
30 menit berlalu, Eriska dan Queena sampai direstauran milik Dito. Seperti biasanya, Restaurant Dito terlihat sangat ramai
"Sayang, Kamu tunggu disini dulu ya dengan Uncle James dan kak Rara, Mama akan ke dapur untuk menemui Papa". Ujar Eriska kepada Queena
"Aku ikut". Rengek Queena
"Jangan sayang, lihat Restaurant Papa sedang ramai pasti di dalam dapur sangat sibuk dan panas Kamu disini saja ya. Mama cuma sebentar kok didalam, setelah itu Mama kembali dengan Papa". Bujuk Eriska pada Queena.
"Yasudah Mama jangan lama-lama". Ujar Queena.
"Iya sayang, tunggu ya". Eriska mencium kening Queena.
"Selamat Siang Nyonya". Sapa pelayan.
"Dito ada dimana?". Tanya Eriska.
"Di kitchen Nyonya. Apa perlu saya panggilkan?". Tanya pelayan.
"Tidak usah, biar Saya saja yang masuk". Ujar Eriska berjalan menuju dapur.
Sampai di dapur, terlihat sangat ramai. Para chef menyapa Eriska. Eriska mencari keberadaan Dito. Yang ternyata dipojok ruangan sedang menghidangkan makanan bersama Angela, Junior Chef berkewarganegaraan German.
"Sial! Bocah itu ingin menggoda Dito lagi". Gerutu Eriska.
"Sayang". Eriska menghampiri Dito.
"Loh sayang, Kamu ada disini? Kenapa tidak bilang jika mau kesini?". Tanya Dito.
Eriska menghampiri Dito lalu mengecup bibir Dito dengan lembut dihadapan Angela.
Tahu rasa Kamu anak kecil. Gerutu Eriska dalam hati
Angela merasa kesal melihat tingkah Eriska lalu pergi.
"Sayang, ada Queena diluar. Ayo kita keluar". Eriska menarik tangan Dito.
"Baiklah". Ujar Dito mengikuti Eriska.
"Sayang Papa ada disini". Sapa Dito pada Queena.
"Papa, Queena kangen Papa". Queena hendak memeluk Papanya namun ditahan Eriska.
"Queena sayang, Papa dari dapur pakaian Papa juga kotor. Nanti ya peluk Papanya kalau Papa sudah bersih". Ujar Eriska menggendong Queena.
Queena cemberut karena tidak diizinkan untuk memeluk Papanya.
"Queena kesini mau apa sayang?". Tanya Dito.
"Queena ingin jalan-jalan dengan Papa dan Mama jadi Queena pergi ke hotel Mama terus kesini". Ujar Queena.
"Jalan-jalan? Jangan sekarang ya sayang, Papa lagi sibuk. Bagaimana kalau besok?". Ujar Dito membujuk.
Wajah Queena berubah menjadi sedih. Eriska yang melihat sangat marah pada Dito.
"Sayang, Kamu tunggu disini dulu ya, Mama mau bicara dengan Papamu". Ujar Eriska mengelus kepala Queena.
"Ayo ikut aku". Eriska menarik tangan Dito menuju kantor Dito.
__ADS_1
"Kamu bisa tidak untuk membahagiakan anakmu? Selalu membuatnya sedih". Ujar Eriska merasa kesal pada Dito.
"Sayang, kenapa kamu tidak bilang dulu kalau mau kesini dan ingin jalan-jalan? Kamu tahu Aku sibuk". Ujar Dito.
"Queena datang tiba-tiba ke hotel. Dia ingin jalan-jalan dengan kita apa itu salah? Jika Kamu bilang Kamu sibuk, Aku juga sibuk! Ada 2 meeting penting yang Aku tinggalkan untuk Queena. Tidak ada yang penting untukku melebihi Queena. Sekarang Kamu menolak keinginan Queena hanya karena sibuk? Hey Dito. Ingat kapan Kamu mengajak jalan-jalan Queena? Ingat kapan? Dito jika Kamu menolak hari ini pergi dengan kami, Aku pastikan restaurantmu besok pagi rata dengan tanah! Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anakku termasuk menghancurkan Kamu! Bersiaplah! Aku tidak ingin melihat Queena bersedih. Aku hanya memberimu waktu setengah jam". Ujar Eriska sangat marah pada Dito lalu pergi keluar.
