
"Kita harus pulang segera". Ujar Eriska.
"Kenapa?". Tanya Dito
"Karena besok saya harus bekerja". Ujar Eriska.
"Aku juga disini harus mengurus pabrik". Ujar Dito.
"Yasudah Kamu tidak perlu ikut, saya akan pulang sendiri". Ujar Eriska.
"Tidak bisa. Aku tidak ingin berjauhan denganmu". Dito menolak mereka harus berpisah.
"Terus mau Kamu apa? Saya tidak bisa meninggalkan Papa Dan hotel saya. Kamu fikir saya burung yang harus dikurung? Jadi Ibu rumah tanggal bukan impian saya". Ujar Eriska kesal.
Dito berfikir apa yang harus dilakukan.
"Baiklah begini saja. Dari senin sampai jumat kita di kota. Dari jum'at sore sampai minggu siang kita kesini bagaimana?".
"Kenapa harus seperti itu ?? Kan saya bilang Kamu bisa tinggal disini, saya akan mengizinkan". Ujar Eriska tidak terima.
"Eriska tolong. Aku punya usaha juga disini. Aku tahu ini tidak sebesar yang Kamu punya. Tapi banyak orang yang bergantung pada usaha ini juga. Yarka belum mampu menghandle sendiri. Aku mohon kepadamu ikut rencanaku". Ujar Dito merasa kesal.
"Kamu bisa datang sendiri kan tanpa perlu membawa saya". Eriska pun merasa kesal.
Dito menggenggam tangan Eriska sangat erat. "Kamu tahu? Aku sudah kehilangan Kamu 15 tahun Dan sekarang Kamu fikir Aku rela kehilangan Kamu lagi? Jangan harap!! Aku harus bersamamu 24 jam".
"Lepas. Kamu melukai tanganku". Erisak meringis kesakitan dengan genggaman Dito.
Dito melepaskan nya. "Maaf".
Eriska berfikir sebenarnya rencana Dito tidaklah buruk. Ia bisa berlibur juga didesa untuk menyegarkan tubuhnya setelah bekerja sehari-hari Dan perkataan Dito yang tidak ingin meninggalkannya, Ia merasa tersentuh. Ada seseorang yang benar-benar ingin terus bersamanya Dan menjaganya.
"Baiklah Saya akan mengikuti rencanamu". Ujar Eriska.
"Benarkah?". Ujar Dito bahagia. "Terimakasih sayangku. Aku tahu Kamu akan setuju". Dito memeluk Eriska.
"Lepaskan pelukanmu". Eriska mendorong tubuh Dito.
"Segera bersiap kita harus pulang ke kota sekarang. Saya khawatir dengan Papa". Ujar Eriska.
"Baik istriku setelah satu jam kita pulang ke kota". Ujar Dito pergi untuk bersiap.
Setelah satu jam mereka bersiap untuk pulang
__ADS_1
"Kita ke Rumah dulu ya, ada yang ingin Aku katakan pada Yarka mengenai pabrik". Ujar Dito yang tengah mengenakan seatbelt.
"Ok Tapi jangan terlalu lama". Ujar Eriska.
Dito pun menjalankan mobilnya.
Sampai dirumah Dito. Dito Dan Eriska keluar bersamaan.
"Assalamualaikum Pah". Dito mengucap salam Dan mencium tangannya.
"Waalaikumsalam. Dito Eriska. Kalian mau pulang? ". Tanya Aditya.
"Iya Pah. Yarka mana?". Tanya Dito.
"Ada dibelakang". Ujar Aditya.
"Yasudah Aku ingin bertemu Yarka. Eriska tunggu disini sebentar ya". Ujar Dito kepada Eriska.
Eriska hanya menganggukkan kepala nya.
Dito pun pergi.
"Eriska kita masuk dulu yuk". Ujar Aditya yang mengajak Eriska masuk.
"Kamu mau minum apa?". Tanya Aditya.
