
Hi jangan lupa untuk VOTE ya juga Like dan Komen untuk mendukung karya Author 💖
Pagi hari, Eriska terkejut terbangun dari tidur mendengar Dito sedang muntah.
"Kenapa dengan Dito?". Eriska segera berjalan menghampiri Dito dikamar mandi.
"Sayang, are you okay?". Eriska menghampiri Dito memijat leher belakangnya.
"Entahlah Sayang. Tiba-tiba aku merasa sangat lemas lalu merasa mual". Ujar Dito yang terlihat pucat.
"Ayo kita ketempat tidur". Eriska menuntun Dito menuju tepat tidur.
Eriska membaringkan tubuh Dito. "Aku akan membuatkan teh hangat untukmu". Eriska mengusap rambut Dito lalu pergi untuk membuat teh hangat.
"Minumlah Sayang". Eriska memberikan cangkir yang berisi teh hangat pada Dito.
Dito meminumnya lalu memberikan kembali pada Eriska lalu berbaring.
Eriska menelepon pihak hotel untuk mengantarkan sarapan ke kamar Mereka.
"Kita kerumah sakit ya setelah sarapan". Ujar Eriska mengusap tangan Dito.
"Tidak perlu lah Sayang, nanti juga membaik". Ujar Dito.
"Lihat wajahmu sangat pucat. Sudah jangan membantah". Ujar Eriska.
"Baiklah". Jawab Dito.
"Tunggu sebentar ya Sayang. Aku ingin melihat keadaan Tita dikamar sebelah juga ingin melihat Queena". Ujar Eriska pada Dito.
Dito hanya menganggukkan kepalanya.
Eriska berjalan keluar kamar. Kamar Eriska memiliki dua kamar dan ruang tamu. Sejak Tita demam, Ia tidur dikamar Eriska bersama Queena namun beda tempat tidur.
"Ta, apa Kamu sudah membaik?". Tanya Eriska pada Tita.
"Alhamdulillah sudah membaik Kak. Hanya sedikit lemas". Ujar Tita.
"Kakak sudah bilang untuk ke Rumah Sakit Kamu tidak mendengar. Dito sedang tidak enak badan juga kakak mau bawa Dia kerumah sakit Kamu ikut ya?". Ujar Eriska.
"Tidak usah Kak. Aku sudah membaik. Mungkin besok juga sembuh". Ujar Tita tersenyum terpaksa.
"Ta, katakan apa yang terjadi?". Eriska yang merasa aneh dengan tingkah Tita.
Tita yang dari tadi diam tiba-tiba memeluk Eriska dan menangis.
"Sudah lepaskan saja tangisanmu". Eriska mengusap punggung Tita.
Setelah agak tenang, Tita melepaskan pelukannya.
"Apa yang terjadi?". Tanya Eriska.
"Kak, Yarka terus mengajakku menikah tapi Aku bingung. Bukan Aku tidak mau menikah dengannya tapi Aku tidak ingin melepaskan pekerjaan ini juga. Yarka pun tidak mau hubungan jarak jauh ini. Apa yang harus Aku lakukan Kak? Aku tidak ingin kehilangan Dia". Tita mulai menangis lagi.
__ADS_1
"Ta, setiap kehidupan memang selalu ada pilihan. Kamu harus memikirkan segalanya mana yang terbaik untukmu. Kakak bisa saja memberikan pekerjaan di Jakarta. Tapi, tetap saja Kalian harus berpisah dan Kakak tahu pasti Yarka tidak mau". Ujar Eriska.
"Kenapa tidak mau? Kenapa Dia tidak bisa seperti kak Dito yang ikut tinggal bersama Kakak? Yarka bisa tinggal di Jakarta denganku". Bantah Tita.
"Ta, posisi Dito dan Yarka berbeda. Pabrik sudah menjadi milik Yarka sekarang. Otomatis tanggung jawab ada di Yarka. Yarka tidak akan bisa menghandle dari jauh. Jika Kamu mau mendengar Kakak, pilihlah Yarka. Pekerjaan ini hanya obsesi. Kakak sudah merasakan itu. Mendapat jodoh yang baik itu lebih baik daripada karier Kita. Support Yarka dengan posisinya sekarang. In Shaa Allah Kamu akan dapat kebahagiaan lebih dari sekarang. Fikirkanlah baik-baik Tita. Kamu yang lebih mengerti kebahagiaanmu sendiri. Kakak hanya bisa membantu mengarahkanmu saja". Eriska mengusap air mata Tita yang terjatuh.
Tita terdiam dengan perkataan Eriska.
"Yasudah Kamu istirahatlah sebentar lagi sarapan akan datang. Kakak juga ingin bersiap untuk membawa Dito ke rumah sakit. Jangan terlalu difikirkan dengan berat. Kasihan tubuhmu. Tenanglah berfikir baik-baik jangan menggunakan emosimu. Okay?". Eriska tersenyum pada Tita.
