
Raffa berada di balkon rumahnya.Matanya menatap langit malam yang di hiasi bintang-bintang yang bertahta di angkasa.
Baru kali ini ia merasakan jatuh cinta tapi baru kali ini juga ia merasakan sakitnya karna patah hati, Raffa pun teringat kata-kata Asyia di saat pertemuan terakhir mereka.
' Sudahlah Raffa, mbak Asyia juga tetap jadi milik kamu meski dengan konteks yang berbeda. Lagi pula tak lama lagi mbak Asyia juga akan pergi dari dunia ini.untuk selama-lamanya. Jadi mulai sekarang belajarlah melupakan perasaan tersebut.'
R
"'Mbak Asyia hiks. Aku ngak mau kehilangan mbak Asyia untuk selamanya. Ya Tuhan semoga ada keajaiban untuknya.Aku ingin melihatnya bahagia meski bukan aku yang jadi pendampingnya."
Dinar melihat Raffa yang masih berdiri di balkon padahal hari sudah larut malam.
"Raffa masuk Nak! Kenapa kamu berdiri di balkon? "tanya Dinar.
Raffa pun masuk ke beranjak dari tempatnya berdiri.
Raffa menghampiri Dinar dengan wajah yang terlihat sedih.
"Raffa, kamu kenapa terlihat sedih sih?" tanya Dinar yang menatap lekat wajah Raffa.
Raffa duduk di kursi yang ada di dekatnya.
"Raffa mengkhawatirkan mbak Asyia Bu. Bukannya vonis dokter jika umur mbak Asyia ngak sampai dua puluh tahun. Itu bearti, huh Raffa menghempaskan napasnya dengan kasar.
"Tak terbayang jika mbak Asyia pergi meninggalkan kita semua." Raffa.
Dinar mengusap punggung Raffa. " Mbak Asyia akan pergi jika memang sudah saatnya ia pergi. Dan semua itu atas ijin yang kuasa. Kamu ngak perlu memikir apa yang belum terjadi, yang penting tugas kamu adalah menjaga mbak mu itu. Karna penyakitnya sering kumat tanpa di duga."
"Iya Bu," sahut Raffa lirih.
"Ya sudah kalau begitu masuk kamar kamu, ngak baik begadang."
Dinar pun berdiri dan melangkah menunu kamarnya.
Raffa menatap kepergian Dinar.
"Iya bu. Raffa janji. Raffa akan jaga mbak.Asyia. Raffa ngak akan punya pacar atau punya istri hingga tugas tersebut selesai.Sampai mbak Asyia hidup bahagia bersama orang yang ia cintai atau sampai mbak Asyia pergi dengan tenang meninggalkan dunia ini," guman Raffa.
Selama ini memang banyak gadis seusia Raffa yang menyukainya. Tapi Raffa tak pernah hirau.Sejak kecil ayahnya selalu berpesan agar ia menjaga Asyia.
__ADS_1
***
Hari ini adalah hari jadi pernikahan Aldo dan Delia.
Aldo berada di sebuah pusat perbelanjaan di sebuah tokoh mas.
Rencananya ia ingin membeli satu set perhiasan untuk sang istri.
Ada beberapa banyak set perhiasan yang di tawarkan oleh penjaga tokoh.
"Pilih yang mana Mas?" tanya pelayan toko.
"Hm semua bagus-bagus ya mbak?" guman Aldo. Aldo menyentuh sebuah gelang berbentuk love dengan taburan batu hiasan.
Tiba-tiba tangan seorang wanita menyambar gelang yang di sentuh oleh Aldo.
"Mas aku mau yang ini," ucap wanita yang menyambar gelang yang Aldo taksir.
Aldo kaget karna gerakan tiba-tiba tersebut, padahal ia sudah naksir dengan gelang tersebut.
"Hai mbak! Saya duluan yang memilih gelang itu !" Seru Aldo.
"Amora!"guman Aldo dengan mata yang membelalak kaget.
Hal yang sama terjadi pada Amora.
"Aldo?!" Amora lebih kaget. Ia pun memperhatikan Aldo dari bawah sampai atas.
Aldo yang ada di hadapannya tak jauh berbeda dengan Aldo yang pernah ia kenal.
Pria tersebut masih tampak tanpan dengan outfit kekinian yang sesuai dengan.umurnya saat itu.
Tanpa ada cacat, Aldo berdiri tegak. Sejenak tatapan mereka pun terkunci.
"Sayang!"Panggil pria gendut yang terlihat seperti bos-bos pengusaha kelas menengah ke bawah.
Keduanya pun saling memalingkan wajahnya.
Amora menoleh ke arah pria tua tersebut.
__ADS_1
"Kamu jadi beli perhiasan ini?"tanya bos gendut tersebut.
"Itu pilihan saya sebelumnya! Jadi maaf perhiasan itu jadi milik saya," ucap Aldo dengan tegas seraya menadahkan tanganya meminta Amora mengembalikan gelang tersebut.
Dengan wajah cemberut Amora meletakan perhiasan tersebut di telapak tangan Aldo.
Tanpa sengaja kulit mereka pun bersentuhan.
Seketika Amora teringat dengan asmara gelap yang pernah ia jalani bersama Aldo.
Aldo menyerahkan gelang tersebut kepada pelayan toko.
"Jadi yang ini mas pilihannya," ucap pelayan toko.
"Iya yang ini."Aldo pun mengeluarkan kartu sakti miliknya.
Amora membelalakan matanya. Melihat Aldo yang membayar perhiasan yang cukup mahal menurutnya saat itu.
Karna setahunya Aldo itu pria malas yang pengganguran dan hidup dari pemberian dirinya dan saudaranya.
"Wah mas romantis sekali, istri mas adalah wanita yang beruntung karna memiliki suami seperti anda, "sanjung pelayan tersebut karna melihat Aldo yang mempertahankan pilihannya yang hampir di rebut oleh Amora.
Saya yang beruntung memiliki istri sepertinya mbak, sahut Aldo sambil kembali memasukan kartu kreditnya ke dalam selipan dompet.
Setelah mendapatkan barang yang ia beli, Aldo berlalu meninggalkan tempat igu tanpa menoleh ke arah Amora.
Sementara Amora mendongkol. 'Apa Aldo memiliki istri?! Hml lihat saja nanti. Akan ku buat dia akan tergila-gila padaku kembali, tunggu saja!.' batin Amora.
Amora pun kembali memeluk pria buncit di sampingnya.
"Jadi kamu mau perhiasan yang mana sayang?" tanya pria buncit tersebut kepada wanita simpanannya.
Amora tersenyum, ia pun memilih perhiasan yang palinh mahal.
Pada beberapa orang teman kencannya Amora memang meminta perhiasan sebagai upah pelayanannya. Ia ingin berinfestasi dan membuka usaha sendiri nantinya. Karna ia sadar usianya yang semakin bertambah dan tak mungkin di hari tuanya kelak ia harus menjual diri.
Bersambung dulu reader. Semoga masih semangat beraktifitas ya.
Assalammualaikum WrWb
__ADS_1