
Mentari menyinari pagi. Burung-burung berkicauan menyemangati hari baru. Eriska telah terbangun sejak subuh. Ia selalu memeriksa keadaan Dito.
"Alhamdulillah sudah turun panasnya". Ucap Eriska merasa lega.
Dito membuka matanya. Ia tersenyum melihat Eriska dihadapannya. "Selamat pagi Sayangku. Bagaimana keadaanmu?". Tanya Eriska tersenyum pada Dito.
"Alhamdulillah lebih baik". Ujar Dito tersenyum lalu mencoba untuk duduk. Eriska membantu Dito.
"Sayang bantu Aku turun ya, Aku mau mandi". Ujar Dito.
"Jangan dulu Sayang Kamu masih sedikit demam nantinmalah meriang". Ujar Eriska.
"Pakai air hangat saja". Balas Dito.
"Yasudah Aku siapkan dulu". Eriska beranjak mencium kening Dito lalu pergi menuju kamar mandi.
Setelah sepuluh menit, Eriska kembali. "Ayo Sayang airnya sudah siap". Eriska membantu Suaminya berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang Aku hanya demam. Aku bisa jalan sendiri". Ujar Dito yang dibantu Eriska urnuk berjalan.
"Sudahlah Kamu diam saja". Ujar Eriska.
Mereka sampai dikamar mandi Eriska ikut kedalam.
"Loh Kamu mau mandi juga?". Tanya Dito.
"Aku mau bantu Kamu mandi". Ujar Eriska.
Dito hanya tersenyum. "Aku bisa sendiri". Jawab Dito.
"Sudahlah Kamu diam. Aku khawatir Kamu didalam sendiri". Ujar Eriska membuka baju tidur Dito.
"Enak juga saat sakit dimaja seperti ini". Ujar Dito tersenyum pada Eriska.
Eriska hanya tersenyum. "Segeralah sembuh Aku khawatir melihatmu sakit seperti ini". Ujar Eriska.
Eriska membantu Dito untuk mandi. Meski terkesan berlebihan, Eriska terlalu khawatir saat Dito sakit karena Dito orang yang jarang sakit. Pikirannya Eriska takut Dito sakit parah. Setelah mandi, Dito menggunakan jubah handuk yang Eriska berikan.
"Sayang sudahlah jangan berlebihan seperti ini. Aku hanya demam". Ujar Dito.
"Aku bilang diam saja. Kamu ini banyak bicara lagi sakit juga". Ujar Eriska membantu Dito berjalan menuju tempat tidur.
Setelah Dito duduk diatas tempat tidur, Eriska menelepon James.
"Halo James. Coba Kamu lihat Bi Inah sudah selesai membuat buburnya. Jika sudah Kamu bawa kemari". Ujar Eriska.
"Baik Nyonya". Jawab James.
Eriskapun menutup telepon nya.
"Bubur lagi?". Tanya Dito.
"Iya". Jawab Eriska.
"Huh lebih baik Aku makan cereal nya Queena deh daripada bubur". Gerutu Dito.
"Sudah ya jangan banyak bicara". Eriska menarik hidung Dito.
Tak lama seseorang mengetuk pintu.
"Masuk". Jawab Eriska.
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan dan Nyonya". Sapa James.
"Pagi James". Ujar Eriska.
"Ini Nyonya bubur yang Nyonya minta". James memberikan nampan dengan dua mangkuk bubur dan soup ayam.
"Terimakasih James". Eriska menerima nampan itu.
"Tuan bagaimana keadaan Tuan?". Tanya James.
"Alhamdulillah sudah membaik". Ujar Dito tersenyum pada James.
"Syukurlah. Semoga lekas sembuh Tuan. Kalau begitu Saya permisi keluar". James pamit untuk keluar.
"Terimakasih James". Ujar Eriska.
James pun pergi.
"Sayang, Aku ingin duduk dibalkon". Ujar Dito.
"Yasudah ayo". Eriska membantu Dito.
"Aku bisa sendiri Sayang". Ujar Dito.
Dito berjalan disusul Eriska yang membawa nampan makanan. Mereka duduk dibalkon menikmati suasana pagi hari. Eriska menyuapi Dito.
"Makannya yang banyak dong Sayang". Eriska terus menyuapi Dito.
"Kamu jg pelan dong Sayang menyuapinya". Ujar Dito.
"Iya maaf Sayang". Ujar Eriska.
"Jangan bicara seperti itu. Aku ini Istrimu sudah tugasku mengurusmu". Ujar Eriska.
