
Setelah meminum juice dan Dito merasa Eriska lebih tenang, Dito pamit keluar.
"Sayang Aku keluar sebentar ya. Aku ingin menemui Dokter". Ujar Dito berdiri.
"Jangan lama-lama". Ujar Eriska.
"Iya Sayang gak akan lama". Ujar Dito tersenyum pada Eriska.
Dito pun keluar untuk menemui suster.
"Suster, sudah dapat recommend dari dokter yang merawat Istri saya kan soal psikiater?". Tanya Dito.
"Iya Tuan sudah". Jawab Suster.
"Apakah Dokternya sudah datang?". Tanya Dito.
"Untuk jadwal dokter kejiwaan hari ini ada dokter Nadia. Beliau sudah ada ditempat". Ujar Suster.
"Baiklah. Suster bisa antarkan Saya untuk bertemu dokter Nadia? Atas recomendasi dokter Evan". Ujar Dito.
"Tentu Tuan, mari". Suster berjalan dan Dito mengikuti dari belakang.
Sampailah mereka di poli kejiwaan. Terlihat hanya beberapa pasien yang berobat. Suster mengetuk pintu lalu masuk. Dito menunggu diluar karena sedang ada pasien didalam.
Tak lama Suster menyuruhku masuk setelah pasien yang didalam keluar.
"Assalamualaikum Dok". Sapa Dito pada Dokter Nadia.
"Waalaikumsalam. Tuan Dito mari Silahkan duduk". Jawab Dokter Nadia ramah.
Dito pun duduk.
"Saya sudah mendapat informasi dari dokter Evan soal keadaan Nyonya Eriska. Jika boleh tahu, bagaimana sikapnya selama ini?". Tanya Dokter Nadia.
Dito menjelaskan kepada Dokter soal sikap Eriska yang beberapa hari ini cukup berbeda. Lalu menceritakan kejadian tadi pagi yang pingsan dua kali dan soal Eriska menangis entah kenapa.
"Pasien Saya diluar masih ada beberapa. Karena Nyonya sekarang dalam keadaan stabil, Saya akan periksa setelah pasien saya yang tiga ini selesai ya Tuan". Ujar Dokter.
"Tentu Dok. Kalau begitu Saya permisi". Ujar Dito pamit lalu pergi dari ruangan dokter Nadia.
Dito berjalan menuju ruangan Eriska.
"Dito". Teriak Jessica.
Dito berbalik. "Loh Jessica". Ujar Dito.
"Kamu darimana?". Tanya Jessica.
"Dari poli kejiwaan". Ujar Dito.
"Hah? Ngapain?". Tanya Jessica terkejut.
Dito mengajak Jessica dan James duduk diruang tunggu. Dito menceritakan semua kejadian pagi ini lalu mengatakan Eriska kemungkinan mengalami depresi berat. Jessica terkejut mendengarnya. Ia meneteskan air matanya.
"Apa yang menyebabkan Eriska depresi?". Tanya Jessica yang merasa sangat sedih.
"Psikiater akan memeriksanya nanti. Dokter belum mengatakan apapun karena belum bertemu Eriska". Ujar Dito merasa kacau. "Jess Aku gagal menjaga Eriska". Ujar Dito menundukkan kepalanya. "Aku tidak tega melihat Dia menangis ketakutan seperti itu".
"Tenanglah Dito, Dokter belum memeriksanya. Tenanglah". Ujar Jessica menghibur Dito.
Dito menghela nafas dengan berat. "Yasudah Kita keruangannya. Ingat Jess jangan mengatakan apapun soal ini padanya". Ujar Dito.
"Tentu Dito. Ayo, Aku sudah membawakan beberapa roti untuknya". Ujar Jessica.
__ADS_1
Mereka semuapun berjalan menuju ruang rawat Eriska. Sampailah Mereka.
"Dito, lama sekali Kamu pergi". Ujar Eriska kesal.
"Maaf Sayang. Ini ada Jessica". Ujar Dito.
