
Keesokan harinya, dipagi hari. Seperti biasa orang-orang dirumah Eriska yang Muslim selalu Sholat berjamaah. Setelah Sholat, Dito selalu melantunkan Ayat Suci Al-Qur'an. Eimear yang tidak familiar terbangun dari tidur saat mendengar aktivitas Sholat itu karena kamar John dekat dengan Mushollah rumah Eriska.
"Beib, Beib". Eimear membangunkan John.
"Heemmmm". Jawab John.
"Siapa yang sedang bernyanyi pagi buta begini?". Tanya Eimear.
John membuka matanya. Ia duduk disebelah Eimear mendengar apa yang didengar Eimear. "Itu bukan nyanyi Honey, penghuni rumah sini sedang beribadah". Ujar John.
"Kenapa Kita tidak ikut juga?". Tanya Eimear.
John tertawa kecil. "Agama Kita berbeda Beib, pasti berbeda juga cara Ibadahnya". Ujar John.
"Oh memang Agama Tuan dan Nyonya serta seisi rumah apa?". Tanya Eimear.
"Muslim Honey". Ujar John yang menguap.
"Oh Muslim. Boleh Aku melihat Mereka?". Tanya Eimear.
"Untuk apa?". Tanya John.
"Ya ingin tahu bagaimana Mereka beribadah. Aku tidak familiar dengan Agama ini. Aku ingin lihat. Suara Tuan Dito sangat merdu Aku ingin tahu apa yang Dia baca". Ujar Eimear turun dari tempat tidur.
"Jangan Baby, mungkin Kamu menggangu Mereka. Sini kembali". Ujar John mencoba menghalangi Eimear.
"Aku hanya ingin melihat tidak bersuara". Ujar Eimear keluar dari kamar.
Eimear berjalan mengikuti suara itu. Ternyata memang dekat hanya terpisah tigs kamar dari Mushollah.
Pintu Mushollah tidak pernah ditutup saat Sholat. Eimear berdiri dibalik pintu melihat apa yang Ia belum pernah lihat. Eimear terus menatap pada Mereka yang tengah beribadah sampai Mereka selesai Sholat dan Dito membaca Ayat Suci Al-Qur'an.
Eimear sangat terkesima dengan lantunan Dito. Suara yang menyejukkan membuatnya tenang.
Apa yang dibaca Tuan? Begitu indah. Ujar Eimear dalam hati.
Saat mencoba berpindah, tiba-tiba Eimear tersandung semua terkejut. Eriska menghampiri Eimear.
"Eimear, sedang apa Kamu? Kenapa bisa terjatuh begini?". Eriska mencoba menolong Eimear untuk bangun.
"Maaf Nyonya, Saya penasaran dengan suara yang Saya dengar tadi jadi Saya melihat. Maafkan Saya Nyonya jika mengganggu". Ujar Eimear merasa malu dan merasa bersalah. "Yasudah Saya permisi kekamar lagi. Maaf mengganggu Nyonya". Ujar Eimear pergi terburu-buru.
"Kenapa juga harus terjatuh". Bisik Eimear pertgi terburu-buru.
Eriska hanya tersenyum melihat tingkah Eimear lalu kembali masuk.
__ADS_1
Didalam kamarnya, Eimear masih merasa malu dengan tingkah nya itu.
"Bodoh sekali Aku". Ujar Eimear berjalan menuju tempat tidur lalu duduk disamping John yang sedang tertidur.
Eimear membaringkan kepalanya didada John. John terbangun merasakan Eimear memeluknya.
"Kamu sudah kembali". Tanya John.
"Aku sangat malu, saat Aku melihat Mereka, Aku terjatuh semua menatapku lalu Nyonya menghampiriku". Ujar Eimear bercerita.
"Kamu terjatuh? Ada yang sakit?". Tiba-tiba John terduduk memeriksa tubuh Eimear.
"Aku tidak apa-apa, Aku hanya malu tadi". Ujar Eimear.
"Yakit tidak apa-apa?". Tanya John.
"Iya". Jawab Eimear.
"Tapi Aku ingin memeriksa seluruh tubuhmu. Mana tahu ada luka". John membaringkan tubuh Eimear dan Ia berada diatas tubuh Eimear dengan senyuman nakalnya.
"Apa yang ingin Kamu lakukan?". Tanya Eimear.
"Memeriksamu. Sudah lama Aku tidak memeriksamu". Ujar John masih dengan senyum seribu makna.
"Kamu mulai agresive ya". Ledek Eimear.
"Bagaimana lagi, ini sudah menjadi kebiasan dan Aku kehilangan kebiasaan ini cukup lama". Ujar John yang masih terus memainkan tubuh Eimear.
