
Eriska sampai dirumah. Ia buru-buru menghampiri Dito dikamarnya. Eriska membuka pintu kamarnya, terlihat Dito yang sedang berbaring.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?". Tanya Eriska merasa khawatir. Eriska mengecek kembali sihi tubuh Dito. Terlihat 38 derajat. "Ini masih panas sekali. Kita kerumah sakit ya". Ujar Eriska merasa sangat khawatir.
"Tidak perlu Sayang. Minum paracetamol dan dikompres juga akan membaik". Ujar Dito enggan kerumah sakit.
"Telepon dokter keluarga saja ya kalau Kamu tidak mau ke Rumah Sakit". Ujar Eriska lalu mengambil ponselnya.
"Halo Dok. Bisa datang segera? Suami Saya demam cukup tinggi". Ujar Eriska.
"Baik Nyonya, segera Saya datang". Ujar Dokter.
"Terimakasih". Ujar Eriska lalu memutuskan panggilannya.
Eriska mengambil kompres tempel yang biasa digunakan Queena saat demam lalu menempelkan pada Dito. Eriska merasa sedih melihat keadaan Dito yang berbaring lemah begini.
Tak lama Dokter datang lalu mengetuk pintu kamar Eriska. Eriska membuka pintunya.
"Selamat Siang Nyonya". Sapa Dokter.
"Siang Dok. Mari masuk". Ujar Eriska mempersilahkan masuk.
"Selamat siang Tuan". Sapa Dokter
"Siang Dok". Jawab Dito.
"Saya periksa dulu ya". Dokter memeriksa Dito.
Eriska merasa khawatir. Ia Takut terjadi apa-apa pada Dito.
"Dok bagaimana keadaan suami Saya?". Tanya Eriska.
"Tuan hanya kelelahan Nyonya. Sebaiknya istirahat dirumah dulu beberapa hari. Ini saya tulis resep obat dan vitamin nanti tolong ditebus ya Nyonya". Dokter menulis resep dan memberikan kepada Eriska.
"Kalau begitu, Saya permisi ya Nyonya". Dokrr berdiri. "Tuan semoga lekas sebuh. Harus istirahat beberapa hari". Ujar Dokter.
"Terimakasih Dok". Ujar Dito.
Eriska mengantar Dokter keluar sekalian menyuruh supir untuk membeli obat untuk Dito. Setelah itu Eriska kembali ke kamarnya. Eriska duduk dibibir tempat tidur mengusap rambut Dito.
"Sayang, lihat apa yang dokter katakan. Kamu terlalu lelah. Jangan terlalu diforsir. Aku sangat sedih melihatmu seperti ini". Ujar Eriska yang mengusap tangan Dito.
"Sudahlah Sayang Aku hanya demam". Ujar Dito dengan keadaan lemas.
"Tetap saja Aku sangat khawatir".
"Ganti bajumu sana, make up juga hapus Aku sangat pusing melihat penampilanmu itu". Ujar Dito tertawa lemas.
"Masih saja bisa bercanda". Eriska memukul tangan Dito.
"Cepat ganti penampilanmu". Ujar Dito.
"Baik... Baik". Eriska pergi untuk berganti penampilan.
Dito dan Queena tidak menyukai penampilan Eriska saat bekerja. Dengan make up yang tebal, menggunakan blazer dengan wajah disetting angkuh. Mereka menyukai penampilan Eriska yang manis dan santai.
__ADS_1
Tak lama Eriska kembali dengan menggunakan celana pendek selutut berwarna hitam dan T-shirt polos berwarna putih tanpa menggunakan make up.
"Nah begini kan baru Istriku. Kemarilah Sayang". Dito memanggil Eriska.
Eriska berjalan menghampiri Dito. Ia duduk disamping Dito. Dito menyandarkan kepalanya dipangkuan Eriska.
"Tubuhmu masih panas Sayang". Ujar Eriska menyentuh wajah Dito.
"Nanti juga turun Kamu jangm terlalu khawatir". Ujar Dito memejamkan matanya.
Eriska mengusap rambut Dito. Dito tertidur dipangkuan Eriska.
"Kasihan Suamiku". Eriska terus mengusap kepala Dito.
Tak lama seseorang mengetuk pintu.
"Nyonya ini Bi Inah". Ujar Bi Inah mengetuk pintu.
"Masuk saja Bi". Jawab Eriska.
Bi Inah masuk kedalam. Sudah Pemandangan biasa untuk Bi Inah melihat kemesraan Eriska dan Dito.
"Ini Nyonya titipan obat dari Pak supir". Bi Inah memberikan paper bag berisi obat dan vitamin milik Dito.
"Terimakasih Bi. Oh ya tolong buatkan Sup Ayam ya Bi untuk Dito kasih jahe sedikit". Ujar Eriska menerima paper bag obat milik Dito.
"Baik Nyonya. Bibi permisi dulu". Bi Inah pun keluar dari kamar Eriska.
"Panas nya belum turun juga. Aku harus kompres lagi". Ujar Eriska mencoba mengambil kompres plester lagi mengganti plester lama dengan yang baru.
