
Merekapun sampai di rumah sakit terdekat.
Dito membawa badan Eriska dengan Panik menuju IGD. Meski sudah disiapkan bankar namun Dia enggan melepaskan Eriska.
Hingga Ia sampai di IGD lalu dokter datang untuk memeriksa.
Dito Sangat khawatir dan panik saat dokter memeriksa.
"Bagaimana keadaan Istri saya dan anak dalam kandungannya dok?". Tanya Dito was-was.
"Kita tunggu dokter kandungan dulu datang". Ujar Dokter umum yang bertugas.
Tak lama Dokter wanita datang. Ia memeriksa keadaan Eriska Dan juga keadaan janin yang ada dalam kandungan Eriska.
"Bagaimana keadaannya Dok?". Tanya Dito.
"Syukur keadaan keduanya baik. Jangan buat sang ibu mengalami stres berat. Ia harus selalu dalam emosi yang normal". Ujar Dokter.
"Saya akan memberikan resep vitamin dan penguat kandungan. Nyonya harus dirawat beberapa hari sampai keadaannya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu". Ujar Dokter.
"Terimakasih dok". Ujar Dito.
"Alhamdulillah keadaanya baik-baik saja". Ujar Dito merasa lega.
Dito keluar menemui Liam dan Audrey.
"Bagaimana keadaan Eriska?". Tanya Audrey.
"Mereka berdua baik-baik saja. Namun Eriska harus dirawat beberapa hari sampai keadaan nya normal". Ujar Dito
"Syukurlah jika Dia baik-baik saja". Ujar Audrey.
"Kamu mau kemana?'". Tanya Liam.
"Mengurus administrasi". Ujar Dito.
"Yasudah Aku temani. Biar Audrey menjaga Eriska didalam". Ujar Liam.
Merekapun pergi dan Audrey masuk menemani Eriska.
Ditempat lain, Tita dan Yarka sampai di hotel. Tita pergi ke ruangan Surya.
"Surya, apa yang terjadi? Kak Eriska menelepon padaku dan sangat marah". Ujar Tita.
"Saya sudah peringatkan pada Nona, hari ini ada meeting penting". Ujar Surya.
"Meeting bulanan biasa kan? Kenapa kak Eriska sampai marah seperti itu?". Tanya Tita.
"Nona bisa baca berkas ini agar tahu apa yang terjadi". Surya memberikan berkas pada Tita.
Tita menerima dan membaca nya. Betapa terkejut nya Tita saat melihat isi dari berkas itu. Ia terduduk bengong.
"Pantas kak Eriska sangat marah padaku. Omzetnya turun sampai 10% dalam sebulan. Tita bodoh! Apa yang Kamu lakukan?". Tita merasa bersalah pada Eriska.
Tita beranjak dari kursi lalu pergi meninggalkan ruangan Surya.
"Tania, apa yang terjadi?". Tanya Yarka yang melihat Tita berjalan dengan wajah yang kalut.
"Hey Tania".
"Yarka, Kamu bisa pulang sekarang. Aku sibuk". Ujar Tita melepas genggaman tangan Yarka lalu pergi meninggalkan Yarka menuju ruangannya.
Yarka penasaran apa yang terjadi. Ia menemui Surya.
"Pak, apa yang terjadi?". Tanya Yarka.
"Maaf Tuan kita tidak bisa memberikan informasi mengenai hotel kepada orang yang tidak berkepentingan". Ujar Surya.
Yarka pun pergi tanpa mendapatkan jawaban. Ia ingin ke ruangan Tita Tapi wajah Tita sangat tidak ingin diganggu siapapun. Akhirnya Ia pergi dari hotel untuk kembali pulang.
"Apa yang terjadi sebenarnya?". Yarka bertanya-tanya.
Ditempat lain, Tita menangis didalam kantor. Ia sangat merasa bersalah pada Eriska. Ia meraih ponsel nya lalu mencoba menelpon Eriska.
