Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (86)


__ADS_3

Hari-hari berlalu, James dan Jessica juga John dan Eimear telah kembali ke Rumah Dito. Mereka akan bersiap kembali ke tanah air. Sebelum kembali, Eriska dan Dito pergi makan malam bersama Dion karena sudah berjanji.


"Jess, Aku titip Queena sebentar ya. Kita tidak akan lama". Ujar Eriska yang akan bersiap pergi.


"Siap Nyonya". Ledek Jessica.


"Pulang nanti mau dibelikan apa?". Tanya Eriska.


"Apa sajalah yang menurut Nyonya baik". Ledek Jessica lagi.


"hais Nyonya Nyonya Nyonya. Lama-lama Kamu seperti James ya". Ujar Eriska.


"Yasudah Kami jalan dulu". Eriska dan Dito pun pergi.


Mereka masuk dalam mobil. Selama perjalanan, Mereka berbincang sedikit menghilangkan rasa sepi.


"Kamu kenapa berdandan seperti ini coba". Gerutu Dito.


"Kenapa memang? Aku terlihat jelek ya?". Tanya Eriska yang merasa bingung.


"Justru Kamu sangat cantik dengan berdandan seperti ini. Aku merasa tidak rela jika Dion melihat penampilanmu seperti ini". Dito masih menggerutu.


"Ah Sayang, Aku tidak ingin membuatmu malu. Jika Aku berdandan biasa apa kata Dia? Seorang Dior pengusaha kaya raya tidak membuat Istrinya cantik kan bikin malu". Ujar Eriska menjelaskan pada Dito.


Dito hanya diam tanpa menjawab.


"Sudahlah, Aku ini milikmu. Mau Dia berbuat apapun padaku, Aku tetap memilihmu. Sudah jangan cemburu lagi Tuan Dito yang tampan". Eriska mengecup pipi Dito.


Dito memeluk Eriska dan menyandarkan kepalanya dibahu Eriska.


"Aku tidak ingin kehilanganmu Eriska". Dito memeluk erat tubuh Eriska.


"Siapa yang akan menghilang? Aku akan terus disampingmu. Sudahlah jangan seperti ini. Wajahmu jelek jika bersedih. Berjanjilah untuk tersenyum. Aku merasa tidak berguna jika saat disampingku, Kamu bersedih seperti ini". Ujar Eriska.


"Baiklah Nyonya Angkuh. Lihat Aku tersenyum". Dito menunjukkan senyumannya.


"Begini baru Suamiku yang tampan". Eriska mencubit kedua pipi Dito.


Tak lama, Mereka pun sampai di Restaurant mewah di London. Eriska dan Dito berjalan kedalam restaurant.


"Reservasi atas nama Eriska Putri". Ujar Dito pada pelayan.


"Mari Tuan dan Nyonya ikuti Saya". Ujar Pelayan pada Eriska dan Dito.


Eriska dan Dito pun mengikuti pelayan. Mereka duduk di meja yang sudah direservasi itu.


"Sayang, Kamu mau pesan apa?". Tanya Dito.


"Nanti saja tunggu Dion datang". Ujar Eriska.

__ADS_1


"Minum saja atau cemilan dulu. Dari tadi sore Kamu belum makan apapun". Ujar Dito.


"Yasudah air mineral saja dengan buah". Ujar Eriska pada pelayan.


"Baik Nyonya". Jawab Pelayan lalu pergi.


Selang sepuluh menit, Dion datang. Ia berjalan menghampiri Eriska dan Dito. Ia melihat Eriska dan Dito sedang mengobrol dan juga Dito yang menyuapi buah pada Eriska. Tangan Dion mengepal Ia merasa sangat cemburu namun Ia tahan dengan menunjukkan wajah yang bahagia.


"Selamat malam". Sapa Dion.


"Hey Dion. Selamat malam. Bagaimana kabarmu?". Eriska berdiri dan cipika cipiki pada Dion.


Cih! Dito merasa kesal melihatnya.


"Hey, apa kabar?". Dion dan Dito saling berpelukan. Mereka berdua terlihat akrab namun dalam hati saling membenci.


"Ayo duduk". Ujar Eriska.


Merekapun duduk.


"Eriska, Kamu terlihat sangat cantik malam ini". Ujar Dion tersenyum pada Eriska.


"Dari dulu Aku memang sudah cantik". Jawab Eriska tertawa.


Dito yang mendengar merasa kesal. Ia mencubit pelan paha Eriska. Eriska melirik Dito dengan wajah yang kesal.


Mereka memesan makanan juga berbincang bersama. Mengenang masa kuliah dan berbicara bisnis masing-masing.


