
Satu minggu berlalu, John sudah sampai di bandara untuk menjemput Eimear.
"Pesawatnya sudah landing sejak tiga puluh menit lalu tapi kenapa Dia belum keluar juga ya?". John bertanya-tanya. "Apa jangan-jangan ada masalah dibagian Imigrasi? Ya Tuhan jangan mempersulit Dia". John merasa Panik.
Selang lima belas menit, akhirnya terlihat juga seorang wanita cantik menghampiri John. "Baby, I miss you so much". Eimear memeluk John.
"Ahhh akhirnya Kamu keluar juga. Aku sudah menunggu hampir satu jam. Aku sangat khawatir padamu". Ujar John mencium bibir Eimear.
"Bagian bagasi yang sangat lama. Aku saja sangat bosan menunggu". Ujar Eimear.
"Yasudah. Karena Kamu sudah ada, Kita pergi sekarang kerumah Tuan dan Nyonya". Ujar John.
Eimear tak henti memeluk tangan John. Ia sangat merindukan suaminya itu. Sejak dua bulan Mereka berpisah hingga akhirnya sekarang berjumpa.
Selama perjalanan, Eimear melihat sekeliling jalan. "Ternyata negara ini tak seburuk yang Aku fikirkan". Ujar Eimear.
"Memang apa yang Kamu fikirkan?". Tanya John.
"Ya Aku fikir seperti hutan. Hahahahahaha". Ujar Eimear tertawa.
"Kamu ini mengarang bebas". Ujar John. "Jika Kamu ke pusat kota, Akan terlihat tidak beda jauh dengan kota-kota di Eropa juga. Cuma disini sangat macet. Ini karena hari minggu jadi tidak macet. Biasanya sungguh membuat emosi". Ujar John.
"Oh ya? Jadi orang-orang sini kaya raya semua dong bisa memiliki mobil dengan mudah?". Tanya John.
"Mungkin pajak disini murah. Entahlah Aku juga tidak tahu. Tapi disini juga banyak yang menggunakan motor". Ujar John.
"Menarik". Ujar Eimear. "Lalu, orang-orang disini bagaimana?". Tanya Eimear.
"Orang-orang disini memiliki kesopanan yang luar biasa. Memiliki attitude dan manner yang sangat baik. Aku juga ingin memberitahu padamu jangan sembarangan mencium atau memelukku dipublic karena disini masih dianggap tidak sopan meski kita suami istri". Ujar John.
"Kenapa begitu?". Tanya Eimear.
"Entahlah. Aku masih belum mengerti dengan budaya disini". Ujar John.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, akhirnya Mereka sampai dirumah Eriska. John turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Eimear. "Besar sekali rumahnya". Bisik Eimear.
John hanya tersenyum mendengar perkataan Eimear. Sedangkan Eimear merasa sangat takjub. Entah seberapa kaya majikan dari Suaminya itu hingga memiliki Rumah seperti Istana dimanapun.
"Ayo Kita masuk. Tuan dan Nyonya pasti sudah menunggu". Ujar John.
__ADS_1
Eimear hanya mengangguk. Ia berjalan mengikuti John. Mereka sampai didepan pintu Utama. John membuka pintu lalu Mereka masuk.
"John, siapa Dia?". Tanya James yang melihat Eimear serta beberapa koper.
"Tuan, perkenalkan ini Eimear, Istri saya". Ujar John tersenyum pada James.
James yang mendengar tiba-tiba tersedak. "John jagan bercanda". Ujar James.
"Saya tidak bercanda Tuan. Ini memang Istri Saya". Ujar John.
"Hey bodoh! Kapan Kamu menikah? Kurang ajar Kamu tidak mengundangku". James mengapit kepala John merasa tak dianggap.
"Maaf Tuan. Ceritanya panjang nanti Saya ceritakan". Ujar John.
"Halo Eimear, Saya James". James menjabat tangan Eimear.
Tak lama Dito dan Eriska turun.
"Selamat sore Nyonya dan Tuan". Sapa John.
"Kalian sudah sampai". Ujar Eriska.
Eriska tersenyum. "Halo Eimear, perkenalkan Saya Eriska". Eriska menjabat tangan Eimear.
"Selamat sore Nyonya. Astaga Nyonya Eriska sangat cantik. Senang bertemu dengan Nyonya dan Tuan". Ujar Eimear tersenyum bahagia.
"Ayo Kita duduk dulu". Eriska mempersilahkan Eimear dan yang lain duduk.
