
Keesokan harinya, Rara sudah siap menunggu Niall. Rara sangat gugup entah apa keputusan yang Ia ambil benar atau salah. Rara mondar mandir dihalaman belakang. Niall pun sudab berangkat dari hotel.
"Aduh kenapa Aku teh jadi gugup gini ya? Ini pertama kali Aku teh jalan sama cowok mana bule juga". Ujar Rara yang masih gugup.
Eriska yang sedang mengambil minum melihat Rara yang mondar mandir menghampirinya.
"Ra, ngapain Kamu disini?". Tanya Eriska.
"Eh Nyonya. Saya teh gugup Nyonya. Aduh Saya teh belum pernah jalan sama cowok". Ujar Rara yang masih belum tenang.
"Oh Kamu jadi jalan? Kapan?". Tanya Eriska.
"Sekarang Chef sedang menuju kemari Nyonya". Ujar Rara.
"Apa? Kamu mau jalan dengan penampilan seperti ini?". Tanya Eriska yang melihat Rara hanya menggunakan celana jeans Dan kaos. "Ayo ikut Saya". Eriska menarik tangan Rara.
"Mau dibawa kemana ini Aku teh Nyonya?". Tanya Eriska.
"Sudah diam saja". Ujar Eriska.
Eriska membawa Rara keruang wardrobe nya.
"Kamu duduk dulu disitu". Eriska menyuruh Rara duduk disofa dan Eriska membuka lemarinya. Mencari pakaian yang cocok untuk Rara.
"Ganti bajumu dengan ini". Eriska memberikan gaun pendek berwarna putih untuk Rara.
"Ya ampun Nyonya ini teh pendek banget. Saya tidak pede atuh". Ujar Rara.
"Sudah ganti dulu. Kamu pasti cantik menggunakan ini". Eriska mendorong pelan tubuh Rara untuk keruang ganti.
Sepuluh menit berlalu, Eriska tidak sabar dengan Rara yang masih belum keluar juga. Tak lama Rara keluar dengan gaun pemberian Eriska.
"Nah begini kan cantik. Niall akan semakin jatuh cinta padamu Ra". Ujar Eriska menyentuk kedua bahu Rara.
"Apa ini teh gak terlalu seksi ya Nyonya?". Tanya Rara
"Tidaklah. Kalau Kamu pakai bikini baru seksi". Ujar Eriska.
"Sini sekarang kasih sedikit lukisan diwajahmu". Eriska mengajak Rara duduk dimeja rias nya.
Rara hanya diam dengan apa yang Boss nya lakukan.
Eriska merias Rara dengan natural seperti umurnya. Rara terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna putih serta make up yang natural.
Tiga puluh menit berlalu, Rara sudah siap. Ia benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Seseorang mengetuk pintu. Eriska membukanya.
"Maaf Nyonya ada Tuan Niall". Ujar Bi Inah.
"Oh iya Kami akan segera turun". Ujar Eriska.
Bi Inah pun pergi.
__ADS_1
"Ra, ayo". Ajak Eriska.
"Aduh Nyonya Saya tidak pede dengan penampilan seperti ini". Ujar Rara masih ragu.
"Ahhh sudah ayo. Kamu cantik sekali orang mana tahu Kamu hanya seorang Baby sitter". Ujar Eriska tersenyum. "Kamu sangat cocok dengan Niall". Ujar Eriska.
Niall yang sedang menunggu terkejut melihat penampilan Rara yang sangat berbeda.
Astaga ternyata Dia lebih cantik dari yang Aku bayangkan. Ujar Niall dalam hati.
"Kkhhhmmmm". Ujar Eriska memecah keheningan.
"Selamat siang Nyonya". Sapa Niall. "Bagaimana keadaan Nyonya? Maaf Saya tidak menjenguk Nyonya saat dirumah sakit. Tuan Surya bilang Nyonya tidak bisa dijenguk waktu itu". Ujar Niall.
"Tidak apa-apa memang saat itu Saya tidak ingin diganggu. Sekarang Kalian bisa pergi. Nanti keburu siang". Ujar Eriska mendorong pelan tubuh Rara menghampiri Niall.
"Baik Nyonya. Kalau begitu Kami permisi". Ujar Niall pamit.
"Jaga Rara baik-baik". Ujar Eriska.
"Tentu Nyonya". Ujar Niall tersenyum.
"Nyonya, Saya permisi dulu ya". Rara pamit psda Eriska.
Merekapun pergi. Di dalam mobil Rara hanya diam sesekali menunduk. Berbeda dengan Niall yang selalu curi pandang pada Rara dengan tersenyum yang merekah.
"Kamu Cantik". Ujar Niall yang fokus melihat kedepan.