"Ah bisa saja Kamu. Semua itu, bukan milik Dior lagi. Dior sudah jatuh miskin". Ujar Eriska.


"Apa? Dior! Apa Kamu bangkrut? Tapi setahuku Restaurantmu masih sangat ramai pengunjung". Ujar Dion merasa perkataan Eriska serius.


"Sekarang bukan Aku pemilik Restaurant itu". Jawab Dito yang sedang memakan steak nya.


"Lalu, siapa?". Tanya Dion.


"Nyonya Eriska". Jawab Dito.


"Huh kalian berdua mengerjaiku ya". Ujar Dion.


"Hahahahahaha hanya bergurau, jangan dianggap seriuslah". Ujar Eriska tertawa.


Perempuan ini, kenapa harus terus tertawa dengan Dion!. Gerutu Dito dalam hati.


Eriska sungguh makin cantik dan sangat berkharisma sekarang. Ia benar-benar wanita yang berbeda. Ujar Dion dalam hati.


"Aku ke toilet dulu ya". Ujar Dito.


"Jangan lama-lama". Ujar Eriska.

__ADS_1


"Baiklah". Jawab Dito.


Dito pun pergi dan sudah tak terlihat.


Ini kesempatan yang baik. Ujar Dion dalam hati.


Ia berdiri menghampiri Eriska. Lalu dengan cepat Ia membius Eriska. Tak lama, Eriska sudah tak sadarkan diri. Dom cepat-cepat mengangkat tubuh Eriska dan membawanya pergi sebelum Dito kembali.


"Sial. Kenapa toilet sangat ramai. Sudah seperti mengantri karcis saja". Gerutu Dito.


Ia telah sampai dimejanya. Ia terkejut karena meja sudah kosong.


"Loh Mereka kemana?". Dito Panik.


Dito menghampiri pelayan.


"Apa kalian melihat pria dan wanita yang duduk dikursi sana?". Tanya Dito Panik.


"Oh iya Tuan. Mereka sudah pergi beberapa waktu lalu. Tuan itu berkata Istrinya pingsan jadi Mereka pergi terburu-buru". Ujar Pelayan.


Dito sangat marah. Ia menarik kerah pelayan itu. "Kenapa Kalian tidak menghalangi? Dia adalah Istriku. Dia diculik". Bentak Dito merasa marah.


"Ma... Maaf Tuan Saya tidak tahu". Ujar Pelayan merasa takut.


"Ahhhhh sial". Dito melepaskan cengkramannya.


Dito keluar restaurant. Ia menelepon John.


"Halo John. Eriska diculik sialan Dion. Kerahkan semua para penjaga juga tambah cari keseluruh penjuru London. Aku tidak mau tahu. Kalian harus menemukan Eriska secepatnya". Ujar Dito merasa Panik lalu mematikan panggilannya.


"Dion sialan! Kamu bawa kemana Istriku".


Dito kembali menelepon seseorang.


"Halo Stefanie. Stevie, Eriska diculik Dion". Ujar Dito.


"Apa? Bagaimana terjadi?". Ujar Stefanie terkejut.


"Cerita nya panjang. Aku ingin meminta bantuanmu untuk mengerahkan semua anak buahmu untuk mencari dimana Dion membawa Eriska. Kamu pasti jauh lebih tahu tentang Dion kan?". Ujar Dito.


"Baik. Aku akan mencoba semampuku. Tenanglah Dito. Dion tidak akan melukai Eriska". Stefanie menenangkan Dito.


"Terimakasih Stefanie". Ujar Dito lalu menutup teleponnya.


"Dion sialan! Berani sekali Kamu menculik Eriska. Lihat apa yang akan Aku lakukan padamu!". Dito meremas ponselnya dengan kuat.


Dion membawa Eriska ke suatu rumah dipinggiran kota London. Tempat yang begitu sepi. Dion membawa tubuh Eriska yang tidak sadarkan diri masuk kedalam rumah. Ia membaringkan tubuh Eriska diatas tempat tidur.


"Maafkan Aku yang harus melakukan ini padamu". Ujar Dion mengelus lembut kepala Eriska. "Aku sangat mencintaimu Eriska. Kenapa Kamu lebih memilih sialan Dior itu daripada Aku? sudah bertahun-tahun Aku mencintaimu. Bertahun-tahun Aku mencarimu. Saat Aku menemukanmu, Kamu telah menjadi milik Dito. Tidak! Aku tidak rela sedikitpun!". Ujar Dion dengan rasa kesal membayangkan kemesraan Eriska dan Dito.

__ADS_1


Dior, Aku akan merebut Eriska darimu!.


__ADS_2