"Tanganmu ini seperti Mama. Sangat lembut dalam mengurusku. Sejak Mama meninggal tidak ada yang mengurusku dengan lembut seperti ini. Tiba-tiba Aku merindukan Mama". Ujar Dito menutup matanya membayangkan sosok Mama yang Ia cintai.
Eriska mencium ujung kepala Dito. "Menangislsh jika Kamu ingin menangis. Terkadang menangis bukan sebuah kelemahan".
Eriska meletakkan mangkok diatas meja lalu memeluk Dito. Dito menangis tanpa suara. Ia hanya merindukan Mamanya. Sekuat apapun Dito, Ia memiliki sisi lemah jg. Eriska hanya mengelus punggung Dito sesekali mencium pipi Dito.
Eriska pun merindukan Mamanya namun ia mencoba untuk tidak terbawa suasana. Ia tidak ingin ikut menangis membuat Dito semakin sedih.
"I love you Eriska". Bisik Dito ditelinga Eriska.
"I not love you Dito". Jawab Eriska.
Dito tersenyum memeluk erat tubuh Eriska.
Tak lama Queena datang.
"Mama Papa". Queena mencari keberadaan Mama Papa nya.
"Dibalkon sayang". Ujar Eriska.
Queena berlari menuju balkon "Papa Mama". Sapa Queena.
"Pagi sayang. Queena sudah mandi?". Tanya Eriska.
"Sudah dong Ma. Queena juga sudah sarapan". Ujar Queena duduk dipangkuan Eriska.
"Oh ya? Sarapan dengan apa?". Tanya Eriska.
__ADS_1
"Cereal. Aku sarapan dengan Kak Langit. Dia suka sekali dengan cerealnya sampai nambah dua mangkuk". Ujar Queena polos.
"Oh ya?? Nanti kita beli laginya yang banyak cereal nya". Ujar Eriska.
"Iya Mama beli banyak rasa. Ayo kita ke mall". Ujar Queena.
"Nanti ya Sayang tunggu Papa sembuh dulu". Ujar Eriska
"Oh iya, Papa are you OK now?". Tanya Queena pada Papanya
"Queena lupa pada Papa ya". Dito pura-pura sedih.
"Tidak Queena tidak lupa pada Papa. Mama tidak mengizinkan Queena bertemu Papa". Ujar Queena dengan wajah sedih nya.
"Sayang Papa. Papa Sudah membaik kok". Dito memeluk Queena.
Mereka bertiga saling berbincang. Banyak cerita yang Queena share kepada orangtuanya. Dito dan Eriska sangat takjub dengan pertumbuhan Queena. Meski baru tiga tahun, Tapi kemampuan bicara nya sangat luar biasa. Mereka bersyukur Queena tumbuh dengan baik meski Ia terlahir premature dan lahir terlalu cepat.
"Papa cepat sembuh ya biar bisa bermain lagi dengan Queena dan Kak Langit". ujar Queena kepada Dito.
"Aamiin. terimakasih Sayang atas doa nya". Dito mencium kening Queena.
"Setelah Papa sembuh kita jalan-jalan ya". ujar Queena
"Tentu sayang". jawab Dito
"Queena mau bermain dulu ya dengan Kak Langit. Bye Mama Papa". Queena turun dari pangkuan Dito.
"Ayo Mama antar keluar". Ujar Eriska.
Queena dan Eriska berjalan menuju pintu lalu membuka pintu kamarnya. Terlihat Langit sedang berdiri didepan pintu.
"Selamat pagi Nyonya". sapa Langit.
"Selamat pagi Langit. Sejak kapan Kamu berdiri disini?". tanya Eriska.
"Sejak Queena masuk kedalam Nyonya". ujar Langit.
"Kenapa tidak masuk?". tanya Eriska.
"tidak perlu Nyonya. Langit disini saja". ujar Langit.
"Yasudah Langit main ya dengan Queena. Jaga baik-baik Queena ya Sayang". Eriska mengelus rambut Langit.
Langit sangat bahagia diberi perhatian oleh Eriska.
"Iya Nyonya. Langit akan menjaga Queena". Ujar Langit.
"ayo Kak Kita kebawah bermain dihalaman". Ujar Queena.
"Ayo". Langit menggandeng tangan Queena berjalan.
"Hati-hati turun tangganya". ujar Eriska.
"Iya Nyonya". Ujar Langit berbalik.
"Lucu sekali Mereka berdua". ujar Eriska tersenyum melihat kedekatan Langit dan Queena.
"Langit memang anak yang baik. Hebat Rara mengajarkan memiliki attitude yang baik". ujar Eriska.
Eriskapun kembali masuk untuk menghampiri Dito yang masih dibalkon.
__ADS_1