Istri Cantikku Yang Angkuh

Istri Cantikku Yang Angkuh
ICYA S2 (38)


__ADS_3

"Baiklah, Aku setuju untuk menikah". Ujar Rara setelah berfikir panjang.


Eriska menghampiri Paman Rara, mengatakan Rara akan menikah. Karena waktu yang mepet dan dokumen belum siap, Rara dan Niall hanya menikah bawah tangan. Pamannya segera pergi kerumah salah satu penghulu untuk menikahi Rara.


Selang dua jam, Pamannya datang bersama pak Penghulu.


Rara sudah diberi hiasan sedikit oelh Eriska juga Niall yang menggunakan jas milik Dito.


Mereka sudah siap melangsungkan pernikahan. Dihadapan Abahnya yang masih sadar dan Emak nya yang masih koma, Niall dengan lantang melakukan ijab Qobul. Pada akhirnya Niall dan Rara sah menjadi Suami Isteri.


"Rara, jadilah Istri yang baik untuk suamimu nak. Jangan sia-sia pria baik ini". Ujar Abah.


"Nak Niall, terimakasih sudah mau menikah dengan Anak Abah. Abah minta tolong jagalah Rara dan Langit dengan baik. Abah percayakan pada Nak Niall".


"Tentu Abah. Saya janji akan menjaga dan membahagiakan Rara dan Langit". Ujar Niall penuh keseriusan.


"Alhamdulillah Abah sudah tenang sekarang. Jaga diri baik-baik ya Rara". Abah menarik nafas panjang dan akhirnya meninggalkan Rara untuk selama-lamanya.


"Abaaahhhhh, Abah jangan tinggalkan Rara. Bangun Abah". Rara mengguncangkan tubuh Abahnya dengan menangis histeris. "Abah bangun Abah".


Eriska yang melihat pun menangis. Ia mengingat saat Mamanya meninggal. Eriskapun merasa hancur. Ia pergi keluar dengan perasaan yang sangat sedih. Dito mengikuti Eriska.


"Sayang". Dito memeluk Eriska yang menangis. Dito faham perasaan Eriska saat ini.


Eriska terisak dipelukan Dito. Dito hanya mengusap punggung Eriska.


Tak lama mendengar teriakan Rara yang memanggil Emak nya. Ternyata Emak nya pun meninggal dunia. Eriska mencoba menutup telinganya. Eriska mengingat lagi kejadian meninggal Mamanya Karena kecelakaan mobil saat mengantar Eriska ke bandara saat Ia akan pergi ke Perancis dan Ia tahu saat Ia sudah sampai di Perancis. Membuat hari-harinya di Perancis begitu kacau apalagi mendapat Bully-an dari kawan-kawannya. Saat Ia mendengar kata kecelakaan Ia selalu sedih dan merasa bersalah atas kematian Mama nya.


"Dito, andai Aku tidak memaksa Mama untuk mengantarku ke bandara mungki Mama masih hidup". Eriska terisak tangis kembali.


"Sayang, Jodoh, rezeky, maut semua sudah tertulis. Semua sudah ada waktunya masing-masing Sayang. Kamu harus merelakan Mama. Memaafkan dirimu sendiri. Mama pasti sedih melihatmu seperti ini". Dito berusaha menenangkan Eriska.


Tak lama Rara dan Niall keluar dengan wajah yang sangat sedih. Eriska yang melihat spontan menghampiri Rara lalu memeluknya. Rara menangis dipelukkan Eriska. Ia merasa sangat hancur.


"Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi Nyonya". Ujar Rara terisak.


"Kamu tidak sendiri Rara, masih ada Kami keluargamu". Eriska memeluk Rara dengan erat.


"Ra". Niall menyentuh pundak Rara.


Eriska melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Rara hanya menunduk. Niall memeluk Rara dan Rara membalas pelukannya. "Ra, sekarang Aku adalah Suamimu. Kamu tidak sendiri. Aku berjanji akan selalu berada disampingmu dan menjagamu dengan baik".


Rara tak menjawab apapun. Ia hanya diam menangis dalam pelukan Niall.


Selang tiga jam berlalu, petugas kamar mayat memberitahu bahwa kedua mayat orangtua Rara sudah siap dikebumikan. Sudah dimandikan hanya perlu disholatkan.


Merekapun pergi menuju rumah Rara. Rara pergi dengan mobil Niall juga Langit. Dito dan Eriska menyusul dari belakang.


Sampai dirumah duka. Rumah sederhana terlihat dari luar. Begitu hancur nya Rara harus pulang dengan membawa jenazah kedua orangtuanya. Sudah banyak penduduk yang datang karena paman Rara sudah memberitahu sebelumnya. Banyak yang mengucap belasungkawa kepada Rara. Banyak juga yang melihat Eriska dan Dito serta Niall yang selalu disamping Rara.


Setelah di sholatkan, Mereka langsung membawa ke Tempat Pemakaman Umum. Setelah selesai dikuburkan, Mereka kembali kerumah.