"James, katakan pada Bi Inah untuk membuatkan orange juice". Ujar Eriska.
"Baik Nyonya". James pun pergienuju dapur.
"Bagaimana perjalananmu?". Tanya Eriska pada Eimear.
"Menyenangkan Nyonya. Ini pertama kali Saya ke Asia. Cukup jauh juga ya Nyonya dari Eropa". Ujar Eimear.
"Iya. Maka dari itu Saya malas pergi ke Eropa jika tidak ada kepentingan". Ujar Eriska tertawa kecil.
Mereka berbincang cukup lama. Sekitar satu jam. Setelah itu, Eriska mempersilahkan Eimear masuk ke kamar untuk membersihkan diri lalu makan malam bersama.
__ADS_1
Didalam kamar, Eimear sangat terkesan dengan Eriska. Tak henti-hentinya Ia memuji keramahan Eriska.
"Ya Tuhan. Betapa beruntungnya Kamu Baby memiliki Boss yang sangat baik. Aku selalu berfikir pasti mereka sangat menjaga image untuk berbicara denganku yang hanya Istri pengawalnya. Ternyata Nyonya dan Tuan sangatlah baik hati dan ramah". Ujar Eimear terus memuji Dito dan Eriska.
"Asal Kamu tahu ya Babe. Nyonya Eriska ini disini terkenal sangat Angkuh, sombong dan kasar". Ujar John.
"Apa? Kamu bercanda ya? Wanita anggun seperti Nyonya bisa terkenal Angkuh?". Tanya Eimear tak percaya dengan perkataan John.
"Sudahlah nanti juga Kamu akan tahu sendiri. Sekarang Kamu bersihkan tubuhmu dulu. Setelah itu kita akan makan malam bersama". Ujar John.
"Baiklah". Ujar Eimear.
"Oh ya. Selama disini jangan pernah gunakan pakaian serba mini. Kita harus menghargai Tuan Dito dan Tuan besar Birowo. Mereka tidak suka melihat wanita berpakaian mini". Ujar John. "Kamu bisa berpakaian mini hanya didepanku saja". Ujar John tersenyum.
"Oh oh Suamiku sudah pandai menggoda ya". Ujar Eimear menyentuh dada John.
"Sudah sana Kamu bersihkan diri dulu". John mendorong pelan tubuh Eimear untuk mandi.
"Tidak mau mandi bersama?". Ledek Eimear.
"Sudahlah jangan memancingku. Cepat bersihkan dirimu". Ujar John tersenyum bahagia karena Ia sudah bersama Isterinya.
Eimear keluar dengan tanktop dan celana super pendek. "Astaga Babe, Aku bilang kan tidak boleh menggunakan baju mini. Ini lebih dari mini". Ujar John.
"Nanti Aku ganti. Jam makan malam masih satu jam lagi kan? Ya Aku ingin menyegarkan mata suamiku dulu". Ujar Eimear tersenyum penuh arti pada John.
"Oh ya? Hheemmm baik sekali Irish girl ini". John mengangkat tubuh Eimear membawanya keatas tempat tidur lalu membaringkannya.
John berada diatas tubuh Eimear. "Gadisku, Aku sangat merindukanmu". John mencium pipi Eimear. "Gadisku, Aku sangat merindukanmu". John mencium kening Eimear. "Gadisku, Aku sangat sangat sangat merindukanmu". John mencium bibir Eimear.
"Tuan yang tampan, Aku juga sangat merindukanmu". Eimear kembali mencium John. "Merindukan semua hal yang Kamu lakukan untukku. Merindukan pelukanmu saat Aku tertidur. Merindukan perkataanmu saat Aku sedang sedih. Aku tidak ingin lagi berpisah denganmu Tuan. Aku ingin selalu bersamamu. Hanya Kamu yang Aku miliki didunia ini". Eimear memeluk erat tubuh John.
"Tentu Gadisku. Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Sudah jangan bersedih lagi. Nanti saat Aku mendapatkan libur, Kita jalan-jalan keliling kota". Ujar John menghibur Eimear.
"Janji?".
"Janji Gadisku". John mengusap-ngusap hidungnya pada hidung Eimear.
Pasangan yang sedang dimabuk cinta. Berbeda dengan John dan Eimear, James masih tak menyangka bahwa John mendahuluinya dengan tidak memberitahukan kapan Dia menikah.
__ADS_1
"John, John. Aku fikir Dia penyuka sesama jenis, tahu nya sudah menikah saja". Ujar James tertawa menggelengkan kepalanya. "Aku keduluan John".