
Selesai Sholat Dan berdoa, Eriska menunggu Dito di depan masjid.
"Lama banget lelaki ini". Gerutu Eriska.
Tak lama, Dito keluar dengan Pak Ustadz. Dito melihat Eriska yang sedang menunggunya.
"Pak Ustadz Saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum". Dito mencium tangan Pak Ustadz.
"Waalaikumsalam". Balas pak Ustadz.
Dito berjalan menghampiri Eriska.
"Assalamualaikum Istriku. Ma Shaa Allah habis sholat Kamu makin cantik ya". Goda Dito.
"waalaikumsalam. Tidak perlu menggodaku. Gombalanmu sangat murahan". Ujar Dito. "Kamu dari mana? Saya menunggu lama disini".
"Maaf, tadi Aku mengobrol sebentar dengan pak Ustadz. Ayo kita pulang". Dito menggenggam tangan Eriska Dan berjalan pulang bersamanya.
"Kamu suka suasana disini?". Tanya Dito.
"Heemmm suka". Jawab Eriska.
"Jadi Kamu mau tinggal disini?". Tanya Dito.
"Tinggal ??? Tidak". Jawab Eriska ketus.
"Kenapa? Bukannya Kamu suka tinggal disini?".
"Saya suka jika untuk berlibur, Tapi untuk tinggal saya tidak bisa. Kamu tahu saya harus mengurus hotel-hotel saya jadi mana bisa saya tinggal disini". Ujar Eriska.
"Tapi Aku juga harus mengurus pabrik ku disini". Ujar Dito.
"Ya Kamu bisa tinggal disini seperti dulu?". Jawab Eriska.
"Mana bisa Aku meninggalkanmu sendiri?". Protes Dito.
Eriska memicingkan matanya.
__ADS_1
"Ah sudahlah kita bahas ini nanti". Ujar Dito.
"Hemmmm terserah". Jawab singkat Eriska.
Tak lama seseorang datang menghampiri mereka berdua.
"Assalamualaikum A Dito". Sapa Annisa.
"Waalaikumsalam. Eh Annisa". Ujar Dito.
"Aa masih disini? Kemarin Nisa ke pabrik, Om Adit bilang Aa kembali ke kota". Ujar Annisa.
Bocah ini lagi. Gerutu Eriska berbisik.
"Oh iya awalnya memang ingin pulang tapi tidak jadi karena masih ada urusan". Ujar Dito.
"Oh gitu, Aa kenapa sekarang sering tinggal di kota? Kenapa gak istri Aa yang ikut tinggal disini? Kan istri lebih baik tinggal di rumah suaminya". Annisa mencoba menyindir Eriska.
"Kkkhhhmmmmm". Eriska merasa tersindir.
Aku akan berjuang mendapatkan cinta A Dito. Dia tidak pantas disamping A Dito. Ujar Annisa dalam hatinya.
"Maafkan perkataan Annisa ya". Ujar Dito.
"Sepertinya Dia sangat special untuk Kamu, sampai kamu minta maaf pada saya". Ujar Eriska ketus.
"Bukan begitu, tapi...".
"Sudahlah, saya mau pulang jangan banyak bicara". Ujar Eriska.
"Baiklah sayangku". Dito mencium Pipi Eriska.
Eriska terkejut. "Kamu gila ya cium saya sembarangan ditempat umum seperti ini?". Ujar Eriska kesal.
"Aku cuma cium Kamu di pipi bukan ditempat lain. Lagi pula tidak ada orang kan?". Ujar Dito santai.
Eriska memicingkan matanya Dan menggelengkan kepalanya. "Kamu itu benar-benar pria murahan ya".
__ADS_1
"Aku hanya murahan kepada istriku saja". Ujar Dito mengedipkan mata nya.
"Cih!! Siapa yang Istrimu?". Gerutu Eriska.
"Kamu lah, siapa lagi?". Goda Dito.
"Jangan banyak bicara, saya mual mendengar kamu menggomabal". Ujar Eriska ketus.
"Aku tidak menggombal, Aku bicara fakta". Ujar Dito.
"Terserah lah". Jawab Eriska kesal.
"Ok Aku diam. Jangan marah lagi". Ujar Dito.
Mereka pun berjalan tanpa ada suara.
Sampailah mereka dirumah.
Dito menggendong Eriska seperti pengantin membawa nya ke dalam kamar.
"Hey apa yang Kamu lakukan. Lepas!!!". Ujar Eriska kesal.
Dito merebahkan tubuh Eriska di atas tempat tidur lalu Ia pun berbaring disebelah Eriska Dan memeluknya.
"Lepaskan pelukkanmu". Ujar Eriska.
"Tidak!". Jawab Dito.
"Lepas tidak. Atau?".
"Atau apa??? Diam lah jangan meberontak. Aku hanya ingin tidur sebentar dengan tenang. Semalam Aku tidak bisa tidur nyenyak". Ujar Dito yang semakin erat memeluk Eriska.
"Itu urusan Kamu bukan urusan saya. Lepas tidak". Ujar Eriska kesal.
Tidak ada jawaban dari Dito. Eriska mencoba melihat Dan ternyata Dito telah tertidur.
"Cepat sekali dia tidur". Ujar Eriska. "Ahhhhh Tapi pelukannya tidak bisa dilepas".
__ADS_1