
Rara dan Niall menikmati hidangan yang disediakan.
Dua cangkir cappuccino dan dua potong kue red velvet menemani perbincangan Mereka. Meski Rara berasal dari kampung, tapi Rara sangat pintar dalam hal apapun. Ia selalu membaca banyak buku saat sekolah. Ikut Les bahasa Inggris. Hanya karena ekonomi yang tak mendukung hingga Rara terpaksa untuk bekerja setelah kakak satu-satunya meninggal karena kecelakaan. Setelah Kakak nya kecelakaan, Rara harus menggantikan kakaknya menjadi tulang punggung keluarga terutama untuk mengurus Langit. Keponakan satu-satunya.
"Kamu memang wanita luar biasa Rara. Rela melakukan apapun untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga. Aku benar-benar tidak salah mencintaimu". Ujar Niall menggenggam tangan Rara.
Ra, Aku janji masa sulitmu akan berakhir. Aku tidak ingin Kamu merasakan kesulitan seperti sekarang ini. Ujar Niall dalam hati.
"Kamu teh gombal banget ih dari tadi bilang Aku mencintaimu terus. Kamu kan belum kenal Aku bagaimana". Ujar Rara.
"Tenang saja Kita masih banyak waktu untuk saling kenal sampai melangkah ke pernikahan". Ujar Niall meneguk cappuccino nya.
Rara tersedak lagi "uhuk uhuk uhuk".
"Ra, makannya pelan-pelan. Pelayan ambilkan Air mineral". Teriak Niall.
Tak lama pelayan memberikan air mineral botol laku Niall mengambilnya.
"Minum dulu". Niall membukakan tutup botolnya.
Rara meraih air mineralnya lalu meneguknya.
"Kang ah kalau bicara difilter dulu atuh bikin Aku terkejut mulu". Rara memukul pelan tangan Niall.
"Loh memang Aku mengatakan apa? Aku mengatakan yang sebenarnya". Ujar Niall serius
Rara terus meminum air mineral yang Niall berikan. Rara terkejut saat Niall mengatakan pernikahan.
Aduh gimana ini teh bahas pernikahan segala. Ujar Rara dalam hati.
Niall berdiri menarik tangan Rara. "Mau kemana lagi?". Tanya Rara.
"Ke Mall". Ujar Niall.
"Ih ke Mall mulu. Aku tuh bosen". Ujar Rara.
"Kamu ke mall biasanya kan seperti buntut hanya mengikuti Nyonya. Sekarang Kamu yang menjadi Nyonya". Ujar Niall menarik tangan Rara keluar dari cafe lalu menggunakan kaca mata hitamnya.
Ya Allah kang Niall teh ganteng sekali ya. Ujar Rara dalam hati merasa terpesona.
Mereka masuk mobil. Niall melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Perut Rara berbunyi. Ia merasa lapar. Niall tertawa kecil mendengarnya.
"Kamu lapar?". Tanya Niall.
"Hehehehehe iya Kang". Ujar Rara malu
"Kenapa tidak bilang?". Tanya Niall.
"Saya teh malu Kang". Ujar Rara.
"Rara, ingatlah sekarang Aku kekasihmu. Kamu bisa minta apapun padaku. Jangan merasa malu. Aku bukan peramal yang bisa tahu apa maumu. Jadi, lebih baik Kamu mengatakan nya ya".
Ujar Niall tersenyum.
"Ah Kamu teh menggoda mulu". Rara mencubit tangan Niall.
"Sudah atuh jangan mengeluh mulu". Ujar Niall dengan logat British nya mencoba berbicara Sunda.
__ADS_1
Rara yang mendengar tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahaha Kamu teh lucu sekali berbicara Sundanya".
Niall yang melihat tertawa Rara sangat gembira. Perasaan yang luar biasa melihat orang yang dicintai merasa bahagia disamping kita.
30 menit berlalu, Mereka sampai di Mall. Setelah memarkirkan mobil, Mereka berdua jalan kedalam Mall. Niall menggandeng Rara.
Banyak mata melihat Mereka berdua. Pasangan yang cantik dan tampan. Orang tidak menyangkan bahwa Rara hanya seorang baby sitter.
Mereka masuk kesebuah toko baju brand cukup ternama. Niall mengajak Rara berbelanja.
"Sekarang Kamu pilih mana yang Kamu suka". Ujar Niall.
"Ah bercanda. Ini kan brand yang biasa Nyonya beli. Ih pasti mahal-mahal. Sudahlah tidak usah". Rara menarik tangan Niall untuk keluar. Justru Niall yang menarik kembali tangan Rara.
