
Setelah mandi, Dito bersiap dengan pakaian yang disiapkan Eriska.
"Sayang lama sekali Kamu mandi". Gerutu Eriska kesal.
"Masa? Aku merasa seperti biasanya". Ujar Dito.
"Lihat jam, Kamu mandi satu jam". Ujar Eriska kesal.
"Astaga kenapa bisa lama seperti itu ya? Padahal Aku merasa seperti biasanya". Ujar Dito bingung.
"Sudahlah ayo Kita keluar. Queena pun sejak datang tadi belum kembali". Ujar Eriska.
Merekapun keluar dengan keadaan yang segar. Sepanjang jalan para Staff menyapa Eriska dan Dito. Sampai di Restaurant dekat pantai, semua orang sudah disana.
"Selamat sore". Sapa Eriska dan Dito kepada keluarga Niall.
"Selamat sore Tuan dan Nyonya. Terimakasih karena sudah menyempatkan hadir dipernikahan anak Kami". Ujar Papa Niall.
"Ah tidak masalah Tuan, Kami turut bahagia atas pernikahan Mereka". Ujar Dito.
"Ra, Queena mana?". Tanya Eriska.
"Disana Nyonya sedang bermain dengan Langit dijaga Tuan John & Nona Eimear". Ujar Rara.
"Oh baiklah. Ayo Kita duduk". Ujar Eriska.
Mereka duduk bersama di Restaurant juga saing berbincang. Keluarga Niall cukup terkenal di London karena hampir semua keluarga nya adalah Chef.
"Pa, apa Papa tidak mengenali Tuan Dito?". Tanya Niall.
"Maksudmu apa?". Tanya Papa Niall.
"Tuan Dito ini Chef Dior". Ujar Niall.
"Chef Dior? Astaga pantas saja tadi saat berjumpa seperti familiar dengan wajah Tuan. Teryata Chef Dior". Ujar Papa Niall bahagia.
Dito hanya tersenyum. Ia tahu Papa Niall siapa karena mereka sempat bertemu dulu di asosiasi Chef di Inggris & Perancis.
Mereka mengobrol cukup panjang hingga makan malam setelah itu keluarga Rara pamit undur harus istirahat karena esok hari acara pernikahan Niall dan Rara. Begitu juga yang lain. Hingga Queena pun sudah tertidur.
"Ta, titip Queena ya sebentar saja. Kakak mau jalan-jalan sebentar di pantai". Ujar Eriska.
"Kkkhhhmmmmm tahu deh yang mau bermesraan dipantai. Jess kita terima Queena tidak?". Ledek Tita.
"Wah kalau Kita tidak terima bisa potong gaji Ta. Terima saja". Ledek Jessica.
"Huh Kalian berdua ini". Gerutu Eriska.
__ADS_1
"Hahahahahaha bercanda Kita Kakak. Sini Queena nya. Nanti Kakak tidak perlu mengambil Queena biar Queena tidur dikamar Kita sampai besok pagi. Mungkin saja ada yang mau Honeymoon lagi". Ledek Tita.
"Uh baik sekali Adikku ini. Sangat pengertian". Eriska mencubit pipi Tita.
"Yasudah Kami ke kamar dulu. Enjoy ya, semoga balik dari sini dapat kabar Queena memiliki adik". Ledek Tita.
"Kamu ini. Yasudah Kakak temui Dito dulu". Eriska pergi meninggalkan Tita dan Jessica.
"Ahhhhh iri sekali Aku pada Mereka. Semakin hari semakin mesra saja". Ujar Tita.
"Kamu jarang melihat Mereka saja bicara seperti itu, apa kabar Aku yang hmoir setiap hari jumpa. Meleleh rasanya. Meski Eriska galak dan mengerikan, tapi saat menjadi Isteri dan Ibu sungguh luar biasa. Aku harus berguru padanya". Ujar Jessica tertawa.
"Sudahlah Kita ke kamar dulu. Kita lanjutkan nanti dikamar". Ujar Tita tertawa kecil.
Merekapun berjalan menuju kamar.
Ditempat lainnya, Eriska menghampiri Dito yang sedang duduk dipasir dipinggir pantai. Memandangi indahnya bulan yang bulat sempurna dan sangat bercahaya dengan dikelilingi banyak bintang.
"Sayang". Eriska menghampiri Dito.
"Sini duduk". Ajak Dito pada Eriska.
Eriskapun duduk disebelah Dito.
"Indah sekali kan bulan malam ini?". Ujar Dito yang terus memandangi bulan.
Dito mengalihkan pandangannya memandangi Eriska. "Hmmmmmm lebih indah mana ya?". Dito pura-pura berfikir.
