
Hari-hari dilewati oleh Eriska cukup berat. Kehamilan kali ini benar-benar luar biasa cukup menyiksa untuknya. Mual yang double melebihi saat hamil Queena. Hilang nafsu makan juga susah tidur. Dua bulan kehamilannya, Ia mengalami tiga Kali di opname karena terlalu lemas.
"Sayang, Kamu baik-baik saja kan?". Tanya Dito yang setiap pagi menemani Isterinya saat morning sick.
"Ya seperti hari-hari sebelumnya". Jawab Eriska lemas.
"Sayang, makan ya. Sejak kemarin siang Kamu makan tidak terlalu banyak. Kasihan padamu juga anak Kita". Ujar Dito membujuk Eriska untuk makan.
"Sayang Aku merasa sangat mual bagaimana Aku bisa makan?". Ujar Eriska begitu lemas.
Dito menggendong Eriska menuju tempat tidur lalu membaringkannya. Dito Sangat merasa kasihan pada Eriska. Sejak kehamilan ini, Eriska benar-benar seperti disiksa.
Begitu besar pengorbananmu Sayang untuk memelihara anak Kita. Ujar Dito dalam hati mengelus rambut Eriska.
"Sayang usaplah perutku. Ini cukup sakit". Ujar Eriska.
"Baiklah Sayang". Dito mengelus perut Eriska.
"Ini sangat nyaman Sayang. Terimakasih". Ujar Eriska tersenyum pada Dito.
Dito meneteskan air mata saat melihat senyuman tulus dari Eriska.
"Loh kenapa menangis?". Tanya Eriska.
Dito memeluk Eriska. "Sayang, terimakasih atas perjuanganmu untuk memelihara anak Kita".
Eriska tersenyum. "Pria bodoh. Kenapa harus berterimakasih? Ini sudah kewajibanku kan? Sayang, jangan bersedih lagi. Jika Kamu bersedih lalu siapa yang memberiku semangat?". Eriska menenangkan Dito.
Dito melepaskan pelukannya. Ia mengusap pipi Eriska lalu mengecup lembut kening Eriska. "Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu walau hanya satu detik". Ujar Dito pada Eriska.
"Terimakasih Sayang". Jawab Eriska tersenyum.
"Aku mohon Kamu makan ya. Kamu mau apa? Biar Aku buatkan". Dito terus membujuk Eriska untuk makan.
"Sayang Aku sangat mual". Rengek Eriska.
"Kalau Kamu tidak makan, nanti dirawat lagi mau?". Ujar Dito.
"Tidak mau! Sebulan ini sudah tiga kali Aku dirawat. Yasudah ambilkan Aku roti isi juga susu". Ujar Eriska.
"Nah begitu dong baru itu Isteriku Sayang. Sebentar, Aku telepon James untuk mengantarkannya kemari". Dito mengambil ponselnya lalu menelepon James.
"Halo James, belikan roti semua rasa. Kamu beli di toko roti terdekat sini saja. Aku beri waktu lima belas menit. Eriska sedang mau makan jangan buat Dia berubah fikiran karena terlalu lama. Setelah itu buatkan juga susu untuknya". Perintah Dito.
"Baik Tuan". Jawab James.
Dito pun mematikan panggilan teleponnya.
"Ya ampun Tuan, diberi waktu hanya lima belas menit. Taun Kira Aku Flash". Gerutu James lalu Ia pergi dengan segera.
"Tunggu sekitar dua puluh menit ya, James sedang membelinya". Ujar Dito.
"Loh semalam bukannya Kamu menyuruh James beli ya? Apa sudah habis roti itu?". Tanya Eriska.
"Sudah tidak fresh. Jangan Kamu makan. Kamu harus makan yang masih baru keluar dari oven". Ujar Dito.
__ADS_1
"Berapa banyak Kamu membelinya?". Tanya Eriska.
"Semua rasa Aku suruh James membelinya. Aku tidak tahu Kamu mau makan rasa apa jadi Aku suruh membeli semua rasa". Jawab Dito.
"Astaga. Kamu bisa kan tanya Aku dulu". Ujar Eriska.
"Maaf Sayang terlalu excited". Ujar Dito.
"Yasudah sisanya berikan kepada orang rumah jangan dibuang. Mubazir". Ujar Eriska.
"Baik sayangku". Dito mengecup kening Eriska.
Setelah dua puluh menit, James mengetuk pintu kamar Dito.
"Itu pasti James. Tunggu ya". Dito bergegas pergi membuka pintu.
"Tuan ini pesanannya". James memberikan kotak cukup besar juga segelas susu.
Dito menerima.
