Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (37)


__ADS_3

Queena sedang bermain di halaman belakang bersama orangtua nya. Eriska yang duduk diayunan kayu sedangkan Dito dan Queena yang sedang bermain gelembung sabun menikmati moment. Eriska yang sedang memperhatikan suami dan anaknya. Tiba-tiba ponsel Eriska berbunyi. Ia melihat telepon yang tidak ada namanya. Ia mencoba mengangkat.


"Halo". Sapa Eriska.


"Iya betul Saya Boss nya Rara. Ini dengan siapa?". Tanya Eriska.


"Apa??? Baik Saya akan mencoba menghubungi Rara". Eriska merasa terkejut dengan apa yang Ia tahu.


Eriska mematikan panggilannya. Dengan tangan bergetar Ia mencoba menelpon Rara namun tetap tidak diangkat. Ia menelepon Niall juga tidak diangkat.


"Ahhhhh Mereka kemana sih". Gerutu Eriska kesal.


Dito yang melihat tingkah aneh Istrinya datang menghampiri. "Ada apa?". Tanya Dito.


Eriska tak menggubris. Ia terus mencoba menelepon Niall dan Rara. Wajah Eriska sangat panik. "Angkat Ra". Ujar Eriska. Eriska terus menghubungi Niall. Akhirnya tersambung.


"Halo Niall. Berikan ponselmu pada Rara. Cepat". Ujar Eriska.


"Ra, kenapa Kamu tidak mengangkat telepon?". Tanya Eriska.


"Maaf Nyonya, tadi habis nonton ponselnya di silence. Ini baru keluar. Ada apa Nyonya?". Tanya Rara.


"Ra, orangtua Kamu kecelakaan. Sekarang Mereka dirumah sakit keadaannya sangat parah". Ujar Eriska dengan meneteskan air mata.


"Apa???? Nyonya bercanda ya". Ujar Rara yang antara percaya dan tak percaya tanpa terasa air matanya jatuh.


"Saya tidak bercanda Rara, Pamanmu daritadi mencoba meneleponmu. Kamu tidak menerima akhirnya pamanmu menelepon Saya. Kamu pulang segera Ra". Ujar Eriska merasa hancur juga memberitahu.


Tanpa menjawab, Rara memberikan ponsel Niall langsung berlari dengan keadaan menangis. "Emak Abah kenapa bisa jadi begini? Jangan tinggalin Rara atuh, Rara cuma punya Emak sama Abah". Rara terus berlari sedangkan Niall mengejar. Ia menarik tangan Rara.


"Ra, apa yang terjadi?". Tanya Niall yang bingung.


"Emak sama Abah kecelakaan. Keadaannya sangat parah. Aku harus segera pulang". Ujar Rara menangis.


"Apa? Ayo Aku antar". Niall menggandeng tangan Rara berjalan cepat menuju parkiran.


Sampai diparkiran Mereka masuk mobil. Niall mengendarai mobil sedikit kencang. Rara mencoba menelepon Pamannya.


"Halo Mang". Sapa Rara.


"Neng kamana wae? Ditelepon teu diangkat? Iyeu emak jeung Abah parah keadaanna. Eneng dimana? (Neng kemana aja? Ditelepon tidak diangkat? Ini Emak sama Abah parah keadaannya. Eneng dimana?)". Tanya Paman Rara.


"Neng dijalan Mang. Gimana eta teh bisa kejadian atuh Mang? Si Langit kumaha?".


"Kecelakaan diangkot Neng. Emak sama Abah Kamu teh lagi mau jalan pulang dari pasar. Angkotnya tabrakan sama bus luar kota masuk jurang". Ujar Paman Rara.

__ADS_1


Rara semakin menangis histeris "ya Allah Emak Abah kenapa bisa begini. Langit gimana keadaannya?". Tanya Rara yang masih menangis.


"Alhamdulillah Langit tidak ikut. Langit baik-baik aja. Kamu cepet kesini Neng". Ujar Paman


"Iya Mang ini Eneng lagi dijalan. Tolong jagain dulu disana Mang". Ujar Rara.


Rara pun mematikan panggilannya.


Rara terus menangis. Niall yang melihat sangat tidak tega. "Ra, Kamu tenang ya". Ujar Niall yang mencoba menenangkan Rara.


"Gimana Aku bisa tenang? Emak sama Abah yang Aku punya Kang. Aku takut". Ujar Rara menangis karena Panik dan takut.


Niall menggenggam tangan Rara. Rara terdiam dalam tangisnya. Mereka terus melanjutkan perjalanan.


3 jam berlalu, Mereka sampai dirumah sakit kota Bogor. Dengan keadaan Panik Rara dan Niall berlari menuju ruang IGD. Tak jauh Ia melihat Langit.


"Bunda, Emak sama Abah". Langit memeluk Rara dengan menangis.


"Langit tenang ya. Bunda akan melihat Emak sama Abah dulu". Rara melepas pelukan Rara. Rara bersama Niall masuk kedalam ruang IGD.


