
Sudah pukul 3 sore, Stefanie terbangun dari tidurnya.
"Ahhhh akhirnya bisa istirahat dengan tenang". Stefanie duduk melihat Surya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"hey Surya". Stefanie memanggil Surya.
"kenapa Nona". jawab Surya yang fokus pada laptopnya.
"jika bicara dengan seseorang itu tatap wajahnya". ujar Stefanie.
" Ada apa Nona Stefanie". surya menatap wajah Stefanie.
deg! jantung Stefanie berdetak kencang.
"Surya, wajahmu itu apa tidak bisa senyum ya? Mungkin Kamu lebih tampan jika tersenyum". ujar Stefanie tersenyum kepada Surya.
"Nona jika sudah selesai istirahat nya bisa kembali ke dapur". Ujar Surya yang berbicara tanpa melihat Stefanie Dan fokus pada laptopnya lagi.
Stefanie berdiri berjalan mendekati Surya. Stefanie menunduk lalu mencium pipi Surya. "Terimakasih sudah memberikan ruanganmu untukku istirahat. Mungkin Aku akan sering kemari untuk istirahat". Stefanie tersenyum lalu pergi dari ruangan Surya.
Surya terbengong dengan apa yang Stefanie lakukan. Ia menyentuh pipi nya yang dicium Stefanie.
Stefanie sampai di kitchen.
"Ah Chef untung Anda datang. Ada pesanan tenderloin steak pengunjung ini ingin Senior Chef nya yang membuatkan". Ujar Pelayan
"Baiklah. Berapa porsi?". Tanya Stefanie.
"Satu saja Chef". Jawab Pelayan
"Ok". Jawab Stefanie ceria.
Stefanie pun membuat pesanan. 30 menit berlalu, Stefanie siap dengan hidangannya.
"Perfecto". Ujar Stefanie tersenyum.
Saat Ia berjalan untuk memberikan kepada pelayan, tiba-tiba Ia bertabrakan dengan seseorang.
"Ah sial! Hey bodoh apa Kamu jalan tidak lihat-lihat? Untung steak nya tidak jatuh". Gerutu Stefanie.
__ADS_1
"Hey wanita, siapa Kamu ? Berani sekali mengatakan bodoh padaku?". Gerutu Niall.
"Hey pria, Kamu tidak tahu saya? Saya adalah Stefanie. Senior chef baru dihotel ini". Ujar Stefanie.
"Oh jadi Kamu pengganti chef Arga. Tak sangka seorang wanita muda. Apa yakin lebih baik dari chef Arga?". Niall tersenyum meremehkan Stefanie lalu pergi menuju ruang pastry.
"Cowok sialan! Nia, siapa Dia?". Tanya Stefanie kepada cook helpernya.
"Oh itu Chef Niall. Senior Chef bagian Pastry". Ujar Nia.
"Oh jadi Dia yang bernama Niall. Cih pria Inggris sombong!". Gerutu Stefanie pergi memberikan steak buatannya kepada pelayan.
"Ah Aku fikir seorang Niall keren, tampan dan baik hati tahu nya cih pria sombong meski sedikit tampan". Stefanie sangat kesal.
"lebih baik Aku masak lagi daripada memikirkan pria Inggris itu". ujar Stefanie.
diruang Pastry Niall pun sama menggerutu.
"Siapa coba yang merekomendasikan Dia sebagai Senior chef? dari bentuknya Dia sama sekali tidak memiliki skill masak yang hebat. Chef Arga yang luar biasa digantikan wanita Perancis yang sombong itu?". ujar Niall yang masih menggerutu.
••••••••
"Astaga Eriska semakin hari semakin manja saja. Tapi seperti ini dia terlihat sangat manis sekali". Ujar Dito yang membelai rambut Eriska yang curl itu.
"Hmmmmmm sayang jangan berisik". Ujar Eriska yang setengah sadar.
"Ok Aku akan keluar". Bisik Dito.
Tiba-tiba Eriska terbangun. "Mau kemana kamu?". Tanya Eriska.
"Mau ke kamar mandi mau wudhu terus sholat". Ujar Dito.
"Kenapa tidak membangunkanku?". Tanya Eriska.
"Aku akan membangunkanmu nanti setelah ambil wudhu. Yasudah karena Kamu sudah bangun ayo kita sholat". Ajak Dito.
Merekapun berdua berjalan menuju kamar mandi untuk wudhu lalu ambil peralatan Sholat.
"Sayang sepertinya kita harus membuat tempat khusus untuk wudhu". Ujar Dito.
