
Eriska, Jessica dan James telah sampai dikediaman Eriska. Mereka masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum". Eriska mengucap salam pada Papa nya yang sedang duduk diruang keluarga menonton TV.
"Waalaikumsalam. Kalian sudah pulang. Bagaimana hasil pemeriksaannya?". Tanya Birowo.
"Alhamdulillah semua baik-baik saja Pah. Hanya kata dokter bayi nya ada dibawah jadi Eriska harus hati-hati". Ujar Eriska.
"Kamu tidak boleh beraktivitas berlebihan. Sekarang tidak boleh yoga dan olahraga lainnya. Nanti saja kalau sudah dekat kelahiran". Ujar Birowo.
"Iya Papa. Oh ya lihat ini". Eriska menunjukan hasil USG pada Papa nya.
"Ma Shaa Allah lucu sekali. Dia mirip kalian berdua. Papa sudah tidak sabar menunggu cucu Papa ini". Ujar Birowo sangat gembira.
"James tolong buatkan salad buah ya". Ujar James.
"Baik nyonya". Jawab James lalu pergi.
"Jess Kamu bisa kan membelikah hadiah itu? Di mall banyak". Ujar Eriska.
"Boleh saja, asal dengan James ya". Ujar Jessica tersenyum
"Boleh. Tapi ingat, setelah membeli hadiah itu kamu langsung kembali ke hotel jangan pacaran. Setelah pesta ini Aku akan izinkan James untuk libur". Ujar Eriska.
"Siap Nyonya. Ahhhhh Eriska memang pengertian". Jessica memeluk Eriska.
"Jess Kamu cepatlah menyusul Eriska". Ujar Birowo.
"Mau sih Om, Tapi masa Aku menikah dengan pengawal Eriska". Ujar Jessica.
"Memang kenapa jika Dia jadi pengawalku? Asal Kamu tahu ya gaji James itu sangat besar. Dibayarnya juga pakai dollar". Ujar Eriska.
"Hahahahahaha Aku tahu gaji yang Kamu berikan pasti besar tapi Aku juga ingin James maju. Kamu tahu sendiri kemampuan Dia dalam memasak itu luar biasa. Aku berharap Dia bisa memiliki Restaurant sendiri. Bukan karena Aku ingin Dia banyak uang, Tapi Aku ingin Dia menjadi lebih baik dari sekarang". Ujar Jessica.
"Wah tumben pemikiran Jessica bagus seperti ini". Ujar Eriska.
"Itu memang bagus. Kamu bisa support Dia untuk itu". Ujar Birowo.
"Iya Om Aku sedang berusaha membujuknya". Ujar Jessica.
Tak lama James pun datang dengan membawa salad buah nya.
"Nyonya ini salad buahnya". James memberikan pada Eriska.
"terimakasih James". Ujar Eriska.
"Tuan, ini untuk Tuan besar". James memberikan salad buah pada Birowo
"Terimakasih James". Ujar Birowo.
__ADS_1
"Ini untukmu". James memberikan salad buah yang ditambah ice cream diatasnya untuk Jessica.
"terimakasih". Balas Jessica tersenyum.
"James duduklah. Jangan berdiri seperti itu". Ujar Eriska.
"Terimakasih Nyonya". James pun duduk.
"James, nanti agak sorean Kamu dan Jessica pergi ke mall ya. Membeli hadiah untuk Dito". Ujar Eriska.
"Oh baik Nyonya". Ujar James.
Jessica melirik James dengan tersenyum lebar. James hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Pah, nanti sore Papa ikut denganku ke hotel ya". Ujar Eriska.
"Papa lebih baik nanti malam dengan Vita. Kalau Papa pergi denganmu pasti Dito akan curiga". Ujar Birowo.
"Oh iya benar juga ya". Ujar Eriska.
"Aku juga telah menelepon Papa mertua dan Tante Raisa. Aku meminta Mereka agar berangkat malam saja jadi Mereka sampai Dito tidak tahu". Ujar Eriska.
"Baguslah kalau begitu. Siapa yang mendekorasi hall nya?". Tanya Birowo.
"Kak Vita Pah. Mungkin akan dimulai nanti malam". Ujar Eriska.
"Baiklah kalau begitu". Ujar Birowo.
"Sudahlah Nak jangan dikenang masalalu yang buruk. Sekarang kalian sudah bahagia. Kamu bisa mengganti kesedihan dimasalalu menjadi kebahagiaan dimasa sekarang dan nanti". Ujar Birowo.
