
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Eriska pergi ke hotel untuk melihat keadaan Stefanie.
"Surya sialan! Awas saja menyakiti sahabatku". Gerutu Eriska yang sangat marah pada Surya.
Eriska mengetuk pintu kamar Stefanie berulang-ulang namun masih tidak ada yang membuka pintu.
"Stevie ini Eriska, buka pintunya Aku mohon". Ujar Eriska yang sangat khawatir pada Stefanie.
Tak lama pintu terbuka.
"Stefanie". Eriska sangat khawatir pada Stefanie.
Stefanie terlihat sangat kacau. Wajah yang sedih nata yang sembab badan yang bau alkohol. Eriska memeluk Stefanie. Stefanie hanya menangis dipelukan Eriska. Eriska membawa Stefanie masuk kedalam. Mereka duduk disofa.
"Stefanie, Aku sudah tahu semua nya. Sahabatku, tenanglah jangan bersedih". Eriska memeluk Stefanie mencoba menenangkan nya.
Stefanie menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk Eriska. "Apa kurangku Eriska? Apa Aku ini wanita yang jahat ? Sampai Aku tidak berhak mendapatkan cintanya". Stefanie terus menerus menangis.
"Tenanglah Stefanie, mungkin Surya bukan jodohmu. Kamu bisa menemukan pria yang lebih baik dari nya". Eriska terus mencoba menghibur Stefanie.
"Dia mencintaiku juga. Aku tahu itu! Dia hanya berbohong padaku". Stefanie masih tidak terima dengan penolakan Surya.
"Aku akan membantumu berbicara dengan Surya. Sudahlah jangan menangis seperti ini. Aku sangat sedih melihatmu seperti ini". Ujar Eriska mengusap air mata Stefanie.
"Tidak perlu Eriska. Aku tidak ingin Dia menerimaku karena terpaksa. Aku akan mencoba melupakannya". Ujar Stefanie yang mulai sedikit tenang.
"Tenanglah Stefanie. Kamu ini cantik, Kamu pintar, Kamu baik. Akan ada banyak Pria yang mengejarmu". Eriska mencoba menenangkan lagi.
Stefanie hanya tersenyum terpaksa dengan apa yang dikatakan Eriska.
Tapi Aku hanya mencintai Surya. Hanya Surya yang layak menjadi pendampingku. Ujar Stefanie dalam hati.
"Yasudah Aku akan mandi dan bersiap untuk bekerja". Ujar Stefanie.
"Kamu bisa cuti dulu. Tenangkan perasaanmu". Ujar Eriska.
"Tidak Eriska, Aku harus professional dalam bekerja. Yasudah Aku mandi dulu dan bersiap". Stefanie beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu memang wanita luar biasa. Stefanie, Kamu berhak bahagia".
__ADS_1
Didalam kamar mandi, Stefanie terus menangis. "Surya, Kamu sangat jahat. Apa kurangku sampai Aku tidak berhak memiliki cintamu".
Stefanie masih merasakan sakit yang teramat.
Selesai mandi, Stefanie menggunakan uniform Chef nya. Ia sudah bersiap. Hari ini terlihat sangat berbeda dari diri Stefanie. Yang biasanya ceria penuh senyuman sekarang berubah menjadi lebih diam.
"Stefanie". Eriska menggenggam tangan Stefanie.
"I'm OK". Stefanie berusaha tersenyum pada Eriska.
Mereka berdua jalan keluar kamar berjalan menuju restaurant. Dalam perjalanan, terlihat Surya juga pergi menuju restaurant untuk sarapan. Surya melihat diri Stefanie yang berubah. Tidak ada lagi wajah cerianya. Tidak ada lagi sapaan manisnya kepada Surya. Tatapan Stefanie terlihat sangat kosong seperti tidak memiliki semangat lagi. Stefanie hanya berlalu melewati Surya tanpa melihat Surya sedikit pun. Eriska yang melihat Surya menatap penuh kesal namun Ia tidak bisa berbicara sekarang didepan Stefanie.
Sampailah mereka di kitchen.
"Eriska, Kamu bisa pulang. Ini hari minggu. Kamu harus bersama keluargamu. Tenanglah Aku baik-baik saja". Stefanie mencoba tegar dihadapan sahabatnya itu.
"Are you sure?" Tanya Eriska.
"Iya". Jawab Stefanie tersenyum pada Eriska. "Pulang lah, pasti Queena mencarimu".
Eriska memeluk Stefanie. "Bahagialah dengan keluargamu. Jagalah Mereka karena memiliki keluarga utuh adalah kesempurnaan didunia ini". Ujar Stefanie yang menahan tangisannya.
Stefanie hanya tersenyum.
