
Santi membantu Barley untuk mengancing kemejanya, saat itu Barley terus memandanginya dengan lekat seraya tersenyum.
Santi pun membalas senyuman Barley sesaat kemudian ia kembali fokus memasangkan kancing kemeja Barley, Santi melirik sekali lagi, tapi tatapan Barley tetap tak beranjak darinya, menatapnya dengan mesra seraya tersenyum membuat Santi semakin grogi.
Beberapa kali terjadi, Santi pun tak tahan
"Sayang! berhentilah menatap ku seperti itu, aku jadi malu," ucap Santi jengah seraya menundukan kepalanya karna grogi.
"Kenapa Sayang? apa aku tak boleh memandang mu? bukannya kau itu milik ku?"Ia pun mengecup bibir Santi kemudian menggigit pelan bibir bagian bawah istrinya.
Santi tersenyum tersipu, " Aku hanya tak ingin kau merasa bosan saja jika memandangi ku terus," sahutnya seraya memasang dasi pada leher kemeja Barley.
Barley menyunggingkan senyum tipisnya, "Sayang ..cinta itu berbeda dengan hasrat yang bisa datang dan pergi hanya waktu dan untuk sesaat, tapi cinta ku tak akan pernah pergi sampai maut yang memisahkan kita sampai mati," ucap Barley sambil menatap istrinya dengan tatapan berbinar, setiap harinya cinta semakin tumbuh subur di hati mereka.
Santi menggantung dengan manja melingkarkan tanganya pada leher Barley.
"Benarkah sayang? kau tak akan tergoda gadis mana pun, meski ia lebih cantik dari ku?"tanya Santi dengan tatapan mata berpendar menatap bola maa Barley.
"Ehm, aku tak tahu apa yang terjadi nanti, tapi saat ini aku tak pernah berniat membagi cinta mu. aku akan mencintai mu sampai mati, sampai maut yang memisahkan kita, kau tenang saja aku bukan playboy, jika saja aku mau, tak perlu menunggu waktu esok atau lusa, sekarang juga akan ku lakukan karna begitu banyak kesempatan, tapi itu bukan aku. Aku bukan orang yang sempurna, tapi aku orang yang selalu berusaha menepati janji ku. Sekali menikah, maka itu untuk selamanya dan hanya ada satu ratu dalam mahligai rumah tangga ku", ucapnya dengan mata berbinar menatap lekat istrinya sebuah ucapan yang tulus yang keluar dari hatinya.
Santi tersenyum bahagia, bulir bening pun meniti perlahan di pipinya, "Aku cinta kau sayang, sangat menciuntai mu," ucapnya secara spontan dan lugas.
Barley tersenyum, Ehm me too," sahutnya seraya menyambar bibi sang istri menciuminya dengan mesra.
Santi membalas panggutan bibir sang suami, tangannya menyapu lembut rambut Barley dengan bulir air mata haru yang perlahan membasahi bibirnya.
Perlakuan Barley sangat berbeda dari pertama ia mengenalnya, parasaan benci itu semakin berubah menjadi cinta, setelah ia mengenal suaminya.
Memang benar pepatah mengatakan,' tak kenal maka tak sayang'
Setelah puas saling mengungkap perasaannya, keduanya pun saling melepaskan pangutan mereka, kemudian saling melempar senyum bahagia.
"Ayo Sayang, aku bisa terlambat, dan biasanya jika aku datang terlambat, Arief akan menatapku kemudian melirik ke arah arlogi-nya, ia akan menghitung beberapa detik aku terlambat,"paparnya sambil merangkul memeluk Santi dengan mesra.
"Hem, kenapa tak kau patah kan saja tengkuknya, berani nya dia menyindir suami ku yang tampan dan baik ini," rayu Santi sambil mengelus dagu Barley yang mulus tersebut.
"Ehm sejak kapan istriku jadi penjilat ha ha, " Barley.
"Aku bukan menjilat tapi merayu mu Sayang," sambar Santi.
Mereka pun menuju meja makan, Barley menuju kamar tuan Marco untuk mengajaknya sarapan.
Tiba-tiba saja terdengar bel berbunyi.
Tuan Marco duduk bersama Santi sedangkan Barley berjalan menuju pintu untuk membuka pintu.
