
Entah pukul berapa, tiba-tiba ponsel Dito berdering.
"Halo, Audrey. Ada apa malam-malam menelepon?". Tanya Dito.
Diujung telepon suara Audrey terdengar menangis.
"Dior, Liam dirumah sakit sekarang". Ujar Audrey menangis.
"Apa? Apa yang terjadi pada Liam?". Dito merasa terkejut membuatnya terduduk.
"Dia dihajar oleh orang. Aku tidak tahu siapa". Ujar Audrey.
"Tenanglah. Aku akan ke Paris sekarang juga. Kamu tidak perlu khawatir". Ujar Dito menutup telepon nya.
Eriska terbangun saat Dito menerima panggilan telepon.
"Ada apa sayang?". Tanya Eriska.
"Liam dirawat dirumah sakit. Audrey meneleponku. Dia bilang Liam dihajar orang". Ujar Dito khawatir.
"Apa? Siapa yang berbuat seperti itu?". Tanya Eriska terkejut.
"Belum tahu. Aku harus pergi ke Paris sekarang juga". Ujar Dito bergegas.
"Aku ikut". Ujar Eriska.
"Kamu disini saja. Kondisimu masih belum membaik". Ujar Dito.
"Tidak Dito, Aku baik-baik saja. Aku harus menemani Audrey". Ujar Eriska.
"Kami yakin baik-baik saja?". Tanya Dito
Eriska hanya mengangguk
"Yasudah Kamu bersiap. Aku akan membangunkan James dan yang lain". Ujar Dito.
"Baik sayang". Ujar Eriska
Dito pun pergi keluar untuk membangunkan semua orang.
"James John". Dito mengetuk pintu kamar James dan John
"Ada apa Tuan?". Tanya James membuka pintu.
"Cepat hubungi pilot. Katakan kita akan pergi malam ini ke Paris". Ujar Dito.
"Ada apa Tuan?". Tanya James.
"Liam telah dihajar orang yang tak dikenal. Ia sekarang dirawat dirumah sakit". Cepat bangunkan semua orang". Ujar Dito.
Dito pun pergi ke kamar untuk bersiap.
"Sudah siap? Ayo kita berangkat". Ujar Dito menggandeng tangan Eriska.
"James, sudah menghubungi pilot?". Tanya Dito.
"Sudah Tuan. Mereka sudah bersiap". Ujar James.
"Bagus. James Dan 2 pengawal ikut denganku. Sedangkan yang lain pergi dengan mobil menuju paris". Ujar Dito.
"Baik Tuan". Jawab semua.
John mengantar Mereka dahulu sebelum pergi ke Paris.
Disebuah ladang yang luas. Terlihat helicopter yang sudah bersiap untuk terbang.
"Selamat Malam Tuan". Sapa pilot.
Dito hanya mengangguk. Lalu Ia masuk begitu juga dengan Eriska.
__ADS_1
"Jika Kamu merasakan apapun, katakan padaku". Ujar Dito.
Eriska hanya mengangguk.
Merekapun terbang menuju Paris.
"Apa yang terjadi sebenarnya?". Dito bertanya-tanya.
"Apa mungkin orang suruhan Alexa?". Tanya James.
"Tidak mungkin. Liam tidak ada hubungannya dengan Alexa". Ujar Dito.
Dimana Dito yang sedang berfikir, Eriska tertidur dipundak Dito. Kepalanya tidak bisa diam saat ingin terjatuh, Dito menahan nya.
"Cepat sekali dia tertidur". Ujar Dito.
Dito pun membetulkan kepala Eriska.
2 jam berlalu, mereka telah sampai di Paris.
Eriska masih tertidur namun Dito tidak tega membangunkan hingga akhirnya Ia menggendong Eriska menuju mobil.
Mobil telah siap. Dito masuk kedalam mobil.
"Kita langsung ke Rumah Sakit". Ujar Dito.
"Baik Tuan". Ujar supir.
Mobilpun melaju sangat kencang. Tiba-tiba Eriska terduduk dan muntah.
"Kamu kenapa sayang". Dito Panik melihat Eriska muntah.
"Pelankan mobilnya. Aku sangat mual". Ujar Eriska.
"Pelankan mobilnya". Ujar James kepada driver.
"Yak menjijikan". Ujar Eriska melihat muntahannya.
"Muntahmu sendiri Kamu yang jijik". Ujar Dito tertawa.
"Apa ada mobil lain? Aku mual melihat ini semua". Ujar Eriska.
"Ada di belakang". Ujar Dito.
"Aku mau pindah". Ujar Eriska.
"Baiklah". Ujar Dito. "James, hentikan mobil belakang. Kita pindah ke mobil belakang dan bersihkan mobil ini". Ujar Dito.
"Baik Tuan". James pun mengambil ponselnya dan menelepon driver dimobil lain untuk berhenti.
