
Dua minggu berlalu, Jessica sudah mulai terbiasa dihotel. Sekarang Ia menikmati aktivitas barunya.
Disore hari, saatnya pulang bekerja. Disetiap sudut jalan sudah terlihat banyak orang yang berjalan ditrotoar. Jalanan sudah terlihat sangat padat. Jessica tengah menunggu James yang sudah berjanji akan menjemputnya.
Jessica sudah menolak karena rumah Jessica dengan hotel hanya berjarak 15 menit menggunakan kendaraan namun James ingin sekali menjemputnya.
"Kemana sih James, sudah satu jam menunggu masih belum datang juga". Gerutu Jessica sangat kesal terus melihat jam ditangannya.
Tak lama, sebuah mobil berhenti didepan Jessica. Dua orang pria menggunakan topeng diwajahnya menghampiri Jessica. Jessica merasa terkejut dan merasa Takut. "Hey kalian mau apa. Tolo.....". Sebelum berteriak, Jessica sudah disekap dan dibawa oleh dua orang itu masuk kedalam mobil.
"Hey Kalian siapa? Lepaskan Aku". Jessica meronta.
"Diam Kamu!". Bentak seseorang.
Seseorang menelepon. "Halo Boss. Pemilik Hotel D'Cozy telah bersama Kita sekarang". Ujar seseorang.
"Hey bodoh! Aku bukan pemilik Hotel D'Cozy, Aku hanya karyawan". Ujar Jessica Panik.
"Diam Kamu. Berisik sekali". Salah seorang penculik menutup mata dan mulut Jessica.
Jessica tidak bisa berbuat apa-apa Ia merasa sangat Takut.
James kemana? Aku takut. James selamatkan Aku. Jessica menangis berbicara dalam hatinya.
Satu jam berlalu, Mereka berhenti disebuah tempat. Mereka memaksa Jessica berjalan. Jessica terus meronta dan berteriak.
Mereka berhenti lalu membuka penutup mulut Jessica. "Hey sialan Aku bukan Eriska! Aku Jessica". Teriak Jessica.
Mereka membuka penutup mata Jessica. Saat Ia membuka mata, Ia terkejut siapa yang Ia lihat didepannya. Ia berada di Monas. Dimalam hari terasa indah dengan kerlipan lampu.
Yang lebih membuatnya terkejut dengan sosok dihadapannya.
"James ???". Panggil Jessica bingung. Jessica melihat kebelakang. Dua orang Pria yang menculik Jessica membuka topengnya. "John, Dito". Jessica merasa kesal. "Sialan Kalian berdua". Jessica memukul Dito dan James.
Terlihat juga Eriska dan kedua Orangtua Jessica berjalan menghampiri Jessica.
"Ayo". Eriska mengajak Jessica menghampiri James yang tengah berdiri dengan menggunakan pakaian Jas lengkap dengan memegang buket bunga ditangannya.
"Ada apa ini ??". Tanya Jessica bingung.
Eriska dan kedua orangtua Jessica sedikit mundur membiarkan James dan Jessica berbicara berdua.
"James, ada apa ini?". Tanya Jessica bingung.
James menghampiri Jessica. Memberikan buket bunga kepada Jessica.
"Kelinci kecil. Terimakasih karena Kamu telah memilihku menjadi pasanganmu. Maafkan Aku yang membuatmu terlalu lama menunggu. Jessica Arindia Yunus. Aku James Ulliel telah siap untuk menikahimu. Aku siap menjadi Imam mu. Aku siap menjadi pelindungmu hingga ajal datang. Aku siap mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Aku siap untuk setiap hari bisa melihat senyummu disaat Aku bangun tidur. Aku siap memiliki keluarga denganmu. Jessica, apa Kamu siap menjadi Istriku? Apa Kamu siap menjadi Ibu dari anak-anakku? Apa Kamu siap mencintaiku dengan segala kekurangan dan kelebihanmu? Apa Kamu siap menjalani hidup denganku dalam suka maupun duka? Ditempat ini. Diatas sana tiga tahun lalu Aku mengatakan cinta padamu. Hari ini, ditempat yang sama, Jessica Arindia Yunuh maukah Kamu menikah denganku?". James berlutut dengan menunjukkan sebuah cincin berlian dihadapan Jessica.
Jessica sejak tadi sudah menangis. Ia tak menyangka akhirnya James melamarnya. Jessica menarik tangan James untuk berdiri. "Bodoh! Tanpa Kau bertanya tentu Aku mau".
James tersenyum lega karena lamarannya diterima. Ia memasangkan cincin berlian itu dijari manis Jessica. Jessica memeluk erat James. "Terimakasih James". Bisik Jessica ditelinga James.
__ADS_1
"Kkhhhmmmm belum muhrim". Sindir Papa Jessica.
James yang mendengar merasa canggung lalu melepas pelukannya.
"Ah Papa merusak suasana!". Rengek Jessica.
Mereka yang ada disitu hanya tertawa melihat tingkah Jessica.
"Daripada Kamu marah-marah, Ayo Kita ganti pakaianmu untuk acara makan malam". Ujar Eriska.
"Kenapa tidak mengganti dari tadi sih! Lihat penampilanku hancur begini saat James melamarku". Ujar Jessica kesal.