Pagi hari ketika matahari masih malu menampakkan diri, sepasang insan muda yang melepas kerinduan, menyatukan cinta memberi kehangatan dalam tubuh dan perasaannya. John dan Eimear. Pasangan yang dipertemukan dengan cara yang unik sudah mulai tak bisa hidup tenang tanpa satu sama lainnya.
Setelah memadu kasih dan cinta, Eimear tertidur kembali sedangkan John pergi membersihkan diri dan bersiap. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. John sudah siap dengan pakaian Jas hitamnya.
"Baby, ayo bangun ini sudah pukul tujuh. Satu jam lagi waktunya sarapan". John membangunkan Eimear karena jam sarapan keluarga Eriska akan dimulai pukul delapan.
"Aku masih ngantuk Babe". Ujar Eimear menutup wajahnya dengan selimut.
"Ayolah Babe, tidak enak jika Kamu bangun siang hari". Ujar John.
Eimear membuka matanya. Melihat suaminya sudah rapi. "Astaga, Suamiku sudah tampan". Ujar Eimear tersenyum.
John mengecup bibir Eimear. "Bangunlah dan bersiap". Ujar John tersenyum.
"Baiklah, bantu Aku untuk bangun". Eimear mengangkat kedua tangannya meminta bantuan pada John justru John mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju kamar mandi lalu menurunkan tubuh Eimear didepan pintu kamar mandi.
"Kamu bersiaplah, Aku akan turun duluan". John mengelus pipi Eimear.
__ADS_1
Eimear hanya mengangguk lalu masuk kamar mandi.
Didalam kamar mandi Eimear hanya tersenyum-senyum melihat perlakuan John.
"Sungguh beruntung Aku menikah dengan Tuan John. Ia sangat baik memperlakukanku. Aku sungguh bahagia dengan kehidupanku sekarang". Eimear tersenyum terus membayangkan wajah John.
Setelah mandi, Eimear menuju ruang ganti. Ia bingung harus mengenakan apa. Ia terbiasa menggunakan celana pendek dan kaos.
"Apa yang Aku gunakan?". Eimear bingung.
Akhirnya Ia memilih overall panjang berwarna hitam dengan T-shirt berwarna putih. Eimearpun bersiap. Setelah bersiap Ia keluar. Ia melihat Eriska yang sudah bersiap menuju Hotel dengan penampilan formalnya. Eimear merasa berbeda melihat Eriska yang berpakaian formal seperti itu. Kemarin yang Ia lihat wanita yang anggun, yang begitu lembut. Saat menggunakan pakaian formalnya, Eriska terlihat berwibawa dan tegas.
"Selamat pagi Nyonya". Sapa Eimear.
"Selamat pagi Eimear. Ayo kita turun". Ajak Eriska.
Merekapun turun bersama menuju ruang makan.
"Nyonya, soal tadi pagi Saya minta maaf". Eimear masih tidak enak.
"Tidak usah merasa seperti itu. Tidak apa-apa lagipula Kamu tidak mengganggu". Ujar Eriska.
"Saya hanya penasaran karena Saya masih belum familiar dengan Agama Nyonya dan penghuni rumah ini". Ujar Eimear.
"Tidak apa-apa. Justru Saya senang jika Kamu ingin tahu. Banyak orang-orang Eropa yang cukup menyebalkan mengatakan Agama Kami adalah Agama terrorist. Bahkan saat Saya kuliah di Paris dulu Saya mendapat bullyan karena Agama Saya". Ujar Eriska. "Di negara Kami ini, mungkin delapan puluh persen beragama Islam. Kau akan mudah mengetahui tentang Agama Kami disini". Ujar Eriska tersenyum.
Mereka sampai diruang makan. Sudah terlihat semuanya kecuali Papa Eriska yang sedang pergi ke Pesantren di Bogor untuk berkunjung.
"Selamat pagi". Sapa Eriska.
"Selamat pagi Nyonya". Sapa John dan James.
"Selamat pagi Sayangku". Eriska menyapa Queena yang sedang duduk dipangkuan Dito.
"Hanya Mereka saja dan Queena mendapat ucapan dan senyuman?". Ujar Dito.
"Ah Kamu kan sudah tadi pagi saat bangun tidur". Ujar Eriska.
"Itu lain lagi. Itu ucapan selamat pagi dari Isteriku dan sekarang dari Nyonya Eriska yang angkuh". Ledek Dito.
"Baiklah pengembala sapi. Selamat pagi". Ujar Eriska tersenyum lalu mengecup kening Dito lalu duduk.
Manis sekali Mereka. Ujar Eimear melihat kemesraan Dito dan Eriska.
Mereka pun mulai sarapan sebelum beraktivitas.
__ADS_1