"Aku sudah bilang kan Kamu hari ini menjadi Nyonya. Ayolah Rara Aku akan senang jika Kamu menerima pemberianku ini". Ujar Niall.
Niall memilih beberapa pakaian santai namun terlihat cantik juga beberapa gaun. Setelah berbelanja, Mereka pergi ke Restaurant untuk makan.
"Kamu mau makan apa?". Tanya Niall.
"Terserah deh". Ujar Rara.
"Japanese foods Kamu suka?". Tanya Niall.
"Tidak"
"Korean foods?".
"Tidak".
"Oh American foods?".
"Terus apa?". Tanya Niall bingung.
"Itu". Rara menunjuk restaurant Sunda dengan excited. "Ayo". Rara menarik tangan Niall.
Niall yang ingin melihat Rara bahagia hanya mengikuti nya. Mereka masuk dan Rara memilih duduk lesehan. Niall tidak pernah duduk seperti itu merasa sedikit kurang nyaman.
"Kamu tidak nyaman ya?". Tanya Rara.
"Oh tidak, Aku hanya baru melakukan ini". Ujar Niall.
"Yasudah kita pindah saja ya". Ujar Rara.
"Tidak usah. Kita disini saja". Ujar Niall.
"Kamu yakin?".
"Yes Baby". Jawab Niall tersenyum.
Rara hanya membuang muka, menutup muutnya yang tersenyum malu.
"Kang, Kamu teh gombal banget deh". Ujar Rara.
"Aku tidak menggombal. Aku mengatakan yang sebenarnya". Ujar Niall.
Makanan pun datang. Sebelum duduk, Rara telah memesan makanannya terlebih dahulu.
"Sudah ah jangan menggombal terus. Lebih baik Kita makan". Ujar Rara.
__ADS_1
Merekapun memulai makan.
"Ra, sendok dan garpunya mana?". Tanya Niall.
"Ih Akan makannya pake tangan". Ujar Rara.
"Makan memang pakai tangan masa pakai kaki". Jawab Niall.
"Ayo ikut Aku". Rara bediri mengajak Niall ke washtafel untuk mencuci tangan. Rara jarang juga menggunakan air kobokan yang diberikan Ia lebih memilih cuci tangan dengan menggunakan sabun.
Mereka kembali duduk lalu Rara mencontohkan makan dengan tangan. Niall terkejut dengan cara makan Rara.
"Ra, pakai sendok dan garpu ya. Aku melihatnya membuat tidak berselera". Ujar Niall tidak suka melihat cara makan Rara.
"Meuni riweuh bade tuang ge". Gerutu Rara.
"Apa yang Kamu katakan?". Tanya Niall.
"Oh tidak". Jawab Rara.
"A... A tolong minta sendok dan garpu ya dua pasang". Ujar Rara.
Pelayanpun memberikan dua pasang sendok dan garpu.
Merekapun memulai makan. "Kamu teh pernah makan makanan Sunda tidak?". Tanya Rara.
"Belum. Ini yang pertama kali". Ujar Niall.
"Bagaimana atuh rasanya?". Tanya Rara penasaran.
"Enak. Apakah ini rasa asli dari masakan Sunda?". Tanya Niall.
"Iya, tapi ada perbedaan juga. Ada tipe orang Sunda yang suka rasa pedas manis, ada tipe orang Sunda yang suka rasa pedas asin. Kalau rasa yang kita makan ini tipe pedas asin". Ujar Rara.
"Lalu Kamu suka yang mana?". Tanya Niall.
"Yang pedas manis. Kalau Aku boleh jujur ya, enakan masakan Emak dirumah daripada direstauran ini". Bisik Rara tersenyum.
"Oh ya? Berarti Aku harus datang ke Kampungmu untuk mencoba masakan Emak". Ujar Niall.
"Ah Kamu bercanda saja. Rumahku disana sangat kampung tidak cocok untukmu". Ujar Rara tertawa kecil.
"Siapa yang bercanda? Aku serius". Ujar Niall.
"Sudah ah jangan bicara itu terus. Lanjut makan saja". Ujar Rara mengalihkan pembicaraan.
Apa Rara tidak suka padaku? Ia selalu menghindari jika Kita berbicara soal hubungan kita. Ujar Niall dalam hati.
Setelah makan, Mereka pergi.
"Kita mau kemana lagi?". Tanya Niall.
"Kita teh nonton saja yuk. Saya lihat di TV ada film yang bagus". Ujar Rara.
Niall merasa gembira sekarang Rara tidak malu seperti tadi.
"Ayo". Ujar Niall.
Merekapun berjalan menuju bioskop.
__ADS_1