
Hari berganti begitu cepat. Setelah dokumen Stefanie lengkap, akhirnya Stefanie bisa bekerja di hotel Eriska sebagai Senior chef. Bukan hanya Stefanie yang memulai bekerja, Dito pun mulai membantu Tita mengelola hotel Eriska karena Dito tidak ingin Eriska bekerja saat hamil.
"Selamat Pagi semua, hari ini kita mendapatkan kawan baru. Senior chef baru berasal dari Inggris. Stefanie, perkenalan dirimu". Ujar Dito kepada Stefanie.
"Selamat pagi. Perkenalkan nama saya Stefanie Edwar Saydox saya berasal dari Inggris. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik". Ujar Stefanie tersenyum kepada semua staff yang ada didalam kitchen dan para waiter waitress.
Mereka pun bubar setelah brifieng dan perkenalan diri.
" Semoga Kamu nyaman bekerja disini". Ujar Dito.
"Terimakasih Dito ah Tuan Dito". Ujar Stefanie tersenyum
"Ah tak perlu formal". jawab Dito saat Stefanie memanggil nya Tuan.
"Tidak bisa, didalam hotel Kamu adalah bos jadi Aku harus memanggilmu Tuan". Ujar Stefanie.
"Yasudah terserah Kamu. Baiklah Aku akan kembali ke ruanganku. Kamu bekerjalah dengan baik". Ujar Dito
"Siap Tuan". Jawab Stefanie Semangat.
Dito pun pergi menuju ruangan CEO.
Didalam Ruangan, Tita datang menghampiri Dito
"Kak, ini berkas yang harus di Tanda tangani". Tita memberikan setumpuk berkas.
"Ta, gak salah ini? Bisa keriting tanganku Tanda tangan sebanyak ini". Ujar Dito protes.
"Ini berkas dari semua hotel milik kak Eriska". Ujar Tita. "Tahu rasa kau Kak Kamu fikir pekerjaan CEO enak". Tita tertawa.
"Bocah nakal. Sudah sana kembali ke ruanganmu". Ujar Dito frustasi melihat setumpuk berkas.
Tita pun keluar dari ruangan Dito.
"Astaga Eriska, Kamu sangat kuat ya bekerja seperti ini. Aku fikir Kamu hanya ongkang kaki saja". Ujar Dito yang masih frustasi melihat setumpuk berkas. "Saat pulang Aku akan mencium tangannya yang kuat itu".
•••••••
Dirumah, Eriska sangat bosan. Ia bingung harus berbuat apa. Akhirnya dia menelepon Jessica karena hanya Jessica yang pengangguran.
"Hallo Jess". Sapa Eriska.
"Kenapa Ka ?". Tanya Jessica.
"Datang lah kerumah, Aku bosan sendirian". Ujar Eriska memohon.
"Mobil sedang dibengkel, Malas naik taxi". Ujar Jessica.
"Ah bilang saja ingin dijemput James". jawab Eriska.
"Hahahahahaha kamu memang sahabat terbaik ku". Ujar Jessica gembira.
"Ok akan Aku suruh James untuk menjemputmu".
"Ok Aku akan bersiap". Ujar Jessica kegirangan.
__ADS_1
Eriska pun menutup telepon nya. Eriska berjalan menghampiri James.
"James".
"Iya Nyonya". jawab James
"Tolong jemput Jessica dirumah nya ya. Aku sangat bosan sendiri dirumah". Ujar Eriska.
"Oh baik Nyonya". James mengambil kunci mobil lalu pergi.
James sudah sering mengantar jemput Jessica jadi dia sudah tahu rumah Jessica dimana.
"Sepertinya hubungan James dan Jessica sudah semakin dekat". Ujar Eriska tersenyum.
Dirumah nya, Jessica tengah bersiap. Dengan rambut diikat menggunakan dress selutut, Jessica terlihat sangat manis.
"James, jika Kamu tidak mencintaiku dengan penampilanku seperti ini, Kamu bukan pria normal". Ujar Jessica yang tengah bercermin lalu tersenyum.
Setelah bersiap, Jessica menunggu James dihalaman depan.
"Kemana sih Dia? Sudah satu jam masih belum terlihat". Gerutu Jessica
Tak lama datang sebuah mobil sport berwarna navy milik Eriska.
"Ah itu Dia". Jessica berdiri dengan wajah yang ceria lalu berjalan mendekati mobil James.
James keluar. Seperti biasa, James mengenakan setelah jas.
OMG Jessica terlihat sangat imut. James menatap Jessica yang berjalan menghampiri nya.
"Hi Jessy, maaf sekali Kamu pasti menunggu lama. Dijalan sangat macet". Ujar James yang masih terpesona melihat Jessica.
"Ah tidak apa-apa namanya juga Jakarta jika tidak macet sangatlah aneh". Ujar Jessica tertawa kecil.