"Papa benar. Aku berjanji akan menjadi Istri yang baik untuk Dito". Ujar Eriska tersenyum.
Setelah Mereka berbincang dan makan siang, Jessica dan Eriska naik keatas menuju kamar Eriska.
"Sejak kalian menikah Aku sudah tidak pernah masuk kamarmu ini. Ternyata masih sama saja". Ujar Jessica.
"Memang apa yang harus dirubah?". Tanya Eriska.
"Tapi Aku merasa damai dikamarmu ini sekarang. Seperti ada hal yang beda". Ujar Jessica.
"Heeemmmm mungkin karena sekarang kita sering sholat dikamar ini belum lagi Dito yang sering mengaji. Aku juga merasa selalu tenang dikamar ini sekarang". Ujar Eriska.
"Ka, Aku bingung. Gimana dong? James itu Atheis apa mungkin Aku bisa menikah dengannya? Papa sudah mewanti-wanti Aku boleh pacaran dengan siapa saja tapi untuk menikah ya harus dengan seorang Muslim. Aku sangat mencintai James. Aku juga berharap bisa menikah dengannya. Tapi untuk urusan Agama ini Papa bilang mencari suami harus yang utama itu Agama nya. Sedangkan James jangankan Muslim, Agama saja tidak punya". Ujar Jessica sedih.
"Sudahlah nikmati saja moment kalian berdua. Untuk ke jenjang itu kan masih jauh, Kamu bisa bicarakan pelan-pelan dengannya nanti". Ujar Eriska mengelus punggung Jessica.
"Iya kamu benar. Aku akan membicarakannya pelan-pelan nanti". Ujar Jessica tersenyum.
"Kamu bisa pergi ke mall sekarang. Ingat apa yang Aku katakan OK". Ujar Eriska.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengingatnya. Atau nanti kita video call Kamu bisa memilih sendiri". Ujar Jessica.
"Baiklah. Kamu bisa pergi sekarang. Nanti malam simpan kado itu di hall jangan biarkan ada yang membukanya". Ujar Eriska.
"Ok. Yasudah Aku jalan dulu. Bye". Jessica memeluk Eriska.
"Assalamualaikum". Ujar Eriska.
"Hahahahahaha waalaikumsalam". Jessica keluar dari kamar Eriska.
"Lebih baik Aku menelepon Dito sekarang". Eriska mengambil ponselnya.
Panggilan masuk
"Assalamualaikum". Salam Dito dari ujung telepon.
"Waalaikumsalam. Sayang Kamu lagi apa? Apa sudah makan siang?". Tanya Eriska.
"Aku masih sibuk mengurus dokumen. Iya Aku sudah makan, Kamu sudah kan?". Tanya Dito.
"Iya Aku sudah makan tadi. Sayang, Kamu nanti tidak perlu pulang ya". Ujar Eriska
"Kenapa? Kamu tidak suka Aku didekatmu lagi?". Tanya Dito heran.
"Bukan sayang, Aku ingin menginap di hotel. Berdua denganmu. Ya ya ya". Rengek Eriska.
"Tumben, ada apa?". Tanya Dito.
"Memang kenapa? Aku hanya ingin berduaan denganmu. Kamu tidak mau?". Tanya Eriska marah.
"Bukan begitu. Yasudah jadi Aku tidak pulang? Kamu kesini dengan James? Tidak perlu Aku jemput?". Tanya Dito.
"Iya Aku pergi dengan James. Aku juga akan membawakan pakaianmu". Ujar Eriska.
"Baiklah. Nanti Kamu hati-hati ya". Ujar Dito.
"Iya sayang. Yasudah Kamu bekerja lagi sana. Aku mau tidur siang. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Eriska menutup telepon nya.
"Aduh kenapa perutku jadi sering sakit begini ya. Sayang, menendangnya jangan terlalu kencang, perut Mama sakit". Eriska mengelus perutnya.
Eriska memutuskan untuk tidur siang sebelum ke hotel.
"Aduh semakin lama semakin susah saja Aku tidur". ujar Eriska yang masih mencari posisi yang enak untuk tidur.
"Mama, maafkan Eriska yang selalu melawan Mama semasa Mama merawat Eriska. ternyata mengandung sangatlah berat". tiba-tiba Eriska mengingat Mamanya.
__ADS_1
Eriska pun tertidur saat sudah mendapatkan posisi yang sesuai