"Hi Ka, gimana keadaan kamu?". Jessica menghampiri Eriska dan memeluknya. Ada perasaan sedih jika mengingat perkataan Dito namun Jessica berusaha seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ya beginilah Jess. Baru sehari sudah sangat stress Aku disini". Gerutu Eriska.
"Makanya jangan terlalu capek jadi masuk Rumah sakit kan? Cepat sembuh biar kita bisa jalan-jalan". Jessica menyemangati Eriska.
Tak lama pintu diketuk datang dokter Nadia dan suster yang merawat Eriska.
"Selamat siang Nyonya". Sapa Dokter Nadia.
"Selamat siang Dok. Loh bukannya Dokter Saya Dokter Evan ya? Kenapa diganti?". Tanya Eriska bingung.
"Perkenalkan, nama Saya Dokter Nadia. Dokter Evan telah merekomendasikan Saya untuk merawat Nyonya Eriska". Ujar Dokter Nadia. "Boleh Saya duduk?". Tanya Dokter Nadia ramah.
"Tentu". Jawab Eriska yang masih bingung.
Dokter Nadia memulai memeriksa tapi dengan sra berbincang ringan. Eriska merasa cukup nyaman berbicara dengan dokter Nadia. Dokter Nadia memeriksa dari segala sudut. Dari cara bicara, dari tatapan mata dan dari gerakan tubuh. Dokter Nadia jadi pendengar yang baik. Eriska menceritakan kesehariannya menjadi seorang CEO, menjadi seorang Ibu dari anak yang menggemaskan. Empat puluh lima menit berlalu. Akhirnya Dokter Nadia menyudahi pemeriksaannya.
"Wah ternyata sudah lama Saya disini. Maaf Nyonya Saya menyita lama wantu Nyonya". Ujar Dokter Nadia ramah.
"Tidak apa-apa Dok Saya malah senang". Ujar Eriska.
"Kalau begitu, Saya permisi dulu". Ujar Dokter Nadia menatap Dito memberi tanda untuk mengikuti Dokter Nadia.
"Sayang, Aku keluar dulu ya Aku mau beli kopi". Ujar Dito berbohong.
"Jangan lama". Rengek Eriska.
"Iya". Jawab Dito mencium kening Eriska.
"Silahkan duduk Tuan". Ujar Dojer Nadia.
Dito pun duduk.
"Jadi bagaimana keadaan Istri Saya Dok?". Tanya Dito.
"Begini Tuan, Nyonya mengalami depresi yang cukup berat". Ujar Dokter Nadia.
"Apa? Depresi berat?". Tanya Dito terkejut.
"Dari pemeriksaan Saya, Nyonya sangat menutupi ketakutannya, kesedihannya, kekhawatirannya. Nyonya berpura-pura baik-baik saja padahal perasaannya sangat kacau. Nyonya seperti ingin bercerita tapi merasa takut membuat keadaan nya semakin memburuk. Tuan, jika Saya boleh tahu, apa yang terjadi pada Nyonya beberapa waktu ini?". Tanya Dokter.
"Jujur Saya juga kurang Tahu Dok. Ia tidak mau bercerita pada Saya apa yang terjadi. Saya tidak disampingnya selama 24 jam. Istri Saya di hotel dan Saya di Restaurant jadi Saya kurang tahu. Tapi, sebelumnya Ia tidak pernah begini Dok. Ia selalu mengatakan apapu pada Saya". Ujar Dito merasa bingung.
"Kalau begitu, apa Nyonya memiliki penjaga atau orang terpercaya yang selalu bersamanya?"
"Iya ada Dok pengawal dan Manager hotelnya". Ujar Dito mengingat James dan Surya.
"Kalau begitu, coba tanyakan pada Mereka. Mungkin Mereka tahu apa yang terjadi. Saya lihat Nyonya memiliki masalah yang sangat besar". Ujar Dokter Nadia.