"Yasudah, ayo kita jalan Nyonya sudah menunggumu". James membukakan pintu untuk Jessica.
"Terimakasih James". Jessica tersenyum pada James.
Kenapa Dia sangat imut gitu sih seperti kelinci kecil. Ujar James dalam hati.
"James, ayo". Jessica membuyarkan lamunan James.
James pun berjalan menuju mobil dan masuk dalam mobil.
James mengenakan seatbelt. James melihat Jessica belum mengenakan seatbely. James berinisiatif untuk memasangkannya. James mendekat pada Jessica.
Apa yang ingin James lakukan? Apa Dia ingin menciumku?. Jessica menutup mata merasa gugup.
Click! Seatbelt terpasang. Jessica membuka matanya.
Ah ternyata memasangkan seatbelt. Jessica merasa malu membuang wajahnya tersenyum malu.
James melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"James, kapan hari liburmu?". Tanya Jessica.
__ADS_1
"Kenapa memang?". Tanya James.
"Kita jalan-jalan yuk. Ya Kamu kan belum tahu kota ini, jadi kita bisa mengelilingi kota ini". Ujar Jessica.
Apa dia mengajakku date?. Tanya James dalam hati.
"Jangan berfikir yang aneh, kita kan teman wajar kan jalan-jalan? Jika Kamu tidak nyaman jalan berdua denganku, kita bisa pergi dengan Stefanie juga". Ujar Jessica.
Kenapa juga Aku bawa-bawa nama Stefanie? Bisa gawat jika Stefanie ikut. Gerutu Jessica dalam hati.
"Nanti Aku beri kabar padamu OK. Aku juga belum tahu kapan Aku libur. Sejak kemari, Aku selalu bekerja setiap hari bersama Nyonya". Ujar James yang fokus mengemudi.
"Oh OK". Jawab Jessica.
Apa Dia menolak tawaranku?. Jessica sedikit kecewa.
Jessica pun hanya diam setelah mendapat penolakan dari James. Mungkin itu yang ada difikirannya. Tapi kenyataan James pun ingin pergi bersama Jessica namun Ia harus meminta izin dulu kepada Tuan nya.
Kenapa Jessica menjadi diam?. Tanya James yang sesekali melirik Jessica.
"Jessy". James memanggil Jessica dengan Nada yang begitu lembut.
" iya". jawab Jessica.
"Maaf jika Aku terlalu lancang, Aku melihatmu selalu memiliki waktu senggang. Apa Kamu tidak bekerja? ah atau Kamu memiliki bisnis sendiri?". tanya James.
"Ah Aku tidak melakukan apapun. Tidak bekerja dan tidak memiliki bisnis". ujar Jessica.
James menatap Jessica dengan wajah yang bingung.
"kenapa? aneh ya?". jawab Jessica.
"Ah tidak, bukan begitu". jawab James tidak enak.
"Pasti awalnya Kamu berfikir Aku sama seperti Eriska, Stefanie dan Tita kan? Gila bekerja". ujar Jessica.
James hanya mengangguk.
"Entahlah, Aku hanya melihat kehidupan mereka sangat membosankan". ujar Jessica.
"Apa study yang Kamu ambil saat kuliah?". tanya James.
"Bisnis management di Harvard University". jawab Jessica.
"Apa ? Harvard?". ujar James kaget
"Iya, kenapa? kamu tidak percaya ya?". ujar Jessica tertawa.
"Banyak sih yang tidak menyangka Aku salah satu student lulusan terbaik Harvard. mereka fikir Aku hanyalah gadis bodoh yang sulit mendapatkan pekerjaan". ujar Jessica.
"Aku tidak bekerja karena Papaku masih mampu membiayai kehidupanku. Papa juga tidak memaksaku untuk bekerja. Aku hanya malas saja menghadapi kehidupan dikantor". ujar Jessica.
"Mungkin Kamu fikir Aku anak manja kan? memang kenyataannya seperti itu. Papa adalah kapten di kapal pesiar. papa selalu meninggalkan kita. Aku hanya anak tunggal. jadi Mama melarangku juga untuk bekerja karena Mama tidak mau sendiri dirumah". ujar Jessica.
"Jujur terkadang Aku ingin bekerja juga. ingin Papa tidak bekerja lagi dan selalu meninggalkan kita. Tapi Papa bilang, Papa masih muda. Masih ingin membahagiakan Aku dan Mama. setelah Aku menikah Papa bilang Ia akan berhenti bekerja dan akan hidup berdua bersama Mama". ujar Jessica.
__ADS_1
Jessica menceritakan tentang dirinya kepada James. James pun sangat tertarik mendengarnya. James tak menyangka bahwa Jessica adalah wanita yang cerdas. bahkan Dia bisa beberapa bahasa. Hanya karena terlalu manja Dia tidak bekerja seperti kawannya yang lain.