Santi memoles roti dengan mentega rendah lemak untuk tuan Marco.
Beberapa saat kemudian Barley tiba dengan dua orang asisten rumahnya
Wati dan Inem.
Tuan Marco heran menyadari kedatangan tamu yang tak ia kenal.
"Daddy, perkenal kan ini Wati dan Inem, selama Daddy sakit aku meminta mereka untuk menemani dan membantu Santi di sini." Barley
"Ini Wati asisten Santi, biasanya dia yang mengurus keperluan istri ku." Barley.
Tuan Marco mengangguk.
"Dan ini Inem, dia yang akan memasak dan bantu memberskan rumah."
Tuan Marco mengangguk pelan.
"Bagaimana Daddy? aku rasa Daddy akan segera sembuh setelah di kelilingi Charlies Angel ini ha ha ha," canda Barley.
__ADS_1
"Ha ha ha biaa saja kau Barley," sahut tuan Marco dengan tawa sumringahnya, sejujurnya ia memang senang, karna biasanya yang menemaninya hanya Munir.
Mereka pun duduk kembali.
"Dengan begini aku tak perlu menyuruh Munir datang kemari untuk menemani ku, kepala Daddy terasa seperti di rifles kembali." Tuan Marco.
"Oh Ya? Ehm atau sebaiknya aku cari mommy baru untuk Daddy, seperti Daddy ku sekarang ia bahagia dengan istri barunya," cetus Barley kemudian mengunyah rotinya.
"Mana ada wanita yang tulus mencintai Daddy Barley, mereka semua hanya menginginkan harta Daddy, Daddy tak ingin lagi patah hati dan merasakan kecewa," papar tuan Marco sedih.
"Daddy setiap orang berhak bahagia, tak semua wanita seperti itu, itu karna Daddy takut untuk membuka diri." Barley.
Tiba-tiba saja tercetus ide jahil Barley ketika melihat Wati yang keluar dari kamarnya.
"Wati! panggi Barley.
Wati yang baru keluar dari kamar buru-buru menghampiri Barley.
"Ada apa tuan muda?"tanya Wati hormat meski usia nya jauh lebih tua dari Barley.
"Wati apa kau punya kenalan seorang janda kerabat atau teman mu?"tanya Barley iseng entah apa yang terpikir olehnya saat itu.
"Ehm, ada Tuan, di kampung," sahut Wati.
"Sayang kenapa kau bertanya seperti itu? tanya Santi bernada cemburu.
Barley mengedipkan matanya kearah Santi.
Santi pun tersenyum.
"Ehm kalau di kampung terlalu jauh, bagaimana kalau kau saja yang menikahi Daddy ku? bukannya kau juga seorang janda?"tanya Barley mengada-ada.
Sejujurnya Barley ingin tuan Marco ada pendamping hidup dan menemaninya, jika mencari di luar mungkin ada banyak wanita yang mengantri ingin menikahi Daddy-nya, tapi ia sendiri tak tahu sifat asli mereka, sedangkan Wati ia mengenal Wati sudah lama sejak Wati bekerja di rumahnya, jadi ia tahu seperti apa Wati.
Santi, tuan Marco dan Wati.
Wati pun menunduk tersipu begitu pun tuan Marco yang di buat malu oleh Barley.
Keduanya pun saling melirik malu-malu kucing.
Wati seorang janda berumur empat puluh tahun, sementara tuan Marco berusia lima puluh lima tahun.
Wati tertunduk dan tersipu malu, Apa yang kurang dari pria tampan yang berumur, secara fisik tuan Marco masih terlihat segar Bugar begitu pun wajah indonya yang masih terlihat tampan.
Tak pernah terbayang di benak Wati jika sampai hal tersebut terjadi sungguh sebuah kisah yang mirip Cinderella, dari babu jadi ratu.
Mereka semua hening dengan senyum yang terlukis di sudut bibir masing-masing.
***
Arief sudah siap dengan stelan lengkap ala eksekutif mudanya.
Dengan menggendong Asyia ia pun menuju kamar Asyia.
"Dinar! Dinar!" Seru Arief memanggil Dinar.
