
Sampailah Eriska dirumah sakit. Sebelum keluar dari mobil, Eriska menggunakan masker untuk melindungi nya dari virus. Karena Ia sedang hamil jadi harus menjaga extra tubuhnya.
Eriska turun didepan lobby rumah sakit sedangkan John pergi memarkirkan mobil. Eriska berjalan lebih dulu masuk kedalam lift. Dilantai 3 Ia keluar dari lift.
Eriska sudah melihat Dito yang tengah duduk bersama Audrey.
"Assalamualaikum". Eriska mengucap salam
"Waalaikumsalam. Eriska". Ujar Dito menoleh pada Eriska
"Tentu Aku lah siapa lagi?". Ujar Eriska.
Dito menghampiri Eriska dan memeluk nya.
"Aku kangen sama kamu". Bisik Dito.
"Gombal". Ujar Eriska tersenyum malu.
Dito melepaskan pelukannya.
"Audrey, bagaimana keadaan Liam?". Tanya Eriska yang duduk disamping Audrey.
"Dia masih belum sadar". Ujar Audrey terlihat sedih.
"Liam pasti akan sadar segera. Percayalah". Ujar Eriska.
Tak lama John datang dengan membawa tas milik Eriska dan makanan yang Ia bawa dari Restaurant.
"Selamat siang Tuan". Sapa John.
"Selamat siang John. Kapan Kamu sampai?". Tanya Dito.
"4 jam lalu Tuan". Jawab John.
"Oh ya Nyonya, ini tas milik Nyonya serta makanan". John memberikan barang milik Eriska.
"Sayang, dalam tas ini perlengkapanmu. Kamu bisa membersihkan diri ditoilet". Ujar Eriska.
"Baiklah. Terimakasih sayang". Ujar Dito mengambil tas perlengkapannya lalu pergi menuju toilet.
"Apa Kamu sudah makan? Aku membawakan makanan untukmu dan Dito". Ujar Eriska.
"Aku tidak lapar Eriska". Ujar Audrey dengan wajah yang sangat lelah.
Eriska mengusap bahu Audrey. "Aku mengerti posisimu. Aku pernah mengalami hal yang sama. Beberapa minggu sebelum kita ke Paris, Dito ditusuk oleh seseorang yang mencoba melecehkanku. 3 hari Dia kritis hingga Dia bisa sadar dan kembali sehat. Aku sangat mengerti perasaanmu, Tapi jangan siksa dirimu seperti ini. Jika Kamu sakit karena memikirkan Liam dan Liam tahu, Dia pasti akan merasa sangat sedih. Lihatlah wajahmu sangat pucat. Kita makan dulu ya". Eriska mengelus bahu Audrey.
Audrey menangis lalu memeluk Eriska. "Terimakasih Eriska, jika Kamu dan Dito tidak ada disini entah bagaimana perasaanku". Ujar Audrey menangis.
"Sudahlah. Kalian berdua adalah sahabat kami. Tugas kami untuk menjaga kalian". Ujar Eriska tersenyum.
"Kita makan dulu ya dikantin". Ujar Eriska.
Audrey akhirnya menerima tawaran Eriska.
Dito pun datang dengan penampilan yang lebih Segar.
"Sayang, kalian makan dulu yuk. Aku sudah membawa makanan". Ujar Eriska.
"Mau makan dimana?". Tanya Dito.
"Di kantin saja. Sekalian membeli minuman". Ujar Eriska.
"Baiklah kalau begitu". Ujar Dito.
"Tapi siapa yang akan menjaga disini?". Tanya Audrey
"Biar John yang menjaga". Ujar Dito.
"Tenang Nona, saya akan menjaga Liam disini". Ujar John.
Audrey pun menurut untuk makan bersama Dito dan Eriska.
__ADS_1
Sampai dikantin. Mereka duduk Dito memesan minuman
"Aku mau hot chocolate. Kamu mau apa?". Tanya Eriska kepada Audrey
"Air mineral saja". Jawab Audrey.
Dito pun pergi memesan minuman.
Eriska membuka makanan yang Ia bawa.
"Tadi Aku mampir ke restaurant Aku membawanya dari restaurant". Ujar Eriska.
Dito pun datang dengan membawa beberapa minuman.
"Makanlah". Ujar Eriska.
"Kamu tidak makan?". Tanya Audrey
"Aku baru makan sebelum kemari". Ujar Eriska.
merekapun makan.
Kok apa yang dimakan Dito terlihat enak ya. Ujar Eriska memandangi Dito yang tengah makan.
"Kamu kenapa?". Tanya Dito.
"Anakmu mau makananmu". Bisik Eriska.
"Anakku apa Istriku?". Ledek Dito.
"Dua dua nya". Ujar Eriska.
Audrey melihat pada Eriska Ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
Dito memberikan makanannya kepada Eriska. "Makanlah". Ujar Dito.
Eriska melihat makanan itu benar-benar ingin namun Ia juga ingat suaminya belum makan. "Tidak, Kamu makan saja. Aku baru makan". Ujar Erisk
"Yasudah jika Kamu tidak mau". Dito mengambil kembali makanannya.
