
Barley dan Santi tiba di rumah sakit dan langsung menuju unit gawat darurat.
Seorang petugas kesehatan datang membawa brankar dan membantu meletakan tubuh Santi.
"Sayang kau harus bertahan ya. Kau harus kuat demi anak-anak kita, hiks." Barley langsung menangis melihat wajah Santi yang begitu pucat.
Santi tak bisa menjawab atau pun bicara, ia hanya menggangguk lirih menahan rasa sakit dengan mata yang semakin berat.
Dan perlahan Santi mulai kehilangan kesadarannya.
Keadaan Santi semakin parah karna terlalu banyak kehilangan darah.Matanya kini tertutup rapat.
Melihat itu , Barley syok Keadaannya persis seperti mimpinya semalam.
"Sayang! bangun lah Sayang, aku mohon bicara pada ku sepatah kata saja, hiks hiks hiks, " pintanya dengan memelas.
"Sayang! sayang kau mendengar ku kan? " tanya Barley sambil menggenggam tangan Santi yang berbaring di atas brankar.
Air mata tersebut sakin intens mengalir.
"Permisi Tuan, kami periksa terlebih dahulu," ucap suster ketika Santi berada di ruang UGD.
Barley melepas genggaman tangannya dengan berat hati.
***
Barley menunggu pemeriksaan istrinya dengan gelisah.
Seorang suster menghampiri Barley yang tengah duduk bersandar pada kursi tunggu. Tubuhnya terasa lemas seketika.
"Maaf Tuan, Nyonya harus segera di operasi.Untuk menyelamatkan salah satu atau keduanya. "
Kreak, bagai tersambar petir Barley mendengar kabar tersebut.
"Apa maksud anda?!" tanya Barley dengan nada emosi.
"Kami akan berusaha menyelamatkan dua-duanya. Jika memungkinkan. Tapi, jika salah satu dari mereka yang bisa selamat, anda bisa pilih siapa yang terlebih dahulu di tangani?"
Barley semakin emosi.
"Apa pun yang terjadi selamatkan istri ku! " teriak Barley.
Semua mata tertuju padanya.
Tubuh suster tersebut sampai bergetar mendengar suara bariton dari pria tampan dan gagah yang ada di hadapannya.
"Baik Tuan! Silahkan tanda tanggani surat persetujuan operasinya ya Tuan. " Suster tersebut pun menyodorkan berkas untuk di tanda tanggani keduanya.
Dengan tangan gemetar Barley menandatangani nya. Kemudian ia langsung menyodorkan surat persetujuan tersebut.
Santi pun sudah tak sadarkan diri ketika tubuhnya di dorong melewati koridor rumah sakit.
Barley menggenggam tangan Santi erat, mengiringi tubuh Santi yang berbaring di atas brankar.
"Sayang! hiks hiks hiks sadar Sayang! Dengarkan aku sayang, kau harus kuat hiks hiks hiks" Barley semakin tak berdaya melihat sang istri dalam keadaan kritis.
Santi di bawa masuk ke dalam ruang operasi.
Barley mendaratkan bokongnya di atas kursi tunggu, Pria perkasa sepertinya seperti tak lagi mampu menahan berat tubuhnya sendiri.
Barley merasa lemas dan tak berdaya. Baginya Santi adalah kekuatan dan kelemahannya.
"Tuhan tolong selamatkan istri dan anak ku, hiks hiks, Kau boleh ambil apa saja dari ku, asal jangan ambil orang-orang yang aku sayangi Hiks hiks hiks."
Barley berdoa dengan air mata yang mengaliri deras dengan wajah yang tertunduk.
"Mommy! " teriakan Andhra terdengar di telinga Barley.
Andhra di gendong melewati lorong lorong rumah sakit menuju ruang operasi.
Andhra turun dari gendongan tuan Hasta kemudian berlari menghampiri Barley.
"Daddy! " seru Andhra sambil menangis.
__ADS_1
Melihat putra tiba, Barley menghapus air mata.
Bruk, Tubuh Andhra menghambur memeluk Barley.
"Daddy! di mana Mommy? hiks hiks " tanya Andhra dengan tubuh terguncang menahan tangisnya.
Barley memeluk putranya.
"Mommy sedang di operasi Nak. Doakan Mommy agar selamat ya," ucap Barley sambil memeluk putranya tersebut.
Keduanya pun menangis haru.
Barley masih terbayang dengan mimpi buruknya. Iya berharap itu hanya sebuah firasat dan tak menjadi kenyataan.
Tuan Marco dan Wati pun tiba, Melihat putranya bersedih, tuan Marco memeluk Barley.
"Tenanglah Nak, istri mu orang baik dia pasti akan selamat. " tuan Marco.
Barley menghapus air matanya.
"Terima kasih Daddy."
Barley berada di antara para ayah yang selalu mensuportnya.Namun tak sedikit pun rasa gelisahnya surut.
Waktu berlalu dengan lambat, detik-detik terasa bagaikan sepi hanya suara hati yang selalu bergema melantunkan pujian dan doa-doa untuk keselamatan seseorang yang sedang berjuang menyelamatkan nyawa lain-nya.
Tim dokter berusaha menyelamatkan bayi yang keluar dalam keadaan yang tampak membiru.
Penangan pun cepat di lakukan kepada sang bayi yang telah menghirup air ketuban yang bercampur mekonium. Bayi tersebut pun lahir tak menangis.
Operasi Santi terbilang berhasil, meski pendarahan masih terjadi.
Lampu panel di ruang operasi mati. Tandanya operasi telah selesai.
Barley semakin cemas, karna tak ada suara tangis bayi dari kamar operasi
"Ya Allah, apa yang terjadi pada istri dan anak-anak ku,"guman Barley yang makin tampak sedih.
