
Saat semua sudah pergi, tinggallah Eriska dan Dito. Dito berjalan menghampiri Eriska dan duduk disamping Eriska.
Dito menggenggam tangan Eriska. "Sayang, jangan terlalu sibuk. Lihat tubuhmu tidak kuat. Aku panik saat Kamu pingsan tadi". Ujar Dito sedih.
"Sayang, sudah sepuluh tahun Aku begini mungkin sekarang karena memikirkan banyak hal membuatku drop begini. Sudahlah jangan khawatir dokter juga bilang Aku baik-baik saja kan?". Ujar Eriska.
"Iya, tapi tetap saja Kamu ini sangat sibuk. Aku khawatir padamu. Kamu yang selalu mengingatkanku untuk tidak terlalu diforsir tapi Kamu sendiri bekerja tanpa lihat waktu". Ujar Dito mengelus rambut Eriska.
"Sayang, Alhamdulillah hotelku semakin maju sekarang. Semakin banyak juga orang yang bergantung nasib dihotelku. Aku tidak bisa mengecewakan Mereka semua. Sayang, mungkin Aku bisa saja tidak bekerja hanya diam dirumah. Tapi, Aku takut jika Aku tidak memantau Mereka, Mereka akan seenaknya. Belum lagi Surya akan pergi. Jujur Aku bingung siapa yang akan menggantikan Surya nanti. Hanya Surya yang Aku percaya. Tita pun sudah Aku tugaskan diBali jadi mau tidak mau Aku harus bekerja sendirian". Ujar Eriska merasa khawatir.
"Ada apa?". Tanya Jessica yang tiba-tiba sudah masuk. Jessica melihat Eriska yang bersedih.
"Kamu kenapa Ka?". Tanya Jessica.
"Aku bingung Jess, Surya akan pergi. Siapa yang akan membantuku dihotel nanti. Aku sudah tidak memiliki orang kepercayaan lagi". Ujar Eriska bersedih.
"Kan ada Tita, suruh saja Dia kembali". Ujar Jessica.
"Mana bisa Jess, hotel di Bali yang paling besar jika Aku membawa Tita kemari siapa yang akan mengawasi disana?". Ujar Eriska.
James menyentuh bahu Jessica. Jessica menatap James dan James mengangguk pelan.
"Ka, Aku kasihan padamu jujur. Sepertinya Aku akan turun gunung". Ujar Jessica.
"Maksud Kamu apa? Kamu mau jalan-jalan ke gunung?". Tanya Eriska.
"Ini anak otak nya koslet kali ya". Ujar Jessica kesal
"Maksud Kamu apaan Jessica". Ujar Eriska juga kesal.
"Karena Aku adalah sahabat baikmu, jadi sekarang Aku akan gunakan semua ilmuku untuk membantumu di hotel". Ujar Jessica penuh bangga.
"Apa? Aku tidak salah dengar?? Jessica mau bekerja?". Ujar Eriska terkejut.
"Mau tidak Aku bantu?". Tanya Jessica.
"Aaaaaaaa tentu mau lah. Lulusan terbaik Harvard University akan menjadi Managerku sungguh luar biasa". Eriska memeluk Jessica.
"Hey pelan-pelan. Lihat infusemu berdarah". Ujar Dito panik.
"Ahhhhh sial". Gerutu Eriska merasa sakit.
Dito menekan tombol untuk memanggil suster. Tak lama suster datang.
__ADS_1
"Sus tolong betulkan infuse-an nya ya". Ujar Dito.
Suster membetulkan infuse-an Eriska. "Nyonya lain Kali harus hati-hati ya". Ujar Suster ramah.
"Terimakasih Suster". Balas Eriska tersenyum.
Setelah semua selesai, Suster pergi keluar.
"Jess serius ya tidak bercanda". Eriska masih tidak percaya.
"Tentu Eriska. Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Jadi, Aku putuskan untuk membantumu". Ujar Jessica memeluk Eriska. "Sudah jangan stress lagi. Kasihan Queena dan Dito yang merasa khawatir padamu". Ujar Jessica sambil terus memeluk Eriska.
Pertama Kali Jessica melihat Eriska begitu lemah. Ia tidak tega melihatnya. Hingga akhirnya Ia memutuskan untuk menggantikan Surya membantu Eriska dihotel.
"Oh ya, ini makanan untukmu. Karena Kamu meminta buru-buru akhirnya Aku belikan sate. Aku sudah tanya suster Katanya boleh kok Kamu makan sate. Enak loh ini sate langganan keluargaku". Ujar Jessica.
"Sate apa ini? Bukan kambing kan?". Tanya Eriska.
"Bukan Eriska, ini sate ayam. Sudah cepat makan. Emang Kamu mau makanan rumah sakit yang tidak ada rasanya?". Ujar Jessica.
"Ok ok terimakasih sayangku". Eriska mencium pipi Jessica.
"Kkkhhhmmmmm". Dito memberi kode.
