
Setelah bertemu dokter, Dito diperbolehkan pulang aorena keadaan nya sudah membaik hanya butuh istirahat dirumah.
Dalam perjalanan pulang mereka berbincang.
"Sayang kita mau langsung pulang ke ibu kota?". Tanya Dito.
"Nggak lah. Kita dihotel dulu beberapa hari ya". Ujar Eriska.
"Tapi kita disini sudah lama". Ujar Dito
"Kita gak bisa pulang buru-buru. Pesawat ku ada di Ibu Kota sekarang. Mungkin bisa beberapa hari lagi". Ujar Eriska.
"Sayang, kita bisa kan pake pesawat komersial. Lagipula pasti menghabiskan uang besar untuk bulak balik". Ujar Dito.
"Kamu lagi sakit gini naik pesawat komersial. Gak bisa". Ujar Eriska ketus.
"Aku baik-baik saja lihat Aku sudah sehat". Ujar Dito.
"Aku bilang Nggak ya nggak". Jawab Eriska ketus.
"Ini sebenarnya yang kepala rumah tangga Kamu apa Aku? Kok jadi Kamu yang ngatur?". Ujar Dito.
"Kamu lagi sakit jadi Kamu ikutin apa yang aku katakan". Ujar Eriska kesal. "Kamu diam saja. Lusa kita pulang". Ujar Eriska. " Surya telepon pilot suruh datang lusa siang". Ujar Eriska kepada Surya.
"Baik nyonya". Jawab Surya.
Sampailah mereka di hotel. Semua staff mengucap salam pada pemilik hotel Dan bertanya keadaan Dito.
Setelah melewati banyak karyawan, sampailah mereka di kamarnya.
Dito Dan Eriska berbaring di tempat tidur.
"Akhirnya bertemu tempat tidur yang nyaman". Ujar Eriska berbaring.
__ADS_1
"Maafkan Aku ya, karena Aku Kamu harus tinggal dirumah sakit dan tidur di tempat tidur kecil bersamaku". Ujar Dito.
Eriska tidak menjawab perkataan Dito. Dito melihat kepada Eriska Dia tersenyum. "Tidur ternyata". Dito tertawa kecil.
"Terimakasih sayang sudah menjagaku selama di rumah sakit". Dito mencium kening Eriska.
Dito berjalan sekeliling ruangan. Berhari-hari Ia hanya berbaring membuat badannya tidak enak.
"Lebih baik Aku menelepon Yarka menanyakan soal pabrik". Dito mengambil ponselnya.
Mencari nama Yarka didalam ponselnya.
"Assalamualaikum". Dito mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Kak Dito. Bagaimana keadaanmu?". Tanya Yarka.
"Alhamdulillah baik. Kakak baru keluar rumah sakit barusan. Bagaimana keadaan Kamu Dan Papa?". Tanya Dito
"Baik kak". Ujar Yarka.
"Kakak fikirkan kesehatan kakak saja. Disini semua baik". Ujar Yarka.
"Syukurlah. Kemungkinan kakak pulang ke Ibu Kota lusa. Setelah itu kakak usahakan balik ke kampung segera". Ujar Dito.
"Baiklah kak.". Ujar Yarka.
" Yasudah kakak tutup telepon nya ya salam buat Papa. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Dito menutup telepon nya lalu duduk disamping Eriska yang tengah tidur.
Dito memandang wajah Eriska Dan tersenyum. "Akhirnya Aku mendapatkanmu". Ujar Dito bahagia. "Aku janji akan selalu melindungimu Dan membahagiakanmu". Dito mengusap wajah Eriska lalu mencium bibirnya.
__ADS_1
Sontak Eriska kaget lalu menampar Dito tiba-tiba.
" aw". Dito menyentuh pipinya.
"Ahhh maafkan Aku. Aku terkejut sontak menamparmu". Ujar Eriska merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Sudah biasa kena tamparanmu". Ujar Dito yang masih mengusap pipi nya uang merah.
"Masih sakit ya?". Eriska menyentuh pipi Dito.
"Iya masih sakit". Dito berpura-pura.
"Aku ambilkan es ya untuk mengompres". Ujar Eriska turun dari tempat tidur namun dihalangi Dito.
"Gak perlu pake es". Ujar Dito.
"Kenapa? Mau pake salep?". Tanya Eriska.
Dito menggelengkan kepalanya.
" terus?? ". Tanya Eriska.
" kiss". Dito menunjuk pada pipinya.
"Dasar mesum". Ujar Eriska mencium pipi Dito.
Wajah Dito tersenyum mendapatkan ciuman dari Eriska.
"Kamu sudah tidak jijik sama si pengembala sapi ini?". Ledek Dito.
Eriska Tersenyum malu. "Sudah ah jangan menggoda Aku terus". Ujar Eriska.
"Menggoda Kamu itu vitamin untukku". Ujar Dito melingkarkan tangannya dibahu Eriska.
__ADS_1
Eriska Tersenyum. " Dasar cowok murahan".