Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (15)


__ADS_3

Setelah sarapan, Mereka bersiap untuk pergi ke hotel.


"James, ayo kita berangkat". Ujar Eriska.


"Baik Nyonya". Jawab James pergi keluar.


"Ra, nanti Kamu nyusul ya. Kamu bisa minta antar supir". ujar Eriska.


"Baik Nyonya". Jawab Rara.


"Pah Kami jalan dulu ya". Eriska, Dito dan Queena mencium tangan Birowo.


"Kalian hati-hati, salam pada Stefanie". Ujar Birowo.


"In Shaa Allah Pah, yaudah kami jalan ya Pah. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".


Merekapun berjalan keluar. Sudah ada James yang menunggu di pintu Utama. Merekapun masuk kedalam mobil.


"James, kita bisa menjemput Jessica dulu". Ujar Eriska.


"Baik Nyonya".


James pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Stefanie Aku telepon masih tidak aktif. Entahlah Dia kemana". Gerutu Eriska yang merasa kesal ponsel Stefanie tidak aktif.


"Sudahlah Kita kan mau ke hotel nanti juga ketemu". Ujar Dito menenangkan Eriska.


"Mama jangan marah-marah nanti cantiknya hilang". Ujar Queena polos.


"Gitu ya? Kalau Mama marah nanti Mama gak cantik lagi?". Tanya Eriska.


"Iya, wajah Mama jadi Seram seperti nenek sihir". Jawab Queena.


"Oh ya? Siapa yang mengatakan itu pada Queena?". Tanya Eriska.


"Papa". Queena menunjuk Dito.


"Oh Papa, Papa bilang Mama seperti nenek sihir". Eriska menatap Dito lalu mencubit pinggang nya.


"Ampun Sayang hahahahahaha maaf kan Aku. Aku hanya bercanda". Ujar Dito meringis kesakitan Eriska terus mencubit nya.


"Bagus ya mengajari anaknya bicara tidak-tidak". Eriska terus mencubit Dito.


"bercanda Sayang maaf maaf". Dito terus memohon. "Queena sayang, jangan bicara begitu lagi ya Papa salah". Ujar Dito.


Eriska pun melepaskan cubitannya.


"Awas ya bicara macam-macam lagi pada Queena". Ancam Eriska.


"Iya Sayang". Dito memeluk Eriska.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Mereka sampai didepan rumah Jessica.

__ADS_1


"Halo Jess, Kita sudah di depan rumahmu". Ujar Eriska dalam telepon.


"Baiklah Aku keluar sekarang". Balas Jessica.


Eriska pun menutup teleponnya.


Terlihat Jessica berjalan menghampiri mobil lalu masuk dikursi depan.


"Halo Jemmy sayang". Jessica memeluk James.


"Kkhhhmmmm dibelakang ada orang". Ledek Eriska.


"Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak". Ledek Dito.


Jessica hanya menjulurkan lidahnya "sirik aja".


Eriska dan Dito tertawa melihat tingkah Jessica tapi James terlihat sedikit sungkan pada Tuan dan Nyonya nya. James pun melajukan mobilnya kembali.


Lima belas menit berlalu, Mereka sampai dihotel. Semua turn di lobby kecuali James yang memarkirkan mobil.


"Aku telepon Stefanie Tapi ponselnya tidak aktif". Ujar Eriska.


"Kita ke kamar nya saja". Balas Jessica.


"Yasudah ayo". Eriska dan Dito hendak berjalan, namun dihalangi Jessica.


"Tunggu Jemmy dulu". Ujar Jessica.


"Haduh orang yang jatuh cinta. Baiklah kita tunggu". Ujar Eriska.


Tak lama James datang. Merekapun berjalan menuju kamar Stefanie. Tak lepas-lepas Jessica memeluk tangan James. Eriska yang melihat hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Si Stefanie ini kemana coba". Gerutu Eriska kesal.


"Dasar emosian! Sini biar Aku yang mengetuk pintu". Jessica menyenggol tubuh Eriska.


"Pelan-pelan Jessica". Ujar Eriska kesal.


"Stevie, Stevie ini kami hey Kamu didalam tidak? Kamu masih tidur ya. Hey Stefanie". Jessica menggedor dengan kencang.


Tak lama seseorang membuka pintu. Semua kaget yang membuka pintu ternyata Surya dengan wajah yang masih mengantuk. Saat Surya melihat siapa yang datang Surya pun terkejut


"Tu... Tuan Nyonya". Ujar Surya terbata.


"Stone Man, siapa yang pagi-pagi mengetuk pintu kencang-kencang? Menggangu tidur kita saja". Teriak Stefanie dari dalam.


