
Sampailah Mereka di bandara. Mereka mengantar Stefanie masuk kedalam untuk boarding pass. Stefanie melihat layar monitor dan boarding pass sudah dibuka. Penerbangan Stefanie pukul 11.
Sampai di area boarding Pass, Mereka menunggu Stefanie yang sedang mengurus boarding pass nya. Selang 15 menit, Mereka kembali.
"Sudah selesai?". Tanya Eriska.
Stefanie tersenyum dan menunjukkan boarding pass nya. Wajah Stefanie sangat sedih melihat semua Sahabatnya. Ia akan merindukan semua nya. Stefanie memeluk Eriska dengan erat.
"Eriska, terimakasih untuk segalanya. Terimakasih mengizinkanku bekerja di hotelmu. Kamu memang sahabat terbaikku". Ujar Stefanie memeluk erat Eriska.
"Aku juga akan merindukanmu Stevie. Jangan bersedih lagi. Aku akan sedih jika Kamu sedih seperti ini". Ujar Eriska menenangkan Stefanie.
Stefanie tersenyum pada Eriska. Stefanie menghampiri Dito yang sedang menggendong Queena yang tertidur.
"Dito, terimakasih untuk semua pelajaran yang Kamu berikan. Sungguh beruntung Aku bisa berteman denganmu". Stefanie menjabat tangan Dito.
"Aku juga bangga padamu Stefanie. Tetaplah kuat". Balas Dito tersenyum.
"Aku ingin mencium dan menggendong Queena sebentar saja". Ujar Stefanie.
Dito memberikan Queena pada Stefanie meski sedang tertidur. Stefanie memeluk erat tubuh Queena dan menciumnya. "Aunty akan merindukanmu Queena. Tetaplah jadi anak yang baik". Stefanie mencium pipi Queena lalu memberikan kembali pada Dito.
Stefanie menghampiri Jessica dan memeluknya. "Jess Aku akan sangat merindukanmu".
"Aku juga akan merindukanmu. Aku sedih tidak ada teman lagi untuk menjahili Eriska".
"Hey". Ujar Eriska tak terima
Mereka semua tertawa.
"Jessica, ingat jangan menikah dulu. Kita akan menikah bersama OK". Ujar Stefanie.
"Ya tergantung kapan Kamu menikah kalau masih lama maaf saja Aku sudah tidak tahan". Ujar Jessica berbisik.
Stefanie menepuk kepala Jessica dengan pelan dan tersenyum. "Dasar Jessica". Stefanie memeluk kembali Jessica lalu melepasnya.
"James, Aku sangat senang bisa bertemu Kamu lagi. Jaga kedua Sahabatku ya terutama Jessica. Saat Kamu pulang ke Perancis bawalah Jessica dan datang lah ke Inggris bertemu denganku". Stefanie memeluk James.
"Pasti Stefanie. Jagalah dirimu baik-baik juga". Balas James.
Stefanie hanya tersenyum.
Stefanie menghampiri Surya Pria yang Ia cintai.
"Kkhhhmmmm apa kita beli coffee dulu ya". Ujar Eriska.
"Iya iya beli hot chocolate enak sepertinya". Ledek Jessica.
Stefanie hanya tertawa kecil melihat kedua Sahabatnya. Stefanie kembali memandang Surya dan memeluknya. "Tenang saja, Aku tidak akan menangis lagi. Aku sudah lelah menangis terus". Ujar Stefanie yang memeluk Surya.
"Itu baru Nona Stefanieku". Jawab Surya.
Stefanie menatap Surya lalu mengecup lembut bibir Surya. Surya terkejut dengan apa yang dilakukan Stefanie.
__ADS_1
"Ohoooo Surya dapet serangan dari lion queen". Ledek Jessica.
"Wahhh Surya gak akan tidur nyenyak nih". Ledek Eriska.
"Kamu gak kira-kira menciumku tiba-tiba didepan umum". Ujar Serya berbisik pada Stefanie.
Stefanie kembali mencium bibir Surya untuk meledeknya.
"Aduh untung Queena sudah tidur. Kalau tidak bisa bahaya". Ujar Eriska tertawa.
"James, cium Aku juga". Ledek Jessica.
Stefanie hanya tertawa melihat tingkah semuanya.