Mereka pun berhenti. Dito dan Eriska turun dari mobil pertama pindah ke mobil lain bersama James.
"Bawa mobil ini ke car wash". Ujar James.
"Baik Tuan". Ujar driver.
Merekapun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
"Sayang, bajuku kotor, bagaimana ini?". Ujar Eriska merasa jijik.
"Kita ganti di rumah sakit saja ya. Malam begini tidak ada toko baju yang buka. Paling Kamu bisa mengenakan bajuku dulu". Ujar Dito.
"Hemmm baiklah daripada Aku datang menggunakan baju kotor begini". Ujar Eriska.
Satu jam berlalu, Mereka telah sampai di Rumah Sakit.
Dito memberikan baju miliknya yang tersimpan didalam mobil. Eriska mencari toilet untuk mengganti baju.
"Ya ampun besar sekali bajunya". Ujar Eriska.
__ADS_1
Size baju Dito dua Kali lipat dengan pakaiannya. Ia menggunakan T-shirt panjang dan celana olahraga panjang. Tangan Eriska tak terlihat karena terlalu besar. Ia menggulungnya.
Eriska keluar.
"Bajumu sangat besar. Lihat Aku tenggelam dalam bajumu". Gerutu Eriska.
"Ini kan emergency sayang. Lagipula Kamu masih terlihat cantik kok". Puji Dito.
Eriska memajukan bibirnya meledek Dito. Dito yang gemas mengecup bibirnya Eriska.
Eriska mendorong tubuh Dito. " ini tempat umum apalagi rumah sakit. Hilangkan dulu pikiran mesummu. Ayo kita temui Audrey. Pasti Dia sangat sedih". Ujar Eriska menarik tangan Dito.
Mereka mencari keberadaan Audrey diruang operasi.
"Audrey". Eriska memanggil Audrey.
" Eriska". Audrey berlari menangis memeluk Eriska.
"Audrey, sebenarnya apa yang terjadi?". Tanya Dito.
"Tadi malam kita makan malam bersama, saat kita akan pulang, ada segerombolan orang menahan kita. Liam berusaha melawan. Tapi kita kalah jumlah akhir mereka semua memukul Liam sampai Liam tak berdaya". Ujar Audrey menceritakan sambil menangis.
"Apa Kamu melihat wajah para pelaku?". Tanya Dito
"Tidak. Mereka menggunakan penutup kepala. Mereka juga bukan perampok karena mereka tidak mengambil barang kita". Ujar Audrey.
"Tenanglah. Aku akan membereskan ini semua". Ujar Dito
"James, Kamu selidiki ini semua. Kita harus cepat menemukan pelakunya". Ujar Dito.
"Baik Tuan. Tapi, dimana kejadian itu berlalu?". Tanya James
"DDi Restaurant Dior D'amour dekat menara Eiffle". Ujar Audrey.
"Baiklah kami akan selidiki. Besok pasti sudah tahu siapa pelakunya". Ujar James.
"Aku percayakan padamu James". Ujar Dito menepuk pundak James.
"Baik Tuan". James pun pergi meninggalkan mereka mencari bukti atas pengeroyokan terhadap Liam.
"Liam akan baik-baik saja kan?". Ujar Audrey menangis.
"Tentu. Tenanglah Audrey, Liam adalah orang yang kuat. Pasti dia akan baik-baik saja". Ujar Eriska menenangkan Audrey.
Operasi pun selesai. Dokter keluar.
"Bagaimana dengan sahabat saya Dok?". Tanya Dito.
"Ia mengalami gegar otak Karena terkena pukulan benda tumpul. Untuk sekarang keadaannya masih kritis". Ujar dokter
Audrey terduduk dilantai. Ia menangis sejadi-jadinya.
"Dok sembuhkan sahabat saya. Berapa pun biayanya kita akan tanggung". Ujar Dito.
"Tentu Tuan, kita akan bekerja semaksimal mungkin. Pasien akan dipindahkan keruang ICU. Saya permisi". Ujar dokter lalu pergi.
"Liam, kenapa ini semua terjadi padamu". Audrey masih menangis terduduk dilantai.
"Tenanglah Audrey. Ayo bangun". Eriska mengangkat Audrey untuk duduk dikursi.
"Eriska, Liam tidak pernah memiliki musuh, kenapa Dia mendapatkan seperti ini?". Ujar Audrey menangis.
"Tenanglah, Dito akan mecari tahu siapa yang berani memukul Liam. Kamu harus kuat. Liam membutuhkanmu". Eriska mencoba menenangkan Audrey.
"Kurang ajar, Siapa yang berani menyentuh sahabatku". Ujar Dito sangat emosi.
"Tenanglah sayang, James sedang mencari siapa pelakunya. Setelah ketemu kita balas dengan yang lebih menyakitkan daripada ini". Ujar Eriska.
Merekapun masih menunggu Liam untuk dipindahkan. Juga menunggu kabar dari James.
__ADS_1