"Ah terimakasih". Ujar Rara canggung.
"Hehehehehe sebenarnya ini ide Nyonya. Saya teh mana punya baju bagus begini. Semua ini Nyonya yang melakukan". Ujar Rara.
Kasihan sekali Dia. Selama Aku kenal memang Dia tidak pernah terlihat menggunakan pakaian bagus. Ujar Niall. Sekarang Dia adalah kekasihku. Aku harus melakukan yang terbaik untuknya.
"Tenanglah. Mulai sekarang Aku akan membahagiakanmu". Niall menyentuh pipi Rara.
Deg deg deg deg. Jantung Rara berdetak sangat kencang mendengar perkataan Niall.
Aduh kenapa jantungku seperti tersetrum. Ujar Rara dalam hati.
"Kamu kenapa diam begitu?". Tanya Niall.
"Tidak apa-apa kang". Ujar Rara.
"Sudah lama kita tidak bertemu. Kapan Kamu akan pulang kerumah orangtua Kamu?". Tanya Niall.
"Mungkin besok bersama Nyonya dan keluarga. Nyonya juga ingin ke kampung Tuan Dito". Ujar Rara.
"Oh berapa lama Kamu kesana?". Tanya Niall.
"Belum tahu Tuan. Nyonya mengatakan ingin tinggal sementara dikampung. Jika begitu biasanya Saya tidak ikut dan akan tinggal lama dirumah orangtua Saya". Ujar Rara.
"Lalu jika Aku ingin bertemu bagaimana?". Tanya Niall.
__ADS_1
"Apa? Mau bertemu? Ini kita bertemu". Ujar Rara.
"Ya kalau Kamu dikampung Aku bagaimana bisa bertemu kamu?". Tanya Niall.
"Kita kan bisa teleponan seperti biasa". Ujar Rara.
"Tidak bisa Ra. Sekarang kita berpacaran. Aku tidak akan tahan jika tidak bertemu denganmu lama". Ujar Niall.
Mendengar perkataan Niall, Rara tersedak. "Pacaran?". Tanya Rara.
"Iya, Kamu kekasihku sekarang". Ujar Niall. "Pasti Nyonya memberitahumu kan?". Tanya Niall.
"Soal itu Aku...". Rara bingung harus berkata apa.
Niall menghentikan mobilnya. Melepas seatbelt nya. Membalikkan badannya mengahadap Rara. Niall meraih tangan Rara.
"Ra, mungkin ini terlalu cepat. Tapi, Aku mencintaimu sejak pertama kali Aku menabrakmu Aku sudah mencintaimu. Saat mendengar cara bicaramu yang unik membuatku semakin tertarik padamu. Saat kita sering chatting, call bareng membuatku semakin mencintaimu. Aku sudah tidak tahan lagi dengan status teman ini Ra". Ujar Niall.
Niall mendekati Rara lalu mengecup bibir mungil Rara dengan lembut.
Deg deg deg deg. Jantung Mereka berdua berdetak sangat kencang.
Niall melepas ciumannya. "Maaf Ra, Aku tidak sengaja". Ujar Niall merasa bersalah telah mencium Rara.
Rara hanya diam entah apa yang harus Ia rasakan. Harus marah atau bahagia. Baru kali ini Dia dicintai tulus oleh seorang Pria.
"Kita lanjutkan perjalanan ya?". Ujar Niall.
Rara hanya mengangguk. Niall menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan tangan Rara digenggam dengan erat sesekali Niall menciumi tangan Rara. Jantung Rara semakin berdetak dengan kencang. Rara bingung dengan apa yang Ia rasakan.
Setelah berkendara 30 menit, Mereka sampai disebuah restaurant.
"Ini adalah Cafe yang baru Aku buat. Bagaimana menurutmu?". Tanya Niall.
"Ini teh beneran Cafe kamu?". Tanya Rara.
"Iya Ra. Aku sangat menyukai Negara ini. Aku sudah berencana ingin tinggal disini apalagi sekarang ada wanita yang Aku cintai dinegara ini semakin membuatku ingin tinggal disini". Ujar Niall yang terus menggandeng tangan Rara.
Niall menarik kursi untuk Rara. "Duduklah Ra". ujar Niall.
Rarapun duduk juga Niall.
"Aku tidak ingin terus menjadi Chef di hotel Ra. Aku juga ingin maju. Maka dari itu Aku membuat Cafe ini. Semoga cafe ini bisa sukses". Ujar Niall.
"Pasti akan sukses. Semangat ya". Rara menepuk punggung tangan Niall.
"Tetaplah bersamaku Ra". Niall mencium tangan Rara.
Bonus Visualisasi Rara & Niall saat berkencan
__ADS_1