"Ayo makan". Dito mencoba menyuapi Eriska.
"Tidak perlu. Kamu saja yang makan". Ujar Eriska
"Ayolah Kamu sedang ngidam begini bagaimana Aku bisa makan?". Ujar Dito.
Eriska pun menerima suapan dari Dito.
"Huft ternyata tidak seenak yang Aku bayangkan". Ujar Eriska. "Kamu bisa menghabiskannya".
Dito hanya tersenyum melihat tingkah ngidam Istrinya itu.
"Maaf ya Audrey. Wanita hamil memang seperti ini. Selalu ingin apa yang dimakan orang lain". Ujar Eriska mengatakan pada Audrey
"Kalau begitu, apa Kamu mau makananku?". Tanya Audrey.
"Tidak terimakasih. Makanannya tidak seenak buatan suamiku". Bisisk Eriska.
Audrey hanya tersenyum Ia memang tahu Dito adalah chef terhebat di Paris bahkan di Perancis Dan Inggris Dior cukup terkenal.
Tak lama, James datamg menghampiri Dito.
"Permisi Tuan, ada yang ingin saya katakan". Ujar James.
"Mengenai siapa dibalik penyerangan Liam?". Tanya Dito.
"Betul Tuan". Ujar James.
Audrey terkejut. Ia berdiri dan menghampiri James.
"Katakan James, siapa". Ujar Audrey penuh amarah.
__ADS_1
"Christ Steven Tomlinson". Ujar James.
"Apa ??? Christ ???". Ujar Audrey terkejut. Ia terduduk dikursinya kembali.
"Apa Kamu mengenal Dia?". Tanya Dito.
"Iya Aku sangat mengenalnya". Ujar Audrey.
"Siapa dia?". Tanya Eriska.
"Kakak ku". Ujar Audrey menangis.
"Apa? Kakakmu?". Eriska sangat terkejut.
"Aku harus menemuinya". Ujar Audrey pergi dengan rasa marah dan kecewa.
"Sayang, apa yang harus kita lakukan?". Tanya Eriska.
"Aku sangat ingin membalas nya, Tapi Dia adalah kakak Audrey. Aku bingung harus berbuat apa". Ujar Dito merasa bingung. "Aku takut jika Aku membalas dendam, hubungan Liam dan Audrey akan buruk".
"Kamu benar sayang. Kita akan membicarakan ini dengan Audrey nanti. Sekarang kita fokus pada kesembuhan Liam". Ujar Eriska.
Merekapun kembali menuju ruangan dimana Liam dirawat.
"Sayang, lebih baik Kamu pulang. Rumah sakit tidak bagus untuk kesehatanmu". Ujar Dito.
"Apa yang harus Aku lakukan tanpamu?". Ujar Eriska cemberut.
"Kamu juga harus istirahat, sejak Semalam tidak tidur". Ujar Eriska memeluk tangan Dito.
"Tapi Liam tidak ada yang menjaga". Ujar Dito.
"Itu ada John dan James, biarkan Mereka yang menjaga Liam". Ujar Eriska melihat pada John dan James.
"John, James kalian bisa kan menjaga Liam? Dito harus pulang dan istirahat". Ujar Eriska.
"Tentu Nyonya. Benar apa yang dikatakan Nyonya, Tuan butuh istirahat. Lebih baik Tuan pulang untuk istirahat biar kami yang menjaga disini". Ujar James.
"James juga berkata sama, ayo kita pulang". Eriska membujuk Dito.
"Baiklah Aku pulang, Tapi dirumah boleh dong dapat sesuatu. Ayolah sayang". Ujar Dito dengan senyum nakalnya.
"Ih dasar mesum". Ujar Eriska memukul pelan tangan Dito.
"Aww sakit sayang. Aku sudah puasa lama loh. Kamu tega sekali". Ujar Dito.
Eriska hanya tertawa malu melihat Dito.
"Cepat kita pulang, Kamu butuh istirahat". Ujar Eriska menarik Dito.
"Tapi kasih jatahku ya". Ujar Dito.
"James, John kalian jaga Liam. Kami pulang dulu". Ujar Dito.
"Baik Tuan. Apa perlu dari kami mengantar Tuan dan Nyonya?". Tanya John.
"Tidak perlu, berikan saja kunci mobilnya. Biar Saya yang menyetir". Ujar Dito.
"Tapi Tuan". Ujar John.
"Sudahlah, Aku juga butuh waktu berdua dengan istriku". Bisik Dito pada John.
"Baik Tuan". John memberikan kunci mobilnya pada Dito.
Dito dan Eriskapun pergi meninggalkan John dan James.
"Pasangan yang saling cinta, sungguh serasi Tuan dan Nyonya". Ujar John.
"Kapan kau menikah John? Tidak melihat usiamu sudah matang seperti itu?". Ujar James meledek John.
"Lebih baik Anda dulu Tuan, usia anda lebih tua dari saya". Ujar John tertawa.
__ADS_1
"Ah sudahlah kita bekerja terlebih dahulu, setelah itu baru cari pasangan". Ujar James.
John dan James saling bergurau tentang kejombloan Mereka.