__ADS_1
Panggilan terhubung tapi tidak ada jawaban. Ia terus mencoba namun gagal.
Hingga akhirnya Ia menelepon Dito.
"Halo kak, Ka Eriska dimana? Aku mencoba menelepon nya tapi tidak diangkat". Ujar Tita.
"Eriska sedang dirumah sakit dirawat". Jawab Dito.
"Apa??? Apa yang terjadi?". Tanya Tita Panik.
"Kakakmu sedang Hamil sekarang, Kamu tahu apa yang terjadi hari ini di hotel. Dia stress jadi pingsan". Ujar Dito
"Kak Eriska Hamil?". Tanya Tita terkejut.
"Entah Aku harus gembira atau sedih melihat keadaan kak Eriska sekarang. Aku hanya ingin meminta maaf padanya. Aku sungguh menyesal dengan apa yang terjadi". Ujar Tita merasa sedih.
"Sudahlah Tita, Kamu tahu permintaan maafmu tak berguna untuk Eriska. Sekarang, Kamu perbaiki segalanya lebih baik lagi. Buat kakakmu bangga padamu. Ia sangat percaya padamu maka dari itu Ia memberikan posisinya padamu. Bahkan Surya yang selalu menemani nya Ia tidak berikan jabatan itu padanya karena Eriska tahu hanya Kamu yang mampu. Tita, Kamu bisa berpacaran asal ingat tanggung jawab mu. Apalagi sekarang kakakmu sedang Hamil muda. Ia harus terus dalam keadaan tenang. Aku mohon padamu jaga hotel disana baik-baik demi kakakmu". Ujar Dito.
"Aku janji kak akan memperbaiki semuanya. Aku turut bahagia atas kehamilan kak Eriska. Semoga Kak Eriska sehat kembali segera". Ujar Tita.
"Aamiin. Yasudah kakak tutup dulu ya teleponnya, kakak sedang mengurus administrasi". Ujar Dito.
"Baiklah kak. Salam pada kak Eriska katakan padanya Aku sangat menyesal". Ujar Tita.
"Baiklah. Assalamualaikum".
"Waalaikumsalam".
Dito pun mematikan telepon nya.
Setelah mengurus administrasi, Dito dan Liam kembali menuju IGD.
Dito masuk karena Liam tidak bisa masuk.
Terlihat Eriska sudah sadar namun wajahnya masih terlihat kesal.
"Sayang, sudahlah jangan seperti ini. Kamu gak kasihan dengan Anak kita? Semua akan baik-baik saja". Ujar Dito.
"Tapi.."
"Bocah sialan itu, entah dimana Dia sekarang". Gerutu Eriska.
"Tadi Dia meneleponku. Dia sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Dia berjanji akan memperbaiki nya". Ujar Dito.
"Aku sudah tidak percaya lagi padanya". Ujar Eriska masih kesal.
"Sayang. Beri Dia kesempatan. Ya minimal sampai kita bisa pulang. Jika masih gagal Kamu bisa mencari orang lain atau Aku janji Aku akan bantu kamu". ujar Dito.
"Benar ?". Tanya Eriska.
"Iya sayang. Kan Aku sudah bilang saat perjalan pulang waktu itu". Ujar Dito. "Sudahlah tenangkan dirimu demi anak kita". Ujar Dito memeluk dan mengelus perut Eriska.
"Maafkan Aku sayang, karena Aku bayi kita hampir..".
"Jangan bicara seperti itu, Kamu harus tetap tenang ok". Ujar Dito menenangkan.
Audrey yang melihat drama itu merasa canggung. Ia seperti lalat yang tak terlihat.
"Kkhhmmm Aku keluar dulu ya". Ujar Audrey.
"Ah maaf Audrey kita jadi terbawa suasana". Ujar Eriska.
"Tidak apa-apa. Aku bahagia kamu baik-baik saja. Aku keluar dulu ya menemani Liam". Ujar Audrey.
"Baiklah, terimakasih Audrey". Ujar Eriska Tersenyum.