"Tunggu sebentar". Ujar Dito lalu pergi menghampiri Eriska.
"Mau rasa apa?". Tanya Dito.
Eriska membuka kotak roti itu lalu memilih tiga roti.
"Hanya tiga?". Tanya Dito
"Iya memang mau berapa? Ini saja mungkin tidak habis". Ujar Eriska.
"Kamu bisa makan ini. Jika kebanyakan berikan pada yang lain". Ujar Dito.
"Baik Tuan. Saya permisi". James pergi setelah menerima kotak roti itu.
Dito kembali menghampiri Eriska. "Makanlah Sayang". Dito menyuapi roti untuk Eriska.
"Sudah ah Sayang". Eriska menolak setelah makan satu buah roti.
"Ini baru satu Sayang. Mungkin hanya sampai tenggorokanmu belum sampai perutmu". Ujar Dito.
"Aku merasa mual". Ujar Eriska yang mual-mual kembali.
"Are you okay? Apa roti ini tidak enak?". Tanya Dito Panik.
"Bukan Sayang, memang Aku tidak bisa makan karena mual". Ujar Eriska dengan nada yang sangat lemas.
"Minum susumu dulu. Setelah itu minum vitamin dan pereda mualnya". Dito memberikan segelas susu pada Eriska.
Setelah minum susunya juga minum obat, Eriska berbaring kembali.
"Usap lagi perutku". Ujar Eriska.
"Iya Sayang". Dito mengusap perut Eriska.
"Anak kembar Papa, Papa mohon jangan buat Mama menderita ya. Jadilah anak baik yang membuat Mama mau makan dan tidak mual ya. Papa Sayang kalian". Dito mengecup perut Eriska.
__ADS_1
Eriska hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Cantik sekali Isteriku saat tertawa seperti itu". Ujar Dito mencubit pipi Eriska.
"Gombal. Lihat wajahku. Seperti mayat hidup". Ujar Eriska cemberut.
"Siapa yang bilang? Kamu masih tetap cantik". Dito mengusap pipi Eriska.
"Sayang, Aku bosan disini". Ujar Eriska.
"Bosan? Kamu mau pindah kamar?". Tanya Dito.
"Ih bukan, Aku bosan suasana disini. Kita pergi dari sini ya". Ujar Eriska.
"Pergi kemana? Kamu sedang Hamil begini". Ujar Dito.
"Ayolah Dito Aku bosan di Indonesia terus. Aku ingin menikmati hidupku. Aku capek dikejar-kejar terus saat jalan-jalan keluar". Rengek Eriska.
"Mau kemana? Paris? Apa London?". Tanya Dito.
"No! Aku mau mau ke Brussels". Jawab Eriska.
"Belgium?". Tanya Dito.
"Iya". Jawab Eriska.
"Kenapa tiba-tiba mau kesana? Biasanya mau ke Paris atau London". Ujar Dito.
"Kalau disana sih sama saja seperti disini. Banyak yang mengejar-ngejar Dior. Aku ingin ke tempat dimana tidak ada yang tahu siapa Kita. Hidup normal seperti orang lain. Satu kali Aku pernah ke Brussels dan Aku sangat menyukai nya. Please ya Sayang dua tahun saja kita disana". Rengek Eriska.
"Dua tahun? Kamu tidak salah? Kamu mau melahirkan disana juga?". Tanya Dito.
"Iya. Setelah usia anak kembar kita dua tahun jika Allah berkehendak, baru Kita pulang". Ujar Eriska.
"Kenapa begitu lama? Kamu yakin?". Tanya Dito.
"Iya Sayang. Please". Rengek Eriska.
"Nanti Aku fikirkan lagi. Aku masih khawatir dengan kondisimu. Bagaimana bisa Kamu pergi jauh dbgn kadaan seperti ini". Ujar Dito khawatir.
"Dito menyebalkan!". Eriska marah pada Dito.
"Sayang, Aku hanya khawatir padamu bukan menolak keinginanmu. Baiklah, Kita tanya Dokter dulu ya jika aman, Kita pergi ke Brussels". Ujar Dito.
"Janji?". Tanya Eriska.
"In Shaa Allah sayangku". Jawa Dito.
"You're best hubby Sayang". Eriska memeluk Dito.
Aduh wanita hamil keinginannya aneh-aneh saja. Ujar Dito dalam hati.
**Hi Reader, Jangan lupa untuk VOTE ya serta like dan komen untuk mendukung karya Author 💖
Terimakasih juga karena sudah setia membaca Novel ICYA. Semoga selalu terhibur dan Tidak bosan ya...
__ADS_1
Salam Manis dari Mrs. A**