"Ah sudahlah dihari yag bahagia Kamu malah marah-marah". Ujar Eriska mengajak Jessica mengganti pakaian.
Mereka menuju Restaurant yang sudah dipesan. Jessica pun sudah terlihat sangat cantik dengan dress.
Eriska telah mereservasi Restaurant hanya untuk acara Jessica. Mereka menikmati malam yang indah itu.
"Hebat ya membuat rencana penculikan untukku? Untuk Aku tidak punya penyakit jantung. Jika Ia, mungkin Aku sudah mati karena terkejut". Ujar Jessica memukul bahu James.
"Aku hanya ingin memberimu kejutan". Ujar James tertawa.
"Iya Kamu sangat membuatku terkejut". Ujar Jessica merasa kesal.
"Sudahlah yang penting Kamu sudah dilamar. Kamu mau menikah kapan?". Tanya Eriska.
"Bulan depan!". Ujar Jessica.
James yang sedang makan tiba-tiba tersedak.
"Bukan begitu, itu terlalu cepat tidak mungkin. Aku harus kembali ke Paris dulu mempersiapkan segalanya juga menjemput Mama dan kedua adikku". Ujar James.
"Iya, Kamu fikir menikah beda negara itu mudah?". Ujar Eriska.
"Yasudah Kamu cepat-cepat pergi ke Paris untuk mempersiapkan segalanya. Aku tidak ingin menunggu lagi. Jika harus menunggu lama lebih baik aku menikah dengan John". Ujar Jessica.
John tersedak juga mendengarnya.
"John hati-hati perang persaudaraan". Ledek Dito.
"Tunggu dulu, bagaimana Kamu bisa membawa Mama Papa kesini?". Tanya Jessica yang baru sadar.
flashback tiga hari kebelakang. James mendatangin kediaman Jessica. Ia memberanikan diri menemui Orangtua Jessica.
"Selamat siang Tante". sapa James saat Mama Jessica membuka pintu.
"Oh James. Selamat siang Ayo masuk". Mama Jessica mempersilahkan James masuk.
"Tante apa kabar?". tanya James.
"Alhamdulillah baik. Ayo duduk". Mama Jessica mempersilahkan duduk.
__ADS_1
"Tante, apa Om ada?". Tanya James.
"Ada, tunggu Tante panggilkan dulu". Mama Jessica berjalan kesebuah ruangan.
Tak lama Kedua Orangtua Jessica datang menghampiri James.
James berdiri. "Selamat siang Om". James menjabat tangan Papa Jessica.
"Selamat siang". Ujar Papa Jessica. "Duduklah".
Merekapun duduk.
"Ada apa Kamu datang kemari?". Tanya Papa Jessica.
"Om Saya siap sekarang untuk menikahi Jessica". Ujar James.
"Kamu yakin?". Tanya Papa Jessica.
"Iya Om. Ini persyaratan yang Om berikan". James memberikan Surat Mualaf yang Ia dapat saat menjadi Mualaf.
Papa Jessica mengambilnya dan membacanya.
"Apa Kamu masuk Islam hanya untuk menikahi Jessica? Jika memang hanya untuk menikahi Jessica, Saya tidak bisa menerimanya". Ujar Papa Jessica memberikan kembali Surat itu.
"Tidak Om. Saya menjadi Muslim murni karena Saya meyakininya. Sejak mengenal Tuan Dito Saya sudah penasaran dengan Agama ini. Saat Om memberikan syarat itu, Saya semakin ingin tahu hingga Tuan Dito membantu Saya. Empat bulan Saya mempelajari Agama Islam dan Saya yakin untuk masuk dalam Agama Islam. Saat setelah menjadi seorang Muslim, Saya pun terus belajar. Dari Sholat, membaca Al-Qur'an. Saya mencoba belajar menjadi Muslim yang baik. Dan sekarang In Shaa Allah Saya siap menjadi Imam untuk Jessica. Saya berharap Om bisa menerimanya". Ujar James penuh keyakinan.
Papa Jessica melihat kepada Mama Jessica. Mama Jessica mengangguk menandakan harus menerimanya.
Papa Jessica menghela nafas. "Alhamdulillah". bisiknya.
"Baiklah Saya terima lamaranmu". Ujar Papa Jessica.
"Alhamdulillah". ujar James dengan perasaan lega. "Terimakasih Om dan Tante. Begini Om dan Tante, Saya ingin membuat rencana". James menjelaskan rencananya.
-----
"Begitulah ceritanya". Ujar James.
Jessica merasa terharu. Ia kembali meneteskan air mata nya.
"Sudahlah jangan menangis seperti itu". Ujar James.
"Kamu ini ternyata sangat manis ya penuh kejutan". Ujar Jessica memeluk tangan James.
"Jessy". sahut Papa.
"Papa, sudahlah Aku hanya memeluk James. Papa seperti tidak pernah muda saja". gerutu Jessica kesal.
Mereka berbincang dimalam itu. Semua tampak bahagia dengan rencana pernikahan James dan Jessica. Akhirnya setelah tiga tahun menunggu, Mereka siap ke jenjang yang lebih serius.
Bonus Visualisasi James & Jessica yang baru lamaran.
__ADS_1