Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (22)


__ADS_3

Ditempat lainnya, Dito bersemangat untuk Gym sampai tubuhnya penuh dengan keringat.


"Huh lumayan lelah juga sudah lama tidak berolahraga. James tolong ambilkan baju gantiku di mobil ya". Ujar Dito.


"Baik Tuan". Jawab James.


"Kamu bisa gunakan juga pakaianku. Ganti bajumu". Ujar Dito.


"Ah tidak perlu Tuan". Jawab James.


"Kamu mau menggunakan pakaian itu lagi? Bisa kena omelan Kamu dari Eriska. Dia sangat tidak suka melihat orang sekelilingnya penuh keringat dan bau keringat. Kamu bisa gunakan bajuku tidak perlu sungkan baju bisa dibeli lagi tapi omelan Nyonya bisa terngiang berhari-hari". Ujar Dito tertawa.


"Baik Tuan terimakasih". Ujar James lalu pergi keluar mengambil pakaian untuk Dito dan dirinya.


•••••••


Saat sedang sibuk, Eriska mendapat telepon dari Stefanie melalui video call.


"Eriskaaaaa". Teriak Stefanie.


"Hey Stevie, pelankan suaramu". Ujar Eriska yang masih mengetik dilaptopnya.


"Kamu sedang sibuk ya?". Tanya Stefanie.


"Ya Kamu tahu lah ditanggal segini kerjaanku banyak. Ada apa?". Tanya Eriska.


"Eriska, Aku sudah menjadi wakil CEO disini. Huh sungguh membosankan. Kenapa ya Kamu sangat betah bekerja seperti ini?". Ujar Stefanie.


"Ah terima sajalah jika ingin hidupmu tentram. Uncle Hanry pasti tidak akan melepaskanmu dengan mudah sekarang". Ujar Eriska.


"Benar Eriska, Papa makin kejam padaku. Ia selalu membuatku lembur huhuhuhu". ujar Stefanie dengan dramanya.


"Rasakanlah Nona Saydox. Seharusnya dulu Kamu protes meminta adik laki-laki agar Dia yang menjadi pewaris bukan Kamu". Ledek Eriska.


"Iya sangat menyesal Aku mengatakan tidak ingin memiliki adik dulu. Padahal Mama selalu bilang untuk memiliki adik tapi Aku selalu menangis saat Mereka mengatakan untuk program memiliki Adik untukku". Gerutu Stefanie.


"Hahahahahaha salahmu sendiri". Jawab Eriska.


"Kamu dan Dito juga harus memiliki anak lagi. Ya minimal empat lah ya agar semua bisnis kalian berdua ada penerusnya. Jangan hanya mengandalkan Queena. Ia akan stress sepertiku". Ujar Stefanie tertawa.


"Gila Kamu empat anak? Kamu fikir Aku kucing". Gerutu Eriska.


"Hahahahahaha jangan hanya memiliki Queena. Kasihan Dia pasti pusing dengan semua harta kedua orangtua". Ujar Stefanie terus meledek Eriska.


"Kamu kerja yang baik jangan berfikir anak saja. Menikah dulu jangan lupa minta restu Uncle dulu". Ujar Eriska tertawa.


"Ahhh tenang saja, Papa pasti suka dengan Surya". Ujar Stefanie merasa percaya diri.


"Hey Stefanie, Papamu tidak semudah itu menerima Surya menjadi menantunya. Percaya padaku Papamu akan memberikan syarat yang berat untuk Surya. Aku tahu sekali karakter Papamu. Ya bisa dibilang memiliki karakter yang sama denganku. Aku pasti tahu syarat apa yang akan Uncle berikan". Ujar Eriska.


"Ah benar Eriska. Aku sudah bicara tentang Surya. Papa memang tidak menyangkal menyukai Surya, tapi Papa bilang tidak semudah itu Surya menikahiku". Ujar Stefanie.


"Hahahahahaha benar apa yang Aku bayangkan. Tenang Stefanie, Aku akan membantu kalian. Aku tahu apa yang Papamu rencanakan". Ujar Eriska.

__ADS_1


"Apa???". Tanya Stefanie.


"Rahasia". Ledek Eriska.


"Jahat sekali Kamu Eriska hey". Ujar Stefanie kesal.


"Sudah ah jangan ganggu Aku lagi, Aku sedang sibuk mana Queena dan Dito disini. Tadi Mereka menggangguku sekarang Kamu. Bagaimana pekerjaanku akan selesai coba?". Ujar Eriska menggerutu.


"Ah menyebalkan. Yasudah lebih baik Aku ganggu Surya". Ujar Stefanie.


"Hey jangan ganggu Dia. Dia juga sibuk awas saja kalau pekerjaan Dia berantakan Aku batalkan kepergian Dia ke London". Gerutu Eriska.