"Huh dasar wanita, susah sekali untuk ditolak". Dito pergi untuk bersiap.
20 menit berlalu, Dito keluar dengan pakaian yang rapi. Menggunakan kemeja dan celana bahan.
"Sayang, sini peluk Papa. Papa sudah bersih". Dito berjongkok lalu menggendong Queena.
"Papa Aku kangen digendong Papa. Papa kenapa sih selalu sibuk? Tidak pernah bermain lagi dengan Queen. Papa gak suka ya sama Queen?". Queena terlihat sangat sedih saat mengatakan itu pada Papanya.
Dito merasa bersalah. Benar yang dikatakan Eriska, tidak ada yang penting selain kebahagiaan anak sematawayangnya itu.
"Maafkan Papa ya sayang yang selalu sibuk. Papa janji setelah ini akan bermain dengan Queena Almeera". Ujar Dito menghibur Queena.
"Janji?". Tanya Queena.
"Janji". Jawab Dito tersenyum.
"Aku sayang Papa". Queena memeluk erat Papanya.
"Ayo sekarang Queena mau main kemana?". Tanya Eriska.
"Play land. Aku ingin bermain". Ujar Queena Semangat.
"Ayo kita berangkat". Ujar Dito
Merekapun berangkat menuju playland. Dalam mobil wajah Eriska masih terlihat kesal. Ia masih kesal kenapa Dito masih belum memecat Angela. Dito yang melihat merasa bingung mencoba menggenggam tangan Eriska.
"Tidak apa-apa". Ujar Eriska.
Eriska meraih Queena lalu memeluknya. Hanya Queena yang bisa menenangkan hatinya dan Eriska menyandarkan kepalanya dibahu Dito. Dito mengelus dan mencium ujung kepala Eriska.
30 menit berlalu, Mereka sampai mall terbesar di Ibu Kota. Sepanjang mereka berjalan, banyak yang memperhatikan Mereka. Keluarga harmonis yang paling digandrungi seluruh negeri. Pemilik hotel bintang 5 yang cantik, pemilik Restaurant terkenal juga tampan dan memiliki anak yang menggemaskan lucu dan cantik. Setiap yang memandang akan merasa kagum Dan iri. Pasangan yang sukses dalam karier juga rumah tangga. Banyak yang berniat ingin meminta foto. Tapi Eriska sangat terkenal tidak suka dikerubuni banyak orang terutama membuat Queena merasa takut. Karena itu Mereka yang melihat tidak berani meminta foto. Mereka hanya bisa memandang Mereka.
"Pasangan yang luar biasa ya. Lihat tuh Dito selalu menggenggam tangan Eriska juga menggendong baby Queena dengan penuh cinta". Ujar seorang pengunjung.
"Iya, keluarga mereka bikin kita iri". Sahut yang lain.
Sampailah Mereka di playland. Queena sangat senang akhirnya Mereka bisa jalan-jalan bersama. Bukan bahagia karena playland, tapi karena bisa pergi bersama orangtua nya yang super sibuk.
"Queena mau main apa?". Tanya Dito.
"Aku mau main itu". Queena menunjuk sebuah permainan piano. Queena sangat senang dengan memainkan piano.
Queena turun dari gendongan Dito lalu berlari menuju permainan Piano. Ia bermain seperti pianis yang hebat dengan senyum bahagia nya.
"Lihat, Queena sangat suka bermain piano. Mungkin setelah Dia sekolah kita bisa memberi nya Les Piano". Ujar Eriska.
"Kamu benar. Almeera sangat senang dengan piano. Mungkin skill nya ada disana dan kita sebagai orangtua harus mengembangkannya". Ujar Dito pada Eriska.
