Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (40)


__ADS_3

Merekapun sampai dirumah Eriska. Mereka turun dari mobil. Langit sangat terkejut melihat rumah Eriska yang sangat megah seperti istana.


"Wah ini teh beneran rumah Nyonya Eriska? Ya ampun besar sekali". Ujar Langit dengan tatapan takjub.


Tak lama Eriska dan Dito keluar.


"Ra, sudah sampai Kamu". Ujar Eriska.


"Iya Nyonya, maaf ya Nyonya kalau sedikit telat". Ujar Rara tidak enak.


"Langit, salam dulu sama Nyonya dan Tuan". Ujar Rara kepada Langit.


Langit pun mencium tangan Eriska dan Dito.


"Nyonya, rumah Nyonya besar sekali. Langit tidak pernah melihat rumah sebesar ini". Ujar Langit polos pada Eriska.


Eriska dan Dito hanya tertawa kecil. "Langit suka?". Tanya Eriska.


"Iya Nyonya. Besar sekali Langit bisa bermain bola disini". Ujar Langit.


"Kalau mau main bola dihalaman belakang. Disana lebih luas daripada disini". Ujar Dito.


Langit sangat gembira bisa tinggal dirumah Eriska.


"Ayo kita masuk dulu". Eriska mengajak Rara, Langit dan Niall masuk.


Mereka duduk diruang tamu. Eriska menyuruh Bi Inah membuat minum dan menyiapkan beberapa cemilan.


"Nyonya, terimakasih karena masih mau menerima Rara dan Langit. Keadaan ini sungguh mendadak. Saya pun belum menyiapkan apapun untuk Mereka. Sungguh sangat malu Saya". Ujar Niall.


"Tidak perlu sungkan Niall, Saya juga gembira Rara masih mau mengasuh Queena. Kami sudah nyaman dengan pekerjaan Rara. Tidak perlu khawatir. Selagi Kamu menyiapkan segalanya biarkan Rara dan Langit disini". Ujar Eriska.


Tak lama Queena datang.


"Kak Rara". Queena berlari menghampiro Rara.


"Neng Queena". Rara memeluk Queena dengan perasaan bahagia.


"Kakak kenapa lama dikampung? Aku kangen banget sama Kakak". Ujar Queena.


"Maaf ya Neng, Kakak tidak akan meninggalkan Neng lama-lama lagi".


"Tidak boleh bohong ya". Ujar Queena


"Iya Neng". Jawab Rara.


Queena menatap pada Langit.


"Itu Langit Sayang. Dia akan menjadi temanmu". Ujar Eriska.


"Teman? Tidak Aku tidak mau!". Ujar Queena tidak suka.


"Kenapa?". Tanya Eriska bingung.


"Aku tidak suka matanya! Matanya aneh". Ujar Queena polos.

__ADS_1


"Sayang, tidak boleh bicara seperti itu. Mata Langit sangatlah indah. Lihat". Ujar Eriska.


"Tidak! Aku tidak suka pada Dia". Ujar Queena kesal memeluk Rara.


Langit merasa sedih karena Queena tidak menyukainya. Rara selalu bercerita pada Langit bahwa Queena adalah anak yang manis dan baik hati.


"Astaga, kenapa sikap angkuhku dimiliki Queena?". Bisik Eriska mengusap dahinya.


Dito tertawa kecil. "Tenang saja, Kita masih bisa merubahnya". Ujar Dito menggenggam tangan Eriska.


Wajah Eriska jadi sedih melihat tingkah Queena yang seperti dia.


"Langit sini Nak". Panggil Dito. Dito melihat wajah Langit yang sedih diacuhkan Queena.


Langit menghampiri Dito. Dito menarik untuk duduk dipangkuan Dito.


"Ah Tuan tidak seperti itu pada Langit". Ujar Rara tidak enak.


"Sudahlah tidak apa-apa". Jawab Eriska.


"Langit kenapa sedih?". Tanya Dito.


"Tuan, Nona Queena tidak suka denganku. Apa mataku memang jelek ya? Dikampung juga banyak yang mengejek mataku. Kata Mereka Aku terlihat aneh tidak seperti Mereka". Ujar Langit yang sedih.


"Siapa bilang mata Kamu jelek? Mata Kamu sangat indah. Saya saja ingin memiliki mata sepertimu". Ujar Eriska mencoba menghibur Langit.


"Langit, Kamu ini sangat tampan. Jangan minder seperti itu. Orang yang berkata jelek kepadamu Mereka yang iri tidak bisa seperti kamu. Sudah jangan bersedih ya. Mengenai Queena, Queena tidak pernah memiliki teman jadi Dia tidak tahu cara berteman dengan baik. Langit ajarkan Queena ya untuk berteman dengan baik". Ujar Eriska memeluk Langit.


Rara sangat terharu melihat perlakuan Nyonya dan Tuannya kepada Langit. Ia tidak menyangka bahwa Tuan dan Nyonya nya bisa menerima Langit dengan baik. Melihat tatapan Rara, Niall menggenggam tangan Rara.


Rara tersenyum mendengar perkataan Niall.


"Niall, kapan Kamu akan mengurus pernikahan kalian secara legal?". Tanya Eriska.


