
Hari telah berganti. Ditempat yang berbeda, Eriska memanjatkan harapan baru.
"Selamat pagi istriku". Sapa Dito yang baru masuk kamar dari luar.
"Aku rasa Kamu suka disini ya? Tidurmu sangat nyenyak". Ujar Dito.
Eriska hanya tersenyum.
Eriska beranjak dari tempat tidur berjalan menuju jendela lalu membuka nya.
"Indah sekali". Ujar Eriska takjub dengan apa yang dilihat.
Kebun Teh yang sangat hijau ditambah sinar matahari membuat view menjadi sangat indah.
Dito memeluk Eriska dari belakang.
"Lepas". Ujar Eriska ketus.
"Kalau gak mau bagaimana?". Tanya Dito.
Eriska membalikkan badan nya wajah mereka saling berhadapan. Wajah Eriska merona merah.
Dito tersenyum. "Kenapa wajahmu memerah seperti itu?". Ledek Dito.
Eriska mendorong badan Dito.
"Jangan melebihi batas". Gerutu Eriska.
"Memang batas nya harus sampai melakukan apa?". Tanya Dito memeluk pinggang Eriska lagi.
"Jangan sentuh tubuh saya". Eriska mendorong tubuh Dito lagi.
Dito memeluk Eriska. "Izinkan Aku memelukmu sebentar saja. Ini permohonan suami kepada Istrinya".
Saat Dito mengatakan itu hati Eriska merasa bersalah kepada Dito yang tidak bisa menjadi istri yang sebenarnya. Eriska tidak menolak pelukan Dito. Bahkan Dia memeluk balik Dito.
Aku harus menemukan Dior segera. Aku tidak ingin menyakiti Dito terus menerus. Ujar Eriska dalam hati
Dito melepaskan pelukannya. "Sekarang Kamu mandi, kita akan pergi ke suatu tempat". Ujar Dito.
"Mau kemana?". Tanya Eriska.
"Nanti Kamu akan tahu". Jawab Dito.
"Kunci mobil dimana?". Tanya Eriska.
"Kamu mau apa?". Tanya Dito
"Saya mau ambil baju saya". Ujar Eriska
__ADS_1
"Mau Aku saja yang ambilkan?". Tanya Dito menyerahkan kunci mobil.
"Gak perlu. Biar saya saja". Ujar Eriska
Masa dia yang ambil, nanti pakaian dalam terlihat dia lagi. Ujar Eriska dalam hati.
"Selamat Pagi Pah". Eriska menyapa Papa mertuanya.
"Selamat Pagi. Bagaimana tidurmu nyenyak?". Tanya Aditya
"Iya Pah". Ujar Eriska. "Eriska keluar dulu Pah mau ambil baju di mobil". Ujar Eriska.
"Silahkan". Ujar Aditya.
Eriska berjalan menuju mobil. Sampai di mobil banyak warga yang melihat ke arah nya begitu juga para karyawan Dito.
Eriska menghiraukan itu Ia sibuk mencari pakaiannya.
Sampai ada seseorang yang meneriaki namanya. " Eriska Putri ". Teriak seorang wanita dengan Nada marah.
Eriska menoleh dia bingung siapa yang memanggilnya.
"Anda siapa ya?". Ujar Eriska bertanya.
"Perempuan Angkuh Dan sombong". Seorang wanita menarik rambutnya.
"Hey lepaskan saya. Kamu siapa". Eriska mencoba melepas tangannya.
"Lepas, saya tidak kenal Kamu". Eriska mencoba meronta. "Tolong, tolong". Eriska berteriak.
Yarka yang melihat terkejut.
"Disini Kamu tidak punya kekuasaan". Wanita itu mendorong Eriska sampai jatuh.
"Kak Eriska". Yarka berlari menghampiri Eriska Dan menolongnya.
"Eh Nita Kamu gila ya". Bentak Yarka kepada Nita yang menyakiti Eriska.
"Perempuan Angkuh seperti dia memang pantas mendapatkan nya". Ujar Nita sangat kesal lalu masih menarik rambut Eriska.
"Cewek gila, lepaskan". Teriak Eriska.
Dito yang mendengar bising langsung keluar. Ia terkejut melihat Eriska yang terduduk di tanah dengan Nita yang menarik rambutnya.
"Astagfirullah ada apa lagi". Dito berlari menghampiri mereka.
"Nita lepas". Yarka mencoba menolong Eriska.
"Ada apa ini. Astagfirullah Nita lepaskan Eriska". Ujar Dito menarik tangan Nita.
__ADS_1
"Biarin mas. Aku mau kasih pelajaran wanita Angkuh ini". Nita masih menarik rambut Eriska.
"Dito tolong". Ujar Eriska.
"Nita lepaskan Istri saya". Dito membentak Nita.
Nita terkejut. "Apa ?? Istri mas Dito ? Eriska?". Tanya Nita.
"Iya Dia istri saya". Ujar Dito. "Lepaskan tangan Kamu". Dito melepas paksa tangan Nita lalu membantu Eriska berdiri. "Kamu tidak apa-apa kan". Dito Panik. "Ya ampun Kamu terluka. Ayo kita masuk dulu". Ujar Dito.
"Perempuan gila". Bentak Eriska.
"Nita, Kamu gila ya nyakitin kakak ipar?". Bentak Yarka.
Nita merasa terkejut, sedih yang bercampur aduk. Ia menangis lalu pergi.
Yarka merasa bingung kenapa Nita melakukan itu. Dia memang menyebalkan tapi tidak kasar seperti itu. Akhirnya Yarka berlari mengejar Nita.
"Nita tunggu". Yarka berteriak
Nita masih berlari menangis.
"Nita". Yarka menarik tangan Nita.
"Kamu kenapa?". Tanya Yarka
Nita memeluk Yarka dengan menangis.
"Tenang". Ujar Yarka.
Nita melepaskan pelukannya. "Maaf". Ujar Nita
"Kita duduk dulu disana". Ujar Yarka mengajak Nita ke sebuah warung.
Nita duduk di warung lalu Yarka membeli air minum untuk Nita.
"Diminum dulu". Ujar Yarka.
Nita menerimanya. "Terimakasih". Ujar Nita.
"Kamu kenapa melakukan itu pada kak Eriska?". Tanya Yarka.
"Aku benci sama Dia. Karena ke angkuhan Dan kesombongan nya, Aku kehilangan pekerjaanku". Ujar Nita kesal.
"Kamu karyawan dia dulu?". Tanya Yarka.
"Bukan. Aku pernah bekerja di toko brand xxxxx. Saat itu Dia datang untuk berbelanja. Aku tidak sengaja menyenggolnya lalu Dia terjatuh. Dia sangat marah sampai memanggil Manager lalu Dia mengancam manager untuk pecat Aku". Nita menangis. "Saat itu Ibu ku sedang sakit parah butuh pengobatan. Untung ada Mas Dito yang menawarkan pekerjaan untukku". Ujar Nita. "Aku sangat benci kepada wanita sosialita seperti Eriska. Mereka selalu meremehkan orang kecil". Ujar Nita kesal.
"Tenanglah. Semua sudah berlalu". Ujar Yarka. "Aku mewakili kak Eriska meminta maaf kepadamu". Ujar Yarka.
__ADS_1
"Ini bukan salah Kamu. Kenapa harus Kamu yang meminta maaf". Ujar Nita.
"Yasudah tenangkan diri Kamu". Yarka mencoba menghibur Nita.