"Baiklah Aku pulang dulu. Jika Kamu membutuhkanku, Kamu harus menghubungiku. Aku tidak mau Kamu sendirian saat terpuruk". Ujar Eriska.
"Pasti". Jawab Stefanie
"Take care". Eriska memeluk Stefanie.
Setelah itu Eriska pergi untuk pulang sedangkan Stefanie masuk kedalam kitchen.
Dalam perjalanan keluar, Eriska melihat Surya yang sedang sarapan. Surya yang melihat Eriska langsung berdiri.
"Nyonya". Sapa Surya pada Eriska.
"Aku ingin sekali membunuhmu sekarang". Ujar Eriska penuh rasa kesal. Ia tidak ingin marah pada Surya lalu Ia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Setelah dari hotel, Eriska sampai dirumah. Dito menghampiri Eriska.
__ADS_1
"Sayang, Kamu sudah pulang". Dito mencium pipi Eriska. "Bagaimana keadaan Stefanie?". Tanya Dito.
"Sangat buruk. Ia benar-benar merasa hancur". Ujar Eriska sedih.
"Lalu kenapa kamu meninggalkan Dia?". Tanya Dito.
"Stefanie pergi untuk bekerja. Aku sudah katakan untuk cuti namun Dia bilang dia tidak bisa membawa masalah pribadi nya dengan pekerjaannya". Ujar Eriska. "Dia sangat sedih. Bahkan Dia berubah. Tidak ada lagi keceriaan diwajahnya".
"Sabarlah beri Dia waktu. Mungkin setelah beberapa saat Dia akan kembali membaik". Ujar Dito. "Stefanie wanita yang kuat".
"Aku berharap seperti itu". Ujar Eriska masih bersedih.
"Yasudah Kamu datang ke kamar Queena, Dia tadi menangis mencarimu". Ujar Dito.
"Anakku menangis? Ah tidak boleh seperti ini". Eriska buru-buru menghampiri Queena.
Di Restaurant, Stefanie benar-benar diam tidak ada sedikitpun kata yang keluar. Ia hanya bekerja tanpa jiwa. Para chef dan pelayan terlihat heran apa yang terjadi pada Stefanie bahkan kemarin masih baik-baik saja.
Niall menghampiri Stefanie "are you OK?". Tanya Niall.
"I'm ok don't worry". Jawab Stefanie.
Stefanie kembali membuat hidsngan yang dipesan oleh customer. Stefanie sangat professional dalam bekerja. Ia tidak pernah membawa masalah pribadinya kedalam pekerjaannya. Meski begitu, Ia hanya wanita biasa yang bisa merasakan sakit. Ia mencoba menutupi kesakitannya.
Jam makan siang sudah selesai. Ini waktunya Stefanie beristirahat. Surya yang tahu jadwalnya mencoba mencari Stefanie diruangannya. Biasanya meski Surya libur bekerja, Stefanie selalu istirahat dan tidur diruangan Surya.
Surya sampai dikantornya, Ia membuka ruangannya namun ruangannya kosong. Ia tidak melihat Stefanie sama sekali. Surya kembali ke dapur. Ia mencari keberadaan Stefanie. Pelayan mengatakan Stefanie sudah keluar sejak 15 menit. Surya mencari sekeliling hotel. Sampai Ia mencari ke tangga darurat diujung hotel. Surya membuka pintu tangga darurat. Surya melihat Stefanie yang menangis sendiri dengan botol minuman alkohol ditangannya. Surya merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Stefanie namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nona, maafkan saya". Surya kembali menutup pintu lalu pergi meninggalkan Stefanie.
didalam, Stefanie terus menangis dengan meminum minuman alkohol. Ia masih tidak bisa nerima dengan apa yang terjadi pada dirinya. "kenapa Aku sangat bodoh membuat cinta ini semakin besar terhadap Surya. Aku sudah tahu Dia tidak akan Mencintaiku. Tapi kenapa Aku bodoh terus mengejar nya dan membuat cinta ini semakin dalam? Aku memang bodoh! Aku memang bodoh!". Stefanie mengutuk dirinya sendiri.
Stefanie benar-benar hancur. Ia telah memilih pasangan hidup nya namun Ia ditolak. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. waktu Dia sudah tak banyak lagi.
***Assalamualaikum Reader, Terimakasih karena telah setia membaca novel "Istri Cantikku Yang Angkuh". semoga semakin terhibur dengan season baru dengan cerita baru.
jangan lupa untuk memberi Tip Dan juga VOTE jika kalian suka dengan Novel ICYA ini.
jangan lupa juga kritik dan Saran untuk Author agar menulis lebih baik lagi. jangan lupa juga untuk klik suka dan komen ya.
__ADS_1
salam manis dari Mrs. A***