Melihat putranya yang terlihat frustasi, tuan Hasta menepuk pundak putranya.
"Hiks, Iya Daddy."Barley coba menguasai perasaannya.
Sementara Andhra masih erat memeluknya.
"Kau sudah telpon mertua mu Barley?" tanya tuan Hasta.
Barley menggeleng.
"Aku lupa Daddy."
"Ya sudah biar Daddy saja yang telpon. Minta doa dari mereka, Semoga Santi kuat melewati semua ini. " tuan Hasta.
"Aku sudah tak sanggup berpikir Daddy. Aku tak sanggup jika harus kehilangan istri ku, hiks hiks hiks." Barley kembali menangis, teringat bagaimana ia pernah kehilangan Sania.
"Ya Tuhan. Kau sudah pernah menggambil sesuatu yang bearti dalam hidupku.Namun, kau menutup luka hatiku dengan kehadiran-nya. Tapi ku mohon kali ini jangan ambil lagi dia dari ku, karna aku tak mau kau menggantikannya dengan siapa pun," batin Barley.
Air mata Barley terus berderai menahan rasa sesak dan takut kehilangan.
Barley memeluk Andhra semakin erat.
"Doakan Mommy Nak, hiks. Doa anak sholeh dan baik hati pasti akan di kabulkan," bisik Barley sambil memeluk erat sang putra.
"Iya Daddy, ini Andhra sedang berdoa dalam hati. Andhra minta agar Mommy dan adik selamat dan Andhra janji akan jadi anak yang baik, dan tak manja pada mommy lagi, hiks hiks, " tutur Andhra sedih keduanya pun semakin erat memeluk, saling menguatkan satu sama lain.
Terdengar bunyi suara bed hospital yang di dorong dari ruang operasi.
Petugas mendorong bed hospital keluar dari ruang operasi.Saat itu Santi masih rapat menutup matanya.
Barley dan Andhra segera mendekat kerah petugas yang membawa istrinya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok. "
"Operasinya Alhamdulilah berjalan lancar. Namun, pasien masih mengalami pendarahan. Kami sudah memberi obat untuk menghentikan pendarahannya, semoga saja pendarahan bisa berhenti dan pasien bisa kembali sadar. "
__ADS_1
" Aamiin. "
"Lalu bagaimana dengan keadaan anak saya?" Barley.
" Anak anda sedang di tangani. Sungguh sebuah keajaiban keduanya bisa selamat. "
Mendengar semua berita baik tersebut Barley baru bisa bernapas lega.
Mereka membawa Santi menuju ruang perawatan.
Sementara bayinya, di bawa ke ruang perawatan bayi yang baru lahir.
Barley tersenyum saat seorang suster membawa box bayi dengan tutup kaca.
Air matanya menetes haru melihat bayi munggil yang mirip Andhra ketika lahir.
"Terima kasih Tuhan, kau tambahkan lagi, anugrahmu berupa malaikat kecil itu pada keluarga kecil ku yang bahagia."
Mereka pun tiba di ruang perawatan Santi.
Setelah memeriksa keadaan Santi, petugas meninggalkan-nya di dalam ruangan tersebut bersama keluarnya.
Andhra dan Barley mendekat kearah Santi mereka pun mencium sosok yang terbaring dengan mata yang tertutup.
"Sayang bangunlah, terima kasih karna kau telah berjuang melahirkan buah hati kita," ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Santi.
"Mommy bangunlah Andhra sudah janji akan jadi anak-anak yang baik. Sayang mommy, sayang adik," bisik Andhra sambil mencium tangan Santi.
Mereka seolah tak sabar menunggu Santi membuka matanya, hingga mereka terus memanggil-manggil nama Santi dan membisik-bisikan hal yang indah di telinganya.
***
Dalam keheningan-nya,kesendirian-nya. Santi yang berada dalam alam bawah sadarnya mendengar suara lirih yang memanggil namanya.
Iya berusaha mencari asal suara namun suara tersebut semakin jauh, sekuat mungkin ia membuka matanya, mencoba untuk tersadar agar ia tak semakin tersesat dalam ruang hampa yang begitu gelap.
Mata Santi terbuka perlahan.
"Sayang kau sudah sadar? " sambut Barley dengan lega.
"Mommy, sudah sadar," seru Andhra menyambut bahagia.
Santi melempar senyum melihat mata keduanya terlihat sembab.
"Kenapa kalian menangis? " tanya Santi dengan suara yang lirih.
"Kami takut kehilangan kamu Sayang," jawab Barley.
"Ia mommy, Kami sayang mommy." Andhra.
Santi kembali tersenyum meraba kedua wajah tampan anak dan suaminya.
"Mana mungkin aku pergi meninggalkan dua pangeran tampan ku ini, "ucapnya lirih, ia pun tersenyum.
"Aku tahu sayang kau tak akan tega membiarkan ku sendiri merawat dan membesarkan putra putri kita, "ucap Barley kemudian mengecup kening istrinya.
"Hm, Santi bahagia. Jadi putri kita selamat? " tanya Santi.
"Iya sayang." Barley.
"Mommy! jangan sakit lagi ya," pinta Andhra.
"Hm, kalau gitu sayang mommy dulu."Santi.
"Kami Sayang mommy," keduanya mencium kedua sisi pipi Santi secara bersamaan.
"Hm, senangnya di sayang dua pria tampan ku ini," ucap Santi ketika ciuman itu lekat di pipinya.
Bersambung dulu ya guys. mohon dukungannya dengan like, saran dan kritik, hadiah dan vote juga. He he kalau boleh.
Terima kasih karna masih setia.Love u All.
Author punya rekomendasi novel keren nih. cus mampir. Ivanna, putri ceo milik sultan.
__ADS_1