Setelah selesai, Queena kembali pada orangtuanya. Dito kembali menggendong Queena. Mereka berjalan ke sekeliling playland. Queena mencoba banyak permainan hingga Dia bosan.
"Mama, Aku bosan. Aku mau keluar". Rengen Queena yang bersandar didada Papanya.
__ADS_1
"Mau keluar? Yasudah ayo kita keluar". Mereka pun berjalan keluar playland.
"Kamu mau kemana lagi sayang?". Tanya Dito.
"Aku mau beli mainan". Ujar Queena tersenyum manis.
"Kamu kalau lagi tersenyum sangat manis seperti Mama". Ujar Dito yang gemas melihat anaknya. "Yasudah kita beli mainan ya, Tapi ingat tidak boleh banyak-banyak".
"Ok Papa". Jawab Queena senang.
Sampai di toko mainan, Queena cepat-cepat minta turun. Ia sangat gembira memilih mainan.
"Sayang jangan lari-larian gitu nanti Kamu jatuh". Ujar Eriska khawatir
"Iya Mama". Jawab Queena.
Queena memilih satu boneka teddy bear yang sangat lucu berwarna pink.
"Mama Papa, Aku mau ini". Queena menunjukkan boneka teddy bear berukuran sedang itu kepada Mama Papanya.
"Oh lucu sekali. Yasudah ayo kita bayar". Ujar Dito menggendong Queena.
Eriska menunggu Dito dan Queena disofa yang disediakan toko. Tak sengaja melihat Rara yang sedang melihat sebuah mobil remote control dengan wajah bahagia namun juga sedih.
"Astagfirullah mobil seperti ini saja harga nya 3 juta. Ini mah setengah gajiku. Sayang pisan atuh kalau Aku belikan untuk Langit". Gerutu Rara yang terkejut melihat harga mobil remote control itu.
"Rara, sedang apa Kamu disini?". Tanya Eriska yang menghampiri Rara
"Eh Nyonya, tidak apa-apa Nyonya. Saya cuma melihat-lihat. Tadinya mau belikan untuk keponakan Saya yang minggu depan ulang tahun, tapi harganya mahal banget". Ujar Rara tersenyum kecut.
"Kalau Kamu suka, Kamu beli saja". ujar Eriska.
"Ah tidak Nyonya. ini separuh dari gaji saya. lebih baik uang nya untuk biaya Sekolah Langit". ujar Rara.
Eriska hanya tersenyum. Ia sangat bangga pada Rara. Rara berasal dari keluarga yang sangat sederhana bahkan dikategorikan hampir tidak mampu. Karena itu, Rara bekerja untuk membantu orangtua nya yang mengurus Langit yang yatim piatu. Rara sangat sayang pada Langit. karena Langitlah Dia bekerja. untuk memenuhi kebutuhannya.
"Ambillah, biar kami yang membayar". Ujar Eriska tersenyum.
"ah tidak perlu Nyonya". Rara menolak.
Eriska mengambil mobil remote control itu dan berjalan menuju kasir menyusul Dito.
"sayang, bayar yang ini juga ya". Eriska menaruh mobilan itu bersama boneka milik Queena.
"mobilan untuk siapa?". tanya Dito.
"Untuk Langit. Rara bilang minggu depan Langit ulang tahun". ujar Eriska.
"Yasudah". jawab Dito.
Merekapun membayar apa yang mereka beli.
"Ra, ini mobilannya". Eriska memberikan paper bag yang berisi mobilan padan Rara.
"Terimakasih banyak Tuan dan Nyonya. semoga Tuan dan Nyonya diberikan banyak rezeky". ujar Rara sangat merasa bahagia memiliki majikan yang sangat baik.
"sudahlah tidak perlu sungkan. Kamu sudah menjaga anak kami dengan baik". ujar Eriska tersenyum.
__ADS_1
merekapun berjalan keluar toko.