
Satu minggu kemudia
"Ra, Kami mau pulang ke Jakarta sekarang. Kamu jaga diri baik-baik ya". Ujar Eriska.
"Nyonya, apakah Saya masih boleh menjadi pengasuh Queena?". Tanya Rara.
"Ra, Kamu kan sudah menikah dengan Niall. Saya tidak enak jika Kamu masih jadi pengasuh Queena". Ujar Eriska.
"Nyonya sejujurnya Saya belum siap menerima hubungan ini. Ini sungguh mendadak untuk Saya. Lagipula Kita belum menikah secara Negara Saya Takut orang berfikir Kita berzina atau nikah kontrak. Saya sudah membicarakan dengan Kang Niall. Kang Niall setuju Saya masih bekerja dengan Nyonya. Tapi Nyonya, apakah Saya boleh membawa Langit? Saya teh tidak punya keluarga lagi yang bisa jaga Langit". Ujar Rara.
"Kalau Kamu masih mau jadi pengasuh Queena Saya sungguh bersyukur. Jujur Saya bingung jika Kamu berhenti karena Queena sudah nyaman denganmu juga Kami sangat percaya padamu. Soal Langit, Kamu bisa membawa nya dengamu tinggal dirumah Kami. Queena pasti senang memiliki teman dirumah". Ujar Eriska tersenyum.
"Boleh Nyonya ?? Alhamdulillah kalau Langit boleh ikut". Rara merasa tenang.
"Yasudah Kamu mau kembali kapan?". Tanya Eriska.
"Hari ini Nyonya. Saya kalau disini terus inget Emak sama Abah jaf lebih baik Saya kembali mengasuh Queena". Ujar Rara.
"Baiklah senyamanmu saja Rara. Yasudah kami duluan pulang ya Ra. Kamu nanti bersama Niall kan?". Tanya Eriska.
"Iya Nyonya. Saya juga mau ambil Surat pindah Sekolah Langit juga". Ujar Rara.
"Yasudah kalau begitu Saya pamit dulu ya". Eriska berdiri begitu juga Rara.
Mereka berjalan keluar. Sudah terlihat Dito, Queena, Birowo dan Niall sedang duduk santai.
"Kita pulang sekarang". Ujar Eriska.
"Yasudah ayo". Semua berdiri.
"Kami pamit ya. Assalamualaikum". Eriska memeluk Rara.
"Waalaikumsalam" balas Rara.
Keluarga Eriskapun telah pergi. Niall memeluk Rara dari belakang. Rara masih merasa risih untuk diperlakukan seperti itu.
"Kang bisa tolong lepas tidak?". Tanya Rara.
"Kenapa? Kamu Istriku, kenapa Aku tidak bisa memelukmu?". Tanya Niall.
"Kita bicara dulu yuk". Rara mencoba melepas pelukan Niall.
Niall pun melepaskan. Mereka duduk disofa.
"Kang, Saya sudah bilang pada Nyonya Saya masih bekerja untuk mengasuh Neng Queena". Ujar Rara.
__ADS_1
"Kamu kan sudah menikah denganku. Untuk apa masih bekerja? Aku mampu membiayai Kamu juga Langit". Ujar Niall tak terima.
"Kang dengar Aku dulu ih. Banyak alasan kenapa Aku teh masih ingin bekerja. Yang pertama ya jujur Kang Aku masih belum siap dengan hubungan ini. Kita baru kenal tiga minggu Kang. Aku belum mengenal Akang. Yang kedua, Kita belum menikah secara Negara apa kata orang nanti jika kita tinggal bersama. Orang akan menyangka Kita teh kumpul kebo tahu tidak kumpul kebo apa?".
Niall menggeleng.
"Itu tinggal bersama tanpa ada nya pernikahan". Ujar Rara.
"Tapi kita tidak kumpul apa tadi?".
"Kumpul kebo".
"Iya, Kita sudah menikah". Protes Niall.
"Kang kita belum punya buku nikah atuh mau kasih bukti apa kita teh sudah menikah? Kalaupun Mereka percaya paling disangka kita nikah kontrak". Ujar Rara. "Lagipula Akang belum punya tempat tinggal sendiri kan? Sejak bekerja Akang tinggal di hotel. Gimana atuh kita bisa tinggal bareng kalau tinggal dihotel". Ujar Rara. "Saya juga kasihan sama Nyonya kalau Saya keluar siapa atuh yang jagain Neng Queena? Alhamdulillah Nyonya percaya sama Saya. Saya teh sudah banyak hutang budi dengan Nyonya. Kang tolong mengerti Kang untuk semua ini". Rara menggenggam tangan Niall.
