
"Nyonya yakin ???". Tanya James ragu.
Eriska kembali kedalam ruangan tempat shooting.
"Nyonya, kenapa Anda kembali?". Tanya Penanggung jawab acara.
"Begini Pak, Saya ingin mengadakan konferensi pers dadakan sih. Apakah Saya bisa meminjam salah satu ruangan untuk digunakan?". Tanya Eriska. "Hanya sebentar saja Pak. Saya sudah muak dikejar-kejar terus. Kalau tidak Saya akan menelepon pemilik stasin TV untuk meminta izin jika Bapak ragu memberikan". Ujar Eriska
"Oh tidak perlu. Nyonya bisa menggunakannya. Mari Saya akan tunjukkan. Disana sudah tersedia beberapa kursi dan meja karena Kami juga baru mengadakan konferensi pers". Ujar penanggung jawab acara berjalan menunjukkan ruangan untuk konferensi pers.
"Ini Nyonya tempatnya. Mungkin hanya perlu melepas Banner saja". Ujar penanggung jawab acara.
"Baik terimakasih Pak". Jawab Eriska tersenyum.
James dan John telah melepas semua banner yang ada. Penanggung jawab acara memberitahu wartawan untuk masuk karena Eriska akan mengatakan konferensi pers. Para wartawan sangat gembira Mereka sangat antusias karena selama ini Eriska benar-benar tertutup dengan kehidupan pribadinya.
Mereka sudah berada diruang konferensi pers. Tak lama Eriska dan Dito masuk kedalam. Para wartawan riuh dengan kedatangan pasangan yang serasi itu.
"Harap tenang kalian semua". Ujar James.
Eriska dan Dito pun duduk dihadapan para wartawan.
"Hari ini Saya akan menjawab semua pertanyaan kalian satu per satu. Jadi Silahkan dimulai". Ujar Eriska.
"Eriska, sejak kapan kalian memiliki hubungan sebelum adanya pernikahan? Karena public tidak pernah melihat kalian jalan berdua sebelum kalian menikah". Tanya seorang wartawan majalah.
"Kami berdua dulu adalah teman kecil dikampung halaman. Sejak lama kedua orangtua Kami sudah menjodohkan Kami. Namun, Kita tidak pernah berjumpa kembali begitu lama sampai Saya melanjutkan sekolah ke Perancis. Setelah pulang dari Perancis Saya meniti karier baru saat Saya merasa sudah waktunya menikah akhirnya Papa mengatakan bahwa Saya akan dijodohkan oleh Dito. Maka dari itu Kami tidak pernah terlihat bersama sebelum pernikahan Karena kamipun bertemu satu bulan sebelum pernikahan Kami". Ujar Eriska.
"Menurut kabar. Saat pernikahan, Anda sangat tidak rela menikah dengan Dito karena Anda tahu yang dijodohkan dengan Anda adalah seorang pria biasa saja yang tak memiliki apapun?". Tanya seorang wartawan.
"Aduh kenapa pertanyaan itu dibawa sih". Gerutu Eriska berbisik.
Dito hanya tertawa kecil. "Silahkan dijawab Nyonya". Ledek Dito.
"Kamu ya!!!". Gerutu Eriska.
__ADS_1
"Kkhhhmmmm soal itu, no comment". Jawab Eriska.
"Jadi itu semua benar? Anda tidak mencintai Suami Anda?". Tanya wartawan lain.
"Aduh ini wartawan kenapa menanyakan hal bodoh sih". Gerutu Eriska.
"Jujur saat itu Saya hanya shock karena saat Papa mengatakan ingin menjodohkan Saya benar-benar waktu yang singkat. Hanya satu bulan. Kita juga hanya bertemu saat lamaran dan saat fitting baju pengantin. Jadi memang dulu Saya tidak mencintai Suami Saya. Tapi, setelah menikah Kita jadi semakin dekat satu sama lain yang membuat Kita saling kenal dan bisa merasa nyaman saat bersama hingga benih cinta tumbuh semakin banyak setiap harinya". Eriska memandang pada Dito dengan tersenyum begitu juga sebaliknya.
"Apakah benar jika Suami Anda adalah seorang pengangguran. Hingga saat menikah Suami Anda hanya mengikuti Anda seperti maaf bodyguard Anda?". Tanya wartawan.
Eriska hanya tertawa pelan. "Suami Saya ini orang yang sangat kaya. Dia tidak butuh bekerja sehingga waktunya banyak. Jadi, Dia suka menghabiskan waktu bersama Saya". Ujar Eriska.
"Jika memang betul, kenapa Suami Anda tidak pernah ikut club orang-orang terpandang seperti Anda?". Tanya seorang wartawan lainnya.