"Segera Nyonya. Kemungkinan minggu depan Saya akan pulang ke Ireland dan Inggris untuk bertemu orangtua Saya dan menyiapkan segalanya". Ujar Niall.


Mendengar perkataan Niall, Rara cukup terkeju. Niall tidak mengatakan bahwa minggu depan Ia akan pulang ke Inggris. Ada perasaan sedih Ia mendengarnya.


"Baguslah. Lebih cepat memang lebih baik". Ujar Eriska.


"Tentu Nyonya. Saya inginembuat pesta pernikahan yang indah untuk Istri Saya. Saya juga akan membawa orangtua dan saudara Saya untuk menghadiri pernikahan Kami". Ujar Niall.


Aduh bertemu keluarga si Akang. Aku sangat tidak siap. Gerutu Rara dalam hati.


"Yasudah, Saya pamit kembali ke Hotel. Maafkan Saya Nyonya sudah cuti terlalu lama". Ujar Niall.


"Sudahlah Kamu kan memiliki alasan untuk cuti". Ujar Eriska.


"Tuan Nyonya untuk sementara Saya menitip Rara dan Langit disini dulu. Maaf jika merepotkan". Ujar Niall.


"Tenang saja tidak perlu sungkan". Ujar Dito.


"Kalau begitu, Saya pamit Tuan, Nyonya". Niall berdiri begitu juga semua yang disitu berdiri.


"Ra, antar suamimu keluar". Ujar Eriska.

__ADS_1


"Baik Nyonya". Jawab Rara.


Niall dan Rara pun keluar. Niall menggandeng tangan Rara.


"Baby, Aku akan merindukanmu. Sejak satu minggu ini Aku terbiasa melihatmu setiap hari, memakan masakanmu yang enak". Ujar Niall memeluk pinggang Rara.


Rara masih sedikit risih dengan perlakuan Niall. Ia masih belum terbiasa dengan hubungan barunya. Namun Ia berusaha untuk menerimanya.


Mereka berjalan menuju mobil. Niall membukakan pintu mobilnya untuk Rara. "Masuk". Ujar Niall.


"Buat apa? Kan Kamu yang mau pergi". Ujar Rara.


"Sudah masuk dulu. Aku hanya ingin mengobrol sebentar". Ujar Niall.


Rara pun masuk. Ia juga ingin berbicara pada Niall soal kepulangannya ke Inggris.


Dalam mobil sedikit hening.


"Kang, kenapa Kamu tidak bilang ingin pulang ke Inggris?". Tanya Rara.


"Baby, jika Aku tidak pulang bagaimana Aku mengurus semua dokumen dan mengatakan pada Mama Papa? Jangan khawatir Aku tidak akan lama mungkin satu bulan". Ujar Niall.


Mendengar itu, ada perasaan sedih dihati Rara. Entah mengapa, tapi sejak tinggal bersama satu minggu membuat Ia merasa sangat nyaman. Niall melihat Rara sedih Ia memeluk Rara.


"Aku ingin segera tinggal bersamamu. Aku akan mengurus segalanya dengan cepat. Jangan bersedih ya". Niall mengecup kening Rara.


Rara menatap mata Niall. Begitu banyak cinta yang Ia lihat. Tanpa Ia sadar, Rara mengecup bibir Niall. Niall cukup terkejut langsung membalas ciuman Rara. Niall mencium Rara hingga berpindah ke leher Rara. Rara yang baru mendapatkan perlakuan itu merasakan perasaan yang aneh. Rara menghentikan aksi Niall.


"Sudah kang. Aku merasakan hal yang aneh". Ujar Rara dengan polos.


Niall yang faham hanya tersenyum. "Baiklah. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan pernah mematikan ponselmu. Oh ya. Karena Aku akan pulang ke Inggris, boleh ya seminggu ini Kamu tinggal bersamaku. Kamu bisa datang pagi dan kembali malam hari. Aku mohon Ra". Niall memohon.


"Tapi kalau Queena butuh Aku bagaimana?". Tanya Rara.


"Ra Aku mohon". Niall memohon.


"Aku akan bicara dulu pada Nyonya". Ujar Rara.


Niall tersenyum. "Baiklah. Yasudah Aku pamit ya". Niall kembali mencium bibir mungil Rara. Niall mencium seluruh wajah Rara.


"Sudah ih, Kamu kira wajahku permen". Ujar Rara.


"Hahahahahahaha lebih manis dari permen. Aku jadi ingin mencoba yang lain". Goda Niall yang memandang tubuh Rara.


Rara yang melihat menutup tubuhnya dengan tangannya.


"Sudah ah pikiran Kamu itu ih ngeres". Ujar Rara membuka pintu. Rara meraih tangan kanan Niall lalu mencium tangannya. "Hati-hati dijalan ya". Ujar Rara tersenyum.


"Ra, Kamu ini sungguh menggodaku. Cepatlah siap". Rengek Niall.


Rara hanya tersenyum keluar dari mobil. Niall membuka kaca mobil. "I'll miss you Baby". Ujar Niall.


"I'll miss you too". Rara melambaikan tangannya.


Niall pun pergi dari kediaman Eriska dengan perasaan yang campur aduk.

__ADS_1


__ADS_2