---------
Ditempat lainnya, Niall dan Surya telah sampai di London. Mereka berjalan keluar setelah mengambil bagasinya.
Diujung pintu terlihat wanita yang cantik dan anggun sedang berdiri menunggu kedatangan kekasih hatinya. Menggunakan dress pendek Selutut dengan rambut diurai berdiri dengan perasaan yang campur aduk.
"Oh Tuhan, dimana Surya kenapa belum keluar? Apa Imigrasi mempersulit Dia? Jika Mereka mempersulit awas saja". Gerutu Stefanie.
Terlihat Surya berjalan dengan Niall. Wajah Stefanie begitu bahagia. Stefanie melambaikan tangannya pada Surya. Surya yamg melihat Stefanie begitu anggun, membuat jantungnya berdetak kencang.
"Lihat lah Tuan Putri mu menunggu". Ujar Niall pada Surya.
Surya hanya tersenyum bahagia melihat Stefanie.
"Stone man". Stefanie berlari dan memeluk Surya. Surya memeluk kembali Stefanie.
"Kamu sangat cantik". Bisik Surya ditelinga Stefanie.
Stefanie melepas pelukannya dan tersipu malu.
"Hi Niall, apa kabar? Oh ya selamat atas pernikahanmu dengan Rara". Ujar Stefanie memberi selamat.
"Terimakasih Stefanie. Selamat berbahagia juga atas pertemuan kalian berdua. Nikmatilah. Aku duluan pamit ya". Ujar Niall.
"Hey Niall, saat Kamu free hubungi Kami untuk berjumpa ya". Ujar Stefanie.
__ADS_1
"Tentu. Aku duluan ya". Niall pamit terlebih dahulu.
"Ayo Kita juga pergi dari sini sebelum ada yang mengenaliku". Ujar Stefanie menarik tangan Surya menuju mobil.
"Pak Supir, Kita langsung kerumah ya". Ujar Stefanie pada Supirnya.
"Hey jangan dulu. Lebih baik Kita kerumah Tuan Dito dulu. Aku tidak mau berpenampilan seperti ini dihadapan keluargamu. Apa yang akan Mereka fikirkan". ujar Surya menolak.
Stefanie melihat penampilan Surya. "Benar juga. yasudah Pak Supir Kita ke jalan xxxx". ujar Stefanie.
"Baik Nona". Jawab Supir.
Sepanjang perjalanan Stefanie terus memeluk tangan Surya. Surya hanya bisa mengusap pipi Stefanie.
"Aku merasa seperti mimpi bertemu denganmu". Ujar Stefanie.
"Oh ya?". Surya mencubit pipi Stefanie.
"Awwww sakit". Stefanie meringis.
"Bukan mimpi kan kalau Kamu merasa sakit?". Ujar Surya.
"Ya jangan seperti itu juga". Gerutu Stefanie.
Surya tersenyum. "Kamu semakin cantik saja selama tinggal disini. Apa mungkin karena tidak dekat-dekat dengan api jadi kulit mu semakin bersih". Ujar Surya.
"Kamu seperti bahagia ya Aku tidak memasak lagi? Aku sangat rindu memasak daripada harus bekerja dibalik layar Laptop seperti Eriska. Ih Aku merasa jadi orang lain". Gerutu Stefanie kesal.
Surya hanya tertawa kecil melihat tingkah Stefanie.
Tiga puluh menit berlalu, Mereka sampai dirumah milik Dito untuk ditempati Surya selama di London. Mereka keluar dan berjalan menuju rumah Dito. Rumah megah yang terdapat ditengah kota. Tak jauh berbeda dengan rumahnya di Paris. Para Pelayan sudah mendapat perintah untuk menyambut Surya. Stefanie dan Surya dipersilahkan masuk.
"Selamat datang Tuan Surya. Perkenalkan Saya Michael Kepala Pelayan disini". Sapa Michael Pria yang tidak terlalu tua namun masih terlihat gagah adalah Kepala Pelayan dirumah Dito di London.
"Salam kenal Michael". Surya menjabat tangan Michael. "Michael, Saya sedang buru-buru tolong tunjukkan kamar Saya". ujar Surya.
"Tentu Tuan, Mari ikuti Saya". Michael berjalan menunjukkan kamar Surya.
"Disini kamar Tuan Surya. Jika butuh sesuatu Tuan bisa panggil menggunakan telepon didalam kamar". Ujar Michael.
"Baiklah terimakasih". jawab Surya.
"Kalau begitu Saya permisi". Michael undur diri.
Surya dan Stefanie masuk kedalam kamar yang ditunjukkan Michael.
"Wow besar sekali kamarnya. Aku bingung seberapa kaya sebenarnya Tuan Dito. Memiliki Rumah meeah seperti ini disini pasti sangat sulit". Ujar Surya.
"Tenang saja, rumahku lebih besar dari ini". Ujar Stefanie duduk diatas tempat tidur.
"Baiklah Nona Saydox. Pasti rumah Nona seperti istana Cambridge". Ujar Surya.
"Sudahlah, cepat Kamu bersiap". Ujar Stefanie.
Suryapun pergi menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap.
__ADS_1