Tita hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
Eriskapun keluar dari kamar Tita dan kembali ke kamarnya.
"Bagaimana keadaanmu?". Tanya Eriska pada Dito.
"Sedikit membaik". Jawab Dito.
Dito hendak beranjak dari tempat tidurnya.
"Kamu mau kemana?". Tanya Eriska.
"Aku mau mandi. Badanku merasa tidak nyaman". Ujar Dito.
"Kamu tunggu sebentar Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi". Ujar Eriska.
"Tidak perlu Sayang, Aku bisa mandi air dingin". Ujar Dito.
Dito tersenyum. "Ya Allah, wanita ini sangat lembut. Dibalik sikapnya yang angkuh saat bekerja, orang tidak akan menyangka Dia seorang wanita yang lembut".
Eriska kembali untuk menghampiri Dito.
"Sayang, air nya sudah siap jika Kamu ingin mandi". Ujar Eriska.
Dito beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menghampiri Eriska. Dito memeluk pinggang Eriska.
"Jangan cium Aku dulu. Kamu habis muntah tadi". Ujar Eriska.
Dito hanya tertawa kecil. "Tidak Sayang Aku tahu itu. Aku hanya ingin mengatakan terimakasih". Ujar Dito.
"Untuk?". Tanya Eriska.
"Aku tahu. Sebelum menikah, Kamu ini selalu dilayani. Bahkan untuk mandi ada yang menyiapkan air hangat untukmu. Sekarang Kamu sendiri yang menyiapkan untukku". Ujar Dito tersenyum pada Eriska.
"Ah Kamu berlebihan! Hanya menyiapkan air saja". Jawab Eriska.
"Menurutmu itu biasa saja, tapi untukku sangatlah special Sayang. Terimakasih karena sudah menjadi Isteri dan Ibu yang baik untukku dan Queena. Aku semakin mencintaimu". Dito memeluk erat tubuh Eriska. Mencium aroma tubuh yang sangat wangi membuat perasaannya tenang.
"Aku juga mencintaimu Sayang". Jawab Eriska mencium pipi Dito. "Sudahlah, segera mandi nanti airnya dingin". Ujar Eriska.
"Baiklah Sayang". Dito mencium pipi Eriska.
"Aku akan menyiapkan pakaian untukmu".
__ADS_1
Setengah jam berlalu, Dito keluar dari kamar mandi.
"Beberapa hari ini mandimu lama juga ya". Ujar Eriska yang menunggu diruang ganti.,
"Masa ?? Aku merasa biasa saja". Jawab Dito.
"Kamu mandi setengah jam lebih loh". Ujar Eriska.
Dito hanya tersenyum.
"Yasudah Aku mau mandi dulu. Baju Kamu sudah Aku siapkan". Ujar Eriska.
"Baiklah Sayang". Jawab Dito.
Eriskapun masuk kedalam kamar mandi dan Dito menggunakan pakaiannya lalu keluar untuk duduk disofa.
Satu jam berlalu, Eriska keluar sudah rapi.
"Loh Queena sudah bangun". Ujar Eriska saat melihat Queena.
"Sudah Mama". Jawab Queena.
"Kalau begitu, Kita mandi yuk setelah sarapan Kita pergi antar Papa ke hospital". Ujar Eriska.
"Papa sakit?". Tanya Queena.
"Tidak enak badan Sayang. Ayo ayo Kita mandi". Eriska menggendong Queena membawa ke kamar mandi.
Setelah siap, Mereka keluar. Menggunakan dress yang sama, Eriska dan Queena terlihat sangat manis.
"Ma Shaa Allah dua wanitaku terlihat sangat cantik dan manis". Ujar Dito yang melihat anak dan Isterinya kompak dengan dress yang sama.
"Makanan sudah datang?". Ujar Eriska.
"Sudah Sayang tuh ada dimeja sudah Mereka siapkan diruang makan". Ujar Dito.
"Yasudah ayo Kita sarapan sebelum ke Rumah Sakit".
Merekapun keluar. Tak lupa Eriska mengajak Tita untuk sarapan.
"Pagi Kak". Sapa Tita yang masih terlihat murung.
"Pagi". Jawab Dito dan Eriska.
"Bagaimana keadaanmu? Ikut saja ya ke Rumah Sakit". Tanya Dito.
"Tidak perlu Kak, Aku sudah membaik. Hanya masih sedikit lemas". Jawab Tita.
"Yakin? Tapi wajahmu masih pucat". Ujar Dito.
"Iya Kak tidak perlu". Jawab Tita berusaha untuk tersenyum.
Merekapun sarapan dengan tenang. Setelah sarapan Mereka pamit pada Tita untuk pergi kerumah sakit.
__ADS_1