"Ihhhh cemburu". Jessica memeluk Eriska. "Makanlah setelah itu istirahat". Jessica melepas pelukannya.
"Iyalah memang Dito saja yang memiliki masakan enak. Harus sering-sering makan makanan Nusantara jangan makanan Western terus, gak bosan memang?". Ujar Jessica.
"Eh Kamu fikir Bi Inah bisa masak Western? Cuma sandwich doang yang bisa Dia buat selebihnya masakan Nusantara semua". Ujar Eriska protes.
"Ok Nyonya". Jessica menepuk kedua tangannya.
Mereka terus berbincang sampai pukul dua belas malam.
"Ahhhhh sudah malam. Yasudah Aku pulang dulu. Kamu istirahat ya". Jessica pamit pada Eriska dan memeluknya.
"James, Kamu antar Jessica lalu Kamu bisa pulang. Besok Aku hubungi jika Aku butuh kamu". Ujar Dito.
"Baik Tuan". Jawab James.
James dan Jessica pun pergi. Tinggal Eriska dan Dito.
"Sayang, sudahlah sekarang Kamu tidur ini sudah malam". Dito mengelus kepala Eriska.
__ADS_1
Eriska sedikit bergeser. "Kemarilah Aku tidak biasa tidur sendirian". Ujar Eriska menepuk tempat tidurnya.
"Baiklah Sayang". Dito pun berbaring disebelah Eriska.
Eriska menyandarkan kepalanya didada Dito. Dito memeluk Eriska. "Cepat lah sembuh Sayang, jangan buat Aku puasa lama lagi". Ujar Dito masih mengelus kepala Eriska.
Eriska memukul pelan dada Dito. "Dasar mesum". Ujar Eriska.
"Bercanda Sayang. Sekarang tidurlah". Dito mencium ujung kepala Eriska.
Eriska masih melamunkan sesuatu. "Sayang". Ujar Eriska.
"Kenapa?". Tanya Dito.
"Tadi siang Aku berbicara dengan Stefanie". Ujar Eriska.
"Lalu?". Tanya Dito.
"Stefanie bilang Dia kesal dan merasa tertekan karena Papa nya sangat bergantung padanya masalah Hotelnya. Lalu Stefanie bilang kita harus memiliki banyak anak agar Queena tidak seperti Dia". Ujar Eriska.
"Maksud Kamu apa?". Tanya Dito bingung.
"Ya kan aset kita banyak. Dari hotelku, bisnis Kamu yang disini dan diluar. Jika kita memberikan semua pada Queena apa Dia sanggup? Apa semua yang Kita miliki memiliki mimpi yang sama dengan Queena? Aku berfikir lagi mungkin yang dikatakan Stefanie benar juga. Kita harus memiliki 4 sampai 5 anak". Ujar Eriska serius.
"Hahahahahaha Kamu ini ada-ada saja". Dito tertawa.
"Kenapa Kamu tertawa?". Tanya Eriska heran.
"Sayang, apa yang Kita punya ini titipan. Kita tidak tahu kapan Allah akan mengambilnya kembali". Ujar Dito.
"Kamu mau kita bangkrut ya". Ujar Eriska kesal.
"Bukan begitu Sayang, Aku hanya mengatakan apa yang sesungguhnya. Jangan terlalu berfikir untuk waktu yang belum kita jangkau. Tapi, jika Kamu ingin memiliki banyak anak ya Alhamdulillah karena Anak adalah keberkahan. Mereka juga pembawa Rezeky untuk orangtua nya. Ya asal Kamu kuat saja untuk membuatnya sering-sering lalu kuat saat fase kehamilan dan fase melahirkan". Ujar Dito.
Eriska tak menjawab perkataan Dito. "Sayang". Dito memanggil Eriska namun tak dijawab. Dito mengangkat kepalanya dan melihat pada Eriska.
"Tertidur rupanya. Tidurlah Sayang semoga Kamu lekas sembuh". Dito mengecup ujung kepala Eriska.
Ditopun mencoba untuk tidur sambil menepuk-nepuk pundak Eriska agar Ia tidur terlelap.
***Assalamualaikum Reader, Terimakasih karena telah setia membaca novel "Istri Cantikku Yang Angkuh (S2)".
Jangan lupa untuk memberi VOTE sebanyak-banyak nya ya untuk mensupport hasil karya Author. jangan lupa juga untuk Like & Komen juga.
__ADS_1
Baca Novel karya Author yang lain ya seperti "Rain..." (sudah tamat) dan Novel terbaru Author yang berjudul "Moiz & Meera". kisah cinta beda Negara antara Indonesia & Pakistan yang dipertemukan di social media hingga Mereka bisa dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan. Ini adalah true story dari Author & beberapa sahabat yang menikah dengan Pria Pakistan lainnya. Akan ada banyak informasi mengenai perbedaan budaya antara Indonesia & Pakistan. serta bagaimana menjalani hidup dinegara lain yang benar-benar berbeda.
salam manis dari Mrs. A***