"Jahat sekali Kamu Eriska. Aku butuh teman curhat". Jawab Stefanie.


"Kamu bisa telepon Jessica. Dia kan pengangguran". Ujar Eriska.


"Ahhh Kamu benar. Yasudah bye sayangku". Stefanie menutup teleponnya.


Eriska hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Dasar wanita yang sedang jatuh cinta".


Eriska pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tak lama Dito kembali ke ruangan Eriska setelah menyegarkan diri.


"Sayang". Dito mencium pipi Eriska.


"Sudah olahraga nya?". Tanya Eriska yang fokus pada laptopnya.


"Sudah. Aku sangat lelah. Sudah lama tidak olahraga". Ujar Dito membuka botol air mineral lalu menuangkan digelas Erisak dan meminumnya.


"Makanya yang rajin jadi terbiasa". Ujar Eriska.


"Baiklah Aku akan ikut denganmu saat berolahraga". Ujar Dito menyandarkan kepalanya dibahu Eriska.


"Wangi sekali parfumemu". Dito mengendus leher Eriska.


"Dito geli". Eriska merasa geli.


Dito menciumi leher Eriska. Tiba-tiba Rara keluar.


"Eh maaf Tuan, Nyonya". Rara kembali masuk kedalam.


Rara merasa malu melihat kemesraan Dito dan Eriska.


Eriska memukul pelan badan Dito. "Kamu ini kalo mau bermesraan lihat tempat. Otak mesum nya bisa di kontrol tidak? Ini kantor Dito ya Allah". Eriska merasa sangat kesal pada Dito.


"Aku mana tahu ada Rara disini. Untung Aku tidak membuka blazermu ini". Ujar Dito


"Dasar mesum". Gerutu Eriska.


"Ya mau bagaimana lagi, habis nya Kamu sangat menggoda". Dito mencium lagi leher Eriska.

__ADS_1


"Dito sudah! Aku sedang bekerja. Daritadi ada saja yang menggangguku". Gerutu Eriska kesal. "Lebih baik Kamu duduk disofa sana. Bikin Aku tidak fokus saja".


"Ayolah cepat pulang Sayang". Bujuk Dito.


"Kamu pulang sana dengan Queena, pekerjaanku masih banyak". Eriska masih sibuk dengan laporan yang diberikan Surya.


"Susah sekali bermesraan denganmu". Dito berbaring disofa.


Eriska tak menjawabnya.


Karena bosan, akhirnya Dito tertidur disofa. Eriska tersenyum melihat Dito yang tengah tertidur.


"Dasar Pria mesum. Kerjaannya merayuku saja". Ujar Eriska tersenyum.


Dua jam berlalu. Jam sudah menunjukkan pukul Lima sore. Queena sudah terbangun dan bermain diluar bersama Rara. Sedangkan Dito masih terlelap tidur.


"Akhirnya selesai juga pekerjaan hari ini. Lelah sekali Ya Allah". Eriska meregangkan tubuhnya. Ia melihat Dito yang masih terlelap tidur.


Eriska menghampiri Dito lalu duduk dibibir sofa.


"Sayang, bangun. Ayo kita pulang". Eriska mengelus pipi Dito.


Dito sama sekali tak menggubris.


"Sayang, tadi Kamu bilang mau pulang. Ayo pulang Aku sangat lelah". Eriska menggoyangkan bahu Dito.


Dito hanya bergerak.


Eriska mendekatkan bibirnya ditelinga Dito. "Dito Aditya bangun". Eriska berteriak


"Hey". Dito terkejut langsung duduk.


"Eriska, jahat sekali Kamu membangunkanku dengan cara seperti itu". gerutu Dito.


"Aku sudah membangunkanmu selama 15 menit Kamu tidak bangun juga. yasudah Aku gunakan cara itu". ujar Eriska tertawa.


Dito menarik hidung Eriska.


"Dito sakit. Lepaskan". Eriska memukul tangan Dito.


"Makanya Kamu kalau membangunkan Suamimu dengan lembut bukan seperti ini". Dito masih terus menarik hidung Eriska.


"Dito lepas atau Aku marah padamu". ujar Eriska mulai kesal.


Dito tak menggubris. Eriska mulai marah pada Dito.


"Aku bilang lepas". bentak Eriska.


Dito merasa terkejut. Eriska benar-benar marah dengan gurauannya.


Eriska berdiri lalu pergi keluar.


"James, Rara ayo kita pulang". Ujar Eriska dengan wajah yang kesal masih mengelus hidungnya yang merasa sakit.

__ADS_1


"Dito sialan". Gerutu Eriska.


"Ah bahaya, tidur diluar deh malam ini". Dito menepuk dahinya sendiri.


__ADS_2