Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (41)


__ADS_3

"Queena Sayang, Kamu tidak boleh ya bicara buruk pada Langit. Dia akan menjadi temanmu. Kamu pasti mau kan memiliki teman?". Tanya Eriska.


Queena mengangguk.


"Jangan bicara mata Langit aneh lagi ya. Mata nya indah loh, Mama saja mau memiliki mata seperti Langit". Ujar Eriska kepada Queena yang mengajarkan untuk tidak mengatakan hal buruk pada seseorang.


"Tapi, mata nya aneh beda dengan Queena dan Mama". Ujar Queena.


"Di dunia ini banyak yang memiliki warna mata yang berbeda. Ada cokelat seperti Queena dan Mama. Ada hitam seperti Papa, ada yang seperti Langit bahkan ada yang berwarna biru". Ujar Eriska.


Eriska terus memberitahu Queena banyak hal agar Ia tidak memiliki jiwa membully terutama untuk fisik.


Berbeda ditemapat lain, Langit masih merasa sedih karena Queena tidak menyikainya.


"Bunda, Queena tidak suka Langit. Lebih baik Langit pulang saja kerumah Emak dan Abah". Ujar Langit sedih.


"Langit, tidak boleh sedih. Queena hanya belum terbiasa memiliki teman apalagi laki-laki. Teman Queena hanya Nona Nina Queena belum terbiasa dengan Kamu. Queena anak yang baik kok nanti juga Dia suka dengan Langit. Sudah ya jangan bersedih". Rara memeluk erat Langit.


Sudah pukul dua belas malam semua orang tengah tertidur berbeda dengan Eriska dan Dito yang masih terjaga.


"Sayang, sepertinya besok Aku akan mulai ke hotel lagi". Ujar Eriska.


"Kamu yakin?". Tanya Dito.


"Iya Sayang. Sebentar lagi Surya akan ke Inggris kasihan jika harus sibuk sendiri di hotel. Ia juga harus mempersiapkan kepergiannya kan?". Ujar Eriska.


"Yasudah. Besok Kamu bawa John dan James ke hotel. Mereka akan berjaga lebih ketat lagi. Semakin lama Mereka semakin tidak benar saja dalam bekerja. Sejak dua minggu masih belum.bisa mengetahui siapa dalang dari peneror Kamu". Ujar Dito kesal.


"Tidak apa-apa Sayang. Setidaknya tidak ada lagi yang menerorku". Ujar Eriska memeluk Dito.


"Kata siapa tidak ada yang menerormu lagi? Aku akan menerormu malam ini jika tidak mau Aku sentuh". Dito memasukkan tangannya ke baju tidur Eriska.


"Dito, jangan mulai deh". Gerutu Eriska.


"Memangnya kenapa? Siapa suruh menggodaku dengan pakaian seksi ini". Ujar Dito yang bermain didalam baju Eriska dan menciumi punggung Eriska yang terbuka.


"Benar Aku salah. Harusnya tadi tidur menggunakan Jas hujan". Eriska menepuk dahinya.


"Jadi, pasrah saja ya. Daripada Aku teror sepanjang malam". Rayu Dito.


"Bahaya ini". Gerutu Eriska.


"Sudah ah Aku mau tidur. Jangan ganggu Aku". Ujar Eriska membalikkan badannya.


"Baiklah Aku tidak akan mengganggumu Nyonya". Balas Dito yang melepas tangannya dari tubuh Eriska.


Dito beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan keluar kamar. Eriska melirik Dito yang keluar tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa Dia marah padaku?". Tanya Eriska.


Eriska beranjak dari tempat tidur. Menggunakan jubah tidurnya dan keluar dari kamar mengikuti Dito.


"James John cepat kemari". Teriak Dito.


Eriska yang mendengar sontak terkejut lalu berlari kebawah menyusul Dito. Betapa terkejut Eriska melihat Dito telah menangkap seseorang yang seperti pencuri menggunakan topeng wajah.


"Dito, apa yang terjadi?". Tanya Eriska terkejut.


"Pegang Dia". Dito memberikan orang itu pada James dan John.


Setelah dipegang James dan John, Dito membuka topeng wajahnya.


"Siapa yang menyuruhmu datang kesini?". Tanya Dito.


Pria yang memiliki badan besar, berkulit hitam itu sangat gugup karena aksinya tertangkap.


"Jawab". Bentak Dito lalu memukul wajah Pria itu.


Eriska merasa ketakutan melihatnya. Ia bersembunyi dibalik tubuh John.