__ADS_1
"Tidak perlu. Kita bisa bikin mushollah disalah satu ruangan disini. Nanti kamar mandinya ganti dengan tempat wudhu. Kurang enak juga sholat dikamar seperti ini". Ujar Eriska.
"Ah Istriku ini luar biasa. Terimakasih ya sayang Kamu sudah banyak berubah. Bukan hanya untuk ibadah Kamu juga sudah tidak pernah ke night club dan minum-minum lagi". Ujar Dito tersenyum.
"Aku sudah ada Kamu yang membuat tenang Aku tidak butuh minuman itu lagi". Ujar Eriska.
" yasudah ayo kita sholat".
Eriska Dan Dito pun sholat bersama. Karena perutnya mulai membesar, Eriska sedikit kewalahan saat sholat. Selesai Sholat mereka berdoa lalu Eriska mencium tangan Dito dan Dito mencium kening Eriska.
"Karena perutku sudah lumayan membesar, Aku sedikit pengap saat sholat". Ujar Eriska.
"Sayang, jika Kamu tidak sanggup sholat berdiri, Kamu bisa duduk". Ujar Dito tersenyum.
"Memangnya boleh?". Tanya Eriska.
"Sayang, sholat itu kewajiban yang harus kita kerjakan dalam kondisi apapun. Namun, Allah membuat itu mudah. Saat kita tidak mampu untuk berdiri, kita bisa duduk. Jika kita tidak bisa sholat dalam keadaan duduk, kita bisa berbaring. Jika tubuh kita tidak bisa berbuat apapun bahkan kita bisa sholat dengan mengedipkan mata. Selagi kita sadar, kita diwajibkan untuk sholat. Jadi, jika Kamu tidak sanggup untuk berdiri, Kamu bisa duduk".
"Oh begitu ya sayang". Ujar Eriska yag mendengar penjelasan Dito.
"Iya sayang. Makanya, sebisa mungkin selama kita sadar, kita harus sholat. Anggap saja sholat itu bukti cinta kita terhadap Allah yang menciptakan kita. Yang menyayangi kita melebihi apapun". Ujar Dito.
Eriska memeluk Dito. "Aku tidak tahu kebaikan apa yang Aku lakukan hingga Allah mengirimmu menjadi suamiku". Ujar Eriska bahagia.
"Doa orangtua sayang. Orangtua kita sangat menyayangi kita hingga Mereka terus berdoa agar anak-anak hidup bahagia. Ini juga contoh untuk kita sebagai calon orangtua. Kamu tahu, doa yang yang paling diijabah Allah adalah Doa orangtua apalagi seorang Ibu. Maka dari itu, orangtua harus menjaga ucapannya kepada anak-anak nya karena ucapan orangtua terutama seorang ibu adalah doa". Ujar Dito.
"Sayang, Aku berharap Kamu bisa berhijab. Bukan untukku, Tapi untuk dirimu. Sama seperti sholat, hijab juga suatu kewajiban untuk wanita. Tidak bisa ditoleril lagi. Aku tidak mau memaksamu, Tapi Aku harus selalu mengingatkanmu. Kamu adalah tanggung jawab ku. Allah akan meminta tanggung jawabku akan semua perbuatan yang Kamu lakukan selama jadi istriku. Termasuk berhijab. Aku selalu berdoa semoga Allah bisa memberimu hidayah untuk berhijab. Kamu tahu? Aku sangat berharap bukan hanya didunia kita bersama. Tapi disurga pun aku ingin Kamu menjadi Ratuku". Ujar Dito. "Aku sangat mencintaimu Eriska. Aku tidak ingin berpisah denganmu di akhirat nanti. Karena kehidupan kekal kita di akhirat bukan didunia". Dito memeluk Eriska. "Sayang, bawa Aku kesurga Allah".
Ada rasa sedih dihati Eriska saat Dito mengatakan itu. Ia masih belum siap dengan keinginan Dito itu.
Ya Allah beri Aku hidayah. Eriska memeluk erat suaminya.
"sayang, Kamu bisa membimbingku dengan perlahan kan?". Eriska melepaskan pelukannya lalu menatap Suaminya.
"In Shaa Allah sayang. bukan hanya Aku, Tapi Kamu juga harus Berusaha". ujar Dito mencium kening Eriska.
"pasti sayang aku akan Berusaha semampuku". jawab Eriska tersenyum.
" Alhamdulillah". Dito memeluk lagi Istrinya.
__ADS_1