"Aku lah". Ujar Eriska memukul pelan tangan Dito.
Dito tertawa kecil. "Itu sudah tahu jawabannya. Kamu ini miniatur keindahan seisi bumi". Ujar Dito tersenyum.
"Astaga, Suamiku ini berlebihan sekali menggombalnya. Belajar dari mana Kamu?". Tanya Eriska.
"Ah Kamu ini, setiap Aku memujimu selalu dibilang gombal". Dito mengusap pipi Eriska.
Eriska menyandarkan kepalanya dibahu Dito. "Sayang, apa Kamu akan Mencintaiku seperti ini sampai kapanpun?". Tanya Eriska.
"Pertanyaan apa seperti itu? Tentu saja Aku akan selalu mencintaimu. Untuk mendapatkanmu itu Aku butuh perjuangan berat. Menunggu 15 tahun, belum lagi diacuhkan Kamu saat baru menikah. Mana mungkin Aku tidak akan mencintaimu lagi". Dito mengusap kepala Eriska lalu mencium kening Eriska.
"Oh ya?". Eriska menatap Dito.
Dito mencium bibir Eriska dengan lembut. Kisah diulang kembali seperti empat tahun lalu saat Mereka saling membuka hati. Ciuman yang cukup lama disaksikan oleh indahnya rembulan dan bintang dengan suara deburan ombak dimalam hari.
"Aku akan terus selalu mencintaimu bahkan sampai hidupku berakhir. Aku selalu berdoa semoga Allah menyatukan Kita kembali disurga". Dito mencium kembali bibir Eriska.
"Jangan bicara soal kematian Sayang, Aku takut. Aku takut membayangkan bagaimana hidupku tanpa Kamu". Eriska memeluk erat tubuh Dito.
__ADS_1
"Sayang, setiap manusia pasti akan meninggal. Kita hanya tunggu waktu saja. Rezeky, jodoh, maut sudah ditulis di Lauful Mahfuz. Semua sudah tertulis sebelum kita lahir. Jadi, siap atau tidak Kita akan menghadapinya. Tapi, Aku selalu berdoa semoga Kita panjang umur masih bisa melihat Queena tumbuh bahkan bisa punya anak lagi". Ujar Dito mengusap punggung Eriska.
"Kamu sepertinya ingin sekali punya anak lagi". Ujar Eriska.
"Ya tentu Sayang. Kasihan loh Queena sendirian. Nanti seperti Kamu sendirian pasti Kamu merasakan kan?". Ujar Dito.
"Iya juga sih. Ya terserah Allah saja deh mau dikasih lagi apa tidak".
"Iya Kita hanya bisa usaha kan?". Ujar Dito tersenyum penuh arti dengan menaik turunkan alis nya.
"Itusih mau nya Kamu". Eriska menyenggol bahu Dito.
"Ya, siapa yang tidak mau kan?". Ujar Dito tertawa kecil. "Yasudah ayo". Dito berdiri menarik tangan Eriska.
"Kemana?". Tanya Eriska.
"Bikin Adik untuk Queena". Jawab Dito.
"Ih Kamu genit". Ujar Eriska.
"Mau jalan sendiri apa Aku gendong?". Tanya Dito.
"Iya iya jalan sendiri deh. Nanti para Staff bisa tertawa melihatku digendong Kamu". Ujar Eriska beranjak berdiri.
Mereka berdua berjalan menuju hotel. Para staff yang masuk malam hari menyapa Eriska dan Dito.
"Queena tidur dengan Tita?". Tanya Dito.
"Iya Sayang". Jawab Eriska.
"Lucky day sekali". Ujar Dito gembira.
Eriska hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Sampailah Mereka dikamar. "Sayang, Aku mandi dulu ya". Ujar Dito.
"Ih rajin sekali Kamu mandi. Biasanya tidak mau mandi lagi kalau sore sudah mandi". Ujar Eriska.
"Tadi kan habis duduk di pasir. Risih kena kulit". Ujar Dito.
"Terserahlah". Jawab Eriska.
"Kamu juga dong". Dito menggendong tubuh Eriska untuk ikut mandi bersamanya.
"Sayang ini sudah malam. Lihat sudah jam sepuluh nanti masuk angin bagaimana?". Ujar Eriska.
"Kan bisa pakai air hangat. Sudahlah jangan banyak bicara". Ujar Dito terus berjalan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Mereka akhirnya mandi bersama dimalam hari. Eriska sangat enggan, tapi Dito memaksa akhirnya Eriska hanya pasrah dengan apa yang dilakukan Dito.