Mendengar panggilan Arief Dinar buru-buru menghampiri pria tampan yang terlihat begitu kalem tersebut.
"Ada apa Pak?" tanya Dinar.
"Saya titip Asyia, bawa dia berjemur beberapa menit tapi jangan terpapar sinar matahari langsung." Arief
"Baik Pak," jawab Dinar dengan patuh.
"Ya sudah saya berangkat dulu, tugas kamu hanya jaga Asyia, untuk urusan lain ada bibik yang mengerjakan." Arief.
__ADS_1
"Baik Pak," sahut Dinar lagi.
'Saya jaga Asyia untuk bapak, tapi tolong jaga hati bapak untuk saya' batin Dinar tersenyum simpul.
Arief menggendong Asyia, "Sayang paman berangkat kerja dulu, kamu jangan merepotkan kak Dinar ya," ucap Arief seraya mencium bayi mungil tersebut.
Asyia menggeliatkan tubuhnya.
'Ehm kok panggil kakak sih, harusnya panggil bibi dong,' batin Dinar lagi, ia pun tersenyum mendengar suara batinnya.
Arief meletakan Asyia di dalam boxnya, kemudian berlalu.
Melihat Arief yang hendak pergi Dinar menahannya.
"Ehm Pak tunggu!" seru Dinar mencoba menahan Arief.
"Ada apa ?"tanya Arief sambil membalikan tubuhnya.
"Ehm Pak, saya sudah siapkan nasi goreng spesial untuk sarapan Bapak," ucap Dinar sedikit tersipu ia pun menggigit bibir bagian bawahnya.
Arief tersenyum tipis ke arah gadis tersebut.
"Iya nanti saya makan, terima kasih," ucap Arief ia pun Berlalu.
Dinar melihat Arief yang perlahan menjauh darinya.
"Ehm kembali kasih Pak," sahutnya seraya tersenyum mengulum.
***
Di kantor Anggi sudah tampil cantik dengan rok span di atas lutut dan kemeja ketat yang semakin menonjolkan dua pepaya yang menggantun di dadanya.
Dengan lipstik berwarna merah menyala dengan rambut yang di semir berwarna cola dan di buat sedikit bergelombang semakin menambah pesonanya.
Ehm. Candra berdehem melihat Anggi yang masih sibuk merapi kan make-upnya
"Ngi!"panggilnya.
"Apa?" sahut Anggi sambil menambah perona di pipinya.
"Terang banget Ngi! lampu send loh," sindir Chandra melihat blush on Anggi.
"Biarin, suka-suka gue," cetusnya.
"Eh bukanya tuan melarang kamu berpakain seksi di kantor?"Chandra.
"Eh, itu kalau bos gue tuan Barley, tapi bos gue sekarangkan pak Arief," sahut Anggi ketus.
"Ehm serah loh deh!"
Tiba-tiba Anggi melihat Arief dari kejauhan, ia pun segera pasang aksi.
"Eh Chan, loh jauh-jauh deh! hus hus " Anggi menepis nepis tangan Chandra.
"Kenapa?"tanya Chandra bingung.
"Nanti pak Arief joules tau! tuh orangnya sudah datang, hus hus."
"Huh kepe-dean loh! kayak pak Arief mau aja tergoda sama loh!" dengus Chandra.
"Eis loh nyepelein gue? lihat saja nanti, dengusnya sambil membuang muka
Anggi pun memulai aksinya mendekati Arief.
Bersambung, ehm gimana guys kalian setujunya Arief sama Dinar atau sama Anggi? berikan komentarnya, terima kasih telah mendukung author, maaf kalau author banyak typo, tp nanti saya coba perbaiki. dan satu lagi guys setelah baca komen ada yg mengeluhkan visual si Santi ya wkwkwk, maaf ya guys sebenarnya visual itu hanya Barley yang artis, sisanya author Noveltoon ops kanget nga?, dan saya sendiri juga ada di sana, yang mana ayo? wkwk kalau mau lihat penampakan autor lihat saja visual Santi π π . oke reader yang baik nanti in shaa Allah author ganti ya yg lebih beken π π ,dasar authornya ngak nyadar diri berani-beraninya pasang muka jeleknya di sanaπ π
__ADS_1