"Suami Saya ini berbeda dengan Pria kaya lainnya. Ia sangat menutupi apa yang Ia miliki. Mungkin kalian hanya tahu bahwa Suami Saya pemilik Restaurant My Steak. Bukan hanya itu yang dimiliki Suami Saya. Itulah alasan kenapa Saya mencintai Suami Saya. Ia adalah Pria yang berbeda. Ia sangat sederhana bahkan memiliki harta yang mungkin tidak akan ada habisnya. Jika orang-orang berfikir Suami Saya menikah dengan Saya hanya karena harta Kalian salah besar. Kekayaan Saya jauh dibawah Suami Saya. Dan tolong untuk kalian semua tidak perlu berkata lagi bahwa Suami Saya mengekor dengan Saya. Karena, Suami saya sukses karena dirinya sendiri. Karena hasil jerih payah nya tidak ada sangkut pautan dengan Saya. Jadi jangan meremehkan seseorang sebelum kalian tahu siapa orang itu. Konferensi pers selesai. Terimakasih". Dito dan Eriska berdiri lalu pergi.
Masih banyak wartawan yang ingin bertanya dihalangi oleh James dan John. Setelah Eriska dan Dito aman, James dan John kembali menyusul Eriska dan Dito.
Didalam mobil dalam perjalanan menuju rumah tak henti-hentinya Eriska menggerutu karena kesal.
"Wartawan sialan kenapa Mereka selalu bertanya hal bodoh". Gerutu Eriska.
Eriska bersandar dibahu Dito. "Mereka saja bodoh. Mereka pasti tahu orang yang Aku cintai bukan pria sembarangan. Tetap saja bertanya ini itu". Eriska memeluk tangan Dito.
Dito hanya mencium ujung rambut Eriska. "Aku mencintaimu Sayang". Dito mengelus rambut Eriska.
"Maafkan Aku Dito. Karena menikah denganku Kamu selalu dianggap bayanganku". Eriska merasa bersalah.
"Ini bukan salahmu Sayang, Kamu ini wanita luar biasa. Banyak Pria hebat yang mengejarmu pasti Mereka merasa iri padaku dan Mereka membuat nama baikku hancur. Ini sudah resikoku menikahi wanita hebat sepertimu. Sudahlah jangan dibawa kehatimu Aku tidak apa-apa". Dito mengusap kedua pipi Eriska. "Lihat, wanita cantik, wanita cerdas, mandiri dan pekerja keras. Pria mana yang tidak menginginkanmu? Aku sangat bersyukur bisa mendapatkanmu ya meski Aku mendapat cemoohan menjadi bayanganmu". Ujar Dito tersenyum pada Eriska.
Eriska memeluk erat tubuh Dito.
James Dan John saling pandang dan tersenyum. Betapa romantis kedua boss nya itu.
"Sayang Kita mampir dulu ke toko mainan ya. Aku ingin memberikan boneka untuk Queena". Ujar Eriska.
__ADS_1
"Tentu Sayang. James kita ke toko mainan dulu ya". Ujar Dito pada James.
"Baik Tuan". ujar James.
Lima belas menit berlalu, Mereka sampai di toko mainan yang sangat besar. Dito, Eriska berjalan masuk diikuti oleh James dan John.
Semua mata tertuju pada Mereka. Untuk Dito dan Eriska sudah hal biasa Mereka tidak pernah memperdulikannya.
Mereka telah sampai ditempat area boneka. Eriska memilih tiga boneka yang berbeda. Boneka Sapi, boneka Bebek dan boneka Gajah. Eriska sangat suka memberikan boneka edukasi untuk Queena. Selain untuk bermain, boneka itupun untuk mengenalkan jenis-jenis hewan.
"Ini saja?". Tanya Dito.
"Iya cukup. Jangan terlalu banyak nanti Queena bisa jadi anak manja". Ujar Eriska.
"Yasudah ayo Kita bayar". Ujar Dito memeluk pinggang Eriska.
Banyak yang masih memperhatikan Mereka. Banyak juga yang berbisik.
Eriska melihat pada layar TV besar didekatnya. Ternyata Mereka sedang menayangkan konferensi pers Mereka berdua beberapa waktu lalu.
"Huh dasar wartawan gerak cepat sekali". Gerutu Eriska.
"Sudahlah biarkan saja". Ujar Dito.
Mereka sampai di Kasir. Eriska memberikan boneka yang akan dibeli.
"Nyonya Eriska ya?". ujar Kasir.
Eriska hanya tersenyum.
"Nyonya sangat pemberani. Para wartawan itu memang sangat keterlaluan. Setiap wanita pasti berhak memiliki pasangan yang luar biasa. Semoga Nyonya dan Tuan bahagia selalu ya". ujar penjaga kasir sembari membungkus boneka yang Eriska beli.
Eriska tersenyum. "Aamiin. Terimakasih atas doanya". ujar Eriska.
"Ini Mbak". Dito memberikan kartu debit nya untuk membayar.
__ADS_1
"Terimakasih karena telah berkunjung". ujar Pelayan Kasir.
Dito dan Eriskapun pergi dari toko mainan dan kembali pulang.