Jessica.
James didalam mobil merasa sangat bahagia karena sekarang Ia memiliki orang yang Ia cintai.
"Kelinci kecilku, Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu. Semoga hubungan kita bukan hanya untuk sementara". Ujar James yang terus tersenyum.
•••••
"Dito suamiku tersayang, Aku mau pasta buatanmu". Regek Eriska.
"Pasta?". tanya Dito
Eriska mengangguk.
"Baiklah Nyonya Cantikku. Kamu mau tunggu disini apa ikut kebawah?". Tanya Dito.
"Ikut kebawah. Aku tidak mau sendirian disini". Ujar Eriska memeluk tangan Dito.
"Yasudah Ayo". Dito membantu Eriska untuk berdiri.
Mereka berjalan menuju lantai bawah.
"Malam pah". Sapa Dito dan Eriska pada Papa nya
__ADS_1
"Malam". Jawab Birowo.
"Apa Papa sudah makan?". Tanya Dito.
"Sudah tadi. Papa kan tidak boleh makan terlalu malam". Ujar Birowo. "Apa kalian sudah makan?". Tanya Birowo.
"Belum Pah. Eriska ingin pasta jadi Dito akan membuatkannya". Ujar Dito
"Oh baiklah". Ujar Birowo.
"Kamu disini dulu sama Papa ya, Aku masak dulu". Ujar Dito.
Eriska hanya mengangguk.
Dito pun pergi menuju dapur.
Tak lama Tita datang dengan gontai.
"Assalamualaikum". Tita mengucap salam
"Waalaikumsalam. Baru pulang Kamu Ta". Ujar Birowo.
"Iya Om di hotel banyak sekali pekerjaan". Tita mencium tangan Birowo lalu memeluk dan mencium pipi Eriska.
"Kak, jangan manja dong kakak nyuruh kak Dito pulang mulu". Protes Tita.
"Suka-suka dong. Kakak gaji Kamu ini kan di hotel gak gratis". Jawab Eriska.
"Iyasih tapi kan awalnya bilang kak Dito mau bantu di hotel. Ini baru setengah hari sudah disuruh pulang". Tita masih protes.
"Sudah diam. Dito akan membuat pasta. Kalau Kamu mau Kamu bilang Dito untuk membuatkan untukmu". Ujar Eriska mengalihkan pembicaraan.
"Wah kak Dito yang masak? Asik". Tita pun lupa dengan protes nya lalu berjalan menuju dapur.
"Hahahahahaha dasar Tita, dialihkan makanan langsung lupa". Ujar Eriska tertawa puas.
"Papa lihat kamu itu seperti Almarhummah Mamamu. Saat hamil kamu, Mama mu juga sangat manja. Tidak membolehkan Papa pergi ke pabrik atau ke perkebunan. Sayang, nikmati moment indahmu dengan Dito. Uang bisa dicari Tapi kebahagiaan akan keluarga yang utuh itu sangat jarang". Ujar Birowo mengelus kepala Eriska.
"Papa maafkan Eriska ya". Ujar Eriska merasa bersalah.
"Maaf untuk apa?". Tanya Birowo.
"Awal Papa menjodohkanku dengan Dito, Eriska sangat keras pada Papa. Eriska tidak mempercayai pilihan Papa".
"Eriska, sudahlah tidak perlu Kamu ingat lagi. Hidupmu dan Dito sudah sangat baik sekarang. Papa percaya dengan pilihan Almarhummah Mama mu. Maka dari itu Papa sangat Berusaha agar Kamu bisa menikah dengan Dito meski harus sedikit memaksa". Ujar Birowo tersenyum.
Eriska memeluk Papanya. "Aku sangat sayang pada Mama dan Papa. Aku harap Aku bisa jadi orangtua seperti Mama dan Papa". Ujar Eriska.
__ADS_1
"Papa percaya Kamu dan Dito bisa jadi orangtua yang baik untuk anak kalian kelak". Ujar Birowo Tersenyum. "Sudah jangan sedih lagi. Kasihan anakmu". Ujar Birowo Tersenyum.