Audrey melambaikan tangannya.
"Apa Aku boleh pulang?". Tanya Eriska.
"Belum sayang, dokter bilang Kamu harus menginap beberapa hari". Ujar Dito.
"Ahhhh sungguh membosankan". Ujar Eriska sedih.
__ADS_1
"Makanya jangan marah-marah terus. Sekarang ada yang protes padamu jika Kamu marah-marah". Ujar Dito menarik hidung Eriska.
Suster telah datang untuk memindahkan Eriska menuju ruang Inap. Eriska dibawa dengan Kursi roda yang didorong suster dan Dito membawa infus.
Terlihat Liam dan Audrey yang sedang menunggu.
"Ayo, Eriska akan dipindahkan keruang Inap". Ujar Dito.
Audrey dan Liam pun mengikuti dari belakang.
Mereka memasuki lift. Lalu keluar di lantai 3 mereka berjalan dilorong sampai dikamar yang tertulis VVIP
Mereka masuk dan Eriska pindah ke atas tempat tidur. Suster mengecek kembali Infus milik Eriska.
Setelah selesai mengecek Suster pamit keluar.
"Bagaimana keadaanmu?". Tanya Liam.
"Cukup membaik". Ujar Eriska.
"Syukurlah". Jawab Liam lega.
"Oh ya Eriska, Dito. Aku sungguh minta maaf, sepertinya Aku harus kembali ke Paris malam ini. Papa Audrey ternyata sakit. Kita harus pulang segera". Ujar Liam
"Ah apa yang terjadi Audrey?". Tanya Eriska.
"Tidak perlu di khawatirkan hanya diabetes nya naik lagi". Ujar Audrey.
"Semoga Papa mu lekas sembuh". Ujar Eriska.
"Terimakasih Eriska". Ujar Audrey. "Maafkan kami tidak bisa menunggumu disini".
"Ah tidak apa-apa justru maafkan kami yang selalu merepotkan kalian selama disini". Ujar Eriska.
"Kami sangat senang bisa bersama kalian. Nanti kita akan kembali setelah semua membaik". Ujar Liam.
"Setelah Eriska membaik, sepertinya kita juga akan kembali ke Paris. Disini juga percuma kita tidak bisa kemana-mana". Ujar Dito.
"Iya, lebih baik di Paris". Ujar Eriska.
"Yasudah kami akan menunggu kalian kembali ke Paris. Jaga diri baik-baik". Ujar Liam
"Eriska, Aku pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik. Jangan terlalu stress. Sampai jumpa di Paris". Audrey memeluk Eriska.
Mereka pun pergi dari ruang Inap Eriska
"Sayang, Kamu mau sesuatu?". Tanya Dito.
"Aku mau tidur dibahumu". Rengek Eriska.
Dito hanya tersenyum.
Tempat tidur Eriska cukup besar, mereka berbaring bersama diatas tempat tidur.
"Ingat sayang, ditubuhmu ada 2 orang sekarang. Kamu harus jaga makan dengan baik begitu juga dengan emosimu". Ujar Dito mengelus rambut Eriska.
"Iya sayang Aku tahu". Eriska mengusap-usap dada Dito.
"Sayang, jangan lakukan itu nanti ada yang bangun". Ujar Dito.
"Ah Kamu mesum". Ujar Eriska memukul pelan dada Dito.
"Ya maklum saja sudah lama puasa". Ledek Dito.
Eriska hanya tersenyum malu mendengar apa yang dikatakan Dito.
"Kasihan deh harus puasa lagi". Ledek Eriska.
"Awas ya setelah Kamu membaik Aku akan balas dendam". Ujar Dito.
Eriska hanya tertawa mendengarnya.
"Dasar cowok mesum". Ujar Eriska.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku mesum kan sama Kamu aja". Ujar Dito menciumi rambut Eriska.
Merekapun saling rayu dalam kamar Inap. Membuat mood Eriska menjadi baik kembali.