"Baiklah Dok Saya akan menemui Mereka. Setelah itu Saya akan kembali menemui Dokter. Saya permisi". Ujar Dito segera keluar dari ruangan Dokter Nadia dengan buru-buru.
Dito mengambil ponselnya menelepon James. "Halo James, Kamu segera ke Hotel sekarang tunggu diruangan Eriska". Ujar Dito lalu menutup telepon nya.
Dito telah sampai diruangan Eriska. "Sayang, Aku ada urusan sebentar. Aku tinggal dulu ya". Ujar Dito.
"Kamu mau kemana?". Tanya Eriska.
__ADS_1
"Ke Restaurant. Ada sedikit masalah disana. Kamu dengan Jessica dulu ya". Ujar Dito membujuk Eriska.
"Tapi jangan lama". Rengek Eriska.
"Iya sebentar saja. Setelah selesai Aku segera kembali". Ujar Dito mencium kening Eriska.
Dito memberi isyarat pada Jessica.
Mereka berdua ada diluar. "Bagaimana keadaan Eriska?". Tanya Jessica
Dito menjelaskan semua yang Dokter katakan. Jessica sangat terkejut mendengar keadaan Eriska.
"Aku harus menemui James dan Surya untuk menanyakan ini semua karena Mereka berdualah yang selalu bersama Eriska. Tolong jaga Eriska dulu ya Jess". Ujar Dito.
"Tentu Dito, cepatlah pergi". Ujar Jessica.
"Baiklah Aku pergi sekarang. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Dito pun pergi keluar dengan buru-buru dan Jessica masuk ke dalam ruangan Eriska lagi.
Sampailah Dito dihotel. Ia mencari Surya diruangannya.
"Surya, ikut Saya keruangan Eriska". Ujar Dito lalu pergi.
Tak lama Ia melihat James yang baru sampai. Mereka bertiga masuk.
"Kalian berdua duduk". Ujar Dito.
Merekapun duduk dengan perasaan bingung.
"Ada apa Tuan?". Tanya Surya.
"Kalian tahu kan Nyonya Kalian masuk Rumah Sakit?". Tanya Dito.
Surya Dan James mengangguk.
Dito yang awalnya duduk dikursi Eriska lalu berdiri.
"Nyonya kalian mengalami depresi yang cukup berat. Psikiater bilang kemungkinan Eriska mengalami kejadian buruk yang membuat Dia ketakutan, Panik, khawatir & tertekan". Ujar Dito.
Surya dan James yang mendengar sangat terkejut.
"Saya mau tanya pada Kalian. Kalian yang selalu bersama Eriska seharian. Apa Kalian tahu apa yang terjadi?". Tanya Dito.
Surya dan James saling pandang. Mereka bingung harus jawab apa karena Mereka tidak tahu apa yang terjadi.
"Jawab! Kenapa Kalian diam?". Tanya Dito.
"Sa.... Saya tidak tahu Tuan. Saya lihat Nyonya beraktivitas seperti biasanya". Ujar James terbata.
Dito sangat kesal dan masih mencoba menahan amarahnya.
"Surya". Dito meminta penjelasan dari Surya
"Sa.... Saya juga tidak tahu Tuan". Ujar Surya merasa gugup juga.
"Ahhhhhh Kalian berdua bodoh! Menjaga satu orang wanita saja tidak bisa". Bentar Dito merasa sangat kesal.
"Tuan... Saya ingat sesuatu. Mungkin satu minggu yang lalu Nyonya mendapat sebuah paket. Entah dari siapa. Setelah mendapat paket itu wajah Nyonya jadi berubah Panik dan Takut. Saya nmencoba mencari tahu paket itu tidak ada data pengirimnya". Ujar Surya.
"Paket apa?". Tanya Dito.
__ADS_1
"Saya tidak tahu Tuan. Nyonya tidak memberitahu Saya". Ujar Surya.
"Ahhhhhhh!!!! Cepat cari barang itu. Kalian geledah ruangan ini". Ujar Dito sangat kesal dan marah.