"Ra, Kami pulang dulu ya. Kasihan Queena ditinggal dengan Opa nya. Besok Kami kembali lagi". Ujar Eriska.


"Nyonya, terimakasih banyak atas semuanya. Saya mungkin tidak bisa membalas semua kebaikan Nyonya dan Tuan". Ujar Rara yang masih dengan keadaan sedih.


"Sudahlah Ra, Kamu sudah Saya anggap adik sendiri. Kamu yang kuat ya. Kamu tidak sendiri Ra. Kamu masih punya Kami dan sekarang ada Niall yang sudah menjadi suamimu". Ujar Eriska.


"Terimakasih Nyonya". Ujar Rara.


Eriska memeluk Rara. "Yasudah Kami pamit dulu. Niall jaga Rara dan Langit". Ujar Eriska.


Eriska dan Dito pun pergi. Semua yang melayat sudah tidak ada. Hanya Rara Dan Niall. Langit pun sudah tertidur.


Rara duduk di tempat tidur kedua orangtua nya. Rara menangis melihat potret kedua orangtua nya. Niall menghampiri dan duduk disampingnya.


"Ra". Niall menyentuh bahu Rara.


Lamunan Rara pun pecah. Ia memandang Niall dan mencoba memberikan senyuman. Pria yang rela melakukan apapun. Pria yang setia disampingnya. Niall menyentuh pipi Rara.


"Ra, relakanlah kedua orangtuamu. Mereka akan sedih melihatmu seperti ini". Niall mencoba menenangkan Istri baru nya.


Rara bersandar didada Niall. "Terimakasih Kang sudah melakukan ini semua. Jika tidak ada Akang pasti sulit Aku hadapi". Ujar Rara menangis memeluk erat Niall.


"Rara, jangan bicara seperti itu. Aku sangat bahagia bisa menikahimu. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan Langit". Niall membelai lembut rambut Rara.


Cukup lama Rara berada dipelukan Niall hingga Ia tertidur. Malam itu Rara dan Niall tidur bersama. Niall yang selalu menjaga Rara tanpa lelah. Sesekali Rara menangis dalam tidur memanggil kedua orangtuanya. Niall terus mengusap air mata Rara.


Jam menunjukkan pukul 3 pagi. Niall masih terjaga untuk menjaga Rara. Rara terbangun. Ia melihat Niall yang masih terjaga.


"Kang Kamu tidak tidur?". Tanya Rara.

__ADS_1


Niall hanya tersenyum. "Aku sedang menjaga Istriku". Ujar Niall.


"Ya ampun Kang tidak segitunya juga kali. Kamu pasti sangat lelah". Ujar Rara.


"Tidak apa-apa Ra, Aku sudah terbiasa tidur malam". Ujar Niall.


Tiba-tiba terdengar perut Niall berbunyi. Ia merasa lapar.


"Astagfirullah, Kang maaf ya Aku tidak fokus padamu. Sejak siang belum makan apa-apa lagi". Ujar Rara. "Aku mau lihat didapur ada apa". Ujar Rara hendak pergi.


Niall menahan tangan Rara. "Tidak usah. Kamu bisa istirahat". Ujar Niall.


"Tidak bisa atuh Kang nanti Kamu sakit. Kamu tunggu dulu disini". Ujar Rara hendak keluar kamar menuju dapur.


20 menit berlalu, Rara membawa sepiring nasi goreng yang masih hangat dengan air teh hangat. Saat masuk kamar, terlihat Niall tertidur dengan posisi duduk.


"Ya Allah kasihan sekali si Akang". Ujar Rara.


Rara duduk disebelah Niall. "Kang, bangun yuk makan dulu". Rara mencoba membangunkan Niall.


Niall terbangun. "Ada apa Ra?". Tanya Niall yang mengucek matanya.


"Ini makan dulu". Rara memberikan sepiring nasi goreng pada Niall.


" kenapa hanya satu piring? Kamu sudah makan?". Tanya Niall.


"Aku tidak lapar Kang". Ujar Rara. Namun perkataannya lain dengan perutnya. Perut Rara berbunyi pertanda Ia juga lapar.


"Kalau tidak lapar, kenapa perutmu berbunyi?". Tanya Niall.


"Sebenarnya nasinya hanya ada 1 piring. Beras juga habis jadi hanya itu saja. Tidak apa-apa Akang makan saja nanti pagi Aku akan masak lagi". Ujar Rara.


Niall pun menyendok nasi goreng nya dan menyuapi Rara. "Makanlah, Kita makan bersama". Ujar Niall tersenyum.


Rara menerima suapan pertama dari Suaminya. Niall pun memakan nasi goreng pertama buatan Istrinya.


"Heeemmmm masakanmu enak sekali Ra. Aku tidak menyangka Kamu hebat dalam memasak". Ujar Niall.


"Syukurlah kalau Akang suka. Aku teh cuma bisa masak makanan kampung". Ujar Rara.


Mereka menghabiskan waktu bersama. Makan bersama dan berbincang bersama hingga Mereka tertidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2