"Emak Abah". Rara menangis sejadi-jadinya. "Emak Abah bertahanlah Rara mohon". Rara menangis memeluk Emak nya lalu berpindah pada Abahnya.


"Abah, Abah bertahan ya Rara mohon. Cuma Abah sama Emak yang Rara punya". Rara terus menangis.


"Ra, mungkin ini waktunya Abah pergi. Tapi, Abah belum rela karena belum ada yang menjagamu dan Langit. Mungkin Abah akan tenang jika Kamu sudah menikah. Ra, maafkan Abah yang tidak bisa lagi menjaga Rara dengan Langit. Abah berharap Kamu bisa menikah sebelum Abah pergi". Ujar Abah Rara dengan berbicara terbata.


"Rara, Kamu cantik sekali. Abah pangling lihat Kamu. Kamu seperti pengantin Ra. Andai Abah bisa melihat Kamu menikah sebelum meninggal, Abah pasti akan merasa tenang". Ujar Abah terbata.


"Abah jangan bicara seperti itu". Rara terus menangis.


Tak lama Eriska dan Dito datang.


"Ra, bagaimana keadaan orangtuamu?". Tanya Eriska.


"Siapa Ra?". Tanya Abah.


"Nyonya dan Tuan Bah". Ujar Rara terisak.


"Nyonya, Tuan. Terimakasih telah membantu keluarga Kami. Kami sangat berhutang pada Tuan dan Nyonya". Ujar Abah Rara terbata. "Nyonya, Tuan. Bolehkah Saya meminta tolong? Saya mohon Nyonya, Tuan bisa menjaga Rara dan Langit saat Saya pergi. Saya sudah tidak kuat tapi Saya juga tidak bisa meninggalkan Rara dan Langit sendiri. Rara belum menikah Dia tidak punya siapa-siapa lagi. Saya masih tidak rela pergi sebelum ada yang menjaganya". Ujar Abah Rara terbata.


Eriska merasa kasihan pada keluarga Rara. Eriska memandang Niall yang sedari tadi disamping Rara.


"Niall bisa bicara?". Tanya Eriska.


"Tentu Nyonya". Niall mengikuti Eriska.

__ADS_1


Diluar ruangan IGD, Eriska dan Niall berbicara.


"Niall, apakah Kamu serius dengan Rara?". Tanya Eriska.


"Tentu Nyonya, Saya sangat serius dengannya". Ujar Niall.


"Jika Kamu serius, maka nikahilah Rara sekarang juga". Ujar Eriska.


"Sekarang Nyonya?". Tanya Niall terkejut.


"Iya sekarang. Kamu tidak lihat keadaan Papa nya sangat parah? Ia ingin melihat Rara menikah sebelum Ia pergi. Niall harapan sekarang ada padamu. Jika Kamu benar-benar serius dengan Rara, maka nikahilah hari ini juga". Ujar Eriska.


"Tapi Nyonya, apa Rara mau?". Tanya Niall.


"Tenang saja Saya akan berbicara dengannya. Tapi yang pasti apa Kamu mau menikah dengan Rara hari ini juga?". Tanya Eriska.


"Tentu Nyonya. Aku sangat mencintai Rara. Sungguh kebahagiaanku bisa menikahi Dia". Ujar Niall yakin.


Eriska masuk kembali kedalam.


"Ra, bisa bicara sebentar?". Tanya Eriska.


Rara hanya mengangguk lalu mengikuti Eriska. Sudah ada Niall menunggu.


"Ra, Kamu dengar kan apa yang Abah Kamu inginkan?". Ujar Eriska.


Rara hanya mengangguk.


"Kalau begitu, menikahlah dihadapan Abahmu". Ujar Eriska.


Rara yang mendengar terkejut. "Menikah? Dengan siapa Nyonya?". Tanya Rara.


"Dengan Niall yang pasti". Jawab Eriska.


Rara melihat pada Niall.


"Ra, Aku mau menikah denganmu dihadapan Papamu. Apa Kamu mau?". Tanya Niall.


Rara terduduk dikursi ruang tunggu. Ia menunduk bertumpu pada kedua tangannya. Ia bingung apa yang harus Ia lakukan. Disatu sisi Ia belum siap menikah dengan Niall. Disisi lain ini adalah keinginan terakhir Abahnya.


Eriska duduk disamping Rara. Ia menyentuh pundak Rara. "Ra, Niall sangat mencintaimu. Abahmu juga ingin melihat Kamu menikah. Kabulkanlah Ra sebelum Ia pergi". Ujar Eriska.


Langit menghampiri Rara. "Bunda".


Rara melihat pada Langit. Langit duduk dipangkuan Rara dan memeluk Rara. Rara menangis dipelukan Langit.

__ADS_1


Apa yang harus Aku lakukan ya Allah?. Ujar Rara dalam hati.


__ADS_2