Eriska mendorong tubuh Surya keluar dan masuk kedalam bersama Jessica.


"Oho selangkah lebih maju ya". Ledek Jessica.


"Pantas ya ponsel tidak aktif ternyata sedang bersenang-senang". Ledek Eriska.


Stefanie terkejut siapa yang datang. Ia segera turun dari atas tempat tidur Dan berdiri "kalian?? Hey itu tidak seperti yang kalian fikirkan". Ujar Stefanie mencoba menjelaskan.


"Oho Mereka sedang planting sebelum Stefanie pulang". Ledek Eriska.

__ADS_1


"Hebat ya Stefanie". Jessica tersenyum meledek pada Eriska.


"Hey bicara sembarangan! Kita tidak melakukan apa-apa". Ujar Stefanie.


"Sudahlah bersiap cepat Kamu tahu ada janji dengan kami sampai kami sendiri yang menghampiri eh malah sedang bersenang-senang". Eriska masih meledek Stefanie.


Stefanie mengelitik Eriska dan Jessica bergantian. "Terus saja meledekku ya. Hah rasakan ini". Stefanie masih mengelitik Eriska dan Jessica.


"Hahahahahaha stop Stevie". Eriska dan Jessica tertawa karena geli.


"Siapa suruh meledekku ya".


Eriska dan Jessica pun mengelitiki Stefanie. Mereka bertiga seperti anak kecil yang sedang bergurau padahal usia mereka sudah kepala tiga.


Mereka bertiga berbaring diatas tempat tidur saling tertawa.


"Aku akan merindukanmu Stefanie". Ujar Eriska menatap langit-langit.


"Aku juga. Pasti setelah pulang ke keluargamu, Akan sulit menghubungimu". Sahut Jessica.


Stefanie serasa ingin meneteskan air mata. Hanya sahabat-sahabatnya yang mengerti perasaannya. "Aku akan lebih merindukanmu". Stefanie memeluk kedua sahabatnya. Stefanie tak kuasa menahan air matanya.


Sungguh lebih berat meninggalkan Mereka daripada meninggalkan keluarga nya sendiri.


"Sudahlah jangan menangis, cepat bersiap. Kita akan bersenang-senang". Eriska mengusap air mata Stefanie. Eriska sangat faham dengan perasaan Stefanie. Ia sangat tahu seberapa tertekannya Stefanie.


"Kami akan menunggumu di café hotel ya". Ujar Eriska.


Stefanie hanya menganggukkan kepalanya.


"Yasudah jangan sedih lagi. Cepat bersiap kita akan keluar sekarang". Ujar Eriska berdiri disusul Jessica lalu melangkah keluar.


Diluar masih ada Surya yang merasa gugup melihat Eriska. Ia menunduk.


"Saya percaya padamu". Eriska menepuk pundak Surya. "Bersiap lah Kamu ikut dengan kami". Tambahnya.


"Ba... Baik Nyonya". Ujar Surya terbata.


Merekapun pergi menuju Café. Sampai di Café Mereka memesan minuman. Dari jauh terlihat Rara yang menyusul Tuan dan Nyonya nya berjalan menghampiri Mereka tiba-tiba seseorang menabraknya dan Rara terjatuh.


"Aduh kalau jalan teh lihat-lihat dong A". Gerutu Rara yang menepuk-nepuk tangannya.


Ada uluran tangan. "Maaf Nona, Saya tidak sengaja". Ujar Pria bule berbicara Indonesia yang ternyata Niall.


Tara mendongakkan kepalanya. Niall terpesona dengan kecantikan Rara.


Ya Tuhan, cantik sekali wanita ini. Ujar Niall dalam hati.


"Hey Mister. Kalau jalan teh pelan-pelan lihat jadi menabrak saya kan". Gerutu Rara dengan logat Sunda yang kental yang membuat Niall tertawa lucu.


"Wanita yang unik". Ujar Niall pelan.


"Maaf Nona". Niall membantu Rara. Rara pun menerima uluran Niall lalu pergi tanpa mengatakan apapun.


Niall terus memandangi Rara. Ia melihat Rara menghampiri Eriska lalu sangat dekat dengan Queena.

__ADS_1


"Siapa Dia? Begitu dekat dengan keluarga Nyonya. Apa Dia sepupu Nyonya?". Tanya Niall.


Niall merasa penasaran pada Rara. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Rara untuk pertama kalinya. Ia selalu tersenyum saat mengingat cara bicara Rara yang khas yang menurut Niall itu unik.


__ADS_2