"Tidak usah Papa, Eriska baru minum tadi di mobil". Ujar Eriska.
"Baiklah. Eriska, Papa mau Tanya, Dito memperlakukanmu dengan baik kan?". Tanya Aditya.
"Kenapa Papa bertanya seperti itu?". Tanya Eriska.
"Kali menikah dijodohkan oleh orang tua. Sejak 15 tahun lalu kita sudah merencanakan ini. Terutama Mamamu Dan Mama Dito". Ujar Aditya.
"Mama?". Tanya Eriska.
"Iya. Perjodohan ini atas ide Anjani. Awalnya Dito menolak. Dia tidak ingin menikahimu secara paksa. Meski Ia mencintaimu, Tapi Ia ingin Kamu juga mencintainya. Saat itu Mama Dito tengah sakit parah Dan meminta Dito untuk berjanji suatu hari harus menikahimu. Pada akhirnya Dito setuju. Awalnya Mama mu ingin kalian menikah saat Kamu ingin sekolah ke Paris. Namun Dito menolak karena tidak mau membuatmu merasa tertekan saat belajar nanti. Pada akhirnya diundur. Namun Kamu tahu setelah kepergianmu ke Paris. Mamamu.... Disaat itu Dito sangat merasa bersalah karena tidak menikahimu sebelum mamamu tiada. Setelah kepergian mamamu, Dito selalu menjagamu. Papa harap sampai sekarang Dito masih menjagamu". Ujar Aditya.
"Dito selalu menjagaku saat Mama telah tiada? Maksud Papa apa?". Tanya Eriska.
Dito pun datang. "Ayo kita pergi sekarang. Keburu siang Dan Takut nya macet". Ujar Dito.
Eriska pun berdiri.
__ADS_1
"Pah, kita pulang dulu ya". Ujar Dito.
"Baiklah kalian hati-hati". Ujar Aditya.
"Assalamualaikum". Dito Dan Eriska mencium tangan Aditya.
"Waalaikumsalam". Balas Aditya.
Merekapun pergi dari kediaman Dito.
Didalam mobil, Eriska Dan Dito hanya terdiam.
Eriska berfikir dengan kata-kata Papa mertuanya yang mengatakan Dito selalu menjaganya setelah kepergian mamanya.
"Dito".
"Iya kenapa?". Tanya Dito melirik pada Eriska.
"Saya mau Tanya sesuatu". Ujar Eriska.
"Apa?". Tanya Dito.
"Tadi Papa Aditya mengatakan pada Saya, Setelah kepergian Mama, Kamu selalu menjaga saya. Apa maksudnya?". Tanya Eriska.
Papa mengatakan pada Eriska? Apa Papa bilang juga bahwa Aku menyusulnya ke Paris?. Tanya Dito dalam hati.
"Papa bilang apa lagi?". Tanya Dito.
"Papa hanya bilang perjodohan ini atas ide kedua Mama kita Dan Papa hanya bilang setelah kepergian Mama, Kamu selalu menjaga Saya. Saat Papa ingin mengatakan, Kamu datang". Ujar Eriska.
Ahhhhh syukurlah Papa tidak mengatakan semuanya. Ujar Dito lega.
"Memang Aku selalu menjagamu melalui doang". Ujar Dito tersenyum paksa.
"Jangan berbohong pada saya". Ujar Eriska merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
"Apa yang harus disembunyikan? Ya memang setelah Kamu pulang dari Paris Aku selalu memandangmu dari jauh. Hanya itu saja". Ujar Dito berbohong.
Eriska memandang Dito dengan perasaan tidak puas dengan jawaban Dito.
"Sudahlah jangan difikirkan, sekarang Aku bisa menjagamu. Bahkan Kamu tidak perlu Surya lagi. Tenang, begini-begini juga Aku jago kungfu". Ujar Dito tertawa kecil.
Maaf Eriska, ini bukan waktu yang tepat Aku mengatakan segalanya padamu. Ujar Dito dalam hatinya.
__ADS_1