"Jawab siapa yang menyuruhmu memberikan Surat ini?". Dito terus menghajar wajah pria itu.


"Ampun Tuan". Pria itu memohon pada Dito.


"John, buat dia lumpuh". Teriak Dito.


"Apa? Toni? Anak pemilik stasiun TV xxxx ?". Tanya Eriska.


"Be... Betul Nyonya". Ujar Pria itu gugup.


"Apa Kamu juga yang mengirim surat ke hotel?". Tanya Dito.


"I... Iya Tuan". Jawab Pria tersebut terbata.


"Brengsek! Gara-gara Surat itu Istriku mengalami depresi". Dito terus menghajar Pria tersebut.


"Ampun Tuan". Pria itu berusaha minta ampun.


Eriska sangat terkejut melihat kekasaran Dito. Baru kali ini Dito sekejam ini kepada orang.


"Dito hentikan. Kamu bisa membunuh Dia". Teriak Eriska.


Dito menghentikan pukulannya. Pria itu terkapar lemah dilantai.


"James. Telepon Surya sekarang". Ujar Dito.

__ADS_1


James mengambil ponselnya lalu menelpon Surya lalu memberikan pada Dito.


"Hallo Surya. Seseorang mencoba meneror Eriska lagi. Namun tertangkap. Ia telah memberitahu siapa yang menyuruhnya. Kerahkan segera semua anak buahmu dan segera Kamu datang kerumah". Ujar Dito tanpa basa basi lalu mematikan panggilannya.


Satu jam berlalu, Surya telah sampai.


"Selamat malam Tuan, Nyonya". Sapa Surya lalu melihat ke arah Pria yang terkapar habis dipukuli.


"Tuan, siapa dibalik ini semua?". Tanya Surya.


"Toni". Jawab Dito menggebu sangat kesal.


"Toni? Bukankah Dia dipenjara? Siapa yang membebaskan Dia?". Tanya Surya.


"Surya, Kita pergi sekarang kerumah nya. Kita buat perhitungan padanya". Dito bergegas pergi. "James, Kamu ikut denganku. John Kamu jaga rumah baik-baik. Surya, beri lima pengawal.untuk berjaga diluar". Ujar Dito.


"Baik Tuan". Ujar Surya.


"Sayang, Kamu hati-hati. Aku Takut kejadian yang lama terulang lagi". Eriska memeluk Dito merasa takut mengingat kejadian Dito ditusuk oleh Toni.


"Tenang Sayang. Kali ini Toni harus menerima ganjaran berani mengganggu keluarga Dito Aditya". Ujar Dito mengepal kencang tangannya. "Berdoalah semua akan baik-baik saja. Aku pergi sekarang". Dito mencium kening Eriska.


"Surya, James. Ayo kita jalan sekarang". Dito berjalan keluar disusul James dan Surya.


"Toni sialan! Berani Dia berbuat onar lagi". Gerutu Eriska kesal.


Eriska meraih telepon rumah dan menelepon kantor polisi untuk menangkap Pria suruhan Toni. Setelah menelepon polisi, Eriska memerintahkan satpam untuk membawa pria itu keluar dari rumahnya. Menyuruh Assistant rumah tangga nya membersihkan darah yang berjatuhan dilantai.


Eriska tidak bisa tidur. Ia hanya duduk disofa diruang keluarga.


"Nyonya, lebih baik Anda tidur. Ini sudah sangat larut". Ujar John.


"Saya tidak bisa tidur. Saya khawatir dengan Dito". Ujar Eriska menyandarkan kepalanya disofa. "John, buatkan Aku Teh hangat".


"Baik Nyonya". John pun pergi menuju dapur untuk membuat Teh hangat untuk Eriska.


"Ya Allah, jagalah Suamiku dan yang lainnya. Aku sungguh takut". Ujar Eriska penuh ke khawatiran.


Tak lama Birowo datang menghampiri.


"Eriska, apa yang terjadi? Papa mendengar keributan tadi". Ujar Birowo.


Eriska menjelaskan pada Birowo semua yang terjadi.


"Astagfirullah. Toni lagi! Sekarang Dito dimana?". Tanya Birowo.


"Dito pergi menemui Toni dengan Surya dan James. Pah, Aku takut terjadi sesuatu pada Dito". Ujar Eriska merasa takut dan khawatir.

__ADS_1


Birowo memeluk Eriska. "Tenanglah, Dito pasti baik-baik saja apalagi ada Surya dan James". Birowo mencoba menenangkan Eriska.


Ya Allah lindungi Suamiku. Doa Eriska dalam hati


__ADS_2