"Yasudah, waktu gate dibuka sekarang. Aku pergi dulu ya". Ujar Stefanie.
Eriska dan Jessica menghampiri Stefanie dan memeluknya bersama.
"Jaga dirimu baik-baik disana. Jangan lupa hubungi kami saat Kamu tiba". Ujar Eriska.
"Tentu. Aku akan menghubungi kalian semua setiap hari". Ujar Stefanie.
"Kami akan merindukanmu". Ujar Jessica.
"Akupun sama". Balas Stefanie.
Merekapun melepaskan pelukannya.
Eriska dan Jessica meneteskan air mata yang Mereka tahan sejak tadi hanya untuk membuat Stefanie kuat.
Stefanie berjalan dengan perasaan yang sangat sedih namun Ia harus kuat. Ia tidak bisa terus-terusan lari dari tanggung jawab nya sebagai pewaris utama hotel Saydox. Stefanie berjalan dengan tersenyum dan kuat demi semua orang yang Ia cintai.
"Hey Hanry Edwar Saydox, Aku siap dengan semua tantanganmu". Ujar Stefanie yang terus berjalan.
•••••••
Ditempat lain, Niall berhenti disebuah taman dekat rumah Eriska.
"Loh Niall, kenapa berhenti disini? Rumah Nyonya masih lumayan jauh atuh. Kamu teh mau nurunin Aku disini?". Ujar Rara bingung.
"Sudah turun dulu". Ujar Niall membuka pintu keluar lalu berjalan membuka pintu untuk Rara.
"Ayo keluar". Ujar Niall.
Rara pun keluar dengan perasaan yang bingung.
Kapan lagi coba Aku bisa ajak Dia keluar. Tidak apa-apa lah hanya ditaman meski sebentar. Ujar Niall dalam hati.
Mereka duduk dikursi taman melihat air mancur LED yang yang berubah warna bergantian terlihat sangat indah.
"Saya teh baru tahu ada tamab cantik disini". Ujar Rara.
"Oh ya? Ini kan tidak terlalu jauh dari rumah Nyonya". Ujar Niall.
__ADS_1
"Saya mah tidak pernah jalan-jalan keluar. Paling pulang ke kampung dua minggu sekali". Ujar Rara.
"Kenapa tidak pernah jalan-jalan?". Tanya Niall.
"Saya mah tidak punya temen atuh kang, mau pergi keluar ge Takut nyasar". Ujar Rara.
"Apa maksudmu?". Tanya Niall bingung.
"Hahahahahahaha maaf atuh kang Saya lupa Kamu tidak mengerti". Ujar Rara tertawa.
"Kang apa?". Tanya Niall.
"Kang panggilan untuk laki-laki gitu panggilan sopan Akang". Ujar Rara.
"Ohhh begitu". Ujar Niall.
"Iya, tidak apa-apa ya Saya panggil Akang, terbiasa seperti itu". Ujar Rara.
"Tapi beda kan dengan Tuan ?". Tanya Niall.
"Beda atulah". Jawab Rara.
"Yasudah kalau begitu senyamanmu saja". Ujar Niall.
"Kang, Kita pulang sekarang ya, Saya tidak enak sama Tuan dan Nyonya". Ujar Rara tidak enak.
"Oh ya Rara, apa Aku boleh meminta nomer ponselmu?". Tanya Niall.
"Nomer HP?". Tanya Rara.
"Iya". Jawab Niall.
"Gak bisa atuh Aku cuma punya satu. Akang beli aja di counter kalo mau nomer HP". Ujar Rara.
"Hahahahahahaha. Maksudku minta nomer HP mu untuk Aku hubungi". Ujar Niall.
"Bilang atuh dari tadi". Ujar Rara.
Rara menunjukkan nomer ponselnya. Lalu Niall menyimpannya dan mencoba meneleponnya.
"Sudah". Ujar Niall.
"Sudah kang". Jawab Rara.
"Yasudah kita pulang". Ujar Niall berdiri diikuti Rara.
Merekapun masuk kedalam mobil lalu Niall menancapkan gasnya dengan kecepatan sedang.
Mereka masih mengobrol dengan senang. Rara pun sangat nyaman dengan Niall. Meski selalu misunderstanding dalam berkomunikasi.
visualisasi Niall
__ADS_1