Niall cukup berfikir. Benar yang dikatakan Rara. Ia belum siap memberikan tempat tinggal untuk Rara dan Langit. Belum lagi pernikahan Mereka yang belum disahkan Negara.
"Kamu benar Ra. Baiklah, Aku akan segera mengurus ini semua sembari Kita saling kenal satu sama lain". Ujar Niall.
"Alhamdulillah kalau Akang mengerti". Ujar Rara gembira.
"Tapi Ra, Aku ingin Kamu tinggal bersamaku satu minggu sekali saja tidak apa-apa dihotel. Aku juga ingin bersama Istriku". Ujar Niall membujuk.
"Kang, Saya teh belum siap atuh sama kkhhhmmm itu". Ujar Rara
"Aku akan menunggu hingga Kamu siap. Tapi, Kamu harus tetap tinggal bersamaku saat Aku libur. Aku janji tidak akan melewati batasku". Ujar Niall.
"Baiklah Kang". Ujar Rara. Mau bagaimanapun Ia menolak, secara Agama mereka memang Suami Istri.
Setelah itu Mereka pergi ke sekolah Langit untuk mengambil Surat pindah sekolah. Setelah dari sana Mereka langsung pergi ke kota menuju rumah Eriska.
"Baby, besok Aku akan menjemputmu lagi ya". Ujar Niall.
"Ih mau kemana atuh jangan sering-sering jemput atuh kang gak enak sama Nyonya". Ujar Rara protes.
"Cari sekolah untuk Langit. Kamu memang tidak ingin Langit melanjutkan sekolah?". Tanya Niall.
"Soal itu, Saya teh masih bingung. Mungkin bulan depan setelah gajian". Ujar Rara.
Niall menarik hidung Rara. "Kamu teh sekarang Istri saya atuh jadi Langit juga keponakan Saya. Sudah tanggung jawab Saya untuk membiayai kebutuhan kalian berdua". Ujar Niall berbicara seperti Rara.
"Oh Kamu teh meledek Saya ya". Ujar Rara.
"Tidak dong Baby, Aku suka dengan cara bicaramu". Ujar Niall.
__ADS_1
"Sudah, nanti Kamu bilang Nyonya besok mau cari sekolah. Kita usahakan yang dekat dengan rumah Nyonya". Ujar Niall.
"Yasudah atuh kalau gitu mah". Ujar Rara.
"Ra". Panggil Niall.
"Iya ada apa?". Tanya Rara.
"Kamu cantik". Ujar Niall.
"Ih gombal terus Kamu teh". Rara memukul bahu Niall.
"Bunda, Kita teh mau tinggal dimana?". Tanya Langit.
"Dirumah Nyonya Eriska". Jawab Rara.
"Rumah Nyonya Eriska teh besar ya Bunda?". Tanya Langit.
"Iya besar banget. Ada kolam renang nya juga". Ujar Rara.
"Betul itu teh ? Aku bisa berenang dong?". Tanya Langit.
"Eh jangan itu teh bukan kolam renang umum". Jawab Rara.
"Langit mau punya rumah yang ada kolam renang nya?". Tanya Niall.
"Iya Om Aku mau banget". Jawab Langit gembira.
"Nanti kita buat ya dirumah kita". Ujar Niall.
"Betul kan Om?". Tanya Langit.
"Betuk Langit". Jawab Niall.
"Nanti ada ring basket juga ya Om sama seperti disekolahku". Ujar Langit.
"Boleh. Mau apa lagi? Lapangan Futsal?". Tanya Niall.
Rara sangat terharu melihat kedekatan Niall dan Langit. Sudah lama Langit tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah. Maka dari itu Langit memanggil Rara dengan sebutan Bunda agar Ia merasa memiliki seorang Ibu. Niall pun tak keberatan dengan panggilan Langit pada Rara. Niall yang sangat mencintai Rara. Namun Rara masih belum siap dengan hubungan Mereka yang tiba-tiba.
Kang, Terimakasih untuk segalanya. Aku janji akan berusaha untuk mencintai Kang Niall. Ujar Rara dalam hati.
Visualisasi Langit
__ADS_1
By the way, Langit adalah anak Campuran. Ibu nya adalah Kaka Rara sedangkan Ayahnya seorang Pria berkebangsaan Belanda. Ibu Langit pernah bekerja di Bali dan